Usai sarapan, Nayla menemani Widi pergi ke kantor rumah produksi milik Widi. Kali ini Nayla tampil lebiih percaya diri. Keyakinannya akan cinta Widi, membuatnya percaya diri. Tak ada lagi keraguan di hati, kini ia yakin menapaki hidupnya bersama Widi, menua bersama hingga ajal menjemput. “Nay hari ini aku ada meeting dengan mitra kerjaku, kamu ikut, ya,” toleh Widi pada Nayla yang fokus menyetir. Sejak Widi ambruk secara tiba-tiba di Bogor saat itu, Nayla tidak perna mengizinkan Widi menyetir, apalagi pergi sendiri. Ia bersedia menjadi sopir pribadinya, merangkap sekretaris dan juga merangkap istri. “Iya, Mas. Terus kita kemana dulu, nih? Ke kantor atau langsung meeting?” “Kekantor dulu. Kamu harus lihat berkas-berkasnya dan pelaji sebentar agar kamu bisa nimbrung saat meeting nanti.”

