Jangan Pergi Lagi

2516 Words
Sinar pembawa kebahagiaan Itu lah arti namamu Kau lah yang menerangi sisi gelap ku Dan kau lah yang memberikan keceriaan di hidupku Maka kumohon Jangan pergi lagi *** Meski Rama bilang ke Abe bahwa ia tidak ingin menemui Bella, namun nyatanya hari ini Rama malah sudah ada di depan rumah Bella setelah menjemput motor di rumah Abe. Semalaman ia tak henti bertanya-tanya dalam hati tentang penyebab putusnya Bella dan Ari. Entah kenapa pikirannya terus-terusan memojokkan dirinya, menuduh bahwa ia lah penyebabnya. Agar ia tidak kehilangan konsentrasinya akibat pemikirannya yang berlebihan, ia harus tahu alasan putusnya Bella dan Ari langsung dari Bella sendiri, bukan dari pikirannya yang seenaknya menyalahkannya begitu saja. Rama mengetuk pintu rumah Bella saat sebelumnya ia sedikit ragu, bingung harus memasang wajah seperti apa setelah ia pergi begitu saja dari kehidupan Bella, dan kini seenaknya muncul. Tapi ia harus melakukan ini daripada mati penasaran. Di balik pintu, Bella muncul dengan ekspresi kaget. Sejenak terdiam tanpa tahu harus melakukan apa. "Rama?" Ucap gadis itu setelah berhasil menguasai dirinya. Ia masih terlihat bingung dan canggung. "Hai Bel," Rama tersenyum walau hatinya sekarang sedang berdebar kencang. Entah karena takut Bella akan marah melihat kedatangannya, atau entah karena akhirnya ia bisa melihat wajah cantik itu lagi. "Eum, masuk Ram?" Bella ternyata tidak marah, malah menyuruh Rama masuk ke rumahnya. Bella yang baik hati itu tidak berubah selama sebulan ini. Dan ternyata perasaan Rama kepada Bella pun sepertinya demikian. "Mama Lo ada di rumah?" Bella menggeleng, "masih kerja." "Kalau gitu, kita di luar aja. Nggak enak sama tetangga." "I... Iya," Bella keluar dari rumahnya dan mempersilahkan Rama duduk di kursi yang ada di terasnya. Bella duduk di samping Rama, hal yang terasa sudah lama terlewatkan di hidup Rama. Bella menyelipkan rambutnya yang terjuntai ke balik daun telinganya, lalu membenarkan posisi duduknya dengan kikuk. Sepertinya gadis itu tidak mempersiapkan diri untuk momen saat ini yang tidak pernah ia duga sebelumnya. Agar perasaan tidak nyaman Bella menghilang, Rama segera membuka pembicaraan. "Gue kemaren malam ke tempat bang Abe, dan dia bilang Lo kemaren juga kesana untuk adopsi Leon. Lo udah berhenti kerja di cafe?" Tanya Rama. "Udah Ram. Dua minggu setelah kamu berhenti, aku akhirnya juga berhenti." "Nggak papa sama Bu Farah?" Bella menghela napas, "sebenarnya dia kesel sih karena harus kehilangan dua karyawannya di waktu yang berdekatan. Tapi mau gimana lagi. Aku juga nggak enak ngerepotin Ari, dia setiap hari jadi harus antar jemput aku." "Ooh..." "Ram, maafin aku ya. Harusnya aku nurut aja sama kamu dan Ari untuk berhenti kerja, tapi aku malah egois. Sampai kamu harus berkorban untuk berhenti duluan. Padahal kamu yang lebih butuh pekerjaan," kata Bella sambil menunduk sedih. "Hei, udah nggak papa. Gue abis berhenti dari cafe juga langsung dapat kerjaan kok," ucap Rama berusaha menyingkirkan rasa segan Bella. Bella mengangkat wajahnya dan menatap Rama lega, "syukurlah." "Daripada itu, ada yang pengen gue pastiin." "Apa?" "Lo sama Ari beneran udah putus?" Bella kaget karena Rama mengetahui hal tersebut. Namun kemudian ia ingat bahwa ia tidak sengaja memberitahukan hal itu kepada Abe kemarin. "... Iya Ram." "Lo putus sama Ari gara-gara gue?" "Enggak Ram. Itu nggak ada hubungannya sama kamu. Kami baru putus empat hari yang lalu. Dan alasannya karena kesalahan aku dan kesalahan Ari. Bukan karena kamu." "Lo serius Bel? Udah, jujur aja sama gue. Gue bakal tanggung jawab. Gue bakal ngomong ke Ari, biar kalian bisa baikan lagi. Jadi tolong Lo kasih tahu yang sebenarnya ke gue." "Aku serius Ram. Ini nggak ada hubungannya sama kamu. Dan aku juga nggak akan balikan sama Ari, Ram. Semuanya benar-benar udah berakhir. Aku nggak bisa lagi sama Ari," mata Bella mulai berkaca-kaca. Perasaan lega akhirnya datang ke hati Rama yang dari kemarin sibuk bertanya-tanya dan menyalahkan diri sendiri. Namun ia pun iba melihat Bella yang sedang sedih sekarang. Ia harus berhenti membahas tentang Ari agar Bella bisa cepat sembuh dari kegalauannya. "Maaf Bel. Gue udah tiba-tiba pergi gitu aja. Dan sekarang muncul tiba-tiba juga, cuma untuk bikin Lo sedih. Gue datang bukan karena maksud yang macam-macam, cuma untuk memastikan aja, karena dulu gue udah cukup ngerasa bersalah sama Lo. Gue nggak mau nambah kesalahan gue lagi sama Lo," Rama bangkit dari duduknya, "gue rasa gue nggak pantas untuk datang sekarang. Gue pamit ya..." Bella menarik ujung lengan jaket Rama, menghalangi Rama yang bersiap melangkah pergi meninggalkan Bella, "Kalau gitu jangan pergi lagi Ram..." Rama menghentikan langkahnya. Ia mengernyitkan dahinya dan memandang Bella bingung. "Kalau kamu merasa bersalah, jangan pergi lagi. Kamu teman aku satu-satunya sekarang. Aku mohon jangan pergi juga." Bella hanya menunduk, bagai tidak berani menatap wajah Rama saat mengatakan hal itu. Tangannya masih menggantung di ujung lengan baju Rama. Bella benar-benar tidak ingin melepaskan Rama lagi. Rama akhirnya mengurungkan niatnya untuk pergi. Ia kembali duduk di samping Bella. Gadis itu masih menunduk dan hanya diam saja dengan ekspresi sendu. Perlahan Rama mengulurkan tangannya, lalu menggenggam tangan Bella, membuat gadis itu mengangkat wajahnya dan menatap Rama. Lelaki yang sudah lama dirindukannya itu. *** Ari mengabaikan suara dering HP-nya dan memilih untuk menyembunyikan dirinya di balik selimut. Sudah tiga hari ia di rumah saja saat malam hari, sejak ia putus dengan Bella. Hatinya benar-benar terpukul. Ia menyesali perbuatannya selama ini kepada Bella. Padahal ia benar-benar mencintai Bella. Tapi entah kenapa ia masih tega untuk bermain di belakang Bella, hanya karena Bella sibuk bekerja dan tidak punya banyak waktu untuknya. Ia juga mengutuk dirinya yang secara gegabah melakukan sentuhan fisik tanpa persetujuan Bella, bahkan sampai memaki Bella setelah itu. Pantas saja Bella memutuskannya. Pantas saja Bella membencinya. Saat di pesta Kevin, Ari bertemu Tasya yang juga diundang Kevin ke acara tersebut. Tasya yang selama dua minggu diabaikan oleh Ari karena Bella sudah berhenti bekerja, langsung menghampiri Ari yang terlihat tidak bersemangat malam itu. Ia berusaha menghibur Ari dengan segala cara, bahkan bertingkah manja untuk membuat Ari tertawa, namun upayanya tidak berhasil. Ia mencuri jaket Ari karena Ari tidak mau melihat wajahnya, dan memaksa Ari untuk melihatnya karena merasa sudah cukup tertutup dengan jaket Ari tersebut. Tasya juga memaksa Ari untuk menceritakan tentang hal yang membuatnya bersedih sambil menyuguhkan segelas wine agar Ari bisa lebih tenang. Ari yang terpancing akhirnya menceritakan kejadian malam sebelumnya dengan Bella, karena ia memang butuh tempat untuk bercerita saat itu. Tapi setelah mendengar cerita Ari, Tasya malah mengutarakan sebuah ide gila kepada Ari. "Ari ku, kasihan banget. Selama ini udah diabaikan sama pacarnya yang dia cintai dengan tulus." Tasya yang tadinya duduk di samping Ari, beranjak dari duduknya lalu naik ke atas meja bar, ia duduk tepat di hadapan Ari, lalu menyentuh wajah Ari dengan lembut. "Kamu jangan sedih, Sayang, cuma gara-gara Bella sering mengabaikan kamu, dan marah waktu kamu sentuh. Ada aku disini. Kamu boleh kok anggap aku ini Bella. Lihat aku, aku ini Bella," Tasya mendekatkan wajahnya ke wajah Ari, hingga wajah mereka kini terasa tak berjarak. Wine yang diminumnya tadi membuat ia terpengaruh dengan perkataan Tasya. Ia yang sedang bersedih itu jadi tidak bisa berpikir jernih. Saat Tasya mendekatkan bibirnya ke bibir Ari, Ari tidak berusaha menghentikannya. Ia menyambut ciuman itu, membayangkan itu dari Bella. Ciuman yang penuh gairah itu berlangsung beberapa menit sebelum akhirnya Bella datang dan memergoki Ari. Setengah jam berlalu dan tiba-tiba pintu kamar Ari diketuk dari luar. Dengan malasnya Ari turun dari kasurnya dan membuka pintu kamarnya. Ia menyesali tindakannya itu setelah mendapati seseorang yang tidak ingin ia temui muncul dari balik pintu kamarnya. Orang yang sudah berpartisipasi menghancurkan hubungannya dengan Bella. "Ngapain Lo kesini?" Tanya Ari kepada Tasya. "Kamu dihubungin nggak pernah respon. Kan aku jadi khawatir Ri. Makanya aku datang," jawab Tasya sambil merentangkan tangannya, bersiap untuk memeluk Ari. Namun Ari segera menghindari pelukan itu. "Siapa yang ijinin Lo naik kesini?" "Lho, ngapain harus ijin? Kan dulu waktu kita masih pacaran aku juga sering kesini kalau mama papa kamu nggak di rumah. Tadi aku udah tanya sama bik Surti, mama papa kamu di rumah apa enggak. Dia bilang enggak, ya udah aku langsung kesini," jawab Tasya seenaknya. Ia melangkah masuk ke dalam kamar Ari walaupun yang punya kamar tidak mempersilahkannya. "Gue nggak nyuruh Lo masuk ya!" Ari menarik tangan Tasya untuk menghentikan langkah Tasya. Tasya membalikkan badannya dan mendekatkan wajahnya ke wajah Ari sambil tersenyum menggoda. "Beneran aku nggak boleh masuk?" Tanyanya dengan nada manja. Ari melepaskan tangan Tasya dan memalingkan wajahnya. Rasanya ia tak sabar untuk segera mengusir Tasya dari sana. Tapi Tasya malah kembali berjalan dan duduk di atas kasur Ari, sambil melepaskan cardigan yang ia kenakan. "Aku cuma mau nemenin kamu yang lagi galau kok Ri. Aku mau ngehibur kamu biar nggak sedih lagi." "Gue nggak butuh pertolongan dari orang yang udah bikin gue putus sama Bella," tegas Ari, "sekarang Lo keluar dan tinggalin rumah gue!" "Tunggu, apa? Aku yang udah bikin kamu putus sama Bella? Kamu jangan seenaknya jadiin orang kambing hitam dong. Kan kamu yang udah mau ngeladenin aku, gara-gara kamu kesepian walaupun udah punya pacar. Jadi penyebab kamu sama Bella putus apa? Ya karena kesalahan kalian berdua lah," jelas Tasya yang tidak terima disalahkan. "Oke, terserah! Yang jelas bukan berarti karena gue udah putus sama Bella, gue mau balikan sama Lo." Tasya menaikkan sebelah alisnya sambil tersenyum mengejek, "masa sih?" Tanyanya. Ia kembali berdiri dan menghampiri Ari, lalu mengalungkan kedua lengannya ke leher Ari, "nggak mau balikan, tapi mau ciuman sama aku. Maksudnya gimana?" "It wasn't anything at all!" Tegas Ari sambil mengenyahkan tangan Tasya dari lehernya. "Heh, cewek setan!" Sebuah suara tiba-tiba datang dari luar kamar Ari yang pintunya tidak ditutup. Si empunya suara, yang tidak lain adalah Cinta segera masuk dan melabrak Tasya. "Ngapain Lo ada di kamarnya Ari hah?! Ari, kamu kenapa sih sama dia lagi?!" "Aku nggak ngundang dia kesini. Dia datang sendiri. Aku udah usir dia, tapi dia nggak mau pergi," jelas Ari. "Tasya, lo nggak paham ya diusir sekali? Harus diusir gimana biar Lo pergi?" "Duh... Duh... Duh... Lo kenapa sih ngurusin gue sama Ari? Lo sendiri juga ngapain kesini, hah?! Gue yakin Ari juga pasti nggak nyuruh Lo kesini." "Gue bawain Ari makanan untuk makan malamnya. Dan gue mau ngelindungin Ari dari orang kayak Lo!" "Ngelindungin katanya," perkataan Cinta membuat Tasya tertawa geli. Ia berjalan mendekati Cinta sambil melipat tangan di depan d**a, "bukannya Lo yang udah bawa gue kembali ke kehidupannya Ari?" Cinta menatap tajam kepada Tasya, namun hal itu tidak membuat Tasya gentar sedikitpun. Matanya balik menantang Cinta. "Well... Well... Well... Awalnya gue nggak paham ya sama tujuan Lo. Kenapa Lo bisa jadi sebaik itu sama gue, seolah mihak ke gue. Tapi lama-lama gue sadar, ternyata Lo cuma mau manfaatin gue. Lo mau main bersih, dengan manfaatin gue biar Ari sama Bella putus. Dan selamat, tujuan Lo tercapai! Senang kan ngeliat cowok yang sampai detik ini Lo cintai, gue cium kemaren?" Tanya Tasya sambil tersenyum sangat lebar. Cinta melotot mendengar perkataan Tasya. Tangannya dikepalnya sangat kuat. Dadanya naik turun menahan amarah. Ingin sekali rasanya ia memaki gadis di hadapannya itu, yang perkataannya sungguh membuat hati Cinta sakit. Tapi sebelum Tasya makin mengeluarkan perkataan yang lebih menyakitkan, Ari langsung turun tangan. "Tasya, gue minta Lo untuk pergi sekarang!" "Lho, kamu nggak marah sama dia Ri? Dia lho yang berbuat segala cara biar kamu sama Bella putus," kata Tasya bingung. "Biar itu jadi urusan gue berdua sama Cinta. Lo nggak perlu ikut campur. Sekarang Lo pergi!" Ari menarik tangan Tasya dengan kasar. "Aw!" Tasya kesakitan karena perlakuan Ari tersebut, "iya... Iya... Aku pergi. Udah, lepasin tangan aku." Ari melepaskan tangan Tasya, dan tak sabar menantikan kepergian gadis itu. Tapi sebelum Tasya pergi, ia kembali berbicara. "Aku tahu, kamu masih butuh waktu untuk move on. Nggak papa. Aku tungguin. Kalau butuh aku, langsung hubungin aku ya. Bye!" Ucap Tasya seraya pergi meninggalkan Ari dan Cinta. Ari menghela napas lega karena akhirnya Tasya pergi juga. Ia kemudian melirik Cinta yang masih berdiri di kamarnya sambil menundukkan wajah dengan sendu. "Duduk Cin," Ari mengajak Cinta duduk di kursi yang ada di kamarnya. Cinta hanya menurut. "Kamu marah sama aku Ri?" Tanya Cinta. "Dari dulu aku udah marah sama kamu, dan kamu tahu itu kan? Apa yang dibilang Tasya nggak bikin aku kaget sama sekali." Cinta mengangguk. Memang semenjak Ari dengan Bella berpacaran, Ari sudah bisa menangkap sinyal bahwa Cinta berusaha untuk membuat Ari dan Bella putus, sehingga seringkali menjadi sinis dengan Cinta. "Tanpa adanya Tasya pun, aku juga udah main sama perempuan lain di belakang Bella. Dan kamu punya buktinya kan?" Tanya Ari. "Iya Ri. Tapi kamu kayak gitu kan karena Bella sibuk sendiri dengan obsesinya untuk ganti uang kamu yang dia pakai untuk biaya pengobatan Rama. Dan bahkan dia juga sering jalan bareng Rama di belakang kamu. Orang yang dia bilang dia cintai waktu masih pacaran sama kamu pasti Rama, Ri. Bella itu udah keterlaluan sama kamu, tapi dia bersikap seolah dia korbannya." "Dia nggak bersikap seolah dia korbannya Cin. Dia kasih pengakuan, berarti dia tahu dia salah. Hubungan kami memang nggak sehat Cin. Dan aku sadar, penyebab aku putus sama Bella bukan karena kamu yang selalu punya rencana untuk bikin kami putus, bukan juga karena Tasya yang tiba-tiba muncul lagi di kehidupan aku, tapi karena aku dan Bella memang nggak bisa bersama." Cinta menggenggam tangan Ari untuk menyampaikan keprihatinannya. Ia tak menyangka Ari bisa mengikhlaskan semua yang terjadi terhadap dirinya. Ia pikir Ari akan mengamuk kepadanya setelah mendengar perkataan Tasya yang 100% benar. "Aku harap kamu bisa cepat bangkit dari kesedihan kamu Ri," ucap Cinta tulus. Matanya menatap kedua manik Ari dengan lekat. "Makasih Cin, kamu selalu ada untuk aku. Walaupun kemaren-kemaren aku sering sinisin kamu, tapi kamu tetap mau nemenin aku sampai sekarang." Cinta memberikan senyuman manisnya kepada Ari. Padahal dalam hati ia merasa sangat bersedih, karena Ari masih belum juga bisa merasakan kesungguhan cintanya. Tapi mungkin seperti ini dulu tidak apa-apa. Cinta harus bersabar lagi, dan tentunya akan selalu setia di samping Ari sembari menunggu hati Ari dapat berpaling kepadanya. "Tapi aku harap, kamu juga mau nemenin Bella di masa sulitnya sekarang ini. Bella sahabat kamu juga Cin. Jangan benci dia cuma gara-gara aku," kata Ari lagi. "Ri, aku belum bisa maafin dia. Aku masih nggak terima dengan apa yang udah dia lakuin ke kamu." "Aku juga salah Cin..." ucap Ari lirih, "mungkin ini hukuman untuk aku. Aku yang selama ini sering ngelakuin hal-hal buruk, dengan nggak tau dirinya ngarepin cinta dari orang yang baik banget. Dan di saat dia mau mencoba untuk kasih aku kesempatan, aku malah ngelewatin batas. Aku pantas diperlakukan kayak gitu sama Bella, Cin." "Ari..." Cinta memeluk sahabatnya itu, yang duduk di sampingnya. Ia menyenderkan kepalanya di bahu Ari, dan tangannya mengelus-elus punggung Ari, untuk menenangkan hati lelaki itu. Ia ikut terluka melihat Ari terluka. Ia tidak bisa baik-baik saja melihat keadaan Ari yang sedang bersedih. Ari membalas pelukan Cinta. Ia menyenderkan kepalanya di atas kepala Cinta dan merangkul gadis itu. Malam itu Ari memutuskan untuk menghilangkan semua rasa kesalnya kepada Cinta selama ini. Ia ingin persahabatannya dengan Cinta bisa kembali seperti dulu. Dan dalam hati ia juga berharap, hubungannya dengan Bella pun juga bisa kembali seperti saat mereka masih bersahabat dulu, walau kelihatannya hal itu akan sangat mustahil untuk terwujud. Karena Ari masih belum berani untuk berbicara dengan Bella lagi, setelah berkali-kali mengecewakan gadis itu. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD