“Ayo, Bian, kita masuk. Sekarang ini rumah kamu,” ajak Arman menarik tangan Bian setibanya di depan rumah mewahnya. Sejenak Bian tertegun melihat rumah bagai istana di depannya. “Ini rumah siapa, Pa?” “Ini rumah Opa. Ayo, kita temui Opa, dia ingin bertemu Bian,” ujar Arman menarik tangan Bian menuju pintu jati yang berukir klasik itu. “Adik Aqny juga ada di sini,” ujar Arman menoleh Bian. “Adik Aqny?” langkah Bian berhenti, lalu menoleh Arman. “Iya … Kenapa?” tanya Arman mengernyitkan dahi. “Mama Maya, juga ada di sini?” tanya Bian takut-takut. Sungguh ini akan menjadi masalah besar baginya jika mama Maya juga ada di rumah itu. Sejenak Arman diam, lalu berjongkok di depan Bian menyamakan posisinya. “Tidak, Sayang. Mama Maya tidak akan pernah tinggal di sini… Maka dari itu, Bian ha

