Axel yang berada di kamar, merasa jika ada tamu yang sedang berbicara dengan mamahnya membuatnya bergegas keluar untuk memastikan. “Mamah…” panggil Axel sembari membuka pintu kamar, melihat pemandangan Evelina sedang berada dalam dekapan Kennan membuat Axel berusaha menyelamatkan mamahnya tetapi susah.
Kennan lalu melepaskan Evelina dan kini menatap Axel dengan lembut, “Hai, Boy. Sepertinya sayang sekali dengan mamahmu ya, kenapa tidak juga sayang sama Om?”
“Karena Om jahat! Lepasin mamah!” berontak Axel lalu memeluk Evelina.
“Siapa yang mengatakan itu?” tanya Kennan penasaran lalu menatap Evelina untuk memastikan. Evelina menjawab dengan menggelengkan kepalanya pertanda bukan dia yang mengajarkan.
Tidak mau terlalu menanggapi omongan anak kecil, akhirnya Kennan memanggil bodyguard nya yang sudah standby di depan pintu untuk membawa Axel pergi.
Mendapat perintah seperti itu membuat Evelina memohon kepada mantan kekasihnya supaya jangan membawa anaknya pergi, “Tolong, aku hanya punya Axel saja di dunia ini. Jika masalahmu ada di aku, selesaikan denganku, jangan libatkan anakku.”
Kennan sama sekali tidak menuruti permintaan mantan kekasihnya dan tetap menyuruh bodyguard membawa Axel pergi sampai nanti diperintahkan untuk kembali. Teriakan dari Evelina sama sekali tidak mampu meluluhkan hati Kennan bahkan tangisan Axel juga semakin membuktikan jika saat ini sedang merasa ketakutan.
“Apa maumu, Kennan!” tantangnya menatap mantan kekasihnya tajam karena apa yang sudah dilakukan terlalu jauh. Jika dibiarkan, yang ada bisa bertindak semena-mena.
“Ikut pulang denganku dan nanti hidup bahagia dengan melahirkan anak untukku. Hanya itu saja tugasmu!”
“Aku tidak bisa-“ ucap Evelina menggantung membuat Kennan penasaran lalu mendongakkan dagu mantan kekasihnya supaya berhadapan dengannya. Terlihat wajah cantik alami Evelina masih sama seperti dulu hanya saja sekarang sangat terlihat kurus. Menandakan jika selama empat tahun ini bekerja keras untuk bertahan hidup.
Kennan lalu mendekatkan bibirnya ke bibir Evelina sampai akhirnya terjadilah kecupan singkat yang membuat Evelina terkejut, belum lagi bibir Kennan kini juga beralih ke leher putih bersih dan meninggalkan bekas kemerahan yang nyata. “Tolong, hentikan!” pinta Evelina tidak mau terlalu terbawa suasana. Mendorong kasar tubuh kekar Kennan nyatanya tidak mampu mengubah posisi sama sekali malah justru kini Evelina digendong oleh Kennan menuju tempat tidur.
Kennan menidurkan Evelina dengan lembutnya lalu menindihnya sembari berbisik, “Apa kamu tidak merindukan momen ini, Evelina?”
“Aku tidak pernah merindukan momen apa pun itu!” jawab Evelina ketus malah justru mendapat serangan brutal dari mantan kekasihnya dengan mencium bibir secara kasar dan banyak meninggalkan bekas kemerahan di leher sampai Evelina hampir kehabisan nafas karena terus berusaha untuk melawan. “Semakin melawan, semakin aku nekat!” gertak Kennan tetapi Evelina sama sekali tidak menghiraukan sehingga terus saja melawan.
Hari ini mengenakan kemeja berwarna hitam, satu persatu kancing kemejanya sudah terlepas dan memperlihatkan dua kepemilikan milik Evelina yang semakin membuat Kennan semakin b*******h, tidak menunggu lama, sudah terbuka pembungkusnya dan kini menghisapnya dengan kasar. Suara tolakan dan desahan yang dilakukan Evelina membuat gairah Kennan semakin bergejolak. “To-tolong hentikan, Kennan! Aku tidak mau, ahh….”
Rok yang dikenakan Evelina pun kini sudah tersingkap sampai atas dan meninggalkan celana dalam saja yang tinggal sebentar lagi terbuka, dengan kedua paha, berusaha menutupi asetnya tetapi tenaganya kalah dari Kennan. Dengan lihainya kini sudah berhasil menanggalkan kemeja serta rok dan celana dalam Evelina sehingga benar-benar telanjang bulat. Tatapan liar mantan kekasihnya membuat Evelina sangat ketakutan dan segera mengambil selimut untuk menutup tubuhnya. Air matanya tidak berhenti terus mengalir bahkan berulang kali memohon supaya jangan diteruskan.
Kennan kini sudah melepas semua pakaian yang melekat di tubuhnya dengan begitu mudah, “Momen yang aku rindukan selama empat tahun ini,” bisiknya di telinga Evelina lalu perlahan menerobos kepemilikan mantan kekasihnya yang mendapat respons teriakan kesakitan. Untung saja Kennan masih memiliki rasa kasihan sehingga menerobos secara perlahan namun pasti sampai akhirnya kini bisa masuk seluruhnya. Suara desahan panjang dari mereka berdua menandakan jika sudah sesuai posisinya. Kini, Kennan menggerakkan dengan maju mundur beraturan, semakin lama temponya semakin cepat karena sudah tidak sabar dan menahan selama ini.
Evelina terbawa suasana dalam permainan Kennan sehingga terus mengimbangi ritme permainan, belum lagi desahan demi desahannya membuat Kennan semakin berkeliaran. Permainan yang berdurasi hampir tiga puluh menit itu kini akhirnya tuntas sudah dengan keduanya mendesah panjang bersamaan, tidak lupa Kennan menanamkan benih di rahim mantan kekasihnya dan berharap supaya nanti lahir seorang putra untuknya.
“Yakin tidak mencintaiku bahkan membenciku? Permainan tadi membuktikan semuanya, respon tubuhmu tidak bisa dibohongi, Evelina.” Sindir halus Kennan sembari tersenyum penuh kemenangan lalu tidur di sebelah mantan kekasihnya dalam satu selimut yang sama.
“Sudah puas?” tanya Evelina kini menatap mantan kekasihnya serius.
“Kurang beberapa ronde baru benar-benar puas, tunggu ya, biarkan istirahat sejenak nanti kita bermain panas lagi.”
“Bawa Axel kembali ke sini! Aku sudah menuruti kemauanmu,” pinta Evelina membuat Kennan yang terlelap sejenak kini kembali membuka matanya dan menatap mantan kekasihnya dengan dalam.
“Kamu tenang saja, Axel aman bersama mereka. Aku yakin anakmu akan baik-baik saja bahkan senang,”
“Aku tidak percaya ucapanmu jika tidak ada bukti!”
“Baiklah, aku video call bodyguardku, kamu bicara sendiri,” Kennan lalu mengambil ponsel mahalnya yang tergeletak di meja, ketika ingin menghubungi Bodyguardnya dilarang oleh Evelina. “Kenapa? Katanya perlu bukti?” tanyanya bingung.
“Posisiku sedang tidak bagus, aku mengenakan pakaian dulu setelah itu menghubungi Axel,” jawab Evelina hendak berdiri tetapi dihalangi oleh Kennan dengan memeluknya erat.
“Jangan menjauh meski itu sekejap, kamu tidak tau bagaimana gilanya aku mencarimu selama empat tahun ini. Momen ini yang aku inginkan,” setelah mengucapkan itu kini Kennan terlelap dalam posisi memeluk Evelina.
“Aku hanya ingin hidup tenang dan membesarkan Axel dengan baik, kenapa terus kamu usik seperti ini, Kennan! Kehadiranmu mengganggu perasaanku yang sudah lama aku kubur dalam!” Tidak berselang lama, Evelina juga terbawa suasana dengan ikutan tidur karena merasa sangat nyaman dipeluk oleh mantan kekasihnya seperti ini. Perasaan dan tubuhnya sama sekali tidak singkron dengan otaknya.
Beberapa jam kemudian, ada seseorang yang menekan password pintu apartemennya. Ketika pintu sudah terbuka, sama sekali tidak melihat keberadaan Evelina juga Axel. Akhirnya menuju kamar Axel untuk memastikan, siapa tau Evelina sedang menemani anaknya tidur tetapi sama saja, tidak ada siapa-siapa di dalam kamar bahkan terlihat rapi seperti belum disentuh. Sampai akhirnya menuju kamar Evelina yang tidak taunya pintunya tidak tertutup rapat sehingga kini berusaha memanggil Evelina sebelum akhirnya masuk ke dalam. Ternyata, pemandangan yang ada di kamar ini justru membuat hatinya terasa sakit sekali apalagi pria yang tidur di sebelah Evelina merupakan mantan kekasih yang selama ini dihindarinya. “Mau sejauh apa pun menghindar, jika masa lalu hadir, sudah pasti tidak ada penolakan! Terlihat bagaimana nyenyaknya Evelina tidur di sebelah Kennan. Selama ini ternyata aku hanya tempat singgah saja karena pemenangnya tetap dia!”
Ketika Dave kembali menutup pintu, membuat Evelina terbangun dan terkejut jika ada yang melihat kondisinya sedang berduaan tanpa busana dengan Kennan. Untuk memastikan siapa yang melihat, ia segera mengenakan kemeja Kennan yang kebesaran di tubuhnya lalu berjalan keluar. Evelina terkejut ketika mengetahui jika yang masuk kamarnya tadi adalah Dave. “Da-dave ….” Panggilnya lirih.
Dengan senyum getir, Dave menjawab, “Ya, ada apa, Evelina?”
“Sejak kapan kamu datang? Bukankah kamu ada urusan?”
“Belum lama, jika urusanku sudah selesai apa tidak boleh ke sini menjenguk kalian? Apa karena sudah ada masa lalumu datang membuatmu melupakan aku semudah itu, Evelina? Oh, atau justru kedatanganku mengganggu kalian?”
“Bu-bukan begitu, ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Jangan salah paham dulu,” Evelina hendak menjelaskan tetapi sudah lebih dulu ada Kennan menghampiri.
“Apa yang kamu lihat itu benar, antara aku dan Evelina baru saja selesai memadu kasih. Itu menandakan jika dia masih menjadi milikku baik saat ini sampai seterusnya. Jangan ganggu dia lagi, aku sudah berbaik hati dengan terus membiarkanmu berkeliaran bebas! Setelah ini Evelina akan ikut aku pulang, kubur semua perasaanmu pada wanitaku!”