Jujur

4624 Words
Bukan cinta namanya jika ada keraguan Bukan cinta namanya jika ada ketidakjujuran Bukan cinta namanya jika ada ketidakbahagiaan *** "Gue yakin Ton, si Hana itu suka sama Lo. Tembak dia dong. Udah berapa tahun ini? Harus berapa lama lagi Hana nunggu?" Kata Rama yang sedang di bonceng Toni. Mereka sedang dalam perjalanan ke shelter milik Abe. Kemarin Hana benar-benar membelikan Toni siomay. Sehingga membuat Rama terus-terusan mengatakan bahwa Hana sebenarnya menyukai Toni. "Apaan sih? Enggak ah, takut." "Yeee... Ni orang dibilangin dari dulu ngeyel. Itu si Hana udah setia menjomblo bertahun-tahun demi nungguin Lo!" "Apa? Koplo?" "Jomblo anjir. Lo nggak usah alih-alihin pembicaraan!" "Ya Lo ngajak ngomong di atas motor. Nggak jelas tahu, suara Lo kebawa angin!" "Ah, tahu deh! Pokoknya Lo sama Hana harus jadian ya! Tahun ini, nggak boleh ditunda-tunda lagi!" "Yeeee.... Ngatur!" "Cewek itu butuh kepastian Ton!" "Ha? Apa?" Toni kembali tidak bisa mendengar Rama. "Dih males deh gue ngomong sama Lo," Rama memutuskan untuk mengakhiri pembicaraan dan membiarkan Toni fokus mengendarai sepeda motornya. Abe menyambut Rama yang baru datang seolah ia sudah menantikan Rama. Ia menghampiri Rama dan merangkul bahu Rama, mengajak Rama mendekati meja kerjanya. "Lama ya mau jemput gitar aja!" Sindir Abe. "Hehehe... Maaf bang," cengir Rama. Ia kemudian duduk di hadapan Abe diikuti Toni. "Lo juga Ton, sombong banget nggak pernah main kesini." "Gue sibuk jadi tukang ojeknya Abang ini," Toni menunjuk Rama. Abe mengernyitkan dahi, "manja amat Lo Ram." "Motor gue udah nggak ada Bang. Udah gue jual." "Ooh... Makanya Lo nggak bisa bawa cewek kesini lagi ya?" Ejek Abe, yang langsung disambut pelototan dari Rama. "Rama pernah bawa cewek kesini? Wah, Lo deket sama cewek nggak bilang ke gue Ram," protes Toni. "Lah kan Lo udah tahu," kata Rama malas. "Yang Lo bilang udah punya pacar itu?" "Nah, iya yang itu. Temen kerjanya yang di cafe," sahut Abe bersemangat. "Wah, bangke. Cewek orang Lo bawa main," Toni geleng-geleng kepala mendengar kelakuan Rama. Rama hanya tertawa bersama Abe. "Jadi kenapa Lo jual motor Lo? Gimana mau nikung kalau nggak ada s*****a?" Tanya Abe yang masih tertawa. "Hahaha... Udah lah. Gue udah tobat. Gue nggak mau nikung. Gue juga udah berhenti dari cafe bang." "Wah, kalah telak nih kayaknya. Sampai harus menjauh gitu dari dia," Abe menatap Rama prihatin. "Ya gimana kan ya? Bukan jodoh gue mungkin," Rama berusaha tersenyum maklum. Dalam hati ia berharap obrolan ini segera berakhir dan mereka bisa membahas hal lain. "Tunggu, tunggu... jadi Lo berhenti dari cafe gara-gara dia?" Tanya Toni tak percaya. "Ya daripada gue jadi bikin dia berantem sama pacarnya, mending gue pergi aja kan? Gue juga bete liat dia bareng cowoknya. Jadi gue cabut sekalian biar bisa move on," jelas Rama. "Berat... Berat..." Ucap Abe. "Ya udah lah, nggak usah bahas itu. Mending Lo bantuin gue aja Bang. Gue lagi nganggur nih! Ada kerjaan nggak? Atau Lo ada mau bikin bisnis baru nggak? Gue ada nih modal dikit dari sisa hasil jual motor," tanya Rama kemudian penuh harap. "Lo memang kalau tiap susah baru datang ke gue ya," Abe berlagak mengomeli Rama. Rama pun hanya cengar-cengir. "Ya gue ada sih, mau bikin sesuatu. Kayaknya Lo cocok deh ngurusinnya. Lo bantuin sekalian Ton. Lo nganggur juga kan?" "Wah, sultan kita ada bisnis baru nih!" Kata Rama bersemangat. Memang keputusannya untuk datang ke tempat Abe tidak salah. "Mau bikin proyek apaan bang?" Tanya Toni penasaran. "Gue ada tanah warisan, Lo kelola deh tu. Bikin jadi tempat nongkrong. Biar income gue bertambah nih, buat binatang-binatang disini. Gue jagain mereka, kalian yang cariin duitnya." "Wah, ngeri. Tanah warisan!" Seru Rama. "Beda level ya sama kita," celetuk Toni. "Mau nggak?" Abe terlihat keki diledek dua bersahabat di hadapannya. "Mau Bang. Mau banget!" Ucap Rama yang kini berusaha serius. "Nah, gitu kan enak. Mbak Sarah! Tolong beliin kopi!" Abe kemudian memanggil karyawannya. "Biar tambah semangat ngomongnya. Mau apa kalian?" Tanya Abe. "Gue double shot, kayak biasa," kata Rama. "Gue macchiato aja," kata Toni. "Mbak Sar," Abe memanggil Sarah yang sudah datang, "double shot dua, macchiato satu, untuk Lo terserah asal jangan kopi nanti asam lambung Lo kumat," ucap Abe sambil menyerahkan beberapa lembar uang kepada Sarah. Sarah pun mengangguk lalu berlalu. "Cieee... Yang perhatian banget sama karyawannya. Boss of the year!" Ledek Rama. "Ya daripada asam lambungnya kumat terus nggak bisa kerja, kan gue juga yang susah." "Iye, percaya..." Ucap Rama sambil saling melirik dengan Toni. Kemudian mereka berdua tertawa cekikikan. "Ini anak nyari ribut mulu. Lo aja deh beli kopi sono, di cafe tempat Lo kerja kemaren, biar ketemu Bella," Abe balik balas menggoda Rama. "Yah Bang, jangan di spill namanya," Rama memelototi Abe. Ia mengira pembahasan tentang Bella sudah berakhir, tapi Abe malah mengungkit lagi. Rama kemudian melirik Toni yang ia yakini akan mencercanya dengan runtutan pertanyaan. "Hah? Bella?" Toni kaget mendengar apa yang barusan dikatakan Abe, "Bella yang waktu itu Lo selamatin dari tabrakan?" Tanya Toni memastikan. "Waduh, drama apa lagi ini?" Abe tampak tak mengerti maksud Toni. "Ah, Lo Bang. Diomelin Toni nih gue bentar lagi," Rama protes kepada Abe. "Ya mana gue tahu kalau Toni nggak tahu kalau cewek yang Lo taksir itu Bella. Emangnya kenapa sih?" "Bukannya Lo udah lost contact sama dia abis keluar dari rumah sakit? Kok bisa ketemu lagi? Satu kerjaan lagi? Lo utang penjelasan sama gue Ram!" Toni tampak tak sabar mendengar penjelasan Rama. "Udah, nanti ah. Ini kita ngomongin bisnis dulu. Iya kan Bang?" Rama menatap Abe seolah meminta pertolongan. Ia benar-benar tidak ingin membahasnya, karena ia sudah bersusah payah untuk melupakan Bella dan ia sudah berusaha keras untuk kembali ceria hari ini. Namun Abe malah mendukung keinginan Toni. "Nanti aja bahasnya kalau kopinya udah datang. Lo ceritain semuanya tuh ke Toni. Gue juga jadi penasaran, pengen denger juga." "Dih, pada kepo. Udah ah, nggak penting. Bahas bisnis aja, bisnis," Rama berusaha mengalihkan pembicaraan agar Abe dan Toni tak lagi memaksanya menceritakan tentang Bella. "Lo ceritain sekarang atau bisnisnya nggak jadi?" Abe memberi pilihan. "Yah, main ngancam. Lo sih Ton," Rama kelihatan malas untuk bercerita. Ia memelototi Toni, namun kemudian akhirnya terpaksa menceritakan kisahnya. Kisahnya saat ia akhirnya bertemu lagi dengan Bella hingga bekerja di tempat yang sama dengan Bella lalu memutuskan untuk pergi lagi dari kehidupan Bella. Rama merasa ternyata tidak buruk juga ia berbagi cerita, karena setelah ia selesai bercerita seolah sebagian bebannya berkurang. Rama merasa ia bisa bangkit lagi. Rama merasa ia bisa melanjutkan kehidupannya dengan baik setelah ini. *** "Bel, tahu nggak sih? Si Kevin besok mau ngadain party di rumahnya. Masa kita nggak diundangnya sih?" "Ya, kita kan nggak deket sama dia Cin." "Tapi kan aku mau party, udah lama banget nggak ada yang undang." "Ya terus gimana?" "Ari nggak ada ngajakin kamu gitu? Dia pasti diundang lah, kan Kevin dulu satu geng sama dia." "Ari nggak ada bahas itu sih." "Gimana kalau kita datang aja? Kasih surprise gitu ke Ari. Biar dia nggak seru-seruan sendirian aja. Sahabat sama pacar dilupain sama dia kalau mau senang-senang sama teman-temannya. Enak aja!" "Memang nggak papa datang gitu aja?" "Ya nggak papa lah. Kita pake nama Ari aja, nggak akan ada yang larang kita. Tapi jangan bilang-bilang Ari ya!" Bella baru sampai di rumah Cinta. Kemarin sebelum ia pergi dengan Ari, Bella sudah terlanjur berjanji kepada Cinta untuk menemaninya pergi ke rumah Kevin untuk menghadiri pesta yang diselenggarakannya. Jadi walaupun hatinya sedang tidak baik-baik saja saat ini, walaupun nanti besar kemungkinan ia akan bertemu Ari disana, ia tetap memaksakan diri demi Cinta. Ia tak ingin tiba-tiba membatalkan janjinya begitu saja karena kemarin Cinta terlihat sangat bersemangat untuk pergi. Tante Cinta mempersilahkan Bella langsung masuk ke kamar Cinta. Saat Bella sampai disana, Cinta yang sudah siap dengan make up nya terlihat agak kaget, karena ia menyadari ada sesuatu yang terjadi dengan Bella. "Bel," Cinta menghampiri Bella seraya memeluk temannya itu, "kamu kenapa? Kamu habis nangis semalaman?" "Aduh, kelihatan banget ya?" Bella mengusap kedua matanya walaupun hal itu tak akan membantu membuat matanya terlihat jauh lebih baik. "Are you okay?" Tanya Cinta. Ia sudah melepaskan pelukannya dan kini menatap Bella lekat, "ribut lagi sama Ari?" Tebak Cinta. "Gimana ya?" Bella tampak ragu untuk bercerita. Cinta pun membawa Bella untuk duduk di atas kasurnya agar Bella dapat lebih santai. "Ari kenapa lagi? Bukannya kalian kemaren jalan bareng untuk ngerayain hari jadian? Tapi kok sekarang kamu kelihatan kacau banget?" "Kayaknya salah aku deh Cin." "Bel," Cinta terlihat kesal, "kok kamu lagi-lagi nyalahin diri kamu kalau lagi ribut sama Ari?" Bella menggigit bibir, lalu kemudian berbicara, "mungkin memang benar yang kamu bilang. Aku sama Ari itu nggak cocok." Cinta terdiam sesaat untuk berpikir. Dalam hati ia menduga-duga Bella akhirnya menyerah dengan Ari. Ia hampir saja tersenyum lebar karena hal itu, namun cepat-cepat dikendalikan dirinya. "Kenapa tiba-tiba ngomong gitu?" Tanya Cinta. Wajah Bella yang muram kini terlihat makin sedih. Ia bahkan menghela napas yang sangat berat, "kemarin habis dinner, Ari bawa aku ke kamar hotel Cin." "Whaaaaaaaat???!!!" Cinta teramat sangat kaget dengan perkataan Bella. Ia menatap Bella tak percaya, "dia ngajak kamu tidur?!" Cinta berbisik namun histeris. Rasanya jantungnya akan copot. Bella menggeleng, "aku nggak tahu. Aku ninggalin dia sebelum dia ngelakuin hal yang aneh-aneh Cin," Bella berbicara dengan suara getir. Cinta kembali memeluknya dan mengelus-elus punggung Bella, "tapi sebelum aku pergi dia bentak-bentak aku Cin. Dia bilang aku cewek s****n, aku nggak tahu untung." Bella akhirnya menumpahkan kembali air matanya. Ia pikir ia tak akan bisa menangis lagi setelah kemarin malam menangis hingga tertidur. "Dasar Ari b******k!" Cinta mengumpati Ari. Sementara Bella masih menangis di dalam pelukan Cinta. "Mungkin memang aku yang salah Cin. Aku nggak bisa menjalin hubungan seperti yang dia mau. Dia pikir itu hal wajar dalam pacaran, tapi aku nggak bisa Cin. Aku nggak bisa lagi sama Ari." Kata-kata itu. Akhirnya kata-kata itu keluar juga dari mulut Bella. Kata-kata yang sudah dari dulu ingin Cinta dengarkan. Akhirnya Bella menyerah juga terhadap Ari. "Bel, kamu nggak salah. Memang Ari nya aja yang b******k. Kamu ini orang baik, pintar, dia mau ngerusak kamu? Waktu itu dia ngajak kamu ke club, terus kemarin ngajak kamu ke hotel. Dia pengen banget kamu jadi kayak dia ya?" Bagaimanapun senangnya Cinta, ia tetap berusaha memperlihatkan simpatinya kepada Bella. Ia harus tetap kelihatan mendukung Bella agar Bella segera mengambil tindakan untuk memutuskan Ari. "Kamu benar Cin. Aku nggak bisa ngubah Ari. Ari yang berusaha untuk ngubah aku," kata Bella lagi. "Udah Bel, udah," Cinta berusaha menenangkan Bella. Ia melepaskan pelukannya, lalu menatap Bella seraya menghapus air mata Bella dengan ibu jarinya, "kamu harus ambil tindakan yang tegas Bel. Jangan mau untuk selalu dikendaliin sama Ari. Lihat apa yang terjadi gara-gara kamu selalu minta maaf waktu dia yang salah, lihat apa yang terjadi karena kamu selalu nurutin perkataannya, dia jadi ngelunjak kan?" Bella mengangguk. Cinta mengambil tissue di atas meja kamarnya agar Bella dapat membersihkan wajahnya. "Aku mau putusin Ari, Cin." Seperti mimpi, rasanya Cinta sangat senang sekali mendengar Bella mengatakan hal itu. Ingin rasanya ia berlari sembari berteriak girang jika saja tidak ada Bella disana. Dengan sekuat tenaga, ia berusaha mengendalikan diri. "Mungkin itu memang yang terbaik Bel. Good girl can't be with bad boy." Bella kembali mengangguk. "Maaf Cin, aku malah jadi curhat. Padahal kita mau pergi pesta. Tapi aku malah kayak gini," ucap Bella sedih. "No.... No.... It's okay! Hal kayak gini memang harus diceritain, kamu nggak boleh pendam sendiri. Udah gini aja, kita nggak usah ke pestanya Kevin ya?" Kata Cinta. Tujuan awal Cinta ingin membawa Bella ke pesta Kevin sebenarnya adalah agar Bella bisa melihat apa yang dilakukan oleh Ari dan Tasya di belakang Bella, sehingga Bella memutuskan Ari. Namun nampaknya hal itu tidak perlu dilakukan karena tanpa hal itu pun, toh Bella juga sudah berniat memutuskan Ari. Dan lagi, Cinta benar-benar tidak diundang oleh Kevin ke pestanya. Ia juga malas memunculkan diri di hadapan mantan teman sekelasnya itu yang tak kalah brengseknya dari Ari. "Tapi Cin, kamu kan pengen banget kesana?" Tanya Bella. "Enggak kok. Udah ah, santai aja." "Tapi kamu udah siap gini. Aku nggak papa Cin. Aku masih mau ke pesta Kevin kok!" Cinta berpikir sejenak. Sepertinya tidak ada salahnya mereka pergi, agar Bella memutuskan Ari malam ini juga. "Oke, ya udah. Kamu make up dulu ya! Biar nggak terlalu kelihatan sedihnya." Bella mengangguk. Cinta dengan telaten mengaplikasikan dandanan yang cocok untuk Bella, sambil dalam hati membayangkan perpisahan Bella dengan Ari. Ari pasti akan sangat sedih sekali. Di saat itulah Cinta akan datang untuk menyembuhkan hati Ari. "Tadaaaa.... Cantiknya!" Cinta memutar kursi yang dipakai Bella dan menghadapkan Bella ke cermin. Ia tersenyum puas melihat hasil riasan yang ia pakaikan kepada Bella. "Makasih ya Cin!" Bella ikut tersenyum melihat pantulan wajahnya di cermin. "Sini kita foto-foto dulu. Kalau mau party, suasana hati harus bagus. Harus happy!" Kata Cinta yang sudah siap dengan kamera depan HP nya. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Bella dan mengajak Bella untuk tersenyum melihat kamera. Bermacam foto dari berbagai sudut ruangan kamar Cinta yang cukup estetik sudah memenuhi memori HP Cinta. Kini Cinta malah mengajak Bella untuk membuat video. "Nanti kita bisa telat lho Cin?" Bella mengingatkan. "Nggak papa lah. Itu kan pesta, bukan sekolahan." Bella memilih untuk menuruti Cinta saja. Karena memang apa yang dibilang Cinta membuat pikirannya jadi sedikit teralihkan dari rasa sakit yang disebabkan oleh Ari. Rasanya saat itu jiwanya terasa bebas untuk mengeluarkan ekspresi. "Duh, jadi haus nih. Aku ambil minum dulu ya Bel. Kamu mau?" Tanya Cinta. "Nggak usah. Nanti di tempat Kevin aja." "Ya udah. Aku sekalian ambil kunci mobil sama Shana ya. Abis itu kita langsung pergi!" "Oke!" Ujar Bella. Cinta meletakkan HP nya di atas meja tanpa menguncinya. Layar HP nya masih menampilkan foto terakhir yang Cinta ambil bersama Bella. Bella jadi penasaran dengan semua hasil foto tadi. Ia mengambil HP Cinta dan melihat satu persatu foto-foto tersebut. Bella tak menduga ia cukup ahli untuk menyembunyikan kesedihannya di foto-foto tersebut. Ia terlihat cukup baik-baik saja di foto-foto itu. Bella tidak sengaja menekan tombol kembali dan menemukan beberapa folder di HP Cinta. Ada satu folder yang mencuri perhatiannya. Folder dengan nama Ari. Kenapa Cinta punya folder khusus untuk Ari? Tanya Bella dalam hati. Tiba-tiba ia teringat dengan perkataan Shana beberapa waktu yang lalu, dimana Shana mengatakan bahwa Cinta menyukai Ari. Apa selama ini Cinta diam-diam memang suka dengan Ari? Bella tahu ia tidak boleh sembarangan membongkar privasi orang lain. Tapi ia merasa sangat penasaran dengan isi folder itu. Ia ingin tahu perasaan Cinta yang sebenarnya kepada Ari. Ia ingin tahu apakah selama ini ia telah menyakiti hati Cinta karena berpacaran dengan Ari. Betapa terkejutnya Bella saat membuka folder itu. Ia tak menyangka selama ini Cinta menyimpan rahasia Ari. Ia tak mengerti kenapa Cinta menyembunyikan hal itu dari dirinya. "Yuk Bel," Cinta sudah kembali dari kamar Shana sambil membawa kunci mobil. Namun ia terheran dengan ekspresi Bella yang tengah melihat layar HP Cinta. "Kamu lihat apa?" Cinta mendekati Bella dan hendak merebut HP nya. Namun Bella malah memperlihatkan layar HP tersebut kepada Cinta. "Kamu kenapa nggak bilang ke aku Cin?" Cinta mengambil paksa HP miliknya dari tangan Bella, "siapa yang izinin kamu periksa-periksa HP aku?!" "Kamu jawab aku Cin!" Bella hampir histeris karena Cinta tak langsung menjawab pertanyaannya. "Benar-benar ya kamu Bel. Aku tinggal sebentar aja kamu udah seenaknya," Cinta tampak sangat kesal. "Untuk apa kamu simpan foto-foto itu Cin? Kalau kamu tahu Ari macam-macam di belakang aku, kenapa kamu nggak kasih tahu aku dari dulu?" Bella terlihat kecewa dengan Cinta. Namun Cinta tidak memberikan respon apapun. Sesaat Bella tersadar kalau ia sudah keterlaluan. Ia sudah memeriksa HP Cinta tanpa izin, lalu menuduh Cinta yang macam-macam. "Maaf Cin. Aku udah lancang lihat HP kamu," Bella menurunkan emosinya dan memegang kedua tangan Cinta. Berharap Cinta tidak marah kepadanya. "Udah lah," Cinta menepis tangan Bella, "kamu udah terlanjur tahu juga." Cinta mengusap wajahnya dengan kasar. Padahal ia sudah berjanji dengan Ari untuk tidak memperlihatkan foto-foto itu kepada Bella. Tapi ternyata Bella akhirnya melihat foto-foto itu juga. Foto-foto Ari dengan beberapa perempuan. Di club, di tempat permainan biliar, dan di tempat-tempat lainnya. Foto-foto itu terlalu mesra untuk dikatakan sebagai foto bersama teman. Ditambah ada foto Ari dengan Tasya, mantan Ari. Ari tampak tengah membuka jaket Tasya di foto itu. "Aku itu bingung Bel. Ari itu juga sahabat aku, bukan cuma kamu aja. Aku nggak mau ngehancurin Ari," kata Cinta kemudian. "Aku ambil foto-foto itu supaya Ari sadar, kalau dia nggak seharusnya ngejalanin hubungan dengan kamu. Aku pengen Ari itu sadar kalau dia nggak bisa ngedapetin hubungan yang dia mau bareng kamu. Buktinya di belakang kamu dia main sama perempuan lain. Aku pengen ngeliatin foto-foto itu ke Ari, biar dia tahu kalau dia udah jahat ke kamu, jadi seharusnya dia pergi aja dari kamu," lanjut Cinta. "Tapi kan kamu bisa liatin ke aku Cin. Biar aku yang ambil keputusannya." "Kamu nggak ngerti Bel," Cinta menghela napas berat, "kalau aku lihatin ke kamu, pasti Ari akan nyalahin aku kalau kalian berdua nanti putus. Aku nggak mau Ari benci sama aku. Sedangkan waktu aku coba kasih tahu kamu secara tersirat lewat obrolan aja, Ari udah sesinis itu sama aku." Bella memeluk Cinta. Sekarang ia paham alasan Cinta. Pasti sangat berat harus menjaga perasaan orang lain. Bella merasa bersalah sempat berpikir macam-macam tentang Cinta. "Maafin aku Cin. Aku selama ini nggak pernah dengerin kamu." "Udah... Udah..." Cinta melepaskan pelukan Bella. "Kamu nggak usah merasa bersalah sama Ari. Kan kamu tahu, kalau aku mau mutusin dia sebelum aku tahu kalau dia macam-macam di belakang aku." "Oke." "Maafin aku ya Cin." "Iya Bel. Maaf juga aku udah marahin kamu tadi." "Nggak papa Cin. Memang aku yang salah. Kita tetap pergi kan?" Cinta mengangguk. Bella dan Cinta meninggalkan rumah Cinta. Selama perjalanan mereka hanya diam. Namun sebenarnya dibalik setir, Cinta memikirkan tentang kejadian yang akan terjadi nanti. Ia berharap nanti Ari tidak akan menyalahkannya karena membawa Bella ke pesta Kevin malam ini untuk memutuskan Ari. Bella dan Cinta sampai di rumah Kevin. Ada banyak orang yang ada di pekarangan rumah Kevin. Sehingga mereka belum bisa menemukan Ari disana. "Just enjoy the party, wont you?" Kata Cinta kepada Bella. Ia berusaha mencairkan suasana yang tadi dingin selama perjalanan menuju rumah Kevin. "Iya Cin," Bella tersenyum untuk menghargai Cinta. Ia dan Cinta banyak bertemu dengan teman-teman SMA mereka, membuat mereka merasa seperti menghadiri acara reuni. "Eh Cin, Ari balikan sama Tasya ya?" Tanya salah satu teman mereka. Cinta dan Bella pun saling pandang. "Siapa yang bilang?" Tanya Cinta. "Tadi soalnya gue lihat mereka bareng di dalam rumah Kevin." Teman mereka yang lain menyikut perempuan yang berbicara itu, kemudian membisikkan kalau sekarang Ari berpacaran dengan Bella. Perempuan itu pun menatap Bella dengan rasa bersalah. Bella langsung pergi dari area kolam renang Kevin. Cinta pun menyusul dari belakang. Di dalam rumah Kevin ternyata juga banyak orang. Dan akhirnya Bella berhasil menemukan Ari di area mini bar rumah Kevin. Benar saja, Ari sedang bersama Tasya sekarang. Gadis itu duduk di atas meja bar mengenakan jaket Ari yang melorot terjuntai di kedua lengannya, sehingga menampakkan tubuhnya yang dibalut dengan tube top. Dengan agresifnya, ia mencium bibir dari lelaki yang ada di hadapannya. Ari. "Ari!" Ari secara refleks menghentikan ciumannya dengan Tasya saat mendengar suara Bella. Ia menoleh ke belakang dan mendapati Bella yang memandangnya kecewa. Dengan menahan air mata, Bella berlari keluar dari rumah Kevin. Ari ikut berlari keluar mengejar Bella. Tasya yang kaget dengan kedatangan Bella langsung menatap tajam ke arah Cinta yang masih ada disana. Ia turun dari meja bar sambil membenarkan posisi jaketnya. "Lo ngapain sih bawa Bella kesini?!" "Nggak tahu malu ya Lo?! Selingkuh terang-terangan!" Cinta menghampiri Tasya sambil membentak gadis itu tanpa menjawab pertanyaan Tasya. "Maksud Lo apa hah? Bukannya Lo udah tahu?" "Gue nggak expect Lo sampai senekat itu nyium cowok orang! Memang tukang selingkuh bakal jadi tukang selingkuh terus ya. Dasar murahan!" "Apa Lo bilang?!" Tasya yang emosi mendengar perkataan Cinta langsung menjambak rambut Cinta, Cinta pun balik menjambak Tasya. "Eh apa-apaan ini?" Kevin dan beberapa temannya datang menghampiri Cinta dan Tasya untuk melerai perkelahian mereka berdua. "Perasaan gue nggak ngundang Lo ya Cin? Tapi kenapa Lo datang bikin keributan disini?" Tanya Kevin kesal. "Gue nggak ada urusan sama Lo ya!" Kata Cinta yang masih diselimuti rasa emosi. "Tentu aja ada. Ini rumah gue, party gue." Cinta membuang muka dari Kevin. Rasanya ia belum puas menjambak Tasya tadi, tapi malah sudah keburu dilerai oleh orang-orang. Padahal ia merasa sangat kesal sekali melihat Ari dicium oleh Tasya. Hatinya terasa sangat sakit. Ia tak habis pikir kenapa Ari sampai mau melakukan hal itu dengan Tasya. "Lo mau cari perhatian gue ya? Lo nyesel udah pernah nolak gue?" Kevin mengulurkan tangannya dan menyentuh dagu Cinta sambil tersenyum mengejek. Dengan kasar, Cinta langsung menepis tangan cowok itu. "Jangan pegang-pegang gue. Udah gue bilang gue nggak ada urusannya sama Lo!" Cinta memutuskan untuk pergi keluar dari rumah Kevin, dengan mengacungkan jari tengahnya kepada Kevin dan Tasya yang membuatnya kesal, sekaligus sebagai salam perpisahan. Setelah sampai di luar, Cinta mencari Ari dan Bella di sekitar rumah Kevin, dan ia berhasil menemukan mereka berdua di luar pagar rumah Kevin. Cinta memutuskan untuk tidak menampakkan diri karena Bella dan Ari sedang terlibat percakapan yang serius. Ia menguping pembicaraan mereka di balik sebuah mobil yang terparkir disana. "Maafin aku Bel," Ari tampak memelas. Ia bahkan bersimpuh di hadapan Bella sambil memegang kedua tangan Bella. "Aku memang bodoh selama ini Ri. Aku pikir dengan aku nerima kamu, kita bisa sama-sama belajar untuk saling mencintai." "Aku beneran cinta sama kamu Bel!" "Cinta nggak kayak gini Ri," Bella melepaskan tangannya dari Ari dan mengusap air matanya. Ari memutuskan untuk berdiri dan kembali meraih tangan Bella, namun Bella tidak memberikan kesempatan. "Kemarin kamu udah ngecewain aku banget. Sekarang kamu tambah bikin aku kecewa. Padahal selama ini kamu yang suka nuduh-nuduh aku macam-macam sama Rama. Ternyata kamu lebih parah!" Kata Bella lagi. "Maaf Bel..." Ari hanya bisa meminta maaf lagi dan lagi kepada Bella. Mereka berdua terdiam sesaat. Setelah Bella berhasil mengendalikan dirinya dan berhenti menangis, ia kembali berbicara. "Aku udah lama banget mikirin ini. Sejak awal kita pacaran, jauh sebelum kita mulai sering berantem. Hati aku nggak pernah bisa ngerasain getaran waktu sama kamu. Aku pikir perasaan itu bakal muncul seiring berjalannya waktu. Tapi nggak pernah Ri. Dan mirisnya aku harus banyak ngalah, aku harus turutin semua perkataan kamu, aku nggak bisa jadi diri sendiri, cuma untuk mempertahankan hubungan yang nggak bikin aku bahagia." "Bel, jangan ngomong kayak gitu. Aku udah berusaha untuk bikin kamu bahagia." "Kamu terlalu berusaha, tapi aku tahu kamu malah nggak bahagia waktu ngelakuin itu. Dan aku sadar ternyata ada orang lain yang bisa bikin aku bahagia Ri. Tanpa keterpaksaan, tanpa bikin aku jadi orang lain," tanpa sadar Bella mengucapkan itu, rahasia yang selama ini ia pendam dan sudah ia kubur. Pikirannya terlalu kacau hingga tak bisa mengontrol kata-katanya. Ari menatap Bella tak percaya, "siapa Bel?" "Dia pelan-pelan buat aku jatuh cinta sama dia secara diam-diam. Dan itu ngebuat aku merasa bersalah sama kamu, jadi aku mutusin untuk ngelupain dia dan menjauh dari dia untuk buang perasaan aku, dan terus-terusan memperbaiki hubungan kita," Bella tak kuasa mengungkapkan semuanya karena tak bisa mengontrol diri, "tapi syukurlah, rasa bersalah aku ke kamu karena aku mencintai orang lain waktu aku menjalin hubungan dengan kamu dibayar impas dengan pengkhianatan kamu. Aku nggak akan nyalahin kamu sepenuhnya. Kita sama-sama salah." "Bel, aku beneran cinta sama kamu. Maafin aku karena di belakang kamu aku selingkuh. Aku khilaf Bel. Jangan bilang kalau kamu cinta sama orang lain. Bilang kalau kamu cintanya sama aku." "Maaf Ri, aku nggak bisa. Lebih baik kita putus aja," akhirnya Bella mengatakannya juga. Hal itu membuat Ari kelihatan sangat syok. "Enggak Bel. Enggak. Jangan bilang putus!" "Aku memang udah niat untuk mutusin kamu sejak kemarin, sebelum aku tahu kamu selingkuh. Aku nggak bisa kasih kamu hubungan seperti yang kamu mau Ri, begitupun kamu sebaliknya." "Aku bakal berubah Bel. Aku nggak akan maksa kamu lagi untuk ngikutin perkataan aku. Mulai sekarang aku yang bakal ikutin perkataan kamu. Dan aku nggak akan macam-macam lagi kayak kemaren ke kamu. Makanya, kasih aku kesempatan lagi," mohon Ari. Bella menggeleng, "udah cukup Ri. Aku nggak bisa lebih lama lagi untuk belajar cinta sama kamu. Kita cuma buang-buang waktu. Selamat tinggal Ri." Bella meninggalkan Ari dan berjalan menjauh. Ari masih berusaha mengikutinya dari belakang, meminta kesempatan lagi. Namun Bella tidak ingin memperdulikan Ari. Dihentikannya taxi yang lewat, lalu ia berlalu dari Ari yang matanya memerah menahan tangis, dan berteriak penuh amarah. Bella pun menangisi malam ini. Ia tak menyangka kisahnya dengan Ari akan berakhir seperti ini. Semua percintaan yang dulu dibayangkannya akan berjalan dengan indah, ternyata hanya berlangsung untuk saling menyakiti. Tapi sebagian dari dirinya merasa lega, karena sudah bisa berkata jujur kepada Ari tentang perasaannya selama ini. *** Cinta keluar dari tempat persembunyiannya. Ia mendekati Ari yang tercenung memandang ke depan, seolah mengharapkan masih ada Bella disana. "Ri..." Cinta menyentuh pundak Ari. Namun Ari malah menepis tangan Cinta. Ia meninggalkan Cinta begitu saja, membuat Cinta merasa sangat sedih. Padahal Cinta ingin menemani Ari disaat Ari sedang merasa hancur. "Ri tunggu," Cinta tidak ingin menyerah. Sekarang adalah waktunya untuk membuktikan kepada Ari bahwa hanya ia lah yang selalu ada untuk Ari, hanya ia lah yang benar-benar mencintai Ari. Diikutinya Ari dari belakang. Ternyata Ari pergi ke mobilnya. "Mana kunci mobil Pak?" Tanya Ari kepada supirnya yang menunggu di luar mobil. "Untuk apa Mas?" tanya Pak Surya. "KASIH KE GUE KUNCI MOBILNYA SEKARANG!" Ari yang tak sabar membentak Pak Surya. Pak Surya yang masih tidak mengerti tujuan Ari meminta kunci mobil akhirnya memberikan kunci mobil Ari agar tidak dimarahi lagi oleh Ari. Ternyata Ari masuk ke mobilnya dan duduk di kursi pengemudi, lalu mulai menyetir mobil itu. "Pak, kok dikasih sih kuncinya?!" Cinta geram melihat pak Surya yang memberikan kunci mobil itu kepada Ari. Namun ia tak ingin membuang waktu, segera ia berlari menuju mobilnya untuk menyusul Ari. Ari mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, membuat Cinta menjadi sangat khawatir. Padahal Ari sudah lama tidak menyetir mobil, dan Ari memiliki trauma mengendarai mobil. Setelah Cinta bisa menyusul Ari, ia membuka jendela mobilnya dan berteriak sekencang-kencangnya. "Ari.... Stoooooop!!!!" Cinta tahu sia-sia saja ia berteriak. Ari tidak akan bisa mendengarnya. Yang bisa Cinta lakukan sekarang hanya terus menyusul Ari. Di dalam mobilnya, Ari merasa tidak bisa berpikir jernih. Otaknya terasa kacau. Yang ingin ia lakukan sekarang hanya terus memacu laju mobilnya lebih kencang lagi. Namun tiba-tiba peristiwa kecelakaannya kembali terputar di kepalanya. Ari tiba-tiba panik dan hampir kehilangan kendali. Dengan sisa-sisa kesadarannya, ia mengerem mobilnya dan akhirnya mobilnya pun berhenti dengan suara decitan yang memekakkan telinga. Cinta ikut menghentikan mobilnya dan bernapas lega karena Ari tidak sampai kecelakaan. Ia segera bergegas keluar dan menghampiri mobil Ari. "Ri, buka..." Cinta mengetuk-ngetuk pintu mobil Ari. Namun Ari tidak kunjung membuka pintu mobilnya. "Ri...." Cinta masih tidak menyerah untuk membujuk Ari membuka pintu mobilnya. Akhirnya setelah menunggu cukup lama, Ari keluar juga dari mobilnya. Badannya bergetar hebat dan Cinta pun langsung memeluk Ari. "Ri, kamu tenang ya. Ada aku disini." Cinta dapat merasakan air mata Ari terjatuh di pundaknya. Padahal Ari dulu tidak pernah serapuh ini saat harus putus dari mantan-mantannya terdahulu. Tapi kali ini, Ari benar-benar terlihat tidak bisa menerima perpisahannya dengan Bella. "Padahal aku benar-benar cinta dengan Bella Cin. Cuma Bella yang bisa buat aku ngerasain apa itu cinta yang sebenarnya. Aku benar-benar bodoh. Semua yang aku lakuin cuma ngebuat Bella jadi nggak suka sama aku," Ari menyesali apa yang telah dilakukannya selama ini. Hati Cinta meradang. Lagi-lagi Ari masih mengharapkan Bella setelah secara jelas Bella mengatakan bahwa ia tidak pernah mencintai Ari, bahwa ia malah mencintai orang lain saat berpacaran dengan Ari. Cinta berpikir bahwa Bella begitu egois. Ia tidak mencintai Ari tapi tetap menjalin hubungan dengan Ari. Padahal ada Cinta, orang yang selalu tulus mencintai Ari. Bella benar-benar sudah sangat menyakiti perasaan Cinta selama ini. Dalam hati Cinta berjanji akan membalas rasa sakit Ari dan juga dirinya yang disebabkan oleh Bella. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD