3. Oh Rangga
Aku terengah-engah sampai di rumah. Sementara Ibu menatap heran ke arahku. Aku tahu dari kerutan yang terlihat jelas di kening itu.
“Kenapa, Na?”
“Ga papa, Bu.”
Tentu saja aku harus bohong. Ga mungkin kan, aku jujur ke Ibu, kalau aku tadi habis salah orang.
Issh, bodohnya aku.
Tapi, bukankah ini gara-gara si bocil itu? Awas aja kalau pulang.
“Tadi Sari nelpon terus tuh, sana telpon balik barangkali penting.”
“Iya, Bu.”
Gegas aku langsung ke kamar. Netraku berkeliling mencari benda pipih itu. Segera kuraih ponsel yang ada di nakas. Benar saja, ada 5 panggilan tak terjawab.
Aku memilih keluar kamar, duduk di sofa depan, dan menelpon Sari.
“Halo.”
“Halo, Nin. Kamu kemana aja, aku telponin dari tadi juga?” Suara sahabatku terdengar merajuk.
“Iya, maaf. Aku ada perlu tadi, lupa bawa ponsel.”
“Kamu beneran ga balik kerja sini lagi, Nin?” Suara Sari terdengar murung.
“Maaf, Sar, Ibu pengin aku kerja di sini.”
“Yahh, ntar teman sekamarku siapa dong? Ga ada lo ga rame tahu ga sih.”
Aku tersenyum mendengar ocehan sahabatku itu. Sari, teman sekamar sekaligus sahabat terbaik di perantauan. Suka dan duka kami selalu berbagi. Dari hal makanan sampai sabun mandi.
“Nin, apa jangan-jangan lo balik kampung terus lo dijodohin yah, makanya ga balik lagi kerja sini?” cetus Sari.
“Asem. Enak aja lo bilang gue dijodohin. Emang gue ga laku apa.”
“Hahahaha.” Sari tertawa terpingkal-pingkal di ujung sana.
Ibu datang membawa sepiring pisang goreng, lalu duduk di depanku. Aku meliriknya sekilas.
“Sar, udah dulu ya, nanti aku telpon lagi. Assalamualaikum.”
Aku mematikan sambungan telepon lalu mencomot pisang goreng yang Ibu bawa.
“Hm, enak.” Aku mengacungkan jempol ke arah Ibu yang dibalas senyuman hangat.
“Tyo, belum pulang, Bu?”
“Bentar lagi paling. Biasa kalau di masjid udah ngaji dia pulang. Dia di rumah Udin ‘kan?”
Aku mengangguk sebagai jawaban.
“Sudah bilang sama Sari?” Ibu bertanya untuk memastikan.
“Udah, Bu.”
Aku mencomot satu pisang goreng lagi lalu memasukannya ke dalam mulut.
Nyamm, enaknya. Memang benar, makanan yang paling enak di dunia adalah buatan tangan Ibu. Buktinya, cuma pisang goreng aja seenak ini. Beda kalau beli di Abang-abang tukang gorengan. Kalah jauh.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.” Ibu menjawab, kepalanya menoleh ke arah pintu. Tyo nongol.
Beneran nih bocil dateng, gue tungguin dari tadi.
Masih dengan mengunyah, aku mengangkat tangan menggerakan kelima jari memberi tanda supaya Tyo mendekat.
“Balikin duit kakak dua puluh ribu.”
Tyo mendelik, lalu melirik ke Ibu.
“Apaan, udah di kasih kok diminta. Udah abis aja kale, buat beli bakso.”
Aku menggigit bibir bawah, membuang napas kasar. Mataku sengaja mendelik, biar dia takut.
Tyo segera menempel pada Ibu, dia bersembunyi di belakang sofa yang Ibu duduki.
“Bu ....” Tyo merengek.
“Ada apa sih, Nak?” Ibu terlihat bingung dengan situasi yang terjadi.
“Tyo, tuh, Bu, bohongin Nina. Bilangnya tetangga kita di depan namanya Mas Udin. Ternyata bukan!” sungutku.
“Loh, ‘kan bener tetangga di depan namanya Mas Udin. Iya ‘kan, Bu?”
Uh, dasar bocil, dia minta pembenaran lagi dari Ibu. Aku kesal, kedua tangan kulipat di d**a. Netra masih menyorot si Tyo.
“Loh ... Tyo bener, Nina. Apanya yang salah?”
“Maksud Nina bukan dia, Bu. Satunya.”
Ibu menyipitkan mata.
“Yang tadi pagi masuk ke dapur ambil piring,” jelasku.
“Oohh Rangga.”
“Iya itu, yang ganteng kaya oppa-oppa Korea.” Seulas senyum menguar dari bibirku.
“Oh ... Mas Rangga, bilang dong, Kak,” cetus Tyo.
“Yee ... kalau kakak tahu namanya ga mungkin kakak nanya kamu.”
Terdengar suara adzan maghrib berkumandang. Tyo melihat ke arah jam di dinding. Dia bergegas ke kamar. Tak lama adikku itu sudah berganti pakaian dengan baju koko warna biru muda dan sarung coklat dengan motif kotak. Tak lupa peci putih di kepala dan sajadah di genggaman.
Tanpa sadar aku tersenyum.
“Bu, Tyo ke masjid dulu, ya.” Ibu mengangguk sebagai jawaban.
“Sekarang Tyo jadi rajin ke masjid semenjak ada Udin.” Ibu berucap setelah Tyo menghilang di balik pintu.
Aku menyipitkan mata.
“Kok, Mas Udin?”
“Iya, Udin rajin sembahyang di masjid. Tyo sering diajakin.”
Selanjutnya sudah bisa ditebak, Ibu menceritakan semua hal baik yang dilakukan Udin. Mulai dari memberi sayur hasil kebun, mengajak Tyo sholat jamaah di masjid sampai bantuin Tyo ngejain tugas.
Aku ber-oh ria mendengar penuturan Ibu. Tapi, wait, kenapa Ibu malah bercerita tentang kebaikan-kebaikan Mas Udin? Kan aku tertariknya sama Mas Rangga.
“Bu, kalau Mas Rangga gimana menurut Ibu?”
“Mungkin karena Rangga masih kuliah kali yah, dia rada cuek. Tapi tetep dia sama abangnya keduanya sama-sama ramah.”
Abangnya? Mas Udin? Apanya yang ramah? Aku aja dicuekin kok, tadi. Aku mengerucutkan bibir tanda tak setuju dengan omongan Ibu, tapi tak berani membantah.
“Ah, udah, ah. Kok jadi ngomongin mereka, sih. Yuk sholat maghrib dulu, Nin!”
“Iya, Bu.”
.
.
Selepas menjalankan kewajiban tiga rakaat, aku jadi teringat mie ayam Mba Iroh yang legendaris. Toping ayam melimpah ruah dan saos yang enak membuat warungnya tidak pernah sepi. Mendadak aku jadi nyidam.
“Bu, mie ayam Mba Iroh masih jualan ga jam segini?”
“Kamu pengin?” tanya Ibu. Aku mengangguk sebagai jawaban.
“Yaudah biar Ibu beliin.”
“Ga usah, Bu, biar Nina beli sendiri aja. Sekalian mau cari angin.”
“Ya udah, hati-hati yah. Oya, Nin, kamu lewatnya di jalan seberang aja yah. Anjing Pak Kusno suka menggonggong tiba-tiba. Apa lagi sama orang yang baru dilihatnya.”
“Oke, Bu.”
Dengan mengenakan jaket yang hodienya aku pakai untuk menutup kelapa, aku berjalan. Jalanan perumahan ini terlihat lenggang. Penerangan cukup memadai dengan jalan yang sudah di aspal.
Di ujung jalan perumahan ini persis, mie ayam Mba Iroh berada. Di sana juga jalan raya utama berada. Biasanya kalau mau pergi aku menunggu angkot atau bis di sana.
Aku berjalan sambil memainkan ponsel. Karena terlalu asik melihat layar, tak sengaja aku bersinggungan dengan seseorang. Tepatnya tertabrak.
“Aww.” Aku memekik, karena benturan cukup keras di sisi bahu.
“Eh, sorry Mba, aku ga sengaja.”
Mataku mendelik, bersiap ingin memarahi orang yang tidak sopan ini. Namun, aku justru terkejut.
Dia menyipitkan mata.
“Kamu anaknya Bu Indah ‘kan? Yang tadi pagi ....”
“Eits, jangan diterusin!” potongku cepat.
Ini cowo masih inget aja kalau tadi pagi aku ileran. Aku menggigit bibir bawah lalu membuang napas kasar.
Dia tersenyum kaku, lalu tangannya menggaruk belakang kepala yang aku rasa tidak gatal.
Duh, kenapa jadi gini sih? Kenapa malah canggung gini.
“Aku duluan.” Aku berniat menghentikan suasana tidak nyaman ini dengan menghilang secepatnya.
“Mau kemana, Mba? Udah malem,” ujarnya.
“Ke depan, mau beli mie ayam Mba Iroh.”
“Tutup, Mba. Udah 3 hari ini ga jualan, katanya anaknya masuk rumah sakit,” terangnya.
Yah, naseb.
Aku berbalik berjalan mendahului. Dia menyamakan langkahnya denganku.
Dalam hati aku girang setengah mati. Mimpi apa aku semalam, bisa berjalan berdampingan dengan cowo ganteng. Aku meliriknya sekilas, rambutnya ikal agak gondrong dengan hidung mancung dan postur tubuh tinggi nan tegap. Pakaiannya masih sama dengan yang kulihat tadi pagi.
“Oya, namaku Rangga. Kamu siapa?”
Sat set juga nih orang.
“Nirina. Panggil aja Nina.” Tanpa jabat tangan kami bertukar nama.
Dalam hati terus-terusan bersorak-sorai. Aku mengulum senyum sambil melihat ke arah lain.
“Jadi selama ini kamu tinggal dimana? Kok aku baru lihat?”
“Aku kerja.”
“Ohh ... hebat yah udah kerja.”
“Mas Rangga sendiri?” Aku balik bertanya.
“Masih kuliah.”
Hening, kami terus berjalan sampai tiba di depan rumahnya.
Dalam otak aku terus berpikir, minta nomor WA ga, yah? Tapi apa alasannya? ‘Kan tensin juga kalau dikira ngebet banget.
Padahal emang iya.
Kapan lagi coba punya kontak cowo ganteng?
“Mas Rangga, boleh minta nomer WA?” Akhirnya, kata-kata itu tercetus juga.
Rangga menoleh ke arahku, sesaat netra kami bertemu.
“Rangga! Baru pulang?”
Mendadak Mas Udin sudah berdiri di depan kami.
Yaelah, kenapa juga harus nongol sekarang Bang?
Bang Udin!!
.
.
.
Bersambung....