Pagi ini, setelah Nayla berangkat ke kantor, Widi menghubungi Arman. Ia tak sanggup lagi menahan diri untuk tetap menympan rahasia yang besar dalam hidupnya. Arman harus tahu mereka lahir dari Rahim yang sama. Lagi pula, ia ingin bertemu dengan ibu yang telah melahirkannya itu. Walau sedih karena sang ibu tidak mencarinya, sebagai anak, ia tetap merindukan sang ibu yang puluhan tahun menghilang dari hidupnya. “Halo,” sahut Arman dari seberang sana. “Arman, aku ingin bertemu denganmu,” ujar Widi menatap air mancur dari kaca jendela di kamarnya. “Hari ini aku sibuk! Lain kali saja! Masalah hutangku akan segera aku bayar!” ujarnya menutup saluran telphon. Widi mengernyitkan dahi, kesal sekali rasanya dengan sikap Arman yang petangtang-petenteng. Kesal, ia menghubungi Arman sekali lagi. “

