Sendiri

3370 Words
Semua keputusan yang salah kuambil Membuatku menyakiti semuanya Dan kini, aku pun terluka dan sendiri *** Sesuai permintaan Ari, Bella menemani Ari untuk melakukan kontrol pasca keluarnya Ari dari rumah sakit. Namun bukannya langsung pulang, Ari malah mengajak Bella untuk pergi ke sebuah tempat setelah Ari selesai melakukan kontrol dengan dokter. "Kamu yakin nggak papa pergi-pergi gini? Kenapa nggak istirahat di rumah aja Ri?" Tanya Bella khawatir. "Aku kan udah keluar dari rumah sakit. Berarti aku udah nggak papa dong Bel. Lagian aku udah sebulan istirahat di rumah sakit. Bosan banget," jelas Ari. "Iya sih," Bella mencoba mengerti, "tapi kok Cinta nggak diajak juga? Kan kalau bertiga lebih rame?" "Cinta lagi sibuk," kata Ari berbohong. Pasalnya ia memang hanya ingin berdua saja dengan Bella saat itu. Karena ada sesuatu yang ingin ia sampaikan kepada Bella. "Ooh gitu," Bella mempercayai perkataan Ari begitu saja. Ia lalu memalingkan wajahnya ke jalanan, sambil menebak dalam hati akan kemana mobil Ari membawa mereka. Sebuah cafe resto menjadi pilihan Ari, sekalian makan siang, ucapnya. Bella hanya menurut saja. Yang penting Ari merasa senang. Bella tahu kecelakaan yang menimpa Ari cukup berat bagi Ari dan memberikannya trauma yang cukup besar. Bella berharap dengan adanya dirinya yang setia menemani Ari hingga saat ini, mampu menyembuhkan sedikit trauma sahabatnya itu. Ia ingin Ari segera menjadi baik-baik saja. Karena ia tahu betul bagaimana rasanya terbelenggu di dalam trauma. Betapa sangat menderitanya. Namun nampaknya Ari salah mengartikan perhatian Bella itu. "Bel, selama ini kamu baik banget sama aku. Walaupun aku pernah berbuat buruk ke kamu pas SMA, tapi kamu nggak pernah nyerah untuk terus nyadarin aku. Maaf ya, aku belum bisa berubah jadi orang yang baik sepenuhnya. Aku masih suka ngebut-ngebutan sambil mabuk. Akhirnya aku malah kecelakaan." "Ya ampun Ri, udah, nggak papa. Namanya manusia pasti butuh proses untuk bisa berubah jadi lebih baik lagi." "Iya Bel," Ari berhenti berbicara sejenak. Ia menarik napas dalam-dalam, kemudian kembali bicara, "kamu... Mau nggak selalu ada dalam proses perubahan aku untuk jadi orang yang lebih baik?" "Mau dong," ucap Bella yakin. "Berarti kamu mau sekaligus jadi pacar aku?" Bella terperangah mendengar pertanyaan Ari. Ia sempat mengira bahwa ia salah dengar, tapi Ari kembali mengulangi pertanyaannya itu. "Kamu mau jadi pacar aku Bel?" Bella terdiam sesaat karena ia tidak pernah menyangka bahwa Ari memiliki perasaan kepadanya. Pasalnya Bella cukup bertolak belakang dengan para mantan Ari yang cantik, seksi dan gaul. Bella benar-benar tidak pernah membayangkan seorang Ari bisa jatuh cinta kepadanya. Bella bingung harus menjawab apa. Ia sendiri tidak pernah tahu perasaannya terhadap Ari. Karena ia memang menyayangi Ari, namun tidak pernah ia memimpikan akan memiliki sebuah hubungan yang lebih daripada sahabat dengan Ari. "Tapi kan kita sahabatan Ri?" "Memangnya sahabat nggak boleh jadi pacar? Nggak ada larangannya Bel." "Aku... Nggak enak sama Cinta," Bella masih berusaha untuk membuat Ari mengurungkan niatnya untuk mengajak Bella berpacaran. "Bel, Cinta sayang sama kita berdua. Dia pasti senang kalau kita, dua sahabatnya ini, jadian." Bella kembali terdiam. Ia tak tahu harus berkata apa lagi. Ia takut kalau ia menjalin hubungan pacaran dengan Ari, bila mereka nantinya berkelahi, hubungan persahabatan mereka malah jadi ikut rusak. "Bel, apa sih yang kamu pikirin? Kamu nggak sayang sama aku?" "Aku sayang sama kamu Ri. Tapi kalau untuk pacaran sama kamu, aku nggak tahu Ri. Aku nggak pernah mikirin kalau kita pacaran." "Nggak usah dipikirin. Kita coba aja dulu, kita jalanin aja. Kamu kan udah sayang sama aku, nanti seiring berjalannya waktu, aku yakin kamu bisa jatuh cinta dengan aku. Aku janji nggak akan ngecewain kamu. Jadi kamu mau ya pacaran sama aku?" Ari sudah mengatakannya tiga kali. Kamu mau jadi pacar aku? Rasanya Bella benar-benar tidak bisa berpikir dengan baik. Tapi hati kecilnya mengatakan kepadanya untuk memberikan Ari kesempatan. Mungkin perkataan Ari nanti akan benar-benar terjadi. Mungkin nanti perasaan cinta akan datang seiring berjalannya waktu. Mungkin nanti Ari bisa menjadi orang yang lebih baik lagi setelah berpacaran dengan Bella. Mungkin semuanya akan baik-baik saja, dan mereka berdua bisa bahagia sebagai sepasang kekasih, jika Bella memberikan kesempatan. Bella yang tadi menunduk kini menatap Ari, ia mengangguk seraya berkata, "iya, aku mau Ri." *** Semua harapan yang dulu dirasa bisa menjadi kenyataan, oleh semesta tak dikabulkan. Tidak ada perasaan cinta yang datang di hati Bella, tidak ada Ari yang berubah menjadi lebih baik lagi, tidak ada hubungan yang bahagia antara Bella dan Ari. Semuanya memang hanya angan-angan yang dipaksakan untuk menjadi kenyataan. Malam itu rasanya hati Bella benar-benar hancur. Ia tak menyangka nasib percintaannya akan berakhir semenyedihkan ini, dan disebabkan oleh pengkhianatan. Seolah semua hari-hari yang ia lewati bersama Ari hanya kepalsuan belaka. Ari yang begitu posesif ternyata tidak melakukan hal itu demi membuat Bella menjadi miliknya satu-satunya, namun ternyata Ari menjadi posesif untuk menutupi kebusukannya. Padahal Bella sudah berusaha untuk mengalah, padahal Bella sudah rela membohongi perasaannya. Tapi ternyata semua hanya sia-sia belaka. Sekarang yang tersisa hanya kekecewaan dan air mata yang tak kunjung berhenti. Bella tidak tahu berapa lama ia menangis. Saking lelahnya, ia perlahan tertidur. Berharap semua rasa sakit akan menghilang keesokan harinya. *** Saat Bella berpapasan dengan Cinta di koridor kelas, tanpa Bella duga Cinta segera menghindari Bella setelah sebelumnya memberikan tatapan dingin. Bella tidak mengerti dengan sikap Cinta tersebut. Ia pikir tadi malam mereka sudah langsung berbaikan. Namun saat di kelas, ia baru menyadari. Sepertinya Cinta memang sedang marah kepadanya. Karena Cinta memilih duduk di samping Ari, dan terlihat senantiasa menghibur Ari. Bukankah kemarin Cinta bilang Ari b******k dan memutuskan Ari adalah pilihan yang tepat? Bukankah Cinta sangat mendukung Bella? Tapi kenapa sekarang Cinta malah berpihak kepada Ari? Bella menyadari kebodohannya. Ia yang sedang sedih dan merasa sangat membutuhkan Cinta sekarang di sisinya terdengar sangat egois. Padahal Cinta juga sahabat Ari, bahkan mereka berdua lebih lama bersahabat daripada dengan Bella. Tentu saja Cinta lebih memilih untuk berada di sisi Ari. Karena pasti Ari juga merasa sedih sekarang. Tapi yang membuat Bella bingung, kenapa Cinta harus sedingin itu kepadanya? Saat Ari sudah pergi, Bella memberanikan diri untuk kembali mendekati Cinta. Ia butuh penjelasan dari Cinta. Ia paham Cinta berhak lebih memilih bersama Ari sekarang. Tapi tidak seharusnya Cinta bersikap dingin dengan Bella, yang malah membuat Bella semakin merasa sedih. "Kamu buat aku hampir kehilangan Ari lagi Bel. Kamu nggak tahu kan apa yang dilakuin Ari tadi malam waktu kamu ninggalin dia gitu aja?" "Ari kenapa tadi malam Cin?" Tanya Bella khawatir. "Dia bawa mobilnya, ngebut, saking dia sedihnya. Kamu nggak tahu seberapa khawatirnya aku ke dia tadi malam? Aku takut banget Ari kecelakaan lagi. Susah payah aku susul dia." Bella menutup mulutnya dengan kedua tangannya, merasa begitu kaget karena mendengar cerita dari Cinta. Ia tak menyangka Ari sampai melakukan hal senekat itu karena ia putus dari Bella. Ia tidak bermaksud untuk membuat Ari menjadi sedih sampai harus membahayakan nyawanya. "Aku dengar semua yang kamu bilang tadi malam ke Ari, Bel. Dan menurut aku, kamu jahat banget ke Ari. Iya memang Ari b******k karena udah selingkuh dari kamu. Tapi Ari nggak pakai hati Bel. Ari begitu karena dia nggak ngedapetin cinta yang seharusnya kamu kasih ke dia. Kamu malah cinta sama orang lain saat kamu menjalin hubungan sama Ari. Kamu udah keterlaluan!" Bella tersentak. Semua perkataan Cinta benar. Ia memang sudah keterlaluan selama ini. Ia sudah mempermainkan perasaan Ari. Ia begitu egois. Ia merasa ia lah yang lebih b******k daripada Ari. "Padahal aku udah nanya ke kamu, kamu beneran cinta atau enggak sama Ari. Dan kamu bilang kamu sayang ke dia, kamu nerima dia karena kamu lihat dia sungguh-sungguh sama kamu. Tapi mana buktinya Bel?" Kata Cinta lagi. "Maaf Cin. Aku selama ini nggak mau dengerin perkataan kamu," ucap Bella menyesal. Matanya sudah berkaca-kaca, namun sekeras mungkin ia berusaha menahan air matanya. "Untuk apa kamu minta maaf? Udah nggak ada gunanya. Padahal ada orang lain yang benar-benar cinta Ari, yang benar-benar tulus sama dia. Tapi kamu yang dicintai dengan tulus sama Ari malah nyia-nyian Ari gitu aja." "Orang yang benar-benar cinta Ari? Siapa Cin? Apa kamu? Kamu selama ini cinta dengan Ari?" Cinta menolak untuk memberikan penjelasan, "itu nggak penting Bel. Sekarang mending kamu nggak usah dekat-dekat aku dan Ari dulu. Kami butuh waktu untuk bisa nerima semua keadaan ini," Cinta beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Bella yang bertanya-tanya sendiri dengan maksud perkataan Cinta. Jika benar Cinta selama ini memendam perasaan kepada Ari, berarti Bella sudah begitu menyakiti perasaan Cinta. Bella mengendarai sepeda motornya menuju ke rumah sambil terus memikirkan perkataan Cinta. Ia cukup menyesal telah mengakui kepada Ari bahwa ia mencintai orang lain saat berpacaran dengan Ari. Seharusnya ia tak mengatakannya, karena hal itu pasti membuat Ari berpikir Bella tidak pernah berusaha untuk hubungan mereka. Padahal selama ini, Bella sudah sangat berusaha untuk mengubah rasa sayangnya kepada Ari menjadi cinta, hingga perpisahan mereka terasa begitu menyakitkan. Jikalau Ari tidak macam-macam kemarin, jikalau Ari tidak berselingkuh, mungkin Bella tidak akan pernah meninggalkan Ari. Karena Bella merasa sangat terkhianati sekali disaat ia sudah mengorbankan segalanya untuk Ari. Ia benar-benar kecewa dan merasa tidak bisa memberikan kesempatan lagi kepada Ari. Ia juga sudah merasa takut dengan Ari sejak kejadian di hari jadian mereka dua hari yang lalu. Sisa hari itu Bella lalui di rumah sambil merenung sedih. Namun saat mamanya sudah pulang kerja, Bella berusaha untuk terlihat baik-baik saja. Ia tidak ingin mamanya menjadi ikut sedih karena melihat Bella sedih. Mungkin jika ia sudah merasa baik-baik saja, ia akan menceritakan tentang hubungannya yang telah berakhir dengan Ari kepada mamanya. Namun sekarang, Bella memilih untuk menyimpannya sendiri dulu. Saat ia berada di kamarnya, lagi-lagi ia menangis dan merasa benar-benar hancur. Keesokan harinya di kampus, suasana masih sama seperti kemarin. Cinta senantiasa menemani Ari, dan berusaha membuat Ari tidak berdekatan dengan Bella. Tidak ada lagi keakraban mereka bertiga seperti dulu. Entah sampai kapan situasi ini akan berlangsung. Bella berharap hubungan mereka bisa kembali seperti dulu lagi. Berbagi canda dan tawa sebagai sahabat. Mungkin seharusnya dulu Bella tidak pernah menerima pernyataan cinta dari Ari, karena retaknya hubungan asmara mereka membuat hubungan persahabatan mereka juga ikut retak. Namun penyesalan sekarang tidak ada gunanya lagi sekarang. *** Bella sekarang kehilangan kedua sahabatnya. Ia benar-benar sendirian sekarang. Tak ada orang yang bisa menemaninya untuk menenangkan diri. Namun ia sendiri sudah terlalu lelah untuk menangis lagi, menangisi segala hal bodoh dan egois yang telah ia lakukan. Tiba-tiba, Bella teringat dengan Rama. Biasanya saat ia sedih, Rama akan menyadari hal itu. Rama akan menemani Bella dan menghibur Bella. Rama akan bersedia mendengarkan semua cerita Bella. Tapi Rama sudah memutuskan untuk pergi dari kehidupan Bella. Bahkan Rama tidak pernah sekalipun menghubungi Bella lagi. Bella yang sedang dalam perjalanan ke rumahnya mengurungkan niatnya untuk pulang. Ia mengalihkan laju sepeda motornya ke restoran yang dulu pernah ia datangi bersama Rama. Ia ingin berada di tempat yang tinggi sekarang. Mencoba menenangkan hatinya dengan cara melihat kota dari atas atap apartemen. Bella berdiri di balkon atap apartemen sambil menunggu makanan yang dipesannya datang. Ia memandang ke depan dengan tatapan kosong. Kenangannya bersama Rama di restoran itu kembali berputar di kepalanya. Ia merasa benar-benar sangat merindukan Rama sekarang. Ia tak mengerti kenapa semuanya terasa begitu kacau sekarang. Sebenarnya darimana awal kesalahan ini? Jika saja Bella bisa jujur tentang perasaannya lebih awal, mungkin tidak akan ada banyak luka yang disebabkan olehnya. Ari, Cinta, Rama, semuanya terluka karena Bella. Bella benar-benar merasa sangat bersalah atas segala hal yang telah terjadi terhadap mereka. Bella pikir ia tidak akan bisa menangis lagi. Namun saat ia menyantap makanannya, air matanya malah mengalir karena ia tidak bisa berhenti memikirkan semua yang telah terjadi. Ia yakin ia terlihat begitu menyedihkan sekarang. Makan sendirian sambil menangis. Tapi ia tidak memperdulikan tatapan heran pengunjung restoran yang ada di sekitarnya. Ia hanya ingin menumpahkan kesedihannya sekarang. Bella berusaha menenangkan dirinya sendiri. Ia pikir ia harus mengalihkan pikirannya agar ia tidak bersedih lagi. Tapi lagi-lagi ia malah ke tempat yang pernah ia kunjungi dengan Rama. Ia pergi ke game center dan memainkan beberapa permainan sendirian. Ia ingat saat Rama berusaha mendapatkan jackpot di mesin arcade game. Ia ingat saat Rama berusaha mendapatkan boneka dari mesin capit boneka. Ia ingat saat ia dan Rama sangat heboh bermain air hockey, lalu bersaing dalam game balap mobil. Ia ingat serunya mereka bernyanyi di mini karaoke. Dan kini Bella ada di depan game street basketball, ia berusaha sangat keras untuk bisa memasukkan bola sebanyak mungkin ke keranjang. Tidak ada lagi Rama yang membantunya untuk mencetak skor yang banyak. Tidak ada lagi Rama yang menertawakannya karena selalu gagal memasukkan bola. Tidak ada lagi Rama yang menarik tangannya dengan lembut namun bersemangat untuk melanjutkan bermain ke permainan selanjutnya. Tidak terasa Bella sudah mengumpulkan begitu banyak tiket hadiah. Ia menukarkan tiket itu dengan beberapa aksesoris dan mainan, dan memberikannya kepada anak-anak yang ada disana. Melihat senyum ceria mereka mendapatkan hadiah dari Bella membuat Bella ikut merasa senang. Kesedihannya sedikit teralihkan karena kebahagiaan yang terpancar dari wajah anak-anak itu. Bella meninggalkan game center tersebut. Ia berpikir kalau ia pulang ia akan sendirian lagi, dan pasti akan kembali sedih. Ia harus mencari teman yang bisa menghiburnya. Leon! Bella ingat ia pernah mengatakan kepada Rama bahwa ia akan mengadopsi Leon jika ia sudah tidak bekerja lagi. Dan sepertinya sekarang adalah waktu yang tepat untuk melakukan itu. Tanpa ragu, Bella mengendarai sepeda motornya menuju shelter milik Abe. "Permisi!" Bella memberikan sapaan saat baru sampai di shelter milik Abe. Abe yang tadi sibuk bermain dengan anjingnya langsung mengalihkan pandangannya ke arah Bella, terlihat cukup kaget dengan kedatangan Bella. "Eh, Bella. Udah lama nggak kesini? Sendirian aja?" Tanya Abe sambil berjalan menghampiri Bella. "Iya Bang," jawab Bella sambil tersenyum. "Rama baru aja kesini dua hari yang lalu," jelas Abe tanpa diminta. "Kok tiba-tiba bahas Rama sih Bang? Aku kesini nggak nyariin Rama," kata Bella yang tiba-tiba jadi malu hingga wajahnya memerah. "Ya nggak ada, cuma ngasih tau aja. Soalnya Rama bilang dia udah nggak kerja lagi di cafe. Mana tau mau tau kabar dia kan?" Bella hanya diam dengan wajahnya yang masih merah. Sebenarnya ia memang ingin sekali mengetahui kabar Rama. Tapi ia malu mengakuinya kepada Abe. "Jadi kesini mau nyariin siapa dong?" Abe akhirnya berhenti membicarakan Rama. Ia duduk di kursinya sambil mengelus anjingnya yang kini sudah duduk di pangkuannya. "Leon. Leon masih ada kan?" Tanya Bella penuh harap. "Ooh Leon, masih ada kok." "Aku boleh adopsi Leon nggak?" "Boleh dong! Ayo, sini, kita ke tempatnya Leon!" Abe menggendong anjingnya dan berdiri dari duduknya. Ia kemudian mengantarkan Bella ke kandang Leon. Kucing berusia lima bulan itu tampak senang dihampiri. Ia berdiri mendekati pintu kandang dengan mata berbinar. "Leon anak baik! Akhirnya sekarang kamu punya majikan baru! Ini namanya kak Bella. Kamu pulang ke rumah dia ya!" Ucap Abe kepada Leon. Leon mengeong seolah mengerti perkataan Abe. Bella tersenyum senang melihat reaksi Leon. Ia yakin Leon bisa menjadi penghibur hatinya di saat ia sedang sedih begini. Tapi kemudian ia berpikir kalau ia hanya mengadopsi Leon sendiri, Leon pasti akan merasa kesepian bila Bella tidak ada di rumah. Ia tidak ingin menjadi orang yang egois lagi. "Bang, kalau kucing betina yang seumuran Leon ada nggak?" Tanya Bella kemudian. "Ada sih, beberapa hari yang lalu ada yang nganterin, tapi dalam keadaan luka gitu. Tapi langsung diobatin kok. Sekarang lagi masa penyembuhan. Coba ikut kesini," Abe mengajak Bella ke kandang kucing yang ia maksud, "namanya Milli. Waktu ditemuin tangannya bengkak dan menghitam. Ternyata di tangannya ada karet yang diikat kenceng dan kayaknya udah lama, sampai karetnya nggak kelihatan lagi kalau dilihat sekilas." Bella menatap iba kepada kucing ras campuran kampung dan Persia tersebut. Padahal kucing itu sangat cantik dan lucu, tapi entah kenapa ada orang yang memperlakukannya setega itu. "Kalau lagi dalam keadaan kayak gini, bisa diadopsi?" Tanya Bella. "Bisa kok. Tapi perawatannya harus terus dilanjutin sampai dia sembuh." "Oh gitu," ucap Bella. Ia berpikir mungkin ia bisa merawat Milli, sekalian membantu mengurangi pekerjaan Abe. "Jadi mau adopsi Leon atau Milli?" Tanya Abe kemudian. "Aku mau adopsi dua-duanya Bang, kalau cuma satu nanti kucingnya malah kesepian." "Wah, bagus itu!" Abe berseru senang. Ia kemudian memanggil Sarah untuk mengurusi pengadopsian yang akan dilakukan Bella. Tidak membutuhkan waktu yang lama, Leon dan Milli pun bisa dibawa pulang oleh Bella. "Ini yakin bisa bawa pulang sendiri? Apa mau dianterin aja?" Tanya Abe memastikan. "Bisa kok Bang. Kan keranjangnya udah diiket kenceng di motor," kata Bella yakin, "Leon, selama perjalanan jagain Milli ya. Jangan nakal!" Ucap Bella kepada Leon yang ada di dalam keranjang bersama Milli. "Ya udah, hati-hati ya sampai rumah. Kalau butuh bantuan atau mau konsultasi, bisa telpon atau langsung kesini juga." "Siap Bang!" "Atau bawa pacarnya kesini gitu, mana tau dia suka binatang juga dan mau adopsi juga. Atau mau numpang pacaran juga boleh," kata Abe sambil tersenyum menggoda. "Aku nggak punya pacar Bang," kata Bella yang jadi salah tingkah karena diungkit masalah pacar. "Hah? Serius? Bukannya punya?" Tanya Abe tak percaya. "Iya, aku udah putus sama pacar aku." "Ooh..." Abe tersenyum lebar mendengar pengakuan dari Bella tersebut. Ia terlihat begitu senang sehingga membuat Bella heran. "Kenapa memangnya Bang?" Tanya Bella. "Enggak, nggak papa kok. Semoga Leon dan Milli bisa jadi penghibur di saat lagi galau begini ya!" "I... iya Bang," Bella jadi malu karena Abe jadi tahu tujuan Bella mengadopsi kucing. Ia pun segera pamit agar tidak perlu salah tingkah lebih lama lagi. *** Malam menjelang dan Abe sudah bersiap untuk pulang dari shelter miliknya. Namun tiba-tiba Rama datang dengan sebuah proposal bisnis di tangannya. Cowok itu terlihat begitu berapi-api untuk menjelaskan ide bisnis yang sudah dirancangnya. "Ngapain datang jam segini, Jeki? Gue udah mau pulang ini," kata Abe keki. "Ya ini baru selesai proposalnya," Rama memberi alasan sambil tertawa cengengesan. "Kan besok bisa," Abe tidak terima dengan alasan Rama. "Nggak bisa, harus sekarang banget. Bisnis nggak boleh ditunda-tunda." "Memang batu ya Lo dari dulu," Abe yang tadi sudah berdiri kembali duduk di kursi putarnya dengan terpaksa. Walaupun ia agak kesal, tapi ia juga tidak tega menyuruh Rama untuk pulang dan kembali lagi besok. Rama segera duduk di hadapan Abe dan tanpa membuang waktu, ia mulai menjelaskan ide usaha yang sudah dirancangnya. Abe yang tadi tidak mood pun jadi ikut bersemangat mendengar ide Rama yang ia rasa sangat bagus itu. Ia memegang bahu Rama sambil tersenyum lebar saat Rama selesai menjelaskan, "laksanakan Nak," ucapnya. "Yes!" Rama berseru senang karena Abe mau menerima idenya. Ia bangkit dari duduknya dan berlari memutari kandang-kandang disana, seolah ingin merayakan kesenangannya bersama binatang-binatang yang ada disana. "Woy, jangan lari!" Abe menegur Rama. Tapi yang ditegur malah tidak memperdulikan, hingga ia tersadar akan sesuatu saat melewati kandang Leon. Ia berhenti berlari dan kembali mendekati Abe. "Bang, Leon udah diadopsi? Kok Lo kasih? Kan Bella duluan yang mau adopsi dia. Kok malah Lo kasih ke orang lain?" Komplain Rama. Membuat Abe tersenyum lebar. "Cieee yang masih peduli dengan Bella," goda Abe. "Bukannya gitu bang," Rama berdalih dari tuduhan Abe, "dulu kan Bella bilang mau adopsi Leon. Nanti kalau dia kesini nyariin Leon gimana?" "Tenang aja, dia nggak bakal sedih kok karena Leon diadopsi." "Tau darimana?" "Kan dia yang adopsi Leon tadi sore." Rama hampir tak mempercayai perkataan Abe. Ditatapnya Abe dengan penuh pertanyaan. "Serius? Berarti dia udah berhenti kerja?" "Nggak tahu. Dia cuma bilang kalau dia udah putus." Perkataan Abe lagi-lagi membuat Rama terperangah. Ia yang tadi masih berdiri kini kembali duduk di hadapan Abe dengan wajah serius. "Yang benar Bang? Kapan?" "Ya mana gue tahu. Ngapain juga gue korek-korek tentang hubungan dia dengan mantannya. Nanti dikira gue kepo. Lo sih lama datangnya. Coba Lo datang sore tadi, pasti ketemu." "Ye..." Rama terlihat tidak senang dengan kata-kata Abe. "Ya udah, Lo samperin aja dia besok. Mumpung udah putus. Keburu balikan lagi entar. Nanti nyesel Lo." "Dih apaan sih. Enggak ah!" "Sok-sok nggak mau. Paling besok udah nyampe rumahnya Lo," kata Abe sambil terkekeh. "Apaan sih Bang," Rama berlagak merajuk kepada Abe, "tapi gue bisa nggak difasilitasi motor gitu untuk persiapan bisnis kita? Kan susah motor satu berdua sama Toni," tanya Rama kemudian dengan mata berbinar penuh harap. "Iye, Lo jemput aja besok di rumah gue. Udah... Udah... Pulang sekarang. Gue capek nih, masih banyak kerjaan besok," kata Abe kemudian. "Iya... Iya..." Rama akhirnya menuruti Abe. Ia dan Abe meninggalkan shelter bersama, namun ke arah yang berbeda, pulang ke rumah masing-masing. Selama perjalanan pulang, Rama terus-terusan memikirkan tentang Bella. Ia tak menyangka Bella putus dengan Ari setelah kepergiannya. Secepat itu. "Apa mereka putus gara-gara gue?" Batin Rama penuh pertanyaan. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD