“Arman, sedang apa kau di sini?” Sapa Widi duduk di depan Arman. Arman terkesiap melihat Widi yang tiba-tiba muncul di depannya. “Apa Nayla yang memintamu datang kesini?” “Tentu saja! Ada perlu apa ingin menemui kakak iparmu?” Selidik Widi menatap Arman lekat. “Cih! Menyebalkan!” gumam Arman membuang wajahnya. Kesal. Widi tersenyum melihat wajah Arman bertekuk. Siapa yang peduli? Suamai mana yang rela membiarkan istrinya bicara berduaan dengan mantan suaminya. Kenyataan mereka adalah kakak beradik, tidak serta merta membuat Widi rela membiarkan Arman menemui Nayla begitui saja. “Aku kesini ingin membahas hak asuh Bian dengan Nayla. Aku lebih berhak mengasuh Bian dari pada uti dan kakungnya. Jika Nayla tidak sanggup mengasuh Bian, serahkan saja padaku, aku akan mengasuhnya dengan baik.

