Ulang Tahun

3713 Words
Bolehkah aku sedikit berharap Bahwa kau masih menyimpan perasaanmu untukku? *** Sudah hampir sebulan Bella dan Ari putus. Awalnya memang mereka jadi benar-benar putus kontak, saat di kampus tidak pernah saling melihat lagi, apalagi berbicara. Namun lama kelamaan, Ari mulai menyapa Bella kembali, walaupun tidak seperti dulu. Ari masih menjaga jarak dengan Bella. Tapi hal itu tetap membuat Bella lega. Setidaknya mereka tidak jadi bermusuhan setelah putus. Sama seperti Ari, Cinta juga sudah mulai menyapa Bella. Walaupun masih canggung, namun hal itu tetap membuat Bella senang. Ia berpikir mungkin hubungan persahabatan mereka bisa kembali dekat seperti dulu. Ia tidak akan menyerah untuk membuat Cinta mau berteman lagi dengannya. "Tugas ini dikerjakan berkelompok ya. Satu kelompok terdiri dari tiga orang. Kalian bebas memilih anggota kelompoknya. Dipresentasikan minggu depan, dan sekalian buat makalahnya juga. Kalau begitu kuliah kita sampai disini dulu," dosen manajemen keuangan yang tadi mengajar di kelas Bella mengundurkan diri setelah memberikan tugas. Tepat setelah dosen itu menghilang dari balik pintu kelas, Bella langsung menghampiri Cinta dan Ari yang masih belum juga duduk di dekat Bella. Bella tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Tugas yang tadi diberikan dosennya sangat pas untuk menjadi alasan bagi Bella untuk kembali membuat persahabatannya dengan Cinta dan Ari menjadi semakin membaik. "Cinta, Ari, tugas yang tadi, mau nggak satu kelompok bareng aku?" pinta Bella penuh harap. Cinta dan Ari saling memandang. Setelah dirasa masing-masing mereka tidak saling keberatan, Cinta pun menoleh kepada Bella. "Boleh Bel. Pas banget kan bertiga?" Bella mengangguk sambil tersenyum senang, "iya." "Oke, di rumah aku aja ngerjainnya ya?" Ari memberi saran, "kalian kapan bisanya?" "Besok gimana? Aku free besok," usul Cinta. "Sama, aku juga bisa kok besok. Kamu Ri?" tanya Bella. "Bisa juga kok. Berarti fix besok ya! Biar aku suruh bik Surti masak makanan enak besok!" kata Ari bersemangat. "Asyik! Udah lama ni nggak kayak gini," celetuk Cinta. Bella dan Ari tertawa melihat tingkah girang Cinta. Mereka pun sama antusiasnya dengan Cinta untuk berkumpul di rumah Ari besok. Mereka seperti memiliki harapan untuk bisa memperbaiki hubungan persahabatan mereka lagi, segera. *** Ari membukakan pintu rumahnya untuk Bella. Ia daritadi menunggu di ruang tamu, dengan perasaan campur aduk antara gugup dan senang. Melihat Bella yang begitu cantiknya muncul dari balik pintu, membuat perasaan gugup Ari kian bertambah. Sepertinya rasa cintanya kepada Bella masih belum hilang juga. "Masuk Bel. Duduk disini aja dulu. Cinta belum datang," Ari mempersilahkan Bella untuk duduk di ruang tamunya, "dia bilang agak telat soalnya mobil masih dipakai Shana." "Oh, oke." Sejenak Ari dan Bella terdiam beberapa saat. Namun Ari berpikir, sepertinya mereka perlu bicara berdua sebelum Cinta datang. Mereka harus menyelesaikan masalah mereka untuk mengusir kecanggungan di antara mereka berdua. "Bel, maafin aku ya." Bella menoleh kepada Ari yang duduk di sampingnya. Ia seperti tidak menyangka Ari akan meminta maaf kepadanya. Ia pikir Ari tidak akan membahas tentang hubungan mereka yang telah berakhir. "Aku udah maafin kamu Ri." "Aku benar-benar minta maaf untuk segala hal buruk yang udah pernah aku lakuin ke kamu Bel. Maaf, cuma kenangan buruk yang bisa aku kasih ke kamu." "Kamu jangan ngomong gitu Ri," Bella jadi merasa bersalah kepada Ari, "maaf waktu itu aku bilang aku nggak bahagia sama kamu. Waktu itu aku lagi kacau banget, aku nggak sadar udah bicara kelewatan ke kamu." "Kamu memang pantas ngomong kayak gitu ke aku Bel." "Enggak Ri. Maafin aku," Bella menatap Ari dengan wajah penuh penyesalan. "Ya udah kalau gitu. Berarti kita udah baikan sekarang, ya?" Bella mengangguk bersemangat, "iya!" Ari tersenyum kepada Bella, senyum yang penuh kelegaan. Namun di dalam hatinya, ia masih berharap suatu saat nanti bisa kembali menjalin hubungan dengan Bella. Entah kapan itu. Yang paling penting, ia harus benar-benar berubah menjadi orang yang lebih baik, agar Bella bisa menerima dirinya kembali. Tak lama kemudian, Cinta akhirnya datang. Dan mereka pun langsung memulai kerja kelompok mereka. Bella bersyukur segala kecanggungan pergi dengan sendirinya. Mereka seperti kembali saat mereka masih bersahabat dulu di bangku SMA. Bella berharap hubungan persahabatan mereka bisa akur seperti ini selamanya. *** "Ram," Hana memanggil Rama yang ada di hadapannya, saat ia bersama Rama dan Toni sedang makan siang di food court yang di kelola Rama dan Toni. Tanah milik Abe berhasil Rama sulap menjadi tempat makan yang diisi beberapa stand makanan dari penjual yang menyewa disana. Pengunjungnya juga sudah lumayan banyak meskipun tempat itu baru buka. "Iya Han?" Rama menanggapi panggilan Hana. Ia menatap Hana yang lebih dulu menatapnya dengan mata bulatnya. "Sepupu aku mau ulang tahun. Kamu mau nggak ngisi di acara ulang tahunnya? Nyanyi gitu," pinta Hana. "Boleh aja. Kapan?" "Minggu depan. Tanggal lima belas. Ulang tahunnya tanggal tiga belas sih, tapi dirayainnya tanggal lima belas biar pas weekend." "Aduh, kalau tanggal segitu nggak bisa. Gue udah ada janji sama temen yang lain. Udah lama banget janjinya, nggak enak tiba-tiba dibatalin." "Oh, gitu," Hana tampak kecewa. Tapi cepat-cepat disembunyikannya kekecawaannya itu. "Emang lo punya teman selain kami, Ram?" tanya Toni. "Ya ada lah. s****n lo!" kata Rama kesal. Kalau saja Toni duduk di sampingnya, dan bukan di samping Hana, ia pasti sudah menggeplak kepala Toni. "Nggak percaya gue ada yang mau temenan sama orang galak kaya lo selain kita. Apa jangan-jangan lo lagi modusin cewek ya? Kalau cewek sih kayaknya mau aja lo ajak ngapain aja," tebak Toni. "Nggak usah sembarangan ngomong lo!" Rama memelototi Toni, lalu segera beralih ke Hana, "gini Han, mending Toni aja deh yang lo suruh tampil di acara ulang tahun sepupu lo. Kan dandanannya udah kayak oppa Korea. Tinggal disuruh dance sambil lipsync pasti udah bisa bikin tamu undangan seneng. Apalagi yang cewek-cewek, pasti bakal heboh teriak-teriak," Rama memberikan ide. "Gue nggak bisa nge-dance! Udah lo jangan ngalihin pembicaraan, itu siapa temen yang mau lo temuin tanggal lima belas? Sampai-sampai tega nolak permintaan Hana." "Udah Ton, nggak papa kok. Rama kan udah ada janji duluan sama orang lain," Hana berusaha membuat Toni berhenti mendesak Rama untuk mengaku. "Nah, dengerin tuh Ton. Hana aja paham. Tenang aja Han, kalau untuk acara ulang tahun lo, pasti gue bakal sediain waktu. Gue bakal nyanyi satu album pokoknya. Gue juga bakal nyanyiin lagu Korea kesukaan lo, bakal gue hapalin. Janji deh! Tapi untuk acara ulang tahun sepupu lo, sorry ya, gue nggak bisa datang." "Iya nggak papa Ram. Aku juga ngasih tahunya telat." "Nggak telat kok, masih seminggu lagi," celetuk Toni. "Ssstttt... Udah... Udah Ton," Hana meminta Toni untuk berhenti mempermasalahkan hal itu lagi. Toni pun akhirnya hanya menuruti Hana, sementara Rama memamerkan senyum penuh kemenangan kepada Toni. "Eh, lagi ngomongin apa nih? Kayaknya seru banget?" tiba-tiba Abe menghampiri Rama, Toni dan Hana. Ia bergegas duduk di samping Rama sambil meminta daftar menu dari stand yang ada di dekatnya. "Tumben si bos kesini," tanya Rama. "Gue mau nanya progres tempat yang satu lagi. Gimana?" "Ya udah 50% lah. Gabisa buru-buru bang. Lo sih ambisius banget buka langsung dua tempat. Apa salahnya fokusin satu dulu?" "Gue nggak bisa liat tanah gue lama-lama nganggur. Pokoknya bulan depan udah harus jadi ya! Nggak mau tahu gue!" "Aduh Bang, ini kita udah kerja rodi banget dua bulan ini. Diperpanjang dong waktunya," pinta Toni memelas. Abe yang tadi sibuk meneliti daftar menu, langsung menegakkan kepalanya, "enak aja! Kan kalian yang duluan ngerengek minta dibikinin bisnis. Udah gue acc malah males-malesan!" "Nggak Bang, enggak. Kita nggak males-malesan kok! Pokoknya tenang aja, semuanya bakal beres sesuai jadwal!" kata Rama. Ia tidak ingin Abe jadi marah dan tiba-tiba berubah pikiran dengan membatalkan Kerjasama yang baru saja terjalin. "Nah gitu dong! Mbak!" Abe memanggil pelayan dari stand yang ada di dekatnya, lalu menyebutkan menu yang ingin ia pesan. Sementara itu Rama memelototi Toni yang hendak protes lagi. Untungnya Toni menyadari pelototan Rama tersebut dan terpaksa mengatupkan mulutnya. Ia hanya bisa pasrah dengan tingkah dua orang yang suka seenaknya terhadap dirinya. Karena bagaimanapun juga mereka berdua juga adalah teman baiknya, apalagi Rama. Toni akan melakukan apapun untuk Rama, sahabat sejatinya itu. *** Tok... Tok... Tok... Pintu rumah Bella diketuk dari luar. Sangat kuat dan lama. Hal itu tentu saja membuat Bella kesal. Ia segera bergegas menuju ruang tamunya untuk membukakan pintu. "Iya, tunggu sebentar!" teriak Bella. Saat Bella membuka pintu itu, ia tidak menemukan siapapun. Ia tidak habis pikir bisa-bisanya ada orang yang kurang kerjaan untuk mengerjainya seperti itu. "Siapa sih? Rese' banget!" omel Bella. Ia memutuskan untuk menutup pintu rumahnya dan kembali masuk ke rumah. Tapi baru beberapa Langkah ia berjalan, terdengar suara ketukan pintu lagi. Ia pun terpaksa kembali membuka pintu lagi. "Kok nggak ada orang lagi sih? Siapa sih yang ngerjain aku?" Bella memutuskan untuk menunggu di teras rumahnya. Tetapi tetap saja tidak ada orang. "Siapa yang datang, Sayang?" mama Bella ikut keluar dari rumahnya karena penasaran dengan orang yang mengetuk pintu rumahnya berkali-kali. Tapi ia hanya menemukan putrinya sendirian di teras rumahnya. "Nggak tahu Ma. Pas aku buka pintu, nggak ada siapa-siapa. Pas aku tutup pintu, dia malah ngetuk pintu lagi. Tapi pas dibuka tetap nggak ada orang. Ya udah aku tunggu aja disini," jelas Bella. "Mending masuk aja Bel. Mama takutnya itu orang jahat atau orang gila. Nanti kita malah dicelakain," ucap Mama Bella khawatir. Bella berpikir bahwa ucapan mamanya ada betulnya juga. Ia pun segera mengikuti mamanya untuk masuk ke dalam rumah. Ia tidak ingin ia dan mamanya jadi kenapa-napa karena orang yang tidak jelas. Saat mama Bella ke dapur dan Bella masih berada di ruang tamu, pintu rumahnya kembali diketuk oleh orang asing itu. Kali ini lebih keras, membuat Bella tidak tahan untuk mengabaikannya. "Siapa>!" tanya Bella dari dalam rumah. Ia masih belum mau membukakan pintu. Namun orang itu tidak menjawab pertanyaan Bella. Bella merasa tidak bisa membuiarkan orang itu terus-terusan mengetuk pintunya. Ia tidak tahan dengan suara ribut itu. Akhirnya ia pun kembali membuka pintu rumahnya. "Kyaaaaaaaaaaaaa!!!!!" Bella menutup matanya karena ketakutan setelah mendapati seseorang yang memakai jubah hitam dan topeng dari karakter di film scream saat ia membuka pintu rumahnya. Ia berteriak cukup histeris saking ketakutannya. Orang yang mengetuk-ngetuk pintu tadi langsung membuka topengnya lalu berteriak lebih keras dari Bella. "SURPRISE!!!" "Happy birthday to you... Happy birthday to you.... Happy birthday, happy birthday, happy birthday to you...." Bella akhirnya membuka matanya setelah mendengar suara yang tidak asing di telinganya. Dan benar saja, ia mendapati Cinta berdiri di hadapannya dengan senyuman puas. "Iiiih... Cinta. Ngagetin aja! Topengnya serem banget sih! Aku kan jadi takut!" kata Bella kesal. "Hehehe..." Cinta tertawa karena kejutan darinya berhasil. "Malah ketawa. Dasar nyebelin!" Bella masih mengambek dengan Cinta. "Bel, kamu kenapa?" mama Bella lari tergopoh dari arah dapur karena mendengar suara teriakan Bella tadi. Namun ia kemudian bernapas lega saat melihat Bella tidak kenapa-kenapa. "Halo Tante. Maaf ya udah bikin keributan," ucap Cinta sambil tertawa cengengesan. "Ya ampun Cinta, jadi yang dari tadi ngetuk pintu itu kamu?" tanya Mama Bella. "Iya nih Ma. Cinta rese' banget. Bikin orang ketakutan aja," kata Bella. "Ya kan kamu lagi ulang tahun. Harus dikerjain dong?" kata Cinta sembari tersenyum jahil. "Ya tapi tante jadi ikutan jantungan gara-gara kamu," mama Bella ikut komplain kepada Cinta. "Hehehe... Maaf Tante. Tapi aku nggak boleh masuk nih?" "Ya udah sini masuk," Bella akhirnya ikut tertawa, mamanya pun demikian. Ia lalu menarik tangan Cinta dan mengajak Cinta masuk ke dalam rumahnya, lalu membawa Cinta ke ruang makannya. "Kemana aja kamu Cin? Udah lama nggak main kesini?" tanya mama Bella kepada Cinta. "Ya sibuk kuliah aja Tante," jawab Cinta sambil tertawa cengengesan. "Pas banget kamu datang jam segini, Tante lagi bikin masakan banyak banget! Soalnya anak tante satu-satunya ini, yang paling cantik sedunia ini, lagi ulang tahun!" "Wiii.... Asyik!" seru Cinta. "Apaan sih mama," Bella jadi merasa malu sendiri karena ucapan mamanya itu. "Oh iya, aku juga bawain kue untuk Bella. Nih!" Cinta membuka kantung plastik yang tadi dibawanya lalu segera mengeluarkan sebuah kue tart dari kotaknya, "harusnya tadi kan ya. Cuma rempong banget pake kostum gini." "Kamu sih iseng banget," celetuk Bella. Cinta hanya tertawa mendengar perkataan Bella, sembari ia menghidupkan lilin yang sudah lebih dulu ditancapkannya ke kue. "Ayo Tante, nyanyi bareng!" Cinta mengomandokan mama Bella untuk ikut bernyanyi bersamanya. "Tiup lilinnya, tiup lilinnya, tiup lilinnya sekarang juga... Sekarang juga... Sekarang juga..." Bella meniup lilin setelah lagu selesai dinyanyikan. Tak lupa ia mengucapkan harapan dalam hati sebelum meniup lilin tersebut. Setelah itu, ia pun memotongkan kue itu untuk mamanya dan juga Cinta. "Oh iya, Ari udah ngucapin selamat ulang tahun belum? Dia kan biasanya yang paling pertama ngucapin. Apa dia udah kesini?" tanya Cinta ingin tahu. Bella menggelengkan kepalanya, "Ari dari tadi belum ada hubungin aku Cin. Dia juga belum kesini. Mungkin dia lupa kalau hari ini hari ulang tahun aku," ucap Bella. Lagi pula ia sadar diri, ia bukan siapa-siapanya Ari lagi. Dan hubungan persahabatan mereka pun tidak bisa kembali begitu saja seperti dulu lagi. Jadi wajar saja jika Ari tidak datang ke rumahnya untuk memberikan kejutan seperti Cinta. "Harusnya aku ajak aja dia tadi ya." "Nggak papalah Cin. Aku sama Ari udah nggak bisa kayak dulu lagi." Cinta mengelus-elus punggung Bella untuk memberikan semangat. Bella pun tersenyum, memberikan isyarat bahwa ia baik-baik saja. Karena saat ini yang sebenarnya ia nantikan kedatangannya justru bukan Ari. "Ya udah, mending sekarang kita makan semua makanan yang ada disini ya! Harus habis lho," ucap mama Bella. "Siap Tante!" Kata Cinta penuh semangat. Bella, Cinta dan Mama Bella pun mulai melahap makanan buatan mama Bella sambil berbincang-bincang, karena sudah lama mereka tidak melakukan hal itu. Bella sangat senang karena akhirnya Cinta sudah kembali menjalani Cinta yang dulu, sahabat yang sangat ia rindukan. *** Suara klakson motor terdengar dari luar rumah Bella. Kali ini siapa lagi? Batin Bella. Ia yang sedang mencuci piring bergegas menuju ruang tamu untuk membuka pintu. Terdengar pintunya sudah diketuk sang pembunyi klakson di tengah perjalanannya mencapai pintu, dan Mama Bella telah lebih dulu membukakan pintunya. Saat Bella sampai di ruang tamu, Bella melihat mamanya sudah menyambut tamu tersebut. "Rama?" Tanpa sadar Bella tersenyum senang saat melihat ternyata Rama yang datang ke rumahnya. Rama balas memberikan senyuman dan menyapa Bella dengan ramah. "Rama bilang katanya mau ngajak kamu pergi Bel," kata mama Bella kepada Bella sambil tersenyum menggoda. "Kemana?" Tanya Bella penasaran. "Ya kamu ganti baju aja buruan. Biar mama temenin Rama nungguin kamu," mama Bella mendorong pelan putrinya ke arah kamarnya. Bella yang masih bingung terpaksa menuruti mamanya dan masuk ke kamarnya untuk mengganti baju. Sementara mama Bella mengajak Rama untuk duduk di ruang makannya, menyuguhkan makanan yang tadi ternyata masih belum habis. Bella menutup pintu kamarnya dan menyenderkan tubuhnya di balik pintu. Rasanya ia ingin berteriak senang, karena harapannya terkabul. Rama datang di hari ulang tahunnya. Padahal sudah hampir sebulan mereka tidak bertemu karena Rama sibuk mengurus bisnisnya, sehingga mereka hanya bisa berkomunikasi lewat HP. Namun akhirnya hari ini Bella akhirnya bisa bertemu dengan Rama. Bella tidak ingin perasaan senangnya membuat Rama lama menunggunya keluar dari kamar. Ia pun bergegas membuka lemarinya dan menatap baju-baju yang ada di dalamnya. Setelah merasa galau untuk memilih baju mana yang harus dipakainya, akhirnya ia memutuskan untuk memakai dress kasual berwarna baby blue dengan motif floral dan aksen renda di bagian rok dan kerahnya serta pita di dadanya. Setelah menimbang-nimbang beberapa saat ia memutuskan untuk memakai sedikit make-up yang tidak memakan banyak waktu. Sneakers putih menjadi pilihannya untuk melengkapi penampilannya. "Mama suruh kamu ganti baju, kamu malah dandan secantik ini," komentar mama Bella saat Bella sudah keluar dari kamarnya. Hal itu membuat Bella menjadi sangat malu. "Cuma dandan dikit kok Ma," kata Bella dengan wajah memerah. Di hadapan mama Bella, Rama tampak terpana dengan penampilan Bella saat itu. Jika tidak ada mama Bella, mungkin ia sudah memuji Bella sekarang. Ia hanya tidak ingin Bella malah menjadi tambah malu karena Rama memujinya di depan namanya. "Ya udah, yok pergi," ucap Rama sambil beranjak dari duduknya. "Tapi mau kemana?" Tanya Bella. "Udah, pergi aja, Mama udah tahu tempatnya," ucap mama Bella. "Kami pamit ya Tante," ucap Rama sambil menyalami mama Bella dengan sopan. "Aku pergi dulu Ma," Bella juga ikut menyalami mamanya. "Iya, hati-hati ya. Jangan kemalaman pulangnya," kata Mama Bella. *** Selama perjalanan Rama dan Bella banyak mengobrol, menceritakan kesibukan masing-masing saat mereka tidak bertemu. Namun saat mereka belum sampai di tempat tujuan, Rama tiba-tiba menepikan sepeda motornya. "Kok berhenti Ram?" Tanya Bella. Rama tak langsung menjawab. Ia mengeluarkan sapu tangan dari saku jaketnya, "Lo tutup mata pakai ini dulu ya," ucapnya. "Buat apa?" "Biar kejutan kan?" Ucap Rama sambil tersenyum usil. "Ya udah deh," Bella memutuskan untuk menuruti Rama agar rencana yang sudah dipersiapkan Rama berjalan dengan sukses. Ia membuka helmnya, lalu Rama bergegas berdiri di belakangnya. "Gue pakein ya?" Rama meminta izin. Bella mengangguk meski ia yakin hal itu akan membuatnya berdebar. Dan benar saja, meski Rama hanya memakaikan sapu tangan untuk menutup mata Bella, Bella menjadi sangat gugup. "Terus aku naik motornya lagi gimana? Nggak bisa ngeliat nih," Tanya Bella bingung. "Gampang." Tiba-tiba Bella merasa tubuhnya diangkat. Ia refleks memeluk Rama karena takut terjatuh. "Ram, kamu ngapain?" Tanya Bella panik. "Bantu Lo buat naik motor," jawab Rama. Ia meletakkan tubuh Bella dengan hati-hati, "pegangan," katanya kemudian. Bella benar-benar tidak bisa berkata-kata karena ulah Rama itu. Hal itu benar-benar mengejutkannya. Untungnya Rama sudah berada di atas sepeda motor dan menghadap ke depan, sehingga ia tidak akan bisa melihat wajah Bella yang memerah. "Ram, sampai kapan sih aku harus makai penutup mata ini?" Tanya Bella. Walaupun baru sebentar, rasanya ia sedikit tidak nyaman harus menggunakan penutup mata. "Sabar aja Bel. Bentar lagi kita sampai kok! Mending sekarang Lo pegangan aja erat-erat sama gue. Ntar jatuh lagi. Gue mau ngebut nih!" "Jangan ngebut! Nanti kecelakaan gimana?" "Abisnya Lo nggak sabar sih." "Ya udah, aku sabar kok." "Nah, gitu dong!" Tapi apa yang Rama katakan berbanding terbalik dengan apa yang dilakukannya. Ia malah ngebut tiba-tiba, membuat Bella makin mengencangkan pegangannya kepada Rama. "Iiiiih, Ram. Aku bilang kan jangan ngebut!" Rengek Bella. "Hahahaha...." Rama tertawa puas mendengar rengekan Bella tersebut. "Malah ketawa. Ntar aku buka nih penutup matanya!" Ancam Bella. "Eh jangan!" "Ya udah, jangan ngebut!" "Oke Tuan Puteri," ucap Rama sembari memperlambat laju sepeda motornya. Tak lama kemudian Rama menghentikan sepeda motornya. Ia membantu Bella turun dari sepeda motor. Bella bersyukur karena Rama tidak menggendongnya lagi. Karena daritadi saja jantungnya sudah tidak karuan. Ia tidak ingin jantungnya malah jadi meledak karena Rama menggendongnya lagi. Rama menuntun Bella untuk berjalan. Bella merasakan sepatunya menginjak rumput. Hanya beberapa langkah saja mereka berjalan, lalu mereka berhenti di jalan setapak. "Siap-siap ya." Rama membuka penutup mata Bella dan terdengar lah musik instrumen dari lagu happy birthday. Pandangan Bella yang tadinya gelap kini berganti menjadi pemandangan yang sangat indah. Hal yang pertama dilihatnya adalah gelembung dari balon busa, yang awalnya hanya satu, namun ternyata ada lebih banyak gelembung yang melayang di udara. Dan di hadapan mereka, terhampar sebuah jalan yang dihiasi pohon-pohon di sepanjang sisi kiri dan kanannya serta bunga berwarna-warni. Di ujung jalan, terdapat papan tulis hitam bertuliskan "welcome to Bella's birthday park". Di tengah ketersimaan Bella itu, Rama mengulurkan tangannya, mengajak Bella berjalan menyusuri jalan yang bertabur kelopak bunga itu. Mereka berjalan beriringan sambil Bella melihat ke kanan kiri untuk menikmati keindahan disana. "Ini tempat apa sih Ram? Kenapa tempat sebagus ini nggak ada orangnya?" Tanya Bella penasaran. Senyuman terus menghiasi bibirnya di tengah perjalanan mereka. "Karena tempatnya belum dibuka," jawab Rama. "Oh, ini yang mau dijadiin foodcourt kedua itu?" Rama mengangguk, "yang ini lebih besar. Dan nanti bakal ada live music nya. Itu panggungnya," jelas Rama sambil menunjuk panggung yang berukuran tidak terlalu besar. "Wah, keren," puji Bella. Ia jadi tidak sabar menantikan tempat itu untuk segera dibuka. "Yuk kesini," Rama membawa Bella ke depan tenda segitiga yang dihiasi balon-balon dan sudah terbentang tikar piknik motif kotak-kotak di depannya. Ada keranjang rotan berisi bunga matahari yang diikatkan beberapa balon gas berwarna pastel yang melayang di udara. Beberapa snack dan minuman soda juga tersusun rapi di atas tikar piknik itu. Tak ketinggalan flag banner bertuliskan happy birthday terpampang di samping tenda. "Surprise!" Seru Rama bersemangat. "Ya ampun Ram. Lucu banget!" Bella tersenyum lebar melihat dekorasi yang sudah disiapkan Rama. Ia yakin matanya berbinar-binar sekarang. Rama mengajak Bella untuk duduk disana, lalu Rama membuka tenda itu. Mengeluarkan gitar dari dalam sana. "Coba kau dengarkan bisikan angin, Coba kau dengarkan tetesan air... Mereka bilang kau lah yang tercantik, Di seluruh dunia ini... Daun-daun yang berjatuhan, Bagai ikut bernyanyi bersamaku, Untuk ucapkan selamat ulang tahun padamu, Sungguh keindahanmu mempesona alam, dan hatiku... Selamat ulang tahun Cantik... Berikan senyum manismu, Biarkan dunia bahagia karena indahmu... Selamat ulang tahun Cantik... Ku berdo'a agar kau dapatkan yang terbaik, Agar dirimu tak terluka lagi..." Bella bertepuk tangan setelah Rama selesai menyanyikan lagu untuk Bella. Rasanya sudah lama sekali Bella tidak melihat lelaki itu bernyanyi. Suara indahnya sungguh sangat Bella rindukan. Terlebih lagi, lagu yang cukup singkat itu memiliki lirik yang membuat Bella jadi tersenyum-senyum sendiri. Apa Rama masih punya perasaan sama aku? Tanya Bella dalam hati. Namun cepat-cepat dibuangnya pikirannya itu. Ia tak ingin geer duluan, karena takut bila dugaannya salah, ia malah akan menjadi terluka dan sedih. "Makasih ya lagunya. Itu ciptaan kamu sendiri?" Tanya Bella. Rama mengangguk, "sorry ya liriknya cheesy banget. Memang gitu gue orangnya," ucap Rama sambil menertawakan dirinya sendiri. "Enggak kok. Aku suka liriknya," kata Bella sungguh-sungguh. Rama tak menyangka Bella akan memberikan jawaban seperti itu. Ia pikir Bella akan menertawakannya, tapi Rama tahu Bella berkata jujur tadi. Apa gue bilang sekarang? Rama masih belum berkata apa-apa lagi sejak Bella memuji lagunya. Ia hanya terdiam sambil menatap Bella, seperti ingin mengungkapkan sesuatu, tetapi urung juga ia sampaikan. Bella yang menangkap gelagat aneh Rama akhirnya bertanya. "Kamu kenapa Ram?" Rama yang tadi menimbang-nimbang untuk mengucapkan sesuatu mendadak menjadi gelagapan. Ia tiba-tiba mengalihkan wajahnya, menyembunyikan rasa malunya karena lidahnya terlalu kelu untuk mengucapkan maksudnya. Ia malah menunjuk ke langit, "li... lihat deh, sunset nya lumayan ya dari sini," ucapnya kemudian. Bella yang tadi menatap Rama, kini beralih menatap ke arah matahari yang sebentar lagi akan hilang dari langit. Memang sudah waktunya matahari untuk kembali ke peraduannya saat itu. Bella memandang kagum pemandangan di hadapannya itu sambil tersenyum. "Iya. Bagus banget. Kayaknya aku hampir nggak pernah punya momen untuk ngeliatin matahari terbenam. Makasih ya Ram udah bawa aku kesini." Bella tersenyum sangat manis saat ia kembali menatap Rama. Rama membalas tatapan Bella itu, menemukan wajah Bella yang terpapar sisa-sisa sinar matahari yang berwarna oranye. Perlahan-lahan sinar itu menghilang, namun satu hal yang Rama tahu, keindahan tidak pernah hilang dari wajah gadis pujaannya itu. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD