06. Menemukan apartemen Evelina

1073 Words
Dave lalu menjelaskan dengan bahasa anak kecil jika sampai kapan pun ayah dari Axel ialah dirinya, mau ada seseorang yang mengaku ayah kandungnya pun, jangan mudah untuk percaya. Untung saja Axel anak yang penurut, jadinya tanpa banyak bertanya lagi sudah membuatnya mengerti apalagi bukti nyata jika sejak kecil memang hanya ada Dave di sekitarnya dan selalu menemani baik dalam kondisinya sehat atau pun sakit. Sedangkan Evelina yang mendengar penjelasan Dave dan bagaimana anaknya mudah untuk patuh membuat hatinya menjadi sedih karena keegoisannya menghindari Kennan membuat dua laki-laki di hadapannya berada dalam pantauan mantan kekasih. Terlihat guratan sedih di wajah cantik Evelina membuat Dave kini memberikan perhatian lebih, “Tidak perlu cemas seperti itu, percayalah, ada aku yang selalu di sampingmu. Kita hadapi Kennan bersama.” Ucapan yang begitu terdengar meyakinkan dan membuat hati tenang langsung dialihkan oleh Evelina karena dia tau betul bagaimana watak mantan kekasihnya apalagi ketika penyamarannya terungkap membuat Kennan murka dan enggan melepaskannya karena sudah mencari selama empat tahun ini. “Aku tidak yakin kita akan menang melawannya, dia memiliki segalanya dan kita hanya berbekal keyakinan dan keberanian saja,” ucapnya pesimis lalu mengalihkan tatapan sedihnya dengan memandang pemandangan sekitar melalui jendela mobil. Tanpa terasa kini mereka sudah berada di apartemen, Evelina segera menggenggam tangan Axel dan masuk lift supaya tidak ada celah untuk siapa pun mengekorinya. Axel kesusahan menyamakan langkah kaki mamahnya dan kini mengajukan protes, “Kenapa harus terburu-buru, Mah? Apa yang terjadi? Pria itu kembali mengikuti kita?” Dave tidak menjawab begitu juga Evelina, mereka hanya diam saja dan tidak mau menjelaskan kepada Axel. Kini justru Dave menggendong Axel supaya bisa segera ke apartemen. Ketika mau membuka pintu, Evelina melihat dulu ke arah kanan dan kiri untuk memastikan, setelah memastikan aman, barulah berani masuk. Evelina lalu memberitahu anaknya supaya jangan lagi keluar apartemen secara sembarangan kecuali ada dirinya atau Dave yang menemani. “Memang kenapa sih?” protes Axel lagi karena merasa kesal apalagi setelah bertemu dengan pria tadi, sikap mamahnya dan Dave berubah total. “Di luar sangat bahaya, kita tidak tau apakah ada orang jahat yang sedang mengintai kita atau tidak, lebih baik waspada dari sekarang dan hanya boleh keluar jika bersama mamah atau om Dave, mengerti?” perintah Evelina berbicara dengan lembut untuk meminta perhatian anaknya. “Apa pria tadi yang kalian maksud sebagai pria jahat?” tanya Axel masih merasa penasaran. “Tidak boleh berbicara seperti itu, mamah hanya menghimbau dan berjaga-jaga saja, Axel. Mamah harap kamu menurutinya,” jawab Evelina dengan sabar dan anaknya langsung menganggukkan kepala pertanda patuh. Tiba-tiba ponsel Dave berdering, dengan segera menjawab panggilan tersebut dan terlihat sekali percakapan dengan lawan bicaranya sangat serius sehingga membuat Evelina yang sedang menatapnya merasa penasaran juga khawatir. Panggilan pun berlangsung beberapa menit sampai akhirnya terputus juga dan Evelina segera menanyakan, “Ada masalah apa, Dave?” “Aku harus pergi sekarang, di kantor sedang ada sedikit masalah. Aku janji akan kembali secepatnya, kalian tetap di sini sampai aku datang ya, jangan kemana-mana.” Jawab Dave memberitahu dan terkesan terburu-buru. “Jangan hiraukan kami, selesaikan masalah pekerjaanmu dulu. Kami akan baik-baik saja,” ucap Evelina berusaha menenangkan Dave dan mengisyaratkan jika semuanya akan baik-baik saja meski di dalam hati merasa risau. Kini, Dave sudah keluar apartemen untuk segera melaju ke kantornya. Otomatis di apartemen hanya ada dirinya serta Axel yang sedang asyik bermain gadget. Sembari menunggu Dave, kini Evelina menuju dapur untuk memasak dengan persediaan yang ada di kulkas, “Hanya ada ayam, wortel, kentang dan brokoli saja? Antara masak sup ayam atau tidak capcai?” gumamnya lalu cek ketersediaan bumbu dapur yang masih sedikit sampai akhirnya memutuskan untuk memasak sup ayam saja. Dengan cekatan dan terampil kedua tangan Evelina meracik dan memotong sayuran setelah itu memasaknya dalam hitungan setengah jam saja. Aroma sup ayam yang menggugah selera membuat Axel kini menghampiri mamahnya di dapur, setibanya di sana, perutnya keroncongan yang membuat Evelina merasa geli dengan tingkah polos nan lucu dari anaknya. Evelina mengambilkan mangkuk beserta sendok dan garpu lalu menuangkan sup ayam yang masih panas, setelah itu meletakkannya di meja makan. Mereka berdua makan dengan lahap karena sudah lapar, rasa supnya juga enak dan gurih. Setelah selesai menyantap dan meletakkan mangkuk ke wastafel, kini apartemennya kedatangan tamu dengan seseorang terus menekan bel rumahnya. “Siapa ya?” batinnya merasa penasaran, ketika di cek di kamera, ternyata petugas keamanan di apartemen ini yang membuat Evelina berpikir keras, apa yang sedang terjadi? Perihal pembayaran sudah dibayar secara lunas berserta tagihannya. Tidak mau membuat sekuriti apartemen menunggu lama, kini Evelina membukakan pintu. “Ya, ada apa, Pak?” tanyanya sembari tubuhnya ikut keluar. “Ada yang mencari anda, nyonya,” jawab sekuriti apartemen membuat Evelina penasaran siapa tamu tersebut sampai akhirnya muncul Kennan yang ternyata sudah bersembunyi di sebelah kanan sehingga tidak terlihat di kamera pengawas. “Saya yang mencarimu, Evelina!” ucap Kennan dengan suara basnya sembari tersenyum smirk. Evelina seketika hendak menutup pintu tetapi sudah lebih dulu ditahan oleh Kennan, “Jangan menolak kedatanganku atau nanti akan terjadi keributan lebih dari tadi!” ancamnya setengah berbisik membuat Evelina akhirnya mengalah dan membiarkan mantan kekasihnya masuk. “Apakah nantinya akan aman?” tanya sekuriti apartemen memastikan karena melihat raut wajah Evelina membutuhkan bantuan. “Saya akan menjamin semuanya aman, jika terjadi sesuatu dengan pemilik apartemen nomor ini, saya orang pertama yang akan bertanggung jawab!” jawab Kennan begitu meyakinkan lalu memberikan kartu namanya kepada sekuriti apartemen. Setelah itu sekuriti membiarkan Kennan untuk menemui Evelina dan kini meninggalkan mereka. Pintu di tutup oleh Kennan dan Evelina berjalan mundur sampai akhirnya terhenti di tembok yang semakin membuat senyuman di bibir Kennan melebar. “Sudah aku katakan berkali-kali kalau kamu tidak akan mungkin bisa kabur dariku, lawanmu bukan sembarangan, Evelina! Beraninya bermain-main selama bertahun-tahun ini! Sekarang, terima saja nasibmu untuk hidup denganku dan melahirkan putra untukku, itu hutang yang harus kamu bayar!” “Jangan gila! Aku tidak akan mau melahirkan lagi! Bagiku, Axel sudah cukup!” tolak Evelina mentah-mentah dan berusaha mencari celah untuk menghindar. “Mengapa waktu itu memberikan aku obat dengan dosis tinggi supaya aku lemas dan tidak berdaya melihatmu meminum obat sialan itu! Apa maksudmu, Evelina!” pekik Kennan tidak menerima penolakan yang dilakukan oleh Evelina. “Karena aku membencimu, Kennan! Aku tidak pernah mencintaimu, puas!” pekik Evelina lebih keras semakin memancing amarah mantan kekasihnya. “Benci? Tidak pernah mencintaiku? Baiklah, sebentar lagi akan aku buktikan ucapanmu itu benar atau tidak!” tantang Kennan sembari tersenyum smirk membuat Evelina merinding sekujur tubuhnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD