Dengan perasaan malu Kemudian ia dengan tanpa aba-aba langsung keluar dari kelas Clara di ikuti dayang-dayang setianya.
Clara yang melihat itupun menghela nafasnya, itu adalah pertama kalinya ia seberani itu dengan orang lain, tapi biarlah daripada ia yang terus dibully karena lemah.
Kemudian ia kembali menyelusup kepalanya dimeja sampai bunyi bell terdengar itu tandanya sebentar lagi pembelajaran akan dimulai.
Bel sekolah berbunyi menandakan bahwa waktu istirahat siswa siswi dimulai, semua berbondong bondong menuju ke kantin.
Sama halnya dengan yang lain Clara juga bergegas ke kantin untuk mengisi perut yang sudah keroncongan itu.
Clara memesan satu porsi bakso jumbo penuh dengan saos dan sambal yang banyak, ia memakan bakso itu penuh dengan tenang sampai akhirnya sahabat busuknya datang.
la menatap benci orang yang tiba-tiba duduk didepannya itu, teringat semua penghianatan dan kelakuan busuk yang ia lakukan hanya karena ia iri dengannya.
"Kamu kemana saja sih ra, masa aku nunggu kamu sampai jam tujuh kurang kamu nggak jemput aku sih, terpaksa aku harus ngojek dengan uang sakuku, untung saja aku nggak telat," ucapnya sambil cemberut dengan wajah yang sok sedih itu.
Clara yang mendengar itu sontak saja ingin muntah, lihatlah sahabat busuknya itu dengan tidak tahu malunya menyalahkan Clara.
Ya memang Clara sungguh baik hatinya sampai-sampai mau saja dia setiap hari menjemput dan mengantar sahabatnya, walaupun rumahnya berlawanan dengan arah ke sekolah.
"Oh maaf ya aku tadi buru-buru kesiangan." Hanya itu yang keluar dari mulut Clara, walupun sebenarnya dia sangat ingin memaki-maki gadis didepannya itu, tetapi ia tahan semua karena ia masih punya banyak waktu untuk membalaskan semuanya.
Teringat semua jelas penghianatan yang dilakukan sahabatnya itu dan David, hinaan serta makian Elena yang masih sangat jelas terekam di otaknya. Clara harus sabar untuk saat ini, atau jika tidak pembalasan ini terlalu mudah untuk Elena.
"Aku lapar Ra, sebagai gantinya kamu nggak jemput aku tadi, pesankan aku bakso sama sepertimu dong, uangku sudah habis untuk bayar ojek," ucapnya sambil tersenyum sedih.
Wahh... lihatlah manusia tak tahu malu ini, apa kalian pikir Clara akan merasa bersalah dan menuruti apa kemauan sahabatnya itu.
Oh tentu saja tidak ia benar-benar muak melihat senyum kepura-puraan itu, Clara sekarang tau uang saku Elena tidak sekecil itu yang habis hanya untuk bayar ojek, ia bahkan selalu diberi uang saku lebih dari orangtuanya karena dia anak tunggal, tapi kenapa dia malah memalak Clara.
"Sungguh manusia serakah, sekarang aku tahu kenapa aku menjadi pusat ke irian mu Elena, karena kamu tidak tidak pernah bersyukur," ucap Clara dalam hati.
Padahal orang tua Elena sangat memanjakan anaknya itu, walaupun keluarga Elena dari orang yang sederhana tapi semua kemauan Elena selalu dituruti walupun harus berkerja keras hanya untuk kebahagiaan putrinya itu.
Tetapi sayang semua kasih sayang itu bagi Elena masih belum cukup, dia masih iri dengan kehidupan Clara yang ia rasa lebih baik.
Padahal Clara sudah tidak punya orangtua, di asuh Kakeknya yang super sibuk itu sampai Clara jarang sekali merasakan hangat sebuah keluarga.
Sungguh miris ketika Clara sangat ingin merasakan kehangatan keluarga seperti Elena tetapi Elena malah melakukan sebaliknya menyia-nyiakan orangtuanya.
"Aduh nggak bisa Elena, uangku tadi tertinggal di mansion, aku hanya bawa uang pas untuk bayar ini saja," Haha biarlah Clara berbohong dan lihat bagaimana setelah ini.
"Yah gimana dong Ra aku laper banget nih, masa kamu tega sebagai sahabatku malah enak-enak makan sendiri," ucapnya melirik bakso jumbo yang masih banyak itu.
Mendengar itu sontak Clara memutar otak bagaimana agar Elena tidak bisa meminta makanannya, "Eh nggak bisa Elena ini sudah aku tuang banyak sambal tadi, kan kamu nggak tahan pedes."
Tapi walaupun sudah beralasan seperti itu Elena tetap kekeh memaksa Clara agar memberikan baksonya dan tanpa sepengetahuan Elena, diam-diam Clara memasukkan banyak sambal ke baksonya terus menerus sampai setengah sambal di meja habis.
Dengan berpura-pura terpaksa Clara berkata, "Yaudah nih aku kasih kamu baksonya padahal sebenarnya aku belum kenyang tapi tak apa buat sahabatku ini aku rela kok."
Mendengar itu sontak Elena langsung tersenyum lebar dan merasa sangat senang kembali ia bisa membodohi sahabatnya itu.
Kemudian Clara segera bangkit dari duduknya ia berpamitan ke Elena untuk ke toilet.
"Elena aku mau ke toilet dulu ya kebelet ini," Elena tampak tak rela karena niatnya ingin melihat Clara memelas karena ia memakan baksonya, tetapi ia kemudian menganggukkan kepala.
Setelah Clara pergi ia berkata, "Sial, padahal kan aku sudah merebut baksonya seharusnya dia lihat bagaimana aku menghabiskan baksonya tapi malah pergi."
"Tak apa lah besok-besok juga masih ada waktu, Clara kan bodoh mana sadar dia kalau cuma aku permainkan haha...," senyum iblis itu terpancar dari wajah Elena
la kemudian melihat bakso yang ada didepan nya daripada menganggur akhirnya dia memakan baksonya.
Saat suapan pertama Elena langsung terbatuk tersedak sambal, yang dia rasakan hanya rasa terbakar di lidah dan perih di hidungnya.
"Hahhh, haah."
"Mana air, air."
"Ah, sial air nya habis." Segera ia berlari ke penjual minuman yang ada di deret sebelah kanan kantin itu.
Elena dengan tak sabaran langsung mengambil minuman dingin dan meminumnya rakus.
Elena hanya bisa mendumel saat mengira tadi Clara hanya main-main saja dengan ucapannya bahwa bakso itu pedas.
"Ah, sial seharusnya tadi tak usah ku makan sisa Clara tadi," ucap Elena dengan jengkel.
Dari kejauhan Clara melihat semua, di dalam hatinya ia tertawa jahat merayakan pembalasan kecil pertamanya.
"Lihatlah katanya ia tidak punya uang, cih lalu apa dia malah membeli minuman dingin yang mahal."
Melihat wajah Elena yang memerah dan menahan perih itu Clara sangat puas. Ia memang sengaja tadi langsung menghabiskan minumannya, tujuan nya agar Elena kepedesan tanpa adanya minuman.
"Ini masih permulaan Elena, akan kubalas semua niat-niat busukmu baik sekarang ataupun dulu," ucap Clara sambil menatap tajam Elena yang rakus minum itu.
Kemudian ia segera beranjak menuju ke kelasnya karena sebentar lagi bel masuk pasti akan berbunyi.
Di tengah perjalanan menuju kelasnya Clara mendengar bisik-bisik orang yang membicarakannya, "Ah... masa sih tuh cupu berani lawan siswa dan gengnya."
"Ya benar tidak mungkin."
"Tapi aku dengar sendiri dari lala kelas sebelah dia lihat sendiri loh si Clara dengan berani menjambak Bianca."
"Wah jika benar rasain tuh, akhirnya tuh nenek lampir dapat karma dari kelakuan bullynya itu."
Mendengar itu Clara tidak bereaksi apa-apa, ia sudah mengira akan jadi perbincangan hangat kali ini.