Di dalam mobil, Evelina terus saja bertanya karena merasa sangat penasaran, sebenarnya mau di bawa ke mana? Kenapa assistennya pun seolah sudah mengetahui apa yang dimaksud Kennan padahal majikannya belum mengatakan hendak ke mana.
Karena kesal dengan cerewetnya Evelina, dengan segera menyumpal mulut mantan kekasihnya itu dengan sebuah kecupan yang langsung membuat Evelina otomatis terdiam karena terkejut. “Kenapa gak dari tadi diamnya,” sindir Kennan lalu memainkan ponsel mahalnya yang di susul suara protes Evelina.
“Jangan seenaknya! Aku buk-“ belum sempat melanjutkan ucapannya, sudah terlebih dahulu dipotong oleh Kennan yang kembali membuatnya kesal.
“Berani bersuara, aku cium lebih buas!” ancamnya dengan senyuman smirk yang dijawab tatapan mata tajam dari mantan kekasihnya.
Terpaksa, Evelina terdiam padahal di dalam hati menggerutu bahkan mengumpatnya, hanya bisa menatap pemandangan kota di malam hari melalui jendela mobil setidaknya bisa mengalihkan amarahnya.
Tidak berselang lama, ternyata Kennan membawa Evelina ke sebuah hotel ternama di kota ini. Setelah turun dari mobil dengan posisi tangan terus digenggam Kennan, membuat Evelina tidak menyerah untuk terus bertanya karena posisinya sudah tidak lagi di mobil mewah mantan kekasihnya. “Apa maksudmu membawaku ke sini? Aku memang bekerja di klub tetapi aku tidak menjajakan diriku! Terlalu rendah sekali caramu memandangku sekarang ini!” kata-kata yang cukup membuat Kennan muak serta murka, tidak menjawab secara langsung, ia memilih terus membawa mantan kekasihnya menuju hotel di mana tempatnya menginap, yaitu kamar tipe presiden suite dengan nomor 77.
Setelah tiba di kamar, dengan mudahnya Kennan menghempas Evelina lalu menindih dengan tubuh kekarnya. “Jangan terus bertanya, aku menemukanmu tidaklah mudah, butuh empat tahun! Sekarang, jangan harap bisa lepas dariku meski itu sedetik pun!” bisik Kennan di telinga Evelina yang membuat merinding sekujur tubuh apalagi aroma parfum khas Kennan masih saja membuatnya candu namun seketika langsung berusaha dialihkan supaya tidak terbuai.
“Apa mau mu, Kennan?” tanya Evelina menatap mantan kekasihnya penuh penjelasan.
“Empat tahun lalu, di depan mataku, dengan beraninya membunuh calon anak yang sudah aku harapkan kehadirannya, saat ini dan di malam ini akan aku buat kamu membalaskan amarahku selama empat tahun ini dengan membuatmu mengandung anakku!” jawab Kennan begitu serius lalu mulai mencumbu Evelina tetapi berhasil ditolaknya.
“Evelina!” amarah Kennan memuncak karena mantan kekasih menolak ajakannya.
“Silakan cari wanita lain yang siap mengandung anakmu, kenapa harus aku? Biarkan aku melanjutkan hidup tanpa bayang-bayangmu!” ucap Evelina penuh permohonan.
“Mustahil! Aku hanya menginginkan anak dari rahimmu!” tolak Kennan mentah-mentah setelah itu kembali memaksa mencumbu mantan kekasihnya dengan begitu buas yang sempat membuat Evelina kewalahan melawan sampai akhirnya kembali berhasil menolak dengan menggigit bibir merah Kennan yang membuat amarah semakin membara.
“Kenapa terus menolak, Evelina!” bentak Kennan kini berdiri dengan penuh amarah.
“Karena aku tidak mau mengandung anakmu, sadar, Kennan, kita sudah selesai empat tahun lalu!” Evelina tidak kalah membentak lalu membenarkan kemeja yang sudah terbuka sebagian dengan terburu-buru.
Lagi-lagi Kennan tidak menjawab dan memilih menggendong Evelina menuju lobi hotel dan menyuruh assistennya untuk kembali ke rumahnya, mendengar itu, Evelina tentu saja menolak karena memikirkan Axel yang sedang menunggu di rumah. “Jangan sesukamu, aku tidak menyetujuinya! Biarkan aku pergi!”
“Aku tidak menerima penolakan!” bantah Kennan tegas.
“Dan aku tidak suka dipaksa seperti ini!” Evelina menatap mantan kekasihnya dengan tajam dan tidak ada rasa takut sedikit pun. Berusaha untuk lompat dari mobil tetapi sayang sekali, terkunci dan hanya asistennya yang bisa membukanya.
Melihat usaha Evelina untuk kabur berakhir sia-sia membuat Kennan tersenyum puas lalu kembali menggenggam tangannya dengan sangat erat.
****
Perjalanan yang panjang nyatanya kali ini terasa sangat cepat karena jalanan sudah sepi, asisten bisa leluasa mengebut untuk memangkas waktu. Tiba di rumah mewah Kennan membuat Evelina merasa ketakutan, bagaimana nasibnya setelah ini dan bagaimana nanti menjelaskan kepada Axel? Pikiran tersebut tengah berperang di dalam otaknya untuk meminta segera diselesaikan.
Tidak mau turun dari mobil, tidak lantas membuat Kennan kehilangan akal. Kembali digendong mantan kekasihnya dan langsung di bawa ke kamar.
“Pastikan kondisi aman dan jangan sampai ada celah sedikit pun!” perintah Kennan sebelum masuk kamar bersama Evelina.
Sebenarnya asisten kasihan dengan mantan kekasih majikannya yang sedari tadi memerlukan bantuan, tetapi jika dia melawan, sama saja bunuh diri karena ia bekerja dengan Kennan sudah lama dan dipercaya untuk menjadi asistennya. Sebuah pilihan yang sulit, asisten hanya bisa berdoa semoga majikannya tidak berbuat yang membahayakan.
Tidak mau mendengar apa yang tidak seharusnya didengar, membuat asisten memilih menunggu di halaman depan sembari merokok dan istirahat karena kelelahan menyetir jarak jauh.
Di dalam kamar, Kennan segera menghempaskan Evelina di sofa panjangnya lalu membuka laci bagian atas untuk mengambil sesuatu yang membuat Evelina merasa penasaran. Ternyata, benda yang diambil adalah borgol, dengan cepat, Kennan sudah memborgol tangan Evelina dan mengaitkan borgol satunya lagi di lampu hias kamarnya.
“Apa-apaan ini, Kennan!” pekik Evelina tidak terima diperlakukan seperti ini.
“Hanya ini yang bisa memastikan kamu tidak kabur dariku!” jawab Kennan begitu seenaknya.
“Tolong biarkan aku pulang karena ada seseorang yang harus aku temui malam ini,” pinta Evelina memohon dengan serius yang membuat Kennan merasa terpancing rasa penasarannya.
“Siapa yang akan kamu temui? p****************g?” tanya Kennan geram.
“A-aku sudah memiliki pasangan, malam ini janjian mau bertemu. Aku tidak mau membuatnya khawatir karena tidak bisa datang, biarkan aku memberinya kabar sebentar, bolehkah?” jawab Evelina seraya meminta.
“Sepertinya pria itu sangat penting untukmu sampai mengalahkan aku!”
“Bisa keluar sebentar? Aku mau menghubunginya sebentar, beri aku waktu untuk berbicara,” pinta Evelina.
“Aku tidak akan meninggalkanmu, yang ada nanti kabur! Telepon kekasihmu itu di depan mataku sekarang juga!” tolak Kennan lalu Evelina terpaksa menuruti.
Dalam dua kali deringan, panggilannya sudah terjawab dan kini terdengar suara pria menjawab panggilannya.
“Halo, Dave, maaf hari ini aku tidak bisa pulang, apakah bisa menjaga rumahku semalam ini saja?” tanya Evelina sedang teleponan.
“Kamu pergi ke mana? Kenapa mendadak sekali, apakah semua baik-baik saja, Evelina?” tanya Dave dengan penuh cemas.
“A-aku baik-baik saja, hanya tidak bisa pulang malam ini, tolong ya jaga rumahku, maaf sudah merepotkan terus,” jawab Evelina berusaha berbicara dengan santai supaya temannya tidak curiga.
“Jangan berbohong, jika ada masalah, tolong beritahu, sebisa mungkin aku akan membantumu,” desak Dave merasa sesuatu yang janggal.
“Tidak ada, kamu sudah banyak membantu, aku banyak berhutang budi kepadamu,” ucap Evelina hendak mengakhiri panggilannya lalu terdengar suara Axel di seberang telepon menanyakan di mana mamahnya.
Karena kesal, Kennan merampas paksa ponsel Evelina lalu menekan tombol loudspeaker supaya terdengar lebih jelas. Di seberang telepon, terdengar suara anak laki-laki, “Di mana mamah, Om?”
Sebuah pertanyaan yang langsung membuat Kennan menatap Evelina dengan tajam dan panggilan diakhiri sepihak.
“Siapa anak yang bersama pria itu, Evelina?” tanya Kennan serius.