Lina seketika langsung menolak dengan halus karena dengan alasan sebuah privasi, bahkan posisinya yang semula berada dalam pangkuan kini berpindah duduk di sebelah Kennan.
“Mungkin benar, aku terlalu obsesi untuk segera menemukannya karena menurut assisten saya, dia berada di kota ini.” Kennan mengatakan itu dengan penuh kecewa.
“Meski kota ini kecil tetapi wanita seperti saya banyak dijumpai, Tuan,” ucap Lina kembali menegaskan jika dia bukanlah Evelinna.
Kennan lalu memilih melupakan masalah itu dan minum dengan sangat banyak sampai tertidur di bahu Lina selama dua jam lamanya, ketika tersadar, dirinya pun merasa heran mengapa bisa senyaman itu berada di sebelah Lina?
“Anda sudah siuman, apakah saya boleh pergi?” tanya Lina penuh hati-hati.
“Pergilah tapi besok temani lagi, saya di sini selama beberapa hari. Besok ke sini di jam yang sama,” jawab Kennan lalu memberikan sejumlah uang kepada Lina sebagai tip.
Lina menerima uang tersebut dan tidak lupa mengucapkan terima kasih setelah itu bergegas pergi, mata Kennan lagi-lagi tidak bisa lepas dari Lina sampai akhirnya menghilang dari pandangannya.
Assistennya menegur, “Anda tidak biasanya seperti ini, baru pertemuan pertama tetapi sudah sangat terlihat nyaman. Tatapan anda tidak bisa berbohong jika anda tertarik padanya,”
“Aku merasa jika dia adalah Evelina bukan Lina,” ucap Kennan penuh keyakinan yang dibalas dengan sebuah gurauan dari assistennya yang mengatakan mana mungkin seorang Evelina yang terkenal berstatus sosial tinggi dan sombong bekerja di sini? Itu sama saja menurunkan harga dirinya.
Mendengar penjelasan assistennya memang bisa dibilang benar dan masuk akal tetapi entah kenapa feelingnya mengatakan jika wanita tersebut merupakan mantan kekasihnya.
Di sisi lain, Lina langsung menuju ruangan untuknya beristirahat sembari melepas topeng. Beberapa kali mengatur nafas supaya tenang dan stabil kembali, setelah normal, ia melihat jumlah uang yang didapatkannya malam ini, tidak biasanya bekerja selama dua jam sudah mendapatkan sepuluh juta rupiah apalagi hanya menemani minum saja tanpa adanya permintaan aneh-aneh dari tamunya.
“Kennan, tidak menyangka kamu masih saja terus mencariku sampai sini, apa kamu tidak tau bagaimana susahnya aku menghindar darimu? Uang ini akan aku gunakan dengan baik. terima kasih atas pemberianmu,” batinnya lalu menyimpan uang tip ke dalam tasnya setelah itu menelpon seseorang yang selama ini sudah membantunya tanpa pamrih.
Di dalam telpon, Evelina menjelaskan jika dirinya hampir saja ketahuan oleh Kennan dan meminta temannya untuk segera mengurus dokumen kepergiannya ke luar negeri dengan uang pemberian Kennan. Namun sayang sekali, untuk mengurus dokumen kepergian tidak bisa jadi dalam waktu dekat, paling lama empat hari apalagi kedatangan Kennan ke sini tidak mungkin untuk mencarinya saja tetapi juga nantinya akan mempersulit gerak-geriknya untuk keluar dari kota ini. Apa yang dikatakan oleh temannya membuat Evelina merasa lemas, sudah empat tahun lamanya nyaman dengan hidup seperti ini tiba-tiba harus terusik dengan Kennan.
“Baiklah, aku akan berusaha bertahan selama beberapa hari ini, semoga tidak ditemukan olehnya sebelum aku pergi,” ucap Evelina pasrah dan temannya akan berusaha sebisa mungkin untuk menyelesaikan semuanya lebih cepat.
****
Tidak terasa malam kembali tiba, waktunya Evelina untuk bekerja dan bertemu dengan Kennan. Topeng yang menjadi ciri khasnya kembali digunakan, kali ini rambutnya sengaja di kucir supaya Kennan tidak lagi mengatakan jika Lina adalah Evelina.
Sejak dulu, Kennan merupakan pria yang selalu menepati janjinya, di jam yang sama, ia sudah datang dan duduk di sofa panjang nan empuk untuk menanti kedatangannya.
Lina berusaha bersikap biasa supaya tidak menimbulkan curiga, ketika sudah duduk di sebelah Kennan, ia tersenyum manis lalu menuangkan minuman dan memberikannya kepada tamunya itu.
“Ayo minum bersama,” ajak Kennan menerima gelas pemberian Lina.
“Maaf, saya tidak biasa minum, Tuan. Saya hanya akan menemani anda saja,” Lina menolak secara halus.
“Kenapa lagi-lagi kamu sama seperti mantan kekasihku,” ucapnya menatap Lina dalam.
“Saya sudah mengatakan sebelumnya jika mustahil saya adalah wanita yang anda cari, Tuan. Mana mungkin wanitanya seorang konglomerat berada di tempat kotor seperti ini,” ucap Lina memberitahu sekali lagi lalu Kennan memilih mengacuhkan ucapan tersebut.
Malam ini Kennan lebih banyak minum karena sebagai bentuk pelampiasan belum bisa menemukan Evelina. Kepalanya terasa pusing dan sudah mabuk membuatnya berbicara ngelantur, Lina hanya mendengarkan saja tanpa menjawab sama sekali.
Ketika hendak mengambilkan tempat sampah karena Kennan hampir muntah, rambutnya tidak sengaja tertarik oleh Kennan sampai topengnya kini terlepas. “Mampus!” batin Evelina kini mulai cemas dan tidak berani menatap Kennan sekaligus assistennya. Ekspresi menundukkan kepala terus menerus membuat Kennan merasa penasaran, dengan gerakan perlahan ia menyibak rambut panjang Lina ke belakang.
Ketika sudah melihat wajah Lina tanpa topeng membuat amarah di dalam d**a Kennan kini bergejolak, “Apa yang menjadi feelingku memang selalu benar! Sejak awal aku sudah curiga jika kamu adalah Evelina tetapi alibimu serta alasan assistenku menahan semuanya! Lihatlah sekarang, orang yang aku cari selama empat tahun ini ternyata berada di sebelahku sejak kemarin malam!”
“Nyonya Evelina?” ucap assisten Kennan memastikan dan kini orang yang dipanggil menghadap ke arahnya dan ekspresi assisten juga tidak kalah terkejutnya dengan Kennan.
Karena sudah terkuak, tidak ada ramah tamah lagi yang dilakukannya sebelum ketahuan. “Untuk apa mencariku? Bukankah hubungan kita sudah berakhir empat tahun lalu, apalagi yang kamu harapkan?” tanya Evelina menatap mantan kekasihnya menantang.
Kennan sangat emosional dan kini mengangkat dagu Evelina supaya lebih dekat dengannya, dengan tatapan penuh amarah dan kekecewaan, ia mengatakan, “Aku tidak bisa menerima jika kamu membunuh calon anakku begitu saja! Ada harga mahal yang harus kamu bayar!”
“Semua sudah terjadi, tidak ada lagi yang perlu dibahas dan tidak ada yang perlu aku bayar! Lepaskan aku dan biarkan hidup dengan tenang! Kamu tidak tau bagaimana sulitnya selama empat tahun ini menghindarimu, kenapa terus menerus mengejarku? Hubungan kita sudah selesai, tidak ada apa pun yang tersisa, Kennan!” pekik Evelina juga tidak kalah murka.
“Lancang sekali mengatakan hal itu kepadaku, Evelina!” sindir Kennan tersenyum smirk setelah itu membawa paksa mantan kekasihnya menuju hotel tempatnya menginap. Asistennya sama sekali tidak berani bersuara dan hanya bisa mengikut apa yang diperintahkan oleh majikannya.
Sebelum pergi meninggalkan klub, manager sempat menghalanginya karena membawa ladies keluar klub di jam kerja itu melanggar aturan. “Urus semuanya! Aku menginginkannya seumur hidup!” pekik Kennan sebelum meninggalkan klub dengan membawa Evelina yang terus memberontak dilepaskan.
Manager klub bertanya dengan penuh kebingungan mengenai kejadian hari ini tetapi asisten Kennan hanya menjelaskan jika mulai malam ini Lina sudah tidak lagi bekerja di klub lalu memberikan sejumlah uang berbentuk cek kepada manager sebagai bentuk kompensasi. Melihat nominal yang tertulis di kertas membuat manager segera menyetujui permintaan tersebut dengan penuh kebahagiaan. Bagaimana tidak? Di kertas cek tertulis nominal satu miliar rupiah sebagai kompensasi. Tentu saja hal tersebut membuat manager untuk banyak dan kaya mendadak. Bekerja satu tahun saja belum tentu mendapatkan sebanyak itu dan kini karena melepaskan Lina sudah didapatkan satu miliar hanya dalam satu malam. Setelah menyetujui kesepakatan, asisten segera pergi menyusul Kennan dan Evelina.
“Lepas, Kennan! Aku mau di bawa ke mana?” teriak Evelina ketakutan karena mantan kekasihnya terlihat jelas sekali sedang penuh amarah.
“Nanti akan tau,” jawab Kennan secara misterius sembari tersenyum smirk lalu masuk mobil mewahnya di susul sang asisten untuk menyetir.