Dilarang Masuk

1161 Words
Sesudah melihat Elena yang pulang dengan ojol itupun Clara langsung bergegas pulang ke mansionnya. "Yah hiburan hari ini cukup menyenangkan," ucap Clara dengan senyum yang tidak luntur sedikit pun. Sudah beberapa hari Clara tidak masuk sekolah, ia sangat malas karena hanya kegiatan class meeting saja tidak penting baginya. Juga ia yang tak pernah diikutkan lomba juga alasan kuat ia malas masuk sekolah, mungkin ia akan masuk saat pengumuman peringkat diumumkan. Hari-hari damai ia lewati dengan baik, Clara banyak mencari kesibukan disaat libur dadakan ini. Clara setiap hari olahraga. Clara juga belajar masak dengan pelayan yang ada di mansionnya itu. la ingin bisa memasak mulai sekarang, ia ingin memasakkan makanan spesial kesukaan kakeknya. Dua hari berturut-turut mencoba memasak akhirnya Clara berhasil kali ini. la berniat membawakan makan siang untuk kakeknya dengan lauk hasil masakannya ini. Segera setelah bersiap-siap Clara berangkat menuju kantor kakeknya Melihat dari jauh kantor kakeknya yang sudah terlihat pun Clara menyadari betapa berkembangnya sekarang bisinis kakeknya. Ketika sampai di lobby kantor perusahaan itu ia menatap takjub betapa megah dan besarnya kantor kakeknya ini. Ya ini memang baru pertama kali ia menginjakkan kaki di kantor kakeknya yang baru. Terakhir kali kesini kantor kakeknya belum sebesar dan semewah ini, ya wajar si itu ketika Clara masih berumur 12 tahun. Ketika sampai di lobby ia tidak tau dimana ruangan kakeknya. Clara lebih memilih bertanya kepada resepsionis. "Siang mbak ruangan Bapak Ranto dimana ya?" tanya Clara ramah. Sang resepsionis yang mendapati tamu remaja itu hanya mengerutkan keningnya, ia melihat Clara dari atas sampai bawah. Clara hari ini cuma menggunakan dress biru selutut dengan tambahan cardingan berwarna hitam, juga dengan sendal jepit bulu. Resepsionis melihat Clara aneh kenapa aja remaja yang ingin bertemu Presdirnya. "Maaf ya adek, adek siapa ya, ada perlu apa dengan presdir kami," jawabnya agak judes. "Aku hanya ingin mengantar makan siang kok mbak," ucap Clara sambil memperlihatkan rantang makanan yang ia bawa. "Maaf adek kalau tidak ada janji sebaiknya adek pulang, Presdir kami sibuk," jawab mbak resepsionis dengan sinis. la pikir remaja didepannya ini hanya orang iseng, mana mungkin Presdir mereka punya tamu remaja labil ini. Sebelum Clara menjawab resepsionis itu langsung menyuruh Clara untuk pergi. Clara yang jengkel pun menjawab, "saya ini cucu presdir loh mbak," ucap Clara sebal. Sang resepsionis tidak percaya, melihat pakaian Clara saja dia sangsi, apalagi ia mengaku-ngaku cucu presdir, mana mungkin cucu presdir sekucel ini pikir resepsionis. la lebih memilih mengabaikan Clara, ia bahkan memanggil satpam agar membawa Clara pergi. Clara yang melihat itupun geram segera ia mengambil hp dan menelepon kakeknya itu. "Kakek," dengan nada merengek. "Pokoknya gak mau tau, kakek harus jemput Clara di lobby," ujar Clara cemberut. "Cepat kakek, kalau sampai dalam lima menit kakek belum turun aku akan marah." Clara Langsung mematikan telepon. Melihat Clara yang tengah menelepon dengan gaya bossy itu sang resepsionis dan satpam hanya berkerut bingung. Halah tidak mungkin juga cucu presdir, pasti remaja itu cuma main-main -pikir resepsionis dan sang satpam. Kemudian tanpa basa-basi satpam itu segera memegangi Clara ingin membawanya keluar. Clara pun memberontak tapi sebelum satpam berhasil membawa Clara keluar mereka terhenti karena mendengar teriakan presdir mereka. "Apa-apaan kalian, berani sekali mengusir cucu saya," teriakan lantang kakek Clara. Mendengar itupun sontak satpam itu langsung melepaskan tangan Clara dan langsung merunduk. "Maafkan kami Presdir, kami tidak tahu kalau nona ini cucu presdir," ucap mereka menyesal. Mendengar itupun kakek Clara terlihat marah. "Reyhan urus mereka," perintah kakek kepada sekretarisnya itu. Kemudian kakek membawa Clara keatas. Entah bagaimana akhirnya nasib satpam dan resepsionis itu, Clara tidak perduli. Salah mereka sendiri bersikap sombong dan tidak menghargai orang lain. Clara sampai di ruangan kakeknya dengan cepat, ternyata ada lift khusus untuk kakeknya ini, Jadi ia tidak perlu menggunakan lift karyawan "Wah ruangan kakek keren banget," ucap Clara Begitu takjub melihat interior ruangan kakeknya. "Ruangan ini bisa jadi milikmu jika kamu rajin belajar dan menguasai materi bisnis dengan cepat Clara," ucap kakek sengaja memancing agar Clara lebih rajin belajar bisnis lagi. Clara sudah dua minggu belajar bersama sekretarisnya, Reyhan dan selama itu pula ternyata Clara cepat mengerti pada materi yang Reyhan jelaskan. "Hoho Baik kakek, jangan kaget kalau nanti Clara sudah bisa menggantikan kakek," ucap Clara dengan semangat. "Akan kakek tagih perkataan mu ini Clara," ucap kakek sambil tersenyum. Kemudian Clara lekas menata semua makanan yang ia dibawa dimeja. Melihat ada makanan kesukaan nya kakek pun seketika berbinar. "Benar ini kamu yang masak, bukan bi emma?" tanya kakek. "Aku dong kek yang masak," ucap Clara bangga. "Aku belajar dua hari berturut-turut dan akhirnya aku bisa memasak sendiri hehe," ucap Clara menjelaskan. "Wah, mari kita coba masakanmu apakah akan enak," ucap kakek tersenyum jail. "Pasti enak dong kek, orang Clara yang masak kok"ucap Clara dengan tingkat percaya diri yang tinggi Melihat itu kakek hanya menggelengkan kepalanya, melihat Clara yang dengan semangat menyodorkan sup iga itu kepadanya, dengan senang hati kakek menerima suapan tersebut, seketika matanya berbinar. Ah ia sungguh tidak menyangka rasa masakan Clara akan selezat ini. Persis seperti masakan istrinya dulu. la jadi teringat istrinya yang telah lama meninggal. Melihat mata kakek yang berkaca-kaca, Clara panik. Apakah masakannya sungguh tidak enak, sampai kakek mau menangis ketika memakannya. "Kek kenapa, soup iga buatan Clara tidak enak ya," ucap Clara sedih. "Tidak Clara, kakek hanya teringat nenekmu," ucap kakek sambil mengusap sudut matanya. "Rasa masakanmu persis seperti rasa masakan nenekmu, kakek jadi rindu," ucap kakek merunduk sedih. Melihat itu Clara segera memeluk kakeknya. "Kakek jangan sedih lagi kakek kan masih punya aku, dan sekarang kakek bisa merasakan masakan nenek setiap hari, Clara bisa membuatkan untuk kakek setiap hari," ucap Clara tulus. Clara merasakan kesedihan kakek. Sang nenek meninggalkan Clara dan kakek ketika Clara masih umur 6 tahun, hanya selang 2 tahun dari kematian orangtuanya. Kakek Clara begitu terpukul ketika mengetahui anak semata wayangnya dan menantunya meninggal ditempat setelah kecelakaan tragis yang dialaminya. Clara tidak menyangka kejadian itu akan terjadi, anaknya hanya mengatakan pergi beberapa hari untuk keperluan bisnis dan menitipkan Clara di mansionnya. Tetapi disaat anaknya itu mau menjemput Clara kecil sebuah insiden mengerikan itu terjadi yang membuat Clara kecil menjadi yatim piatu. Kakek Clara begitu terpuruk saat itu beruntung masih ada istrinya juga cucunya yang selalu menguatkan. Tetapi selang 2 tahun dari kejadian mengerikan itu, ternyata tuhan kembali menguji ketabahannya. Istri yang ia cintai meninggal dunia karena serangan jantung, ia begitu terpukul saat itu. Anak dan menantunya yang meninggal tragis karena kecelakaan dan sekarang istri yang ia cintai juga meninggalkannya. la bahkan sangat frustasi, dan selalu menyalahkan tuhan. Kenapa ia selalu diuji dengan ujian yang berat. Kakek bahkan hampir menyerah dalam hidupnya karena ia sudah tidak punya semangat hidup itu. Pernah nekat hampir saja ia bunuh diri dengan menjatuhkan diri dari balkon kamarnya, tetapi ketika mendengar tangisan Clara, ia teringat bahwa masih ada malaikat kecil yang harus ia bahagiakan. Kakek Clara mulai bangkit dan mempunyai semangat hidup lagi, ia mulai mengembangkan bisnisnya yang hampir bangkrut, tujuannya hanya satu. Ya membahagiakan Clara. "Kakek mau seberapa banyak nasinya?" tanya Clara fokus mengambil nasi kakek. Mendengar tidak ada jawaban kemudian ia menoleh kepada kakeknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD