Aku tidak mengerti tentang perasaan cintamu
Aku tidak mengerti tentang perasaan cintanya
Aku tidak mengerti tentang perasaan cintaku
Siapakah yang harus kalah?
Siapakah yang harus bersatu?
***
Jam menunjukkan pukul dua belas malam. Tanggal 23 telah tiba. Tanggal dimana Bella dan Ari memulai kisah asmaranya, berkomitmen untuk saling mencintai satu sama lain. Dua bulan sebelumnya, tanggal itu mereka lalui dengan perkelahian. Namun untuk bulan ini, Bella bertekad untuk memperbaiki semuanya. Seiring ia melupakan perasaan sesaatnya kepada Rama, ia terus-terusan berupaya menumbuhkan perasaan cintanya yang lebih dalam kepada Ari.
Bella mengirimkan pesan ucapan selamat hari jadian kepada Ari sambil tersenyum, membayangkan perayaan seperti apa yang akan ia dan Ari lakukan hari ini. Saat ia sudah meletakkan handphone-nya di meja dan bersiap untuk tidur, tiba-tiba handphone-nya berdering.
"Selamat enam bulan juga sayang!" Ucap Ari lembut saat Bella mengangkat telepon itu.
"Kamu belum tidur?" Tanya Bella sambil tersenyum senang karena mendengar suara Ari.
"Ya belum lah. Masih jam dua belas."
"Ih kok masih? Udah jam dua belas."
Ari tertawa karena komplainan Bella.
"Aku senang kamu ngucapin duluan. Aku pikir kamu lupa," kata Ari kemudian.
"Ya enggak lah. Aku tadinya mau telepon kamu, tapi takutnya kamu udah tidur. Makanya aku chat aja."
"Aku itu tidurnya paling cepat jam satu Sayang," jelas Ari.
"Ari, kan aku udah sering bilang kamu jangan begadang mulu," omel Bella.
"Hahaha... Iya... Iya... Maaf. Ya udah, sekarang kita tidur ya. Nanti abis ngampus, kita rayain hari jadian kita."
"Oke. Sampai ketemu nanti!"
"Good night sweety!"
"Good night!" Balas Bella.
Pagi datang begitu cepatnya, memaksa Bella terbangun dari mimpi buruknya. Padahal hari ini adalah hari yang spesial, tapi ia malah mendapatkan mimpi yang tidak menyenangkan. Segera di abaikannya mimpinya itu dan berusaha bersemangat, membuat mood nya baik agar nanti saat bertemu Ari, ia tidak terlihat murung.
Ari sudah sampai di pekarangan rumah Bella. Bella yang hari ini memutuskan untuk berdandan dan memakai baju terbaiknya menyambut Ari dengan antusias. Ari membalasnya dengan pelukan hangat. Lalu mereka pun bergegas pergi ke kampus.
Bella dan Ari terlihat begitu mesra hari ini. Mereka senantiasa berpegangan tangan kemanapun, serta berbagi canda dan tawa berdua. Membuat Cinta yang dari awal jam pelajaran memperhatikan mereka menjadi sangat kesal. Ia kesal karena Bella dan Ari masih bersama juga hingga saat ini, padahal mereka sudah sering berkelahi. Saat kelas berakhir, Cinta pun segera menjauh dari Bella dan Ari, Ia harus membuat Bella dan Ari kembali berkelahi. Dengan kasar diraihnya HP-nya dari dalam tas dan ia menghubungi Tasya.
"Lo masih sering jalan bareng Ari?" Tanya Cinta to the point.
"Tiba-tiba nelpon nanyanya begituan? Lo sehat?" Kata Tasya di ujung telepon.
"Gue lagi nggak mau bercanda! Gue tanya Lo masih sering jalan bareng Ari atau enggak?!"
"Duh galak banget sih. Ini Lo disuruh Bella ya buat nanya ke gue? Bella tahu darimana?"
"Ini nggak ada hubungannya sama Bella. Gue bukan pesuruhnya Bella ya!" Cinta semakin kesal mendengar tuduhan Tasya.
"Ya terus kok tiba-tiba nanya gitu?"
"Ya jawab aja!"
"Ih, iya iya. Gue jawab. Tapi jangan kasih tahu Bella ya. Gue memang masih sering jalan bareng Ari kok. Tapi Ari gue suruh putus dari Bella nggak mau. Gue harus gimana dong?" Tanya Tasya bingung.
"Kapan Lo bakal ketemu Ari lagi?"
"Besok malam. Kan ada party di rumahnya Kevin. Lo nggak di undang ya? Lo galak sih, jadi Kevin malas ngundang kan?"
"Oke thanks!"
"Udah gitu aja? Sebenarnya tujuan Lo apaan sih? Nggak jelas ba..."
Cinta mematikan sambungan telepon begitu saja. Ia tidak butuh mendengarkan omong kosong Tasya lebih lama lagi. Ia harus menyusun rencana baru untuk membuat tujuannya tercapai dengan cepat. Membuat Bella dan Ari berpisah.
***
Rama mencoret sebuah baris dari lirik lagu yang baru saja dibuatnya. Ia merasa otaknya buntu dan memutuskan membiarkan lirik lagunya seperti itu saja. Diambilnya gitar yang ada di tempat kerja barunya sekarang, sebuah studio musik, dan dimainkannya akor yang sudah lebih dulu diciptakannya. Kemudian ia mulai menyanyikan lirik yang tadi ditulisnya yang ia beri judul Suffer.
"Years in suffer
I just try to be better
But you don't want me to be the winner
You felt guilty
But you don't make it easy
What's the point you be around me?
Moving on is still in process
You were born as my new happiness
Appear with that midi dress
You walk with me on the grass
That rain made you scare
That night you hug me tight
I don't wanna see you hurt
I don't wanna see you cry
But you don't know how it feels
No, you have no idea how painful it is
To love someone that belong to someone
I've been in pain for long time
I decided to be happy but then you came
With those sad eyes and unhappy smile
Made me feel facing sad memories that already gone
Waiting for you is killing me slowly
Killing this feeling is better for me
Let me leave you and you forget me
I will find my own remedy
Years in suffer
I just try to be better
But you don't seem to make me as the winner
And you have no idea how painful it is
To love someone that belong to someone...
To love someone that belong to someone...
To love someone that belong to someone..."
Rama menghela napas berat setelah menyanyikan lagu itu. Rasanya hatinya masih belum lega walaupun ia sudah mencurahkan isi hatinya lewat sebuah lagu. Sudah satu bulan sejak ia memutuskan untuk pergi lagi dari kehidupan Bella. Rasanya dulu tidak sesakit ini. Andai saja waktu itu ia tak berharap macam-macam, mungkin ia tidak akan pernah bertemu Bella lagi, dan bisa melanjutkan usahanya untuk menyembuhkan hati.
Diletakkannya kembali gitar yang tadi digunakannya ke tempatnya semula. Kini ia beralih menuju drum, untuk meluapkan emosi yang bergejolak di dadanya. Ia menabuh drum tersebut dengan cepat dan sekuat tenaga, dan tidak berniat untuk menghentikan permainannya dalam waktu singkat.
Ia mendengar dering HP nya berbunyi, tapi ia memutuskan untuk mengabaikan panggilan itu. Sekarang yang ia ingin lakukan hanya melarikan diri dengan menenggelamkan dirinya lewat alat musik, hingga hatinya puas dan tak lagi bergejolak.
Dua jam telah berlalu. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu studio. Namun lagi-lagi Rama hanya mengabaikan. Orang yang mengetuk pun membuka pintu studio itu, diikuti tiga orang temannya.
"Bang, Lo yang jaga studio kan?" Kata orang itu sambil sedikit berteriak.
"Iya," jawab Rama cuek tanpa menghentikan permainannya.
"Kita mau sewa."
"Gue lagi pakai."
"Bang, kita dari tadi nungguin. Kita perlu buat latihan," kata seseorang lainnya.
Rama menghentikan permainannya, lalu memberikan tatapan tak senang kepada empat orang di hadapannya.
"Kalian nggak dengar apa yang gue bilang? Gue lagi pakai!" Hardik Rama.
"Kan Lo tiap hari disini bang, bisa pakai kapan aja. Lagian kita bayar. Emang Lo? Gratisan aja belagu!"
Keempat s*****n itu menertawakan Rama. Membuat Rama berdiri dari duduknya dan mendekati orang yang berbicara tadi dengan penuh emosi. Ia mendorong orang itu sampai ia hampir terjatuh.
"Ngajak ribut Lo?!" Orang itu tidak terima dengan perlakuan Rama. Tanpa basa-basi ia mulai melayangkan tinju ke pipi Rama. Rama balik meninju orang itu dan perkelahian pun tak terelakkan. Ketiga orang lainnya berusaha sekuat tenaga untuk melerai, hingga tiba-tiba pintu dibuka dari luar dan pemilik studio masuk dengan mata melotot karena melihat perkelahian Rama dengan pelanggan.
"Woy, apa-apaan ni?!" Bentaknya kesal.
Rama dan lawannya berhasil ditahan oleh orang-orang disana. Pemilik studio mendekati Rama dengan wajah galak, bersiap menghardik Rama.
"Lo disini kerja untuk jaga studio, ngelayanin pelanggan. Bukannya sok jadi preman!"
Rama hanya diam dan tidak menunjukkan wajah merasa bersalah. Hal itu membuat pemilik studio semakin marah.
"Cabut Lo dari sini! Jangan pernah balik lagi!"
Rama melepaskan diri dengan kasar dari dua orang yang menahannya. Ia lantas mengambil barang-barangnya dan segera keluar dari studio itu. Ia berjalan kaki menuju kost nya, walaupun jarak kost nya cukup jauh dari studio musik tersebut.
Otaknya terasa penuh dan berantakan. Ia tahu apa yang dilakukannya salah. Tapi ia seolah tak bisa mengontrol dirinya. Ada amarah dan kesedihan yang sejak dulu menetap di hatinya, yang ia kira sudah pergi. Namun ternyata mereka bangkit kembali, mengambil alih kesadaran Rama.
Toni memandang Rama kaget saat Rama sampai di kost dengan tampang kusut dan wajah lebam. Akhir-akhir ini Rama sudah kelihatan tidak baik-baik saja, namun kali ini yang paling buruk.
"Baru aja mau gue jemput. Kok udah pulang? Pulang pakai apa?" Tanya Toni.
"Jalan kaki. Gue dipecat."
"Hah?" Toni terperangah, "Lo sedepresi itu dipecat sampai bela-belain jalan kaki buat pulang dengan jarak sejauh itu? Terus muka Lo kenapa? Berantem sama siapa?"
"Pelanggan," jawab Rama cuek. Ia meletakkan tasnya di atas meja kemudian pergi ke kasurnya untuk membaringkan badan. Napasnya masih sedikit terengah karena kelelahan.
"Pantes aja dipecat," Toni menampakkan wajah prihatin. Didekatinya Rama dan ia duduk di sudut ranjang Rama, "Lo kenapa sih? Semenjak Lo berhenti dari cafe, Lo balik sedih kayak dulu. Sekarang malah ngajak orang berantem. Ada masalah apa?"
"Nggak kenapa-napa."
"Nggak kenapa-napa gimana? Bulan lalu aja Lo tiba-tiba bilang punya hutang sampai harus jual motor Lo. Padahal gue nggak lihat Lo punya biaya yang besar untuk Lo bayar sampai Lo harus ngutang. Atau Lo beli yang aneh-aneh ya?"
"Mikir Lo kejauhan," Rama melemparkan bantalnya ke kepala Toni.
"Ya abis Lo nggak cerita, makanya gue jadi mikir yang enggak-enggak Bambang," kata Toni sambil mengelus kepalanya.
"Iya, iya... Itu duitnya gue pakai buat beli narkoba."
"Serius Lo Ram?!"
"Ya enggak lah," Rama menertawakan Toni yang mukanya kelihatan sangat tegang.
"Lo bikin gue jantungan, tahu nggak?" Toni mengelus-elus dadanya. Kelakuan Rama yang aneh membuat Toni sempat percaya dengan perkataan Rama.
"Udah ah, gue mau tidur bentar," Rama menutup matanya dengan lengannya. Perhatian kecil dari Toni membuat kesadaran Rama kembali. Ya, tak seharusnya ia terus-menerus membuat orang di sekelilingnya khawatir. Ia bertekad untuk tidak bersedih lagi dan tidak mencari masalah lagi dengan orang lain. Mungkin beristirahat sejenak dari aktivitasnya bisa menenangkan hati dan pikirannya.
"Yeee, ni anak ditanyain ada masalah apa malah tidur," kata Toni kesal.
Tak lama kemudian pintu kamar mereka diketuk. Rama yang masih belum tertidur menyuruh Toni membukakan pintu.
"Buka tuh. Kalau nyariin gue bilang gue tidur nggak bisa diganggu."
"Untung gue baik," Toni kembali mengelus dadanya melihat tingkah Rama yang sok memerintahnya. Ia kemudian beranjak dari duduknya dan segera membuka pintu, mendapati Hana di balik pintu itu.
"Eh Hana, kenapa? Belum waktunya bayar uang kost kan?" Tanya Toni. Ia sampai menoleh ke belakang untuk melihat kalender.
"Belum Ton. Aku kesini cuma mau ngasih makanan buat Rama. Tadi sebenarnya mau bawain ke studio soalnya tadi lewat daerah situ. Tapi Rama nggak angkat telepon. Jadi aku tadi nggak jadi singgah."
"Ooh..." Toni manggut-manggut, walaupun dalam hati ia sedikit sedih karena Hana hanya bilang kalau ia membawa makanan untuk Rama. Bukan untuk mereka berdua.
"Ini baru aku angetin lagi, soalnya tadi aku nggak langsung pulang jadi pasti udah dingin. Tolong kasih ke Rama ya," kata Hana sambil menyerahkan bungkusan makanan itu. Namun saat Toni hendak mengambil bungkusan itu, dari belakang Rama merebutnya.
"Makasih Han!" Ucap Rama.
"Eh Rama, kamu udah pulang?" Hana tersenyum lebar melihat kedatangan Rama.
"Bukannya Lo mau tidur?" Tanya Toni kepada Rama.
"Makan ini dulu, nanti dingin lagi," jawab Rama.
"Ya udah," Toni memilih meninggalkan Hana bersama Rama. Melihat Hana yang lebih bersemangat setelah tahu ada Rama disana, dan melihat Rama yang tiba-tiba memutuskan untuk tidak jadi tidur karena kedatangan Hana padahal tadi kelihatan sangat kelelahan dan sedih, membuat Toni berspekulasi sendiri. Membuat kesimpulan yang menyakiti hatinya.
"Kamu abis berantem Ram?" Tanya Hana saat menyadari ada lebam di wajah Rama.
"Iya nih. Gue yang salah sih. Hehehe..."
"Ya ampun Ram. Sama siapa?"
"Ada tadi orang rese di studio. Ya udah deh Han, Lo nggak usah terlalu khawatir gitu. Gue nggak kenapa-napa kok."
"Tapi nanti diobatin ya?"
"Iya, tenang aja. Kan ada bang Tono nih yang setia menemani dan merawat gue," ucap Rama sambil tertawa jahil.
"Idih najis!" Sorak Toni. Tawa Rama pun makin kencang.
"Oh iya Han. Lain kali bawain siomay dong. Kan Toni suka banget sama siomay," kata Rama kemudian.
"Ah, eh..." Seketika Hana jadi salah tingkah, "ya kalau malam-malam susah nyari siomay," katanya sambil menyentuh leher bagian belakangnya.
Rama menoleh ke belakang, ke arah Toni, "makanya Ton, yang gampang dicari aja makanan kesukaannya."
Toni tidak merespon, namun mukanya memerah.
"Lihat besok deh, kalau siang ada siomay lewat, aku beliin," kata Hana.
"Oke Han. Sekali lagi makasih ya. Lo baik banget! Ini gue makan berdua Toni ya!" Kata Rama sambil tersenyum.
"Iya Ram. Ya udah, kalau gitu aku balik ya. Nanti Bunda ngomel kalau aku lama-lama di kost cowok. Hehe... Daaah Ton. "
Hana segera bergegas pergi setelah pamit dengan Rama dan Toni, agar tidak terlalu lama menjadi salah tingkah. Rama pun menutup pintu kamarnya, dan duduk di samping Toni.
"Cieee Tono... Besok dibeliin siomay sama Hana," Rama menggoda Toni sambil mencolek pipi Toni.
"Apaan sih," Toni menepis tangan Rama. Wajahnya masih terlihat merah karena tak menyangka Hana juga mau membelikannya makanan.
"Jadi gitu Ton, Hana bukannya nggak mau beliin Lo makanan. Tapi makanan kesukaan Lo aja yang susah dicari tuh," kata Rama sambil membuka makanan dari Hana. Pisang goreng. Ia lalu menyuguhkannya kepada Toni, dan Toni mengambil sepotong pisang goreng itu.
"Hmm..." Toni hanya bergumam untuk menanggapi perkataan Rama.
"Kok gitu sih? Happy dong!"
"Iya. Nih!" Toni memberikan senyuman palsu yang sangat lebar, membuat Rama tertawa geli. Sebenarnya ia tahu kalau Hana begitu karena Rama yang menyuruhnya. Tapi ia tidak mau memperkeruh keadaan, karena Rama yang tadi sedih sekarang sudah terlihat baik-baik saja. Ia jadi berpikir mungkin Rama yang lebih membutuhkan Hana ketimbang dirinya.
"Dua hari lagi anterin gue ke tempat bang Abe ya! Gue mau ambil gitar gue."
"Kenapa nggak besok aja? Udah nganggur juga," tanya Toni.
"Besok kalau Hana jadi beliin Lo siomay terus Lo nggak ada disini gimana?"
"Ya ampun, siomay lagi siomay lagi."
Rama tertawa melihat reaksi Toni. Ia berharap Toni dan Hana ada kemajuan, sehingga mereka bisa bersama dan bahagia. Rama tidak mau kedua sahabatnya itu merasakan sakit seperti dirinya. Ia juga ingin Toni dan Hana tidak perlu selalu ada bagi Rama di saat Rama susah atau sedih. Sudah cukup banyak bantuan mereka selama ini. Sekarang Rama ingin juga membantu mereka bahagia. Ia berharap ia juga bisa berguna bagi Toni dan Hana.
***
Sebuah restoran yang ada di sebuah hotel menjadi pilihan Ari untuk merayakan hari jadiannya bersama Bella. Ia sudah memesan tempat yang telah didekorasi dengan cantiknya oleh pihak restoran, dengan berbagai bunga dan lampu hias. Pelayan kemudian membawakan sepotong kue kecil beserta lilin, diiringi dengan alunan musik yang romantis.
"Selamat enam bulan Sayang," ucap Ari sambil menggenggam tangan Bella yang duduk di hadapannya.
"Selamat enam bulan juga, Sayang," balas Bella sambil tersenyum senang. Ari sudah sangat berusaha untuk membuat hari ini begitu spesial. Mulai dari mengajak Bella menonton film drama romantis, membelikan Bella knee-length dress dengan warna peach yang begitu elegan dan pointed toe high heels berwarna senada dengan gaun yang dikenakan Bella untuk makan malam, serta menyuguhkan menu lezat dan dekorasi yang begitu indah. Ari sudah begitu berusaha untuk membuat Bella bahagia hari ini. Dan hal itu berhasil.
"Tiup bareng-bareng yuk," kata Ari, "semoga hubungan kita akan bertahan lama."
Bella tersenyum melihat Ari, mendengar harapannya yang terdengar sungguh-sungguh, "amin!" Seru Bella.
"Satu, dua, tiga..." Ari memberi aba-aba untuk meniup lilin di kue mereka, lalu Bella dan Ari pun meniup lilin yang ada di atas kue secara bersamaan .
"Aku senang, kita masih bisa sama-sama sejauh ini Bel. Makasih udah nerima cinta aku ya," ucap Ari sembari menatap kedua mata Bella.
"Makasih juga Ri karena udah mau bertahan," balas Bella.
Makan malam romantis itu selesai dengan lancar. Bella pikir makan malam tadi adalah kegiatan terakhir mereka hari ini. Namun Ari bilang ia punya sebuah kejutan lagi.
"Ngomong-ngomong kejutan, aku mau kasih kado dulu untuk kamu," ucap Bella sebelum Ari menunjukkan kejutan yang ia maksud.
"Wah, beneran? Padahal kamu mau berhenti kerja aja itu udah jadi kado terindah buat aku lho. Soalnya karena itu, kita jadi punya waktu lebih banyak kan akhir-akhir ini?"
"Ya aku kan berhenti karena nggak mau kamu repot harus antar jemput aku kerja sejak aku digangguin orang pas pulang kerja. Kalau kado beda lagi dong," ucap Bella sembari mengeluarkan sebuah kotak kado dari dalam tasnya, lalu menyerahkannya kepada Ari.
"Aku buka sekarang ya?" Kata Ari. Bella mengangguk.
"Maaf ya, aku nggak bisa beliin yang terlalu mahal. Tapi dipakai ya?" Pinta Bella.
Ari mengeluarkan sebuah jam tangan dari kotak kado yang diberikan Bella. Ia tampak senang dengan kado tersebut.
"Wah, kamu tahu banget selera aku Bel. Makasih ya, aku suka banget. Pasti aku pakai!" Ucap Ari sembari berdiri dari duduknya, lalu mendekati Bella, dan mengecup lembut ubun-ubun Bella. Membuat wajah Bella memerah.
"Yuk pergi," kata Ari sambil mengulurkan tangannya.
"Jadinya mau kemana?" Tanya Bella sambil mendongakkan wajahnya dan menerima uluran tangan Ari.
"Namanya kejutan. Ya rahasia dong," jawab Ari sambil tersenyum jahil.
"Ih, kamu bikin penasaran."
"Ya udah, kita sekarang kesana aja. Biar nggak kelamaan," ajak Ari.
"Oke."
Bella beranjak dari duduknya dibantu Ari lalu berjalan bergandengan dengan pacarnya itu. Setelah bertanya-tanya dalam hati selama perjalanan, ia dan Ari berhenti di depan sebuah kamar hotel.
"Sekarang tutup mata kamu," pinta Ari kepada Bella. Walaupun Bella agak sedikit ragu, namun ia tetap menuruti Ari. Ia ingin mempercayai Ari kali ini.
Ari membuka pintu kamar itu dan membawa Bella masuk. Saat Ari meminta Bella membuka mata, Bella mendapati kamar hotel yang sudah didekorasi dengan kelopak bunga yang bertebaran di lantai dan kelopak bunga yang membentuk gambar hati di atas kasur. Lampu tumblr dan balon bertuliskan love menghiasi dinding kamar. Sebuah buket bunga yang cukup besar beserta sebuah kotak kado juga ada di atas kasur, menambah keeleganan dekorasi tersebut. Ari mengambil buket bunga dan kotak kado tersebut, lalu menyerahkannya kepada Bella.
"Ya ampun Ari, makasih banget! Ini semua indah banget!" Kata Bella sambil tersenyum senang. Ia tak menyangka Ari bisa seromantis ini. Dibukanya kotak kado yang Ari berikan. Sebuah kalung perak dengan bandul hati yang dilapisi berlian.
"Cantik banget!" Bella terkagum dengan hadiah yang diberikan Ari. Ari pun ikut senang melihat reaksi Bella.
"Aku pakein ya!" Kata Ari. Bella pun mengangguk.
Ari mengeluarkan kalung itu dari kotaknya, lalu berdiri di belakang Bella. Bella memindahkan rambutnya yang digerai ke samping agar Ari bisa lebih mudah memakaikan kalung tersebut.
Ari sudah selesai memakaikan kalung itu. Namun ia tak kunjung beranjak dari belakang Bella. Bella merasakan tangan Ari perlahan menyentuhnya, dan memeluk Bella dari belakang. Cowok itu mengecup punggung Bella beberapa kali, dan tangannya mulai mengarah ke bagian p******a Bella.
Bella melepaskan pelukan Ari secara paksa dan membalikkan badannya. Ia mundur ke belakang dan kemudian terduduk di atas kasur.
"Kamu ngapain Ri?" Tanya Bella dengan wajah tegang. Ia jadi merasa takut dengan Ari sekarang.
"Lho, kenapa?" Ari tampak merasa tak melakukan hal yang salah kepada Bella. Ia malah mendekati Bella, menggenggam kedua lengan Bella dan bersiap untuk mencium Bella. Namun sebelum hal itu terjadi, Bella dengan sekuat tenaga mendorong Ari.
"Kamu kenapa sih?" Ari bingung dengan perlakuan Bella kepadanya.
"Kamu yang kenapa Ri?!" Bella berkata hampir memekik.
"Kita ini pacaran lho Bel. Udah enam bulan. Kita bukan anak sekolahan. Kita udah dewasa untuk ini."
"Aku nggak akan ngelakuin hal itu sama kamu!" Tegas Bella.
"Kamu kenapa sih gini banget sama aku? Aku tuh udah sabar selama ini, tahu?! Masa selama enam bulan kita nggak pernah ciuman? Kamu sebenarnya cinta sama aku apa enggak sih Bel? Harus berapa lama lagi aku nungguin kamu untuk nerima aku?!" Kata Ari penuh emosi.
"Nggak gini caranya Ri!" Bella berusaha menahan air matanya. Ia menguatkan dirinya untuk berdiri dan bermaksud pergi dari sana.
"Mau kemana kamu?!" Tanya Ari.
"Aku mau pulang," jawab Bella yang sudah berada di dekat pintu.
Ari berjalan mendekati Bella dan menggenggam tangan Bella dengan kuat. Ia tidak terima Bella meninggalkannya begitu saja.
"Setelah semua yang aku lakuin hari ini, kamu mau pergi gitu aja?!"
"Lepasin aku Ri! Atau kamu mau aku teriak?!"
Ari terpaksa melepaskan Bella. Namun ia masih tidak terima dengan perlakuan Bella terhadapnya. Ia pun berteriak mencaci maki Bella.
"DASAR CEWEK s****n! NGGAK TAHU UNTUNG!"
Air mata yang daritadi ditahan Bella akhirnya tak terbendung lagi. Rasanya sakit sekali harus menerima perlakuan seperti ini dari orang yang bilang bahwa ia mencintai Bella. Bella tak percaya Ari bisa dengan mudahnya memaki Bella seperti itu. Tanpa berkata-kata lagi, Bella langsung membuka pintu kamar hotel dan meninggalkan Ari.
***