6

1397 Words
Ringga berdiri di depan ruang suci, gadis bernama Claudia itu tidak mengizinkan satu orang pun masuk ke dalam sana, termasuk paman Ringga. Ketiga lelaki itu—Ringga, Mir, dan Rein—hanya bisa memandang pintu yang kini dalam keadaan terkunci. Entahlah, Ringga tidak tahu apa saja yang dilakukan gadis itu di dalam sana. Pemuda itu hanya bisa memandang lukisan yang ada di permukaan pintu; sesosok wanita bersayap tengah membentangkan kedua tangan, seolah wanita itu tengah memberkati ketiga pria yang berdiri di hadapannya. Wanita itu mungkin adalah gambaran dari dewi cahaya; gaun putih yang dikenakan wanita itu tampak indah dengan ilustrasi aneka mawar dan rambut pirang wanitanya dihias dengan mahkota mawar.  Sosok yang sangat menakutkan, dalam artian yang berbeda. Entah mengapa, Ringga merasa ada yang asing dalam kerupawanan ukisan itu. Adakalanya, acap kali Ringga melihat gambaran sosok-sosok bersayap, dia merasa seperti pendosa yang akan segera diangkat dari neraka dunia. Hati yang dipenuhi duka dan dendam; perasaan yang selama ini memenuhi kehidupan Ringga. Lalu segala hal yang telah direnggut dari sisi Ringga. Seakan belum cukup, kini Ringga harus kembali menjejakkan kaki ke tanah kelahiran sang ibunda. Inikah hukuman yang harus Ringga terima? Atau ini hanyalah sebentuk ujian yang harus dia lewati? Ringga sendiri tidak yakin dengan apa yang harus ia percayai di dunia ini. Apakah arti dari segala pertanda yang dimulai dengan pertemuannya dengan pemanen roh, Aria, lalu dengan nymph yang ada di gua, dan yang paling mengenaskan: perjumpaannya dengan Sin. “Ringga.”  Suara Mir mengembalikan Ringga ke realitas. “Ya?” “Tenang saja,” kata Mir. “Dia pasti akan baik-baik saja.” Ringga hanya berdiam diri. Tidak menjawab. Rein hanya bisa menghela napas. Tidak menyangka, di hidupnya yang singkat ini, dia bisa melihat Ringga kembali mengunjungi istana. Terakhir kali Rein melihat Ringga adalah ketika pemuda itu memutuskan untuk bergabung dengan Penjelajah. Ada hal yang ingin Ringga buktikan, Rein paham akan keinginan tersebut. Hanya saja tidak sepatutnya seorang pewaris melakukan hal tersebut.  “Ringga,” kata pria itu. “Kau tidak harus melakukan segala hal.” Berbalik. Ringga mengalihkan pandang kepada pria berambut kelabu. “Aku memang harus melakukannya.” Hening. Mir merasa terjebak dalam sebuah perbincangan yang tidak pantas untuk didengarkan. Mir adalah orang luar, tidak seharusnya dia ikut mendengarkan apa pun yang nanti akan diucapkan oleh Ringga dan Rein. “Takhta itu masih menunggumu,” jelas Rein. “Manusia atau elixer. Kau berhak atas apa yang ada di sana. Jangan melarikan diri dari hal yang telah dinubuatkan padamu.” Jangan pernah menolak apa yang dinubuatkan padamu. Selalu, itulah yang Ringga dengar; jangan melarikan diri dari hal yang dinubuatkan padanya. Beberapa detik yang terasa bagai selamanya, Ringga berusaha memilah emosi yang berputar dalam d**a. Dia tahu, sekali ia menginjakkan kaki ke tanah ini, maka ia harus berhadapan dengan hal-hal yang ingin dijauhinya: takhta dan singgasana. “Aku akan memikirkannya,” ucap Ringga. “Aku akan berusaha menentukan pilihan yang harus kuambil.” *** “Jadi manakakah yang akan kaupilih?” Hening. Aria tertegun ketika mendapati sesosok wanita bergaun putih tengah memandangnya. Ada sesuatu yang kuno dan sakral dari wanita itu.  Mungkin karena rambut pirang yang dimiliki wanita itulah yang membuat Aria merasa terpukau. Atau itu karena kerlipan cahaya yang menari-nari di sekitar sang wanita, atau mungkin karena kewibaan yang dimiliki wanita itu hingga Aria merasa menjadi sosok kerdil.  Tidak. Bukan karena itu.  Menatap sekitar, Aria sadar bahwa ia kini berada di tengah padang rumput berwarna keemasan. Angin bertiup lembut dan mulai menerbangkan helaian rambut Aria. Lalu menatap ke atas, langit tampak cerah tanpa satu awan yang menggantung di sana. Tidak ada kaca pecah bersimbah darah. Tidak ada elixer yang menyorakkan nama sang ratu. Dan tidak ada wanita dengan sorot mata sedingin es. Di tempat ini hanya ada Aria dan sesosok asing.  Hanya itu. “Kau,” kata wanita itu, “takjub dengan pemandangan ini? Atau kau takjub dengan kilasan yang baru saja kaulihat?” Aria kembali menatap sosok anggun itu. “Siapa kau?” Wanita itu tertawa, seakan apa yang Aria tanyakan itu adalah sebuah lelucon. “Yah, harusnya aku tahu.” Wanita itu mulai melangkah pelan, padang rumput pun mulai mengabur dan berganti dengan hamparan bunga. Kini Aria bisa melihat dengan jelas bagian bawah gaun sang wanita yang terlihat seperti menyatu dengan kelopak bunga yang menghampar di bawah mereka berdua. “Namaku,” lanjut sang wanita, “adalah Livana, atau begitulah para fana menyebutku. Akulah penguasa cahaya di kala malam. Aku tebak, kau sudah berjumpa dengan salah satu kaumku.” Aria mengangguk. Mengiakan. “Maka tidak ada masalah,” kata Livana. “Di mana aku?” tanya Aria. Livana tersenyum. “Kau di tempat yang berbeda.” Andai Aria tidak sadar diri, mungkin dia akan langsung berlari dan menerjang wanita ini. “Rasa-rasanya Anda tidak berminat untuk menjelaskan dengan bahasa yang bisa aku pahami.” “Tidak penting kau tahu apa diriku, di mana kau berada, dan sebagainya. Hal yang harus kaupahami adalah, kenapa kau ada di sini?” “Apa aku mati?” Cemas. Hal terakhir yang diingat Aria hanyalah semburat terang ketika ia memasuki celah di dalam gua bersama Ringga dan kawan-kawan. Namun pada akhirnya dia tidak mengingat apa pun. Jadi Aria menyimpulkan bahwa dirinya kini berada di dunia seberang, tempat di mana manusia tinggal setelah mati. Tepat sekali. “Kau masih hidup,” jelas Livana. “Nak, kau sangat mengesalkan dalam artian yang baik.” Aria merasa tidak ada yang baik mengenai definisi mengesalkan, namun biar saja, Aria tidak peduli. Livana mulai menjentikkan jari. Lalu sosok elixer berambut perak pun muncul. Bahkan Aria bisa melihat sesosok gadis berkerudung yang kini ada di samping elixer itu. Mereka berdua tengah duduk di bawah pohon persik; sang wanita membawa sebuah buku dan mulai menunjukkan sesuatu kepada si elixer. “Itu Ruthven dan Almira,” seru Aria. Gambaran Ruthven dan Almira pun lenyap. Livana melangkah pelan mengitari kumpulan bunga lili kuning. “Ya, kau sudah mengenal mereka di mimpi-mimpimu.” “Apa hubungannya denganku?” “Almira adalah salah satu manusia yang disebut sebagai pelayan dewa.” Hening. Aria tidak tahu harus berkata apa. Gadis itu hanya diam dan memperhatikan Livana yang mulai memetik beberapa tangkai lili. Tiap tangkai yang dipetik akan muncul bunga pengganti, selalu seperti itu. “Manusia dengan berkat dewa,” jelas Livana. “Ada beberapa manusia dengan bakat semacam itu. Saudariku, Serenity memberikan beberapa anugerah terhadap segelintir manusia. Dan lihatlah apa yang para manusia itu lakukan dengan berkat tersebut?” “Aku masih tidak mengerti,” ungkap Aria. “Para manusia yang terlahir dengan berkat dewa, sebagian dari mereka hidup dalam pengasingan karena kemampuan mereka untuk melakukan sesuatu di luar kemampuan hakiki manusia. Almira contohnya, dia bisa berkomunikasi dengan roh alam; meminta mereka menurunkan hujan, mengganti musim kering dengan musim semi. Kau bisa bayangkan kekuatan semacam itu?” Aria mengangguk. “Luar biasa.” “Ya,” ucap Livana membenarkan. “Dia tinggal bersama para biarawati dan melakukan hal yang diminta sang raja dan ratu. Hingga akhirnya dia jatuh hati pada sang pangeran elixer.” Livana menghidu kumpulan lili yang dipetiknya sebelum kembali berujar, “Yah, dia memang tidak beruntung.” “Jadi,” kata Aria. “Untuk apa aku di sini?” “Kau memang anak nakal,” decak Livana. “Tidak sabar sama sekali.” Livana mulai menghampiri Aria, dia mulai meletakkan beberapa tangkai lili ke dalam tangan Aria yang langsung menggenggam bunga tersebut. “Kau pun sama seperti Almira, aku tidak bisa membocorkan rahasia saudariku. Serenity pasti akan memarahiku. Lebih baik kau bertanya langsung pada gadis yang senasib denganmu.” “Senasib apa?” “Saatnya bangun.” Lalu ruang di antara mereka pun berguncang. Bunga-bunga berguguran dan kelopak mereka tersapu angin. Aria berusaha menggapai entitas yang ada di hadapannya namun dia hanya bisa menggenggam kekosongan. Terhuyung, Aria berusaha menyeimbangkan diri. Lalu gadis itu melihat kumpulan lili yang ada di tangannya. Bunga-bunga tersebut mulai mengabur sebelum akhirnya hilang tak tersisa. “Nak, saatnya bangun.” *** Aria terbaring di tengah materai sihir. Ada lima sosok berjubah putih yang tengah merapalkan doa. Aliran sihir yang tergambar dalam materai pun mulai berdenyar; mengeluarkan warna kuning keemasan yang menyelimuti tubuh Aria. Claudia pun berusaha mencapai benak Aria. Berkali-kali dia merasa dihalangi oleh sesuatu, sebelum akhirnya dia bisa menyentuh sebentuk kehidupan yang ada di ujung sana. Perlahan-lahan Claudia mulai mengembalikan kesadaran Aria. Bersamaan dengan itu, tanda-tanda berwarna biru yang menghias tubuh Aria pun mulai menghilang. Pelan tetapi pasti. Aria pun membuka mata.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD