Kepergian Rama

4859 Words
Dan di saat aku mulai menyadari perasaanku, di saat itu pula aku tak bertakdir denganmu. *** Terdengar suara pintu cafe terbuka dan Rama yang sudah dinantikan Bella muncul dengan wangi parfum khasnya - woody dengan elemen fruity. Kemarin Bella berjanji kepada Rama untuk datang cepat karena ia meminjam kunci, dan ia pun menepati janjinya. Ditambah ia membawakan sesuatu untuk Rama. Bella bertekad ingin mengucapkan terimakasih kepada Rama, atas segala yang sudah Rama lakukan untuk Bella selama ini, hingga kemarin malam. "Hai," Rama menyapa Bella sambil tersenyum kecil. Ia bermaksud untuk langsung melakukan pekerjaannya, tapi Bella menghentikannya. "Ram, sebentar." Rama membalik badannya, menatap Bella penasaran, "ya?" Bella mengulurkan goodie bag yang tadi ia letakkan di atas meja kasir, "makasih ya Ram jaketnya." "Oh, sama-sama," Rama menerima goodie bag itu. "Aku juga... bawain kamu brownies," kata Bella malu-malu. Ia mengambil satu goodie bag lagi, dan kembali menyerahkannya kepada Rama. "Makasih, gue makan ya," kata Rama sambil menerima goodie bag tersebut. "Iya." Rama segera bergegas duduk di kursi yang ada di dekat meja bar. Ia membuka kotak brownies itu dan segera memakan sepotong brownies. Bella merasa Rama masih juga menjaga jarak. Kalau Rama yang biasanya pasti akan mengajak Bella mengobrol walaupun saat ia makan. Namun sekarang Rama hanya diam saja menikmati brownies Bella. Padahal ada hal yang ingin Bella tanyakan. Bella memutuskan untuk masuk ke area bar, dan mulai membuat 2 iced matcha latte. Setelah selesai, ia menyuguhkannya kepada Rama. "Biar tambah semangat," kata Bella sambil tersenyum. Rama membalas senyuman Bella dengan senyuman samar, "thanks!" Ujarnya singkat. Membuat Bella jadi merasa kesulitan untuk membuka obrolan. Namun Bella tidak ingin menyerah. Ia beringsut duduk di hadapan Rama. Setelah mengaduk-aduk matcha latte-nya, ia mulai menatap Rama, menanyakan hal yang sejak dari tadi malam membuatnya penasaran. "Ram, tadi malam kamu nggak langsung pulang ya?" "...Iya," Rama tak mengelak. Karena untuk apa mengelak, toh jaket yang dikembalikan Bella sudah menjadi bukti kuat kalau Rama menunggu Bella dijemput. "Kenapa?" Rama melirik ke kanan sambil berpikir alasan apa yang tepat untuk dikatakannya ke Bella. Tapi ia tak tahu harus menjawab apa. "Sorry Bel. Bukan maksud gue lancang, harusnya gue nggak boleh ngelakuin itu kan? Gue janji nggak bakal ngulangin itu lagi," Akhirnya Rama hanya bisa meminta maaf. "Enggak, bukan gitu Ram," Bella menyangkutkan rambutnya yang terurai ke telinga dan membenarkan posisi duduknya, "Aku kira kamu nggak peduli lagi sama aku. Soalnya kamu kelihatan jaga jarak sama aku akhir-akhir ini. Tapi ternyata kamu masih peduli sama aku." Rama hanya diam, lalu meminum matcha latte nya dan tidak memberikan respon atas ucapan Bella. Rama tak kalah gigihnya untuk tetap menjadi dingin terhadap Bella. Membuat Bella menjadi putus asa, tak tahu lagi harus berbuat apa. Rasanya ia sangat merindukan Rama yang dulu. Ia ingin Rama kembali ramah kepadanya, kembali bersenda gurau dengannya, bahkan Bella rindu dengan kejahilan-kejahilan Rama. Padahal Bella hanya meminta Rama untuk tidak usah lagi mengiringinya pulang, tapi Rama melakukan lebih dari itu. Rama benar-benar membuat jarak dan membangun dinding pemisah bagi mereka berdua. Dan Bella tidak bisa melakukan apa-apa. "Wah... Wah... Wah... Bukannya kerja malah minum-minum disini," Hendrik yang baru datang langsung menegur Bella dan Rama. Ia mencoba untuk memperlihatkan wibawanya sebagai senior, tapi sedetik kemudian ia malah tertawa sendiri karena geli menjadi sok berwibawa. "Sorry Mas. Dikit lagi abis nih," kata Rama. "Sini gue bantuin," Hendrik mencomot dua potong brownies sekaligus dan langsung memasukkan ke dalam mulutnya. "Mas ini," Rama mengeluarkan dompetnya dari saku celananya dan mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu untuk diserahkan kepada Hendrik, "iced matcha latte dua." "Oke," Hendrik menerima uang itu, lalu kembali mengambil brownies Rama. Kali ini ia mengangkat kotak brownies itu, seolah ingin memonopoli brownies tersebut. "Ram, biar aku aja yang bayar," kata Bella. "Nggak papa. Lo kan udah bawain brownies, jadi minumannya gue yang traktir. Gue ke belakang ya," kata Rama yang sudah menghabiskan iced matcha latte nya dengan cepat. Ia membawa gelasnya yang sudah kosong dan beranjak menuju tempat cuci piring. "Kalian udah baikan? Tapi kok Rama masih dingin gitu? Apa dia marah brownies nya gue ambil?" Tanya Hendrik sambil mengunyah brownies dari Bella. "Kami nggak berantam kok Mas," kata Bella yang memutuskan untuk segera berdiri, bersiap memulai pekerjaannya. "Aku titip," Bella meletakkan iced matcha latte nya yang belum habis di meja bar, kemudian berlalu untuk mengubah tanda close di pintu menjadi open. Di tempat mencuci piring, nampak Rama yang sedang mencuci gelas yang tadi dipakainya. Ia menghela napas dan wajahnya terlihat sendu. Rasanya hatinya sakit saat tadi malam ia melihat Bella harus menunggu Ari selama itu sampai Bella ketiduran, dan Bella bahkan tidak marah sama sekali kepada Ari saat Ari datang. Mereka malah bergandengan tangan berdua untuk masuk ke mobil. Dan Rama hanya bisa menyaksikan hal itu dari jauh, tanpa bisa berbuat apa-apa. Bella adalah milik Ari, dan Ari kelihatan tidak akan pernah melepaskan Bella, adalah hal yang harus diterima Rama. Semua semangat yang kemarin kembali kepada dirinya karena rasa cintanya kepada Bella, kini hilang begitu saja. Rasanya ia tak sanggup harus ada di dekat orang yang ia cintai, namun cintanya tak bisa ia ungkapkan. Tapi bagaimanapun juga, Rama juga tidak bisa benar-benar tidak peduli dengan Bella begitu saja untuk menghilangkan rasa cintanya. Ia tak bisa menahan diri untuk diam-diam memperhatikan Bella dari jauh, memastikan Bella selalu aman. "Gue nggak bisa gini terus. Gue harus ngelupain Bella," tekadnya dalam hati. Rama kembali ke depan, karena ia harus menantikan pengunjung cafe. Namun ternyata suasana cafe masih lengang. Rama sadar Bella melihat ke arahnya dan seperti ingin berbicara lagi dengannya, namun Rama membalikkan badannya dan bergegas menuju ke bagian kasir, mengajak Hendrik berbicara agar Bella tidak perlu mendekatinya. Bella menunduk sedih. Rama benar-benar tidak memberikannya kesempatan untuk memperbaiki hubungan mereka. Namun Bella pun juga bingung harus memperbaiki hubungan mereka seperti apa. Karena jika Ari tahu Bella kembali dekat dengan Rama, pasti Ari akan marah lagi. Mungkin Bella harus merelakan semuanya dan mulai membiasakan diri dengan sikap Rama sekarang. Mungkin ke depannya ia dan Rama hanya akan berbicara seputar pekerjaan saja, dan hanya akan bertemu di tempat kerja saja. Mungkin hal ini lah yang terbaik untuk Rama, Bella dan Ari. *** Awal bulan baru datang begitu cepatnya. Di saat itulah pengunjung cafe menjadi lebih banyak daripada biasanya, karena banyak orang-orang yang menerima gaji di awal bulan. Pengunjung terakhir dari Coffee Time akhirnya pulang juga, membuat karyawan cafe jadi pulang sedikit terlambat. Semua karyawan yang daritadi sudah bersiap untuk pulang, langsung berhamburan keluar secara bersamaan, kecuali Rama dan Bella yang harus membersihkan meja dari pengunjung terakhir tadi. "Biar gue aja yang cuci piringnya Bel. Lo pulang aja duluan," kata Rama. "Oh, eum, iya..." Bella memutuskan untuk mengikuti perkataan Rama karena memang tidak ada lagi pekerjaan yang harus dilakukan selain mencuci piring dari pelanggan terakhir. Sebenarnya Bella akhir-akhir ini merasa takut saat di jalan pulang, karena ada lampu jalan yang mati dan belum diperbaiki sampai sekarang. Apalagi di sekitar jalan itu sangat sepi. Bisa saja orang jahat akan menjadikan hal itu sebagai kesempatan untuk mengganggu orang-orang yang berkendara disana. Dering handphone Bella daritadi terus saja berbunyi. Bella sebenarnya sengaja tidak mau mengangkat karena takut tiba-tiba ada yang menjambretnya. Namun karena sang penelepon terus-terusan menelponnya, Bella pun terpaksa menghentikan sepeda motornya. Ia takut kalau itu adalah telepon yang sangat penting. Ia menepikan sepeda motornya dan mengeluarkan hp nya dari dalam tas ransel mininya. Ari? Bella segera mengangkat panggilan itu saat melihat nama yang tertera di layar HP nya. Ia melirik sekeliling untuk memastikan dirinya aman. "Halo, kenapa Ri?" "Sayang, kamu udah pulang?" Tanya Ari. "Udah, aku lagi di jalan mau pulang. Kenapa?" Belum sempat Bella mendengarkan perkataan Ari, tiba-tiba sebuah sepeda motor berhenti di dekat Bella. Ada dua orang pria yang menaiki sepeda motor tersebut. Bella yang kaget tak sengaja menjatuhkan HP-nya ke jalan, membuat HP-nya mati dan layarnya retak. Tubuh Bella menggigil saking takutnya. Lagi-lagi, ia teringat dengan dua orang perampok yang membunuh papanya. Rasanya ia ingin segera melarikan diri dari sana, namun tubuhnya seperti membeku. Ia merasa tak bisa bergerak. "Mau kemana Neng?" Tanya pria yang tadi mengendarai sepeda motor. Ia dan temannya tersenyum licik, membuat Bella semakin ketakutan. Tiba-tiba pria yang tadi duduk di jok penumpang berjalan mendekati Bella. Ia menggenggam tangan Bella dengan kuat. "Cantik juga," katanya sambil menyeringai. "Lepasin! Mau apa kalian?!" Bella meronta sambil berusaha melepaskan diri. Namun kekuatan Bella tak sebanding dengan pria itu. "Mau senang-senang," jawab pria yang satu lagi. Ia kini juga ikut mendekati Bella, lalu menyeringai bersama temannya. "Tolooooooong!!!!" Bella berteriak sekencang-kencangnya, membuat dua pria itu tertawa. Namun cepat-cepat mereka menutup mulut Bella agar teriakan Bella tak terdengar dan tak akan ada yang menolongnya. Bella menyesali keputusannya untuk berhenti demi mengangkat telepon. Ditambah lagi lokasi tempat ia berhenti sangat gelap, sehingga para pengendara yang lewat tidak menyadari apa yang terjadi dengan Bella dan melewati Bella begitu saja. Dengan sisa-sisa tenaganya, Bella berusaha melepaskan diri sebelum dua pria itu membawanya pergi ke tempat yang lebih sepi lagi. Tapi sia-sia saja usahanya. Di tengah kepasrahannya, Bella melihat akhirnya ada satu pengendara motor yang berhenti. Ia membuka helmnya dan menggunakan helm itu untuk memukul dua pria yang menggangu Bella dengan sekuat tenaga. Bella yang tadi memejamkan mata, akhirnya membuka matanya dan menemukan sosok Rama yang dipenuhi amarah di balik dua pria jahat yang mengganggunya. Sementara dua pria itu melepaskan Bella dan memegangi kepala mereka yang terasa sakit karena pukulan dari helm Rama. Sejenak mereka terhuyung, tapi kemudian langsung berbalik untuk menyerang balik Rama. "Nggak usah sok jadi pahlawan Lo!" Kata salah satu pria itu. Ia melayangkan tinjunya kepada Rama, namun dengan sigap Rama menangkisnya. Pria yang satu lagi pun ikut memberikan serangan dan Rama kembali menggunakan helmnya untuk menyerang balik. Namun Rama tidak bisa menggunakan helmnya lebih lama lagi sebagai s*****a karena salah satu pria yang menyerangnya berhasil membuat helm itu terlepas dari tangan Rama. Kini Rama harus melawan mereka dengan tangan kosong. Bella menutup mulutnya dan berjalan mundur ke belakang, menyenderkan tubuhnya yang terasa lunglai ke batang pohon. Rasanya ia sangat khawatir dengan keselamatan Rama, namun ia tak tahu harus melakukan apa. Di lihatnya sekeliling jalan untuk mencari HP-nya. Setelah ia menemukannya, ia pun berusaha untuk menghidupkannya agar bisa menghubungi polisi. Namun HP-nya tak kunjung hidup. Kekhawatirannya pun mulai meningkat apalagi ia melihat Rama sekarang dalam keadaan terdesak. "Ramaaaaa!!!" Bella hanya bisa menangis sambil menyaksikan Rama yang berjuang mempertahankan diri. Ia merasa sangat bersalah dengan Rama, karena Rama selalu saja ditimpa kesulitan karena harus menyelamatkan Bella. Lagi lagi Rama harus mempertaruhkan nyawanya demi Bella. Rama menoleh ke arah Bella sesaat. Melihat air mata yang mengalir di pipi Bella membuat amarah Rama semakin meningkat. Tiba-tiba saja kekuatan Rama menjadi bertambah dan ia menyerang 2 pria itu dengan membabi buta. Dua pria itu merasa kewalahan dan hampir bisa Rama kalahkan. Namun mereka malah melarikan diri dan memacu sepeda motor mereka sekencang-kencangnya. Rama sebenarnya masih ingin menghabisi dua pria itu. Ia tak terima mereka kabur begitu saja setelah mengganggu Bella. Ia merasa tak bisa memaafkan dua pria itu. Namun di satu sisi ia juga mengkhawatirkan keadaan Bella sekarang, dan tak mungkin meninggalkan Bella sendirian begitu saja demi mengejar dua pria itu. Dengan napas yang masih terengah, ditatapnya Bella yang masih berdiri di bawah pohon, kondisi Bella masih terlihat syok dan ia masih menangis. "Bel..." "Rama...." Bella berlari ke arah Rama, dan tanpa Rama duga Bella memeluk Rama, mendekapkan wajahnya di d**a bidang milik Rama sambil menangis tersedu. Tangannya membungkus tubuh Rama dengan erat, seolah tak ingin melepaskan Rama. Rama terkejut dengan pelukan itu. Pelukan lembut dari orang yang ia cintai. Pelukan yang selalu ia damba-dambakan. Jika saja Bella memeluk Rama bukan karena ia sedang ketakutan, jika saja Bella memeluk Rama disaat Bella tidak memiliki kekasih, mungkin saat ini adalah saat yang paling membahagiakan bagi Rama. Jika saja mereka bisa mengabaikan semuanya dan terus terikat dalam pelukan. "Bel, Lo nggak papa?" Tanya Rama setelah sadar dari kagetnya. "Maafin aku Ram," kata Bella sambil terisak. "Ini bukan salah Lo Bel. Salah mereka yang udah gangguin Lo," Rama berusaha menenangkan Bella. Ingin rasanya Rama membalas pelukan Bella, namun ia kembali menarik tangannya. Ia tak ingin mengambil kesempatan di saat Bella tengah dalam keadaan yang kalut. Dibiarkannya Bella terus memeluknya hingga Bella benar-benar merasa tenang. "Udah, Lo nggak usah nangis lagi. Gue nggak kenapa-napa. Mereka juga udah pergi. Lo sekarang aman Bel," ucap Rama sambil menunduk untuk melihat wajah Bella. Jemarinya dengan lembut mengusap air mata Bella. Bella mendongak dan menemukan wajah Rama yang sangat dekat dengan wajahnya. Wajah tampan itu luka dan lebam-lebam. Hati Bella terasa sangat sakit melihat Rama dengan kondisi seperti itu. Apalagi itu semua disebabkan olehnya. Rama tersenyum untuk membuat kekhawatiran Bella hilang. Ia ingin Bella merasa baik-baik saja sekarang dan tidak perlu merasa bersalah kepada dirinya. Dan senyuman itu pun berhasil membuat tangis Bella reda. Bella melepaskan pelukannya dari Rama, kemudian mengusap sisa air mata di pipinya. Ia berusaha untuk cepat menenangkan diri agar tidak menyusahkan Rama lebih lama lagi. "Lo kenapa bisa berhenti disini?" Tanya Rama kemudian. "Tadi Ari nelpon aku berkali-kali Ram. Aku terpaksa berhenti untuk angkat teleponnya, karena aku takut ada hal penting," jawab Bella. "Ya ampun Bel. Lain kali Lo jangan berhenti sembarangan lagi kalau pulang malam," kata Rama cemas. "Iya Ram," kata Bella sambil menunduk penuh penyesalan. Seandainya ia tidak melakukan hal itu, pasti Rama tidak perlu sampai terlibat perkelahian demi menyelamatkannya. "Ayo kita pulang," kata Bella kemudian dengan suaranya yang masih lemah. "Lo bisa bawa motor?" Bella mengangguk. "Ya udah, bawanya pelan-pelan aja. Gue bakal temenin Lo," ucap Rama. Rama dan Bella pergi ke sepeda motor mereka masing-masing. Rama membiarkan Bella pergi duluan dan ia mengiringi dari belakang. Dalam hati Rama menyesal sudah terlambat untuk menyusul Bella. Padahal kemarin-kemarin ia masih mengiringi Bella secara diam-diam dengan menjaga jarak, menyembunyikan diri di balik mobil-mobil. Itu semua Rama lakukan karena tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Bella, agar ia bisa selalu menjaga Bella. Namun hari ini karena ia harus menyelesaikan pekerjaan dulu, ia jadi terlambat menyusul dan Bella pun jadi harus mengalami kejadian yang buruk. Bella dan Rama sampai di rumah Bella. Bella turun dari sepeda motornya dan mendekati Rama. "Ram, kamu masuk dulu ya? Biar aku obatin dulu luka kamu," kata Bella. "Nggak papa Bel. Gue bisa sendiri. Lo mending istirahat aja," tolak Rama. Ia ingin Bella segera beristirahat agar bisa menenangkan diri secepatnya. "Ram, please. Izinin aku ngobatin kamu," Bella memohon dengan tatapan penuh harap. Dan Rama jadi tak bisa menolak karena tatapan itu. "Ya udah." Bella tersenyum lega karena akhirnya Rama menyetujui permintaannya. Ia menuntun Rama masuk ke dalam rumah. Di ruang tamu, mama Bella sudah menunggu dengan wajah cemas. "Bel, kok baru pulang? Mama telepon kamu tapi nomor kamu nggak aktif," tanya mama Bella. "Maaf Ma, tadi HP Bella jatuh. Terus nggak bisa hidup lagi." "Lah ini Rama kenapa?" Mama Bella baru menyadari keadaan Rama yang berdiri di belakang Bella. "Tadi ada yang ganggu Bella di jalan Ma. Dan Rama bantuin Bella sampai harus terlibat perkelahian," jelas Bella sedih. "Ya ampun. Terus kamu nggak papa Bel?" Tanya Mama Bella khawatir. "Nggak papa Ma. Ini aku mau obatin Rama dulu sebelum dia pulang." "Ya udah, biar mama siapin obatnya. Kamu bawa Rama duduk. Rama, tunggu sebentar ya!" Rama mengangguk, "iya Tante." Mama Bella bergegas mengambilkan obat dan air untuk membersihkan luka Rama serta mengompres lebam di wajah Rama. Ia membawa peralatan P3K dan air itu ke ruang tamu dan mengobati Rama bersama Bella. "Terimakasih banyak ya Rama, kamu udah nolongin Bella. Tante nggak tahu apa yang akan terjadi sama Bella kalau kamu nggak ada," kata Mama Bella yang sedang membersihkan luka Rama. "Iya, sama-sama Tante. Saya kan juga udah janji ke Tante untuk jagain Bella." Bella menatap Rama tak percaya. Sejak kapan Rama buat janji ke Mama? Tanya Bella dalam hati. "Kamu memang baik banget Rama. Semoga luka-luka kamu bisa cepat sembuh ya," kata Mama Bella berharap. "Iya Tante," kata Rama sambil tersenyum. Luka Rama hampir selesai diobati. Mama Bella memutuskan untuk meninggalkan Rama dan Bella sebentar untuk membuatkan Rama minuman. "Bel, kamu lanjutin sampai selesai ya! Mama mau buatin Rama teh." "Iya Ma!" Seru Bella. "Rama, tunggu sebentar ya!" "Iya Tante." Kini hanya tinggal Bella dan Rama saja yang ada di ruang tamu. Bella mengompres lebam di wajah Rama dengan hati-hati. Namun tetap saja Rama merintih kesakitan. "Maaf Ram," ucap Bella sedih. "Udah, nggak usah minta maaf terus," kata Rama sambil menyengir. Bella mengulurkan tangannya dan menyentuh rambut Rama perlahan. Rambutnya begitu terawat dan wangi. Bella menyeka rambut Rama itu, yang menutupi sedikit wajah Rama, dan menyangkutkannya ke daun telinga Rama. Kini Bella bisa melihat wajah Rama dengan lebih jelas. Wajah yang indah itu sejenak membuat Bella terpana. Semua luka dan lebam itu tidak melunturkan kharismanya sama sekali. Dan kini bola matanya pun tenggelam dalam tatapan dalam milik Rama. Sejenak waktu terasa seperti berhenti dan Bella tidak dapat melepaskan diri dari lelaki di hadapannya itu. Ia merasakan sebuah getaran. Ia merasa jantungnya berdegup sangat kencang, sehingga ia takut Rama bisa mendengarkannya. Rasanya sudah berkali-kali Bella merasakan jantungnya berdegup lebih kencang saat bersama Rama. Rasanya sudah berkali-kali pula hati Bella bergetar, bukan karena Ari. Tapi karena Rama. Bella akhirnya menyadari, ada perasaan yang perlahan tumbuh di hatinya yang tanpa ia sangka tumbuh semakin besar. Dan itu untuk Rama. "Bella!" Suara seseorang mengagetkan Bella dan membuat Bella refleks melepaskan tangannya dari Rama. Bella menoleh ke sumber suara dan menemukan Ari yang berdiri di pintu rumah Bella yang tidak ditutup dari tadi. "Dari tadi aku nggak bisa hubungin kamu, ternyata lagi asyik mesra-mesraan sama cowok lain ya?!" Kata Ari dengan wajah memerah menahan amarah. Bella merasa panik. Ia berdiri dan berjalan mendekati Ari untuk menjelaskan semuanya agar Ari tidak salah paham kepada Rama. "Ari, ini nggak seperti yang kamu bayangin!" "Nggak seperti yang aku bayangin gimana? Jelas-jelas aku lihat sendiri tadi kamu pegang-pegang Rama kan?!" "Ari, ayo kita keluar dulu. Aku nggak mau mama aku denger kita ribut di rumah," Bella menarik Ari keluar dari rumahnya dan meninggalkan Rama sendirian di ruang tamu. Rama mengusap wajahnya dengan kasar. Ia tak menyangka Ari akan datang ke rumah Bella dan melihat Bella mengobatinya, yang membuat Ari menjadi salah paham. Ia merasa ia tidak bisa diam begitu saja. Ia harus ikut menjelaskan kepada Ari agar ia tidak menjadi alasan bagi Bella dan Ari untuk berkelahi. "Jadi kamu mau kasih aku alasan apa hah? Padahal kamu udah janji sama aku untuk ngejauhin Rama. Tapi apa buktinya Bel?!" Kata Ari setelah ia dan Bella sudah berada di luar rumah Bella. "Ari, dengerin penjelasan aku dulu!" "Bella nggak salah kok!" Kata Rama yang juga ikut keluar dari rumah Bella. "Ngapain Lo kesini?!" Ari menghadapkan tubuhnya ke Rama dan bersiap untuk menyerang Rama. Namun Bella menahannya. "Ri, kamu jangan marah-marah dulu. Aku cuma ngobatin Rama aja kok. Dia tadi bantuin aku." "Kamu masuk sekarang!" Perintah Ari kepada Bella. "Aku belum selesai jelasinnya Ri..." "Aku bilang masuk!!!" Ari membentak Bella, membuat Bella tersentak. Karena Bella tak kunjung masuk ke rumahnya, Ari menarik Rama menjauh dari rumah Bella. Bella mencoba menghentikan Ari, namun Ari tidak mau mendengarkan Bella. "Aku nggak bakal ngapa-ngapain dia kok! Sekarang kamu masuk aja ke rumah kamu," kata Ari. "Bel, nggak papa. Lo balik ke rumah dulu. Nanti nyokap Lo nyariin," Rama mencoba membuat Bella berhenti menghentikan Ari. Ia tak ingin perkelahian terjadi antara Bella dan Ari. Mungkin ia bisa menyelesaikan masalah ini jika ia mengikuti kemauan Ari. Sambil menahan air matanya, Bella melepaskan Ari dan berlari masuk ke rumahnya. Ari dan Rama pun melanjutkan perjalanan mereka keluar dari pekarangan rumah Bella. "Lo nggak usah marah-marahin Bella terus. Lo nggak kasian lihat Bella? Dia tadi digangguin dua laki-laki di jalan. Gara-gara siapa? Gara-gara Lo!" Kata Rama. Daritadi ia menahan diri saat Ari membentak Bella. Namun kini ia tidak bisa diam lagi. Ia rasa ia harus membela Bella. "Kenapa gara-gara gue?!" Ari tak paham maksud Rama. "Ya karena Lo udah nelpon dia berkali-kali sampai dia harus berhenti di jalan biar bisa angkat telepon dari Lo! Kalau Lo se-care itu sama Bella, harusnya Lo jemput dia tiap pulang kerja dong! Bukan cuma mastiin kondisi dia lewat telepon!" Jelas Rama geram. Ari tak terima disalahkan seperti itu. Ia balik mengeluarkan argumennya, "lo pikir Bella harus kerja sampai harus pulang malam tiap hari gara-gara siapa?!" "Maksud Lo?" "Bella kerja part time demi bayar hutangnya ke gue, karena dulu dia ngotot mau bayarin biaya rumah sakit Lo! Padahal gue udah bilang untuk nggak usah ganti uang gue. Tapi dia keras kepala. Seandainya aja dia nggak kerja, dia nggak perlu ngebahayain diri pulang malam tiap hari." Rama terkejut mendengar perkataan Ari. Jadi selama ini Bella kerja untuk ganti biaya rumah sakit gue? "Suruh Bella berhenti kerja. Biar gue yang ganti uangnya," kata Rama tanpa ragu. Ari tersenyum, "harusnya gue bilang ini dari dulu ke Lo ya. Jadi Bella nggak perlu ada dekat-dekat Lo." Rama melihat Ari yang tersenyum lebar di hadapannya. Akhirnya harapan Ari sebentar lagi akan terwujud. Bella dan Rama akan benar-benar menjauh setelah ini. Itulah takdir yang terbentang untuk Rama. Rama pun menyiapkan hatinya untuk hal itu. Ia harus merelakan takdirnya tidak bersama Bella. "Lo datang aja ke PT. Wijaya Indah Property, dan temuin admin bokap gue disana. Lo selesaiin disana, gue males ngurus hal beginian," lanjut Ari. "Oke," Rama menyetujui perkataan Ari. Ia lalu pergi meninggalkan Ari untuk mengambil sepeda motornya. Setelah itu ia pun pulang tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Bella keluar dari rumahnya karena mendengar suara sepeda motor Rama. Ia mendekati Ari karena Rama sudah tidak nampak lagi. "Rama kemana?" Tanya Bella kepada Ari. "Nggak tahu. Mungkin pulang," jawab Ari. "Kamu bilang apa ke Rama tadi?" "Bukan hal penting. Yang jelas besok kamu udah bisa berhenti kerja ya." Bella mengernyitkan dahinya, "kenapa?" "Rama bilang dia yang bakal ganti biaya rumah sakitnya. Jadi kamu nggak ada alasan lagi untuk kerja kan?" Bella menatap Ari tak percaya, "Ri, kok kamu bilang ke Rama kalau aku kerja karena untuk bayar biaya rumah sakitnya?" Bella tidak terima atas apa yang sudah Ari lakukan. "Bel, kamu tadi diganggu orang kan? Gara-gara kamu pulang malam-malam sendirian. Jadi kalau kamu berhenti kerja, kamu nggak akan ngalamin kejadian kayak malam ini lagi. Aku cuma ngelakuin yang terbaik buat kamu." "Ya tapi kamu nggak harus sampai ngasih tahu Rama alasan aku kerja kan? Rama pasti merasa bersalah. Padahal ini bukan salah dia," Bella mengusap rambutnya karena kesal. "Udah lah Bel. Kamu nggak usah pikirin dia terus. Memang itu kemauan dia. Aku nggak nyuruh dia kok. Mungkin ini yang terbaik kan?" "Kamu itu nggak ngerti Ri!" "Nggak ngerti apa? Kamu kesal karena kamu nggak bisa ketemu Rama lagi?" Kini Ari kembali emosi. Bella menghela napas berat dan memejamkan matanya sesaat. Rasanya sekarang bukan waktu yang tepat untuk meneruskan pembicaraan. Yang ada nanti Ari terus-terusan akan menyalahkan Rama. "Untuk sementara aku nggak bisa hubungin kamu Ri. HP aku rusak karena tadi jatuh," Bella berusaha meredam emosinya dan mengalihkan pembicaraan. Ia hendak kembali masuk ke rumahnya karena merasa tidak ada lagi yang perlu dibicarakan namun Ari menahannya. "Mana HP nya? Biar aku perbaiki," kata Ari. "Nggak usah Ri. Aku bisa perbaiki sendiri." "Biar aku aja Bel. Kan gara-gara aku HP kamu jadi jatuh." "Ya udah," Bella tidak mau berlama-lama berdebat untuk sesuatu hal yang tidak penting. Ia mengeluarkan HP nya dari saku celananya dan menyerahkannya kepada Ari. "Aku mau masuk. Mama pasti kebingungan karena aku sama Rama nggak ada. Kamu mendingan pulang aja Ri. Udah malam banget." Bella berlalu tanpa menunggu Ari memberikan reaksi. Ari membiarkan Bella pergi begitu saja. Ia berpikir malam ini pasti cukup berat bagi Bella, mungkin besok Bella akan kembali ramah lagi kepadanya. Ia pun meninggalkan rumah Bella dan pergi menuju mobilnya, tempat dimana supirnya setia menunggunya. *** Sepulang kuliah Bella memutuskan untuk langsung pergi ke Coffee Time. Ia tak mengatakan kepada Ari bahwa ia tidak setuju dengan Ari dan Rama yang menyuruhnya untuk berhenti bekerja. Bagaimanapun, ia bebas menentukan pilihan untuk melakukan apa. Karena ia merasa ialah yang memegang kontrol untuk hidupnya sendiri. Dan ia tak ingin menarik kata-katanya. Jika ia bilang ia akan membayar biaya rumah sakit Rama, maka ia akan benar-benar lakukan sekalipun kemarin Rama bilang akan mengganti uangnya sendiri. Rama sudah ada di Coffee Time. Ia tampak terkejut dengan kedatangan Bella. Sepertinya tak menyangka Bella masih masuk kerja hari ini. "Bel, bukannya Ari nyuruh Lo berhenti kerja?" Tanya Rama. Ia menghentikan aktivitasnya sesaat. "Aku nggak bilang kalau aku setuju Ram," jawab Bella. Ia bergegas untuk masuk ke ruang karyawan untuk meletakkan tasnya, namun Rama menahannya. "Bel, itu demi kebaikan Lo. Gue nggak mau kejadian tadi malam keulang lagi." "Tapi Ram, aku nggak mau nyusahin kamu. Kan aku yang bilang mau bayar biaya rumah sakit kamu. Kenapa sekarang malah kamu yang harus nanggung?" Rama menghela napasnya dengan berat. Ia tampak berpikir sesaat, dan kemudian berkata, "ya udah. Kalau gitu biar gue aja yang berhenti dari sini." Bella kaget mendengar perkataan Rama. Ia tak mengerti kenapa Rama sampai harus melakukan hal itu. "Kenapa kamu harus berhenti Ram? Emang nggak bisa kita kayak dulu aja? Kenapa sih, kamu sama Ari bikin semuanya jadi runyam?" Kata Bella tak sabar. Ia benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiran Ari dan Rama. Seenaknya mengatur hidupnya, seolah Bella terlalu lemah untuk menentukan pilihan hidupnya sendiri. "Gue nggak bisa ada di dekat Lo Bel. Hati gue sakit. Lo nggak ngerti rasanya mencintai seseorang yang udah dimiliki orang lain!" Bella terperangah. Ia berusaha mencerna baik-baik kata-kata yang baru saja keluar dari mulut Rama. Dan ia yakin yang dimaksud Rama tentang orang yang Rama cintai adalah dirinya. Perasaan Bella bercampur aduk. Ia bingung. Di satu sisi ia juga merasakan hal yang sama dengan Rama. Namun di sisi lain, ia tak bisa melakukan apapun karena ia masih menjalin hubungan dengan Ari. Ia merasa benar-benar berdosa kepada Ari sekarang. Kenapa perasaan cinta ini datang di waktu yang tidak tepat? Padahal saat ini ada dua hati yang saling mencinta. Namun bersatu nampaknya sulit untuk menjadi kenyataan. "Gue udah ngerasain perasaan ini sejak lama. Sejak lo sering datang ke rumah sakit untuk jenguk gue. Tapi gue sadar, nggak ada yang bisa gue lakuin karena lo udah punya Ari. Makanya gue mutusin untuk menghilang. Gue juga nggak mau lo ngerepotin diri lo untuk tiap hari jenguk gue karena rasa bersalah lo ke gue. Tapi gue tetap masih punya sedikit harapan supaya suatu saat gue bisa ketemu sama lo lagi. Makanya gue kasih lo bunga artificial, biar bunga itu nggak layu, dan lo bisa simpan terus bunganya. Supaya lo selalu ingat sama gue." Bella tak bisa berkata-kata mendengar semua hal yang selama ini Rama pendam. Ia hanya diam sambil menatap nanar Rama. "Dan ternyata Tuhan ngabulin harapan kecil gue itu. Kita ketemu lagi di pemakaman. Gue pikir memang itu pertanda bahwa lo dan gue memang ditakdirkan untuk bersama. Tapi nyatanya lo masih dengan Ari sampai sekarang." Rama menghentikan perkataannya sesaat. Rasanya ia menyesal telah mengungkapkan tentang isi hatinya kepada Bella dalam situasi seperti ini. Padahal dulu ia punya impian untuk menyatakan perasaan dalam nuansa yang romantis, agar ia bisa memulai kisahnya dengan Bella secara manis. Namun semua sudah terlanjur terjadi. Menunggu momen itu membuat hati Rama mati perlahan. Lebih baik ia sudahi saja semua perasaan yang selama ini dijaganya hanya untuk kesia-siaan. "Lebih baik gue nggak usah ada di dekat lo Bel. Karena kalau boleh jujur, sebenarnya gue punya niat untuk ngerebut lo dari Ari. Jadi daripada tindakan gue nanti jadi lebih keterlaluan daripada sekarang, lebih baik gue menghilang lagi dari hidup lo. Semua barang-barang yang pernah gue kasih, Lo buang aja. Dan nggak usah inget-inget gue lagi." Mata Bella berkaca-kaca. Dadanya terasa sangat sesak. Bagaimana mungkin orang yang berhasil membuat Bella merasakan getaran cinta mengatakan bahwa ia akan menghilang dari kehidupan Bella? Jikalau boleh, ingin rasanya ia juga mengatakan isi hatinya. Tentang sebuah rasa yang indah yang ada semenjak ia mengenal Rama, sebuah rasa yang hanya bisa ia sadari saat ada di dekat Rama. Ingin rasanya ia mengatakan bahwa ia juga memiliki perasaan yang sama dengan Rama. Namun lagi-lagi yang bisa ia lakukan hanya diam. Rama meninggalkan Bella saat Bu Farah datang. Di dekatinya bosnya yang hendak berjalan menuju ruangannya. Kebetulan sekali Bu Farah datang hari ini. Jadi Rama bisa mengundurkan diri secepatnya. "Hai Ram. Itu muka kamu kenapa?" tanya Bu Farah yang sedikit kaget melihat kondisi Rama. "Bu, ada yang mau saya bilang," kata Rama tanpa menjawab pertanyaan Bu Farah. "Oh, oke. Ke ruangan saya aja. Bel, tolong handle dulu ya," pinta Bu Farah kepada Bella. Lalu ia pun berlalu ke ruangannya di ikuti Rama dari belakang. Bella terduduk dengan lemas. Rasanya ingin ia berteriak karena semua hal terjadi di luar kendalinya. Ia benar-benar merasa terjebak dalam kondisi yang paling menyakitkan untuk hatinya. Seandainya saja dulu Bella tidak memberikan kesempatan kepada Ari untuk menjalin hubungan dengannya, mungkin situasi ini tidak akan pernah datang ke kehidupan Bella. Bella menumpahkan air matanya yang daritadi ia tahan. Disekanya air mata itu dengan lengannya dan berlari ke toilet sebelum karyawan lain datang dan melihatnya menangis. Ditahannya suaranya agar tangisnya tak tedengar dari luar. Butuh waktu yang cukup lama baginya untuk menghentikan tangisnya. Setelah ia sudah bisa sedikit mengendalikan diri, ia membasuh mukanya dengan air, agar tidak terlalu jelas bahwa ia baru saja menangis. Saat ia keluar dari kamar mandi, ia melihat Rama berjalan keluar dari Coffee Time. Bella hanya bisa menatap punggung Rama dari belakang dan menyaksikan Rama yang meninggalkan kehidupannya lagi mulai saat itu. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD