4. Panggil Nina Aja

1228 Words
4. Panggil Nina aja “Rangga! Baru pulang?” Mas Udin menegur lewat tatapannya. “Iya, Mas, habis ngerjain tugas bareng temen.” Mendadak Mas Rangga kaya segan gitu, dia segera mendorong gerbang ke dalam dan masuk ke dalam rumah. Duh, Mas Rangga. Nomor WA-nya gimana woii. Aku mendengkus kasar. Mas Udin masih berdiri di depanku. Aku memandangnya sekilas. Dia balik menatapku dengan pandangan yang entahlah. “Udah malem, mending kamu juga pulang, Mba.” Aku dibuat melongo dengan sebutan ‘mba’. Bukankah aku sudah memperkenalkan diri? Namaku Nina. Duh, berasa tuwir banget ga, sih? Apalagi yang manggil ‘mba’ itu orang yang jelas-jelas lebih tua dari kita. Laki-laki pula. Mas Udin berlalu dari hadapku. Terlihat dari ekor mataku, dia menutup gerbang dan menguncinya. Aku mengerucutkan bibir, lalu segera menyebrang ke rumah. “Nin, mana mie ayamnya?” Ibu melihat ke arah tanganku yang kosong. “Mba Irohnya ga jualan, Bu. Katanya anaknya dirawat.” “Astagfirullah.” Aku terus berjalan masuk lalu memilih duduk di kasur lantai yang sengaja digelar di depan televisi. Aku duduk menyender pada tembok dengan kaki ditekuk. Ibu mendekatiku dan duduk di depanku. “Terus kamu mau makan malam apa? Mau ibu buatkan mie rebus?” “Ga usah, ah, Bu. Mendadak aku uda kenyang.” “Kenyang makan angin.” Si bocil menimpali. Tyo baru saja keluar dari kamar dan rebahan di sampingku, tangan gempalnya menyalakan televisi dengan remot. “Beneran?” tanya Ibu memastikan. “Uhm.” Aku mengangguk. “Pasti kenyang dong, Bu. Kan habis ketemu Mas Rangga,” celetuk Tyo, kini posisinya memunggungiku. Asem nih, bocil. Ikut campur mulu. Aku mendelik menatap punggung Tyo, bibir bawah kugigit dengan napas yang kuhela. “Awas kamu, yah....” Aku bangkit dan langsung memoles kepala adikku. Tyo mengadu kesakitan, lalu dia bangkit dan merangsek ke Ibu. Minta perlindungan. “Ampuuun, Kak!” “Ga ada ampun. Kamu dari tadi sore bikin kakak kesel terus tahu, ga?” Aku masih mengejarnya. Tangan yang dari tadi mengepal berubah menjadi jari sepuluh dan bersiap menggelitiki Tyo. Dia tertawa terpingkal-pingkal. Kegelian. Sementara aku terus meluncurkan serangan. Hah, tiada ampun. Ibu yang melihat kekonyolan kami hanya bisa ikut tersenyum. Aku terus menggelitiki adikku hingga dia berteriak minta ampun, lagi. Huh, menang. “Sudah-sudah.” Ibu melerai. “ Tyo sudah ngerjain PR belum?” “Ga ada PR, Bu,” jawabnya enteng. “Yaudah, Ibu mau tidur dulu ya, takut kesiangan.” Ibu beranjak berdiri. Aku memilih rebahan dulu. Sementara Tyo, dia kembali menonton TV. Acara yang sedang diputar menampilkan tokoh seorang lelaki agak pendek dengan kumis yang melintang, sementara tokoh anak-anaknya mengayuh sepeda dengan tokoh bayi membonceng di depan. "Bang Jarwo!" "Adit!" Begitu kira-kira teriakan tokoh-tokoh di film kartun yang sedang ditonton Tyo. “Nin, awasi Tyo, kalau udah jam 9, suruh tidur. Ntar kesiangan lagi.” “Oke.” Aku menjawab dengan mata terfokus pada layar ponsel. Aku sedang mencoba mencari lowongan pekerjaan lewat aplikasi berlogo biru. Aku masuk ke dalam beberapa grup loker di kotaku. Di beberapa postingan aku sengaja meninggalkan komentar. Siapa tahu ada yang nyangkut. Kemudian aku mencroll tampilan beranda akun media sosialku, tak lupa memberi like pada setiap postingan yang lewat. Kadang dengan like, pemilik akun bisa sangat bahagia. Alasannya simpel, karena manusia memang butuh dihargai, diakui, dan dipuji oleh orang lain. Dunia sosmed memang seperti itu. Jam dinding dengan latar masjid itu menunjukan pukul 10 malam. Tyo sudah kusuruh tidur di kamar sejak satu jam yang lalu. Karena sudah larut, aku pun beranjak di kamar. . . Suara-suara di dapur membuatku terjaga. Bau masakan Ibu sudah menguar kemana-mana. Meskipun mengantuk, kupakasakan diri untuk bangun. Ibu sedang mencuci sayuran di wastafel saat aku sampai di dapur. Ibu seperti kaget melihtku sudah bangun. Lalu kemudian tersenyum. “Nina mau bantuin ibu?” Aku menunjukan deretan gigiku, dengan mata yang masih setengah terpejam. “Jam berapa, Bu, sekarang?” Ibu memandang jam dinding usang yang berada di dapur. “Baru jam 4:15.” “Nina ke kamar mandi dulu ya, Bu.” . . Pukul setengah 6 pagi, Ibu sudah mulai membuka lapak. Ada nasi ponggol dan nasi lengko serta beberapa gorengan tempe dan tahu isi. Tidak perlu menunggu lama, para pembeli yang mayoritas warga perumahan berdatangan. Kami tinggal di perumahan jadul, jaman dulu. Bentuk rumah kami pun berbeda-beda, ada yang besar, ada yang sedang, ada yang halamannya luas, juga ada yang tidak mempunyai halaman sama sekali. Tidak seperti perumahan subsidi, yang sama semua. Aku membantu dengan memasangkan karet pada nasi bungkus dan memasukannya ke dalam kantong kresek. Mentari mulai bersinar, beberapa anak sekolah mulai terlihat berangkat. Kebanyakan dari mereka yang lewat berpakaian merah putih. Itu karena memang ada sebuah Sekolah Dasar yang tak jauh dari sini. Sekolahnya Tyo. “Nin, Tyo sudah bangun?” Ibu berbisik padaku ditengah-tengah kesibukan melayani pembeli. Aku mengangkat bahu. Setelah semua pembeli pergi. Ibu bergegas masuk ke dalam. “Nin, kalau ada yang beli ntar dilayanin aja yah, Ibu mau bangunin Tyo.” Aku mengangguk sebagai jawaban. Dari tempatku berdiri, ada seorang cowo yang mendekat dengan piring di tangan. Hati ini mendadak girang. Senyum terkembang langsung menghiasi wajahku. Untung tadi subuh sekalian mandi. Ga takut ada iler lagi. Bye-bye iler. “Ibu mana? Aku mau nasi lengko, dua.” Mas Rangga sedikit melongokan kepala mencari Ibu. “Aku bisa buatin, kok.” “Yakin?” Mas Rangga menyipitkan mata. “Yakinlah.” Aku segera meraih piring yang Mas Rangga bawa, dan membuat pesanannya. Nasi lengko. Yaelah, cuma bikin nasi lengko doang, mah, kecil. Tinggal nasi putih kasih toping sayuran seperti timun, kol putih dan tauge, irisan tahu lalu siram dengan bumbu kacang, kecap dan terakhir remahan krupuk serta bawang goreng. “Pakai sambel, Mas?” tanyaku. “Pake, dikit aja. Taruh di pinggir, yah.” Sesuai perintah, aku menambahkan sambel di pinggir piring. “Nih, duitnya, Mba.” Tangan Mas Rangga menjulurkan uang kertas pecahan 10 ribu. “Jangan panggil mba dong, Mas. Berasa tuwir banget,” protesku sambil meraih uang berwarna ungu tersebut. “Lah, ‘kan emang udah tua.” Jawabannya, idiiihh. Untung ganteng, kalau ga.... Aku menghela napas. “Emang umur Mas Rangga berapa?” Aku balik bertanya, sewot. “21 ....” Aku kaget, mulutku membuka seperti huruf o kecil. “Mba emang berapa?” tanyanya santai. Mampus gue. Ternyata emang gue udah tuwir. Kualihkan pandangan ke arah lain, sengaja. Pura-pura tuli. Dapat kulihat dari ekor mataku, dia mengulum senyum. “22.” Aku menjawab dengan sedikit kesal. “Tuh, kan. Norma di masyarakat kita mewajibkan yang muda memanggil dengan sapaan kepada yang lebih tua. Mba, mas, kak, kakak.” “Tapi, kan, dilihat dari sudut manapun kamu terlihat lebih tua dari aku. Jadi, panggil aku dengan sebutan Nina aja. Oke?” Mas Rangga melihatku dengan senyum tertahan. Tangan kanan dia gunakan untuk menutup sedikit bibirnya. Tapi aku masih bisa lihat, woy. Asem. Dia meledekku dengan senyuman. “Ya ‘kan aku cowo. Otomatis lebih tinggi, lebih besar, lebih dari postur tubuh cewe. Di sains juga dijelaskan, hormon testosteron mempengaruhi perkembangan tubuh ketika masa puber yang berakhir pada pertumbuhan tinggi cowo lebih pesat ketimbang cewe,” kilahnya. Yaelah, kok bawa-bawa sains juga sih? Aku ‘kan anak IPS. “Cocok kok, dipanggil Mas Rangga. ‘Kan sekalian latihan.” Mas Rangga menyipitkan mata. “Untuk?” “Untuk membina keluarga yang sakinah, mawaddah dan warahmah.” Eaa. Duh, agresif banget aku. . . Bersambung....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD