"Kakek," panggil Clara lembut.
"Kakekk," panggil Clara lagi dengan menggoyangkan tangan didepan wajah kakeknya. Melihat kakeknya yang hanya diam saja Clara pun berteriak kencang.
"Kakeeeekkk..." Sontak saja sang kakek tersadar dari lamunan nya itu.
"Ah ya apa Clara."
"Kakek mikirin apa sih kok Clara panggil-panggil dari tadi gak dijawab," ucap Clara dengan cemberut.
"Maaf ya sayang, kakek hanya sedikit kepikiran tentang perkejaan." Jawab sang kakek tidak ingin memberi tahu lamunannya itu. Ia tidak mau Clara kembali bersedih mengingat orangtuanya.
"Baiklah sekarang ayo kita makan kakek, perut adel sudah sangat lapar," ucap Clara menyengir. Melihat cucunya yang tidak sabaran itu, kakek segera memakan makan siang yang dibawakan Clara. la makan dengan sangat lahap. Sampai semua makanan dalam rantang itu habis.
"Ah kenyang sekali." Ucap Clara sambil memegangi perutnya yang terasa sangat penuh.
"Haha kakek juga sangat kenyang." Ucap kakek menirukan gaya Clara.
"Ihh kakek," ucap Clara sebal melihat kakek yang menirukan gayanya tadi Tawa sang kakek pun pecah saat melihat cucunya itu marah-marah. Clara terlihat begitu imut saat ini.
Mendengar tawa kakek yang seakan mengejeknya.
Clara pun merasa sebal. la kemudian tersenyum jahil, segera ia mendekati kakeknya dan menggelitiknya. Kakek yang tidak siap tidak bisa menghindar.
"Ha ha haaaa aduhh aduh haha...," tawa kakeknya samakin menggema.
"Haha rasakan ini kakek."
"Hahaa aduh udah Clara udahh haha."
"Hahaha kakek tidak kuat sudah."
"Hahahaaaa..." Tawa keduanya menggema di ruangan khusus presdir itu.
Sekertaris yang memang ia duduk di samping ruangan itupun sontak mengembangkan senyumnya. la senang tuannya bisa tertawa lepas seperti itu.
"Semoga presdir selalu dilimpahi kebahagiaan." Ucap sang sekertaris tulus.
⁰⁰⁰
Setelah beberapa hari. Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu Clara datang juga Ya apalagi kalau bukan hari pengumuman peringkat paralel sekolahnya. Ah ia rasanya begitu bersemangat untuk ke sekolah. la tidak sabar melihat hasil ujiannya itu.
"Pasti aku akan jadi juara paralel kali ini," ucapnya dengan percaya diri.
Sampai disekolah ia segera menuju kelasnya terlebih dahulu, karena pengumuman masih jam 8 nanti. Sangking semangat nya ia tidak sadar bahwa ia berangkat terlalu pagi.
"Ah aku lupa ini masih terlalu pagi," ucapnya sambil melihat jam yang melingkar ditangannya itu.
Wajar saja sekarang sekolah sangat sepi, ya karena masih jam 06.15. Siapa yang mau berangkat di jam segini, apalagi ditambah tidak adanya kegiatan belajar mengajar. Murid-murid semakin malas berangkat pagi. Untuk menghilangkan rasa bosan Clara ia lebih memilih mendengarkan musik melalui earphone dan bermain game di ponselnya.
Clara yang sangat fokus dengan dunianya itu, tidak sadar bahwa kelas semakin ramai. Banyak teman sekelasnya yang sudah datang.
Ada yang duduk melingkar menggosip, ada yang memilih melanjutkan tidur di kelas, ada juga yang berteriak tidak jelas sambil bernyanyi. Keadaan kelas yang berisik tidak mampu menarik Clara dari dunianya.
Clara memang sangat suka bermain game dengan mendengarkan musik, ia bahkan bisa berjam-jam untuk terus duduk bermain ponsel itu. Sesekali ia bersenandung mengikuti alunan lagu yang ia putar.
Sampai seseorang dengan kurang ajarnya melepaskan earphone yang dipakai Clara. Sontak ia menghentikan gamenya dan mendongak untuk melihat siapa yang berani mengganggu kesenangannya itu.
Sontak ia menghentikan gamenya dan mendongak untuk melihat siapa yang berani mengganggu kesenangannya itu.
Terlihat siswa tampan dengan tampilan rapi dan jangan lupakan kacamata bulat yang selalu bertengger di hidung mancungnya.
"Eh ada apa Roland," tanya Clara setelah mendongak keatas.
Sebenarnya ia ingin marah tadi, tapi berhubung yang ada didepannya ini ketua kelas, ia mengurungkan niatnya. Dari semua murid yang ada dikelas ini hanya ketua kelas inilah yang selalu menolong Clara.
Wibawanya sebagai seorang pemimpin memang buka main-main. Jadi tidak salah wali kelasnya itu memilih Roland untuk menjadi ketua kelas.
"Kamu tidak melihat pengumuman di mading? Semua sudah berbondong ke sana tetapi kamu masih asik disini sendirian" ucap Roland.
Kemudian Clara segera menoleh ke seluruh penjuru kelas. Ah benar hanya tinggal dirinya sendiri dikelas.
"Hehe ini mau melihat mading," ucapnya sambil mengiris malu. la tidak sadar ternyata semua teman sekelasnya sudah keluar dari tadi.
"Dan terimakasih juga Roland, karena kamu sudah mengingatkanku," Ucap Clara berterima kasih.
Mungkin jika Roland tidak menegurnya ia akan terus bermain game sampai sekolah kembali sepi. Inilah yang Clara tidak sukai dalam dirinya, jika ia terlalu senang ataupun bersemangat, ia akan lupa waktu.
Setelah mendengar ketua kelasnya itu mengatakan ya, Clara segera beranjak menuju ke mading.
Ternyata di sana sudah banyak murid-murid yang berkumpul mengelilingi mading. Dengan susah payah Clara menerobos murid-murid yang ada di sana. Sampai di barisan terdepan segera Clara mencari namanya dan ketemu, setelah ia mengurutkan namanya ternyata ia hanya juara 2 paralel.
"Yah aku kira akan jadi juara 1 tadi," ucapnya dalam hati sedih. Kemudian ia yang penasaran segera melihat siapa murid pintar itu yang bisa menyainginya itu.
Padahal jelas ia sudah mengikuti ujian ini dua kali, dan jawabannya sama kepada bisa ia kalah. Setelah lama mencari kemudian ia menemukannya.
"Jonathan Wongso," gumamnya membaca nama itu.
Siapa Jonathan? Seingatnya tidak ada yang bernama Jonathan disini Atau ia yang memang tidak tahu karena murid-murid yang semakin berdesakan Clara agak terdorong dari belakang. la kemudian lebih memilih mundur, bergantian dengan yang lain.
Sesudah ia meninggal mading ia masih kepikiran tentang siapa sosok Jonathan itu.
Jonathan Wongso, la seperti pernah mendengar nama Wongso tetapi untuk nama Jonathan sepertinya ia benar-benar tidak tahu.
Apakah ia yang terlalu nolep jadi tidak tahu murid-murid pintar disini atau murid itu adalah pindahan dari sekolah lain.
Pusing memikirkannya Clara lebih memilih untuk segera beranjak pulang Tak apa ia sudah berusaha.
Dapat peringkat 2 juga sudah membanggakan. la kemudian berhenti memikirkan siapa sosok Jonathan itu, pemilik juara 1 paralel itu.
Dengan peringkat ini saja kakeknya pasti akan bangga denganku. Kemudian dengan perasaan senang ia melangkah kakinya sambil bersenandung ria.
Sampai seorang tiba-tiba mengacaukan moodnya itu. Siapa lagi kalau bukan Elena. "Hai Clara, kamu kemana saja tidak masuk sekolah beberapa hari ini," ucapnya sok perhatian.
"Aku sibuk," hanya itu yang keluar dari mulut Clara.
Melihat Clara yang tidak perduli, Elena sontak merasa aneh. Sejak kapan sahabat bodohnya ini cuek kepadanya.
Biasanya ia akan selalu berbicara lembut dengannya, oh jangan lupakan mata yang selalu berbinar-binar.
Tapi sekarang Clara terlihat berbeda. Mata yang memancarkan malas, juga jawaban-jawaban yang singkat keluar dari mulutnya.
Biasanya Clara yang selalu bercerita apapun kepadanya bahkan ia sampai muak mendengarkan cerita yang tak ada habisnya itu.
Tetapi kenapa sekarang ia cuma diam saja. Memilih mengabaikan pemikirannya, ia kemudian mengatakan tujuannya mencari Clara ini.