“Aku tidak akan membiarkan kalian pergi sebelum semuanya terbukti!” jawab Kennan lalu memerintahkan asistennya memanggil dokter pribadi ke rumah.
“Apa hubungannya memanggil dokter?” tanya Evelina cemas.
“Nanti kalian akan tau dengan sendirinya,” jawab Kennan acuh setelah itu fokus bermain ponsel mahalnya sembari sekilas menatap Axel dan perasaannya kembali berdesir.
“Jangan terus memaksa supaya Evelina mau denganmu karena sejak meninggalkanmu empat tahun lalu, dia sudah mengubur semua tentangmu dengan dalam! Tidak ada harapan tersisa lagi, biarkan dia pergi dan mengurus hidupnya seperti sebelumnya, apa tujuanmu kembali mengusiknya? Karena dendam? Perasaan tidak terima dicampakkan begitu saja? Jika kenyataan Evelina sudah tidak memiliki perasaan lagi denganmu, untuk apa dipertahankan dan mencarinya? Masih banyak wanita yang lebih dari Evelina dan sudah pasti akan setia dan lebih mencintaimu, jangan paksakan apa yang sudah pergi.” Sindir Dave merasa kasihan dengan CEO di depannya, terkenal sebagai pengusaha sukses dan hidupnya sempurna karena bergelimang harta, nyatanya urusan percintaannya sungguh menyedihkan. Harus mencari-cari mantan kekasih yang sudah pergi meninggalkannya selama empat tahun lamanya.
“Tutup mulutmu, bangs*t!” umpat Kennan tidak terima di hina lalu menghajar Dave membabi buta.
“Lemah sekali anda, melawan saya tetapi posisinya tanganku sedang ter borgol, jelas tidak bisa melawan. Lepaskan dulu dan mari kita duel, siapa yang menang itu artinya memiliki Evelina dan Axel!” tantang Dave semakin membuat harga diri Kennan terinjak-injak.
“Kalian jangan berantem dengan hal yang tidak penting! Pikirkan Axel, aku tidak mau ia melihat kalian bertikai! Jika mau berkelahi, sana di luar!” teriak Evelina membuat Kennan kembali mengurungkan niatnya melepas borgol Dave.
Tidak berselang lama, dokter tiba dan Kennan segera memerintahkan untuk mengambil sampel darah Axel dan juga Dave untuk memastikan siapa ayahnya. Meski Dave berulang kali mengatakan jika Axel anak kandungnya, tidak lantas membuat Kennan percaya.
Dokter segera melaksanakan perintah tetapi berulang kali Axel memberontak dan Evelina juga melarang dokter untuk mengambil sampel darah anaknya tanpa lebih dulu tanya kepadanya selaku orang tua, perdebatan pun terjadi. Dokter kewalahan dengan sikap berontak Axel sampai akhirnya menyerahkan semua kepada Kennan.
“Kamu boleh memperlakukan aku sesukamu tetapi jangan pernah usik Axel, aku tidak akan membiarkan hal itu!” bentak Evelina sudah sangat emosi dan kini kembali menggendong anaknya supaya merasa aman. Tidak mau terlalu lama di sini, Evelina segera membawa anaknya di susul Dave di belakang mereka.
“Anda tidak ingin mengejarnya, Bos?” tanya asisten memastikan karena majikannya hanya diam saja melihat kepergian mereka.
“Untuk kali ini aku biarkan dia menghela nafas sejenak tetapi kerahkan seluruh anak buah untuk mengawasinya, jangan sampai lolos! Aku merasa setelah kejadian ini, Evelina berniat untuk kabur.” Jawaban tegas bernada memerintah dari bosnya membuat asisten segera menghubungi rekannya yang lain lalu memberitahu di mana tempat tinggal Evelina yang baru.
Setelah itu, Kennan menyuruh dokter dan assistennya pergi karena ingin menyendiri, tidak lupa juga memberikan sehelai rambut Axel yang sengaja dicabutnya ketika Evelina berusaha mengambil paksa. Dengan bukti itu setidaknya memberikan sebuah harapan jika apa yang menjadi firasatnya itu benar.
Dokter menerima sampel tersebut dan meminta waktu paling lama tiga minggu, sebenarnya waktu yang cukup lama untuk menunggu tetapi prosedur di negara ini untuk melakukan tes DNA memang selama itu.
Setelah memastikan mereka semua keluar dari kamarnya, dengan segera Kennan merebahkan dirinya di kasur empuk untuk mengistirahatkan pikiran dan kepalanya cukup pusing karena hanya tidur selama beberapa jam saja.
“Demi membela pria sialan itu membuatmu terus berani melawanku! Apa sebegitu pentingnya dia di dalam hidupmu? Rasanya harga diriku hancur di depan semuanya!” batin Kennan masih memendam emosi terutama kepada Dave, karena kehadirannya di hidup Evelina membuat mantan kekasih berani melawan dan menanggung risiko. Tidak berselang lama, Kennan tertidur cukup pulas sampai akhirnya terbawa mimpi didatangi anak kecil berusia empat sampai lima tahun berwajah tampan, putih bersih, hidung mancung tengah tersenyum kepadanya lalu mengajak bermain di sebuah taman yang indah.
Di tengah asyiknya bermain, anak kecil itu mengatakan kepada Kennan, “Sebentar lagi kita akan bersama-sama, Papah. Aku sudah lama menantikan momen ini sejak kecil.”
Kata-kata yang diucapkan anak kecil itu seketika membuat Kennan tersadar dan berkeringat, seolah itu semua nyata. Kennan merasa bingung dengan mimpi yang baru saja dialaminya, apa maksud dari semua ini? Kenapa anak kecil itu wajahnya mirip denganku dan Axel? Bahkan menyebutnya dengan sebutan Papah?
Tidak mau terlalu lama menunggu, akhirnya meminta asisten menghubungi dokter pribadinya dan menyuruh supaya hasil tes keluar lebih cepat dari estimasi, berapa pun harganya tidak menjadi masalah.
****
Di satu sisi, Evelina sedang perjalanan pulang menuju apartemennya bersama Axel dan Dave. Sebelum tinggal di apartemen, terlebih dahulu sudah tinggal di sebuah rumah minimalis namun asri dan sejuk sebelum akhirnya tempat persinggahannya diketahui oleh Kennan.
“Mah, siapa pria tadi? Kenapa jahat sekali padamu?” tanya Axel masih merasa penasaran yang membuat Evelina bingung mau menjawab apa.
“Dia tidak penting, jangan dipikirkan ya, setelah ini mamah akan baik-baik saja seperti sebelumnya dan tidak akan ada yang jahat kepada kita,” jawab Evelina membuat Axel merasa kecewa karena jawaban dari mamahnya tidak sesuai yang dibayangkannya, seolah ada yang disembunyikan.
“Kenapa pria tadi memperebutkan aku? Sebenarnya aku anak siapa, Mah? Bahkan sejak kecil tidak pernah tau siapa Papah, hanya Om Dave saja yang selalu menemani sejak kecil.” Tanya Axel dengan begitu polosnya membuat Evelina dan Dave saling melirik satu sama lain.