5. Utang dan Bapak
Masih terngiang di telinga, obrolanku tadi pagi dengan Mas Rangga. Hati masih berbunga-bunga, perasaan gembira tergambar jelas di wajah.
Dagangan Ibu sudah habis. Alhamdulillah.
Aku mulai memberesi barang-barang, satu per satu kubawa masuk hingga menyisakan setumpuk kertas bungkus dan kantong kresek.
Dari tempatku berdiri, Mas Rangga sedang membuka pintu pagar. Pakaiannya sudah rapi dengan kemeja warna maron bermotif kotak dan celana denim dengan tas di punggung.
Ah, meleleh hatiku.
Ternyata seperti ini rasanya mengagumi cowo ganteng.
Ahay.
Dia melihat ke arahku. Tangan kanannya terangkat, melambai padaku.
Kuncup-kuncup bunga dalam hati seketika bermekaran. Aku melebarkan senyum lalu mengangkat satu tangan tinggi-tinggi, balas melambai.
Rumah kami hanya dipisahkan jalan beraspal dengan lebar kurang lebih 6 meter. Aku bisa dengan jelas melihatnya dari tempatku berdiri. Dia tersenyum lalu berjalan ke kanan, ke jalan raya. Sepertinya dia naik angkutan.
Setelah Mas Rangga pergi, aku masuk ke dalam rumah dengan setumpuk kertas bungkus dan kantong kresek. Lalu kemudian kembali untuk menggeser meja.
Namun, netraku menangkap sosok yang tidak ingin aku lihat. Dia berdiri di sisi meja, dengan telapak tangan menyentuh pinggiran meja. Sejurus kemudian kami bertemu pandang. Namun, dia buru-buru mengalihkan pandangan ke arah lain.
“Ada apa Mas?” tanyaku to the point.
“Ibu ada?”
“Lagi kumpulan di sekolahnya Tyo. Ada perlu apa?”
“Eeemm.” Dia memainkan jari-jarinya di atas meja hingga menimbulkan suara.
“Awas Mas, aku mau geser ini meja.” Dia bergeser selangkah.
Dengan susah payah aku berusaha menggeser meja. Namun, sampai aku mengeluarkan tenaga dalam pun meja ini hanya bergeser 30 centi meter. Kulirik dia yang hanya melihat dengan kedua tangan menyilang di d**a.
“Apa? Mau minta tolong?” tanyanya santai.
“Gak. Ga perlu.” Aku menghela napas kesal.
Baru kali ini nemuin cowo lihat ada cewe kesusahan, bukannya dibantuin tapi malah dicuekin. Yaelah, tenaganya dikantongin banget, Bang.
Namun, tanpa pemberitahuan kedua tangannya sudah memegang satu sisi meja. Dengan isyarat mata, dia menyuruhku untuk memegang sisi meja di seberang. Aku menurut. Dalam hitungan detik meja sudah berpindah tempat.
Aku menghela napas panjang. Netra ini sekilas menyorot wajah cowo berkacamata di sampingku. Wajahnya cukup bersih untuk ukuran seorang lelaki. Hidung macung dengan jambang tipis.
“Cakep juga,” lirihku.
Mas Udin menatapku. Tak ingin ketahuan, aku buru-buru merunduk.
“Ibu masih lama, Mba?” tanya Mas Udin.
“Ga tahu, Mas.” Aku menggelengkan kepala karena memang Ibu ga bilang kumpulannya sampai jam berapa.
“Yaudah, nanti saya ....”
“Eh, Nina ‘kan, yah?”
Aku dan Mas Udin sama-sama menoleh ke sumber suara. Aku menyipitkan mata.
“Iya, Bu,” jawabku mengulum senyum.
“Kamu kapan pulang? Bukannya kerja di Batam?”
Itu suara Bu Leni. Tetangga baru di perumahan ini. Dia pindah baru sekitar 2 tahun. Dulu, waktu awal-awal jadi warga sini dia sering berkunjung ke rumah Ibu. Aku tahu pada saat video call Ibu selalu bersama Bu Leni. Hanya untuk sekedar ngobrol ngalor-ngidul dengan Ibu. Namun, setelah membuka toko kue, Bu Leni jadi jarang berkunjung.
“Baru kemaren, Bu. Bu Leni habis belanja sayur, yah?” Mataku mengarah pada kantong plastik transparan di tangan.
“Iya, nih.” Plastik di tangan Bu Leni sedikit bergoyang.
"Lagi liburan, yah?" tanya Bu Leni.
"Iya, Bu. Niatnya juga mau cari kerjaan di sini aja. Ibu pengin anaknya kumpul."
Masih dengan senyum mengembang aku meladeni tetangga. Kemudian, netraku terpaku pada sosok Bu Darti yang berada di sisi kanan Bu Leni.
“Reka sudah punya anak, Bu?” tanyaku basa basi. Reka adalah temanku sewaktu sekolah SMA dulu. Dia menikah saat usianya genap 20 tahun. Bu Darti adalah ibunya.
“Sudah. Anaknya cewe. Uuhh gemes banget deh anaknya si Reka. Baru sepuluh bulan dia sudah bisa jalan loh, Bu.” Lengan Bu Darti mencolek lengan Bu Leni.
“Masa toh, Bu? Duh pinter banget anaknya Reka,” sanjung Bu Leni.
“Uhm. Reka sekarang hidupnya udah enak loh, Bu. Dia ga kerja lagi, suaminya ga ngebolehin. Dulu saya sempet khawatir ‘kan anak saya menikah muda. Tapi ternyata hidupnya malah enak sekarang.”
“Emang kerja apa, Bu, suaminya Reka?” Aku bertanya agar bisa mengimbangi obrolan orang tua di depanku ini.
“Dia kerja di bank,” jawab Bu Darti dengan bangga.
“Mas ini yang ngontrak rumahnya Bu Sofi, yah?” tanya Bu Leni kepada Mas Udin.
Aku lupa makhluk cowo ini masih berdiri di antara kami.
“Iya, Bu,” jawab Mas Udin ramah.
“Masnya ngapain berduaan sama Nina? Pacarnya?” selidik Bu Darti.
Dih, kepo banget nih orang tua.
Mas Udin mengulum senyum lalu menggeleng.
“Bukan, Bu. Mas Udin lagi nungguin Ibu. Ada perlu katanya.” Segera aku melakukan klarifikasi.
Duh, berasa artis pake konferensi eh, klarifikasi maksudnya.
“Kamu mending buruan nikah deh, Nin. Biar hidup kamu enak, ada yang nyari duit. Ga cape kerja terus. Utang Bapak kamu sudah lunas semua ‘kan?”
Deg.
Hatiku mencelos mendengar kata utang dan Bapak.
“Emang utang apaan, Bu Dar?” tanya Bu Leni setengah berbisik.
“Bapaknya si Nina dulu meninggal karena kecelakaan. Nah masalahnya, itu bukan kecelakaan tunggal. Ada beberapa korban yang meninggal dan juga dirawat. Dari situ mereka harus bayar ganti rugi, biaya pengobatan dan uang santunan. Semuanya habis terjual, tinggal rumah ini aja yang tersisa. Mereka bahkan sampai mencari pinjaman kemana-mana termasuk ke bank....”
“Bu Darti!” Aku mengepalkan tangan, kata-katanya begitu menggoreskan luka di hati. Sebegitu teganya dia membuka aib keluargaku di depan wajahku sendiri.
Dia melirikku sewot. Mungkin tersinggung karena aku telah berseru atau karena aku memotong ceritanya.
“Yuk, Bu Leni, kita pulang. Ngapain juga kita berlama-lama disini. Dasar tidak sopan!”
Bu Darti buru-buru mengambil langkah, sementara Bu Leni mengekorinya.
Aku menghela napas panjang. Tanpa sadar aku merapatkan punggung ke tembok. Wajahku tengadah melihat langit biru lalu memejam berusaha menstabilkan debar emosi dalam d**a.
Dari ekor mataku, Mas Udin masih berdiri di tempat yang sama. Dia sama sekali tak bertanya atau mengatakan apapun.
“Takdir hidup ini siapa yang tahu. Tak pernah terbayangkan olehku kalau bapak harus meninggal dengan utang yang harus kami tanggung. Waktu-waktu tersulit telah berhasil kami lalui. Mereka para tetangga bahkan tak ada yang mau membantu. Kami berjuang sendirian. Tapi mengapa mereka seolah tak mengerti sakitnya masih terasa disini?” Tanganku meremas baju di d**a.
Aku luruh ke tanah, berjongkok. Kedua tangan bertumpu pada lutut, wajah menempel lengan. Sakitnya masih terasa di d**a. Perih lagi terkoyak rasanya harus kehilangan orang terkasih dan menanggung beban utang secara bersamaan. Air mataku mendadak merebak.
Aku yang terbiasa hidup nyaman, harus banting tulang untuk membayarkan utang-utang di bank. Selama 4 tahun kerja di Batam, aku bahkan tak pernah membeli barang-barang mahal. Semua uang gajiku aku kirimkan ke Ibu guna mencicil semua utang.
Dari celah lengan, sepasang sendal jepit berada tepat di depanku. Masih dengan pipi yang basah aku berusaha mengangkat wajah.
Sosok lelaki berkaca mata tengah sedikit berjongkok. Tangan kirinya menepuk-nepuk bahuku, pelan. Netra kami bertemu pandang. Dari jarak sedekat ini, kurasakan ada gelenyar aneh yang tiba-tiba menyerang.
.
.
Bersambung ....