Nihuar tidak pernah menyangka hal semacam ini, ketika singgasana elixer diduduki oleh seorang wanita, akan datang. Tidak, Nihuar sama sekali tidak mempermasalahkan jenis kelamin sosok yang akan berkuasa di pemerintahan. Hal yang mengganjal Nihuar adalah cara wanita itu mendapatkan kekuasaan. Lebih daripada segala masalah yang datang pada Nihuar, kali ini dia benar-benar merasa tidak berdaya. Maka kini, dia dan Kylian berdiri di hamparan padang gandum. Jika saja petani fana pemilik ladang kebetulan melintas dan mendapati dua elixer (ditambah seekor pembuas yang mulai mengacak-acak tanaman gandum) ada di tengah ladang miliknya, mungkin Nihuar dan Kylian akan berakhir di tangan Penjelajah. Sempurna.
Angin bertiup lembut, tangkai-tangkai gandum yang kini terisi dengan biji gandum bergoyang-goyang ketika angin membelai pucuk daun mereka. Ladang berwarna kuning keemasan itu tampak indah ketika gelombang angin melintas lembut di atas pucuk-pucuk tanaman gandum. Sebuah tempat pemberhentiaan yang tidak terlalu buruk.
“Sekarang,” kata Kylian. “Apa yang harus kita lakukan?”
Menyisir sekitar, Nihuar hanya bisa menjawab, “Aku tidak bisa menghubungi Amara ataupun Mir. Dan semoga saja mereka berdua tidak bernasib sesial diriku.”
Kylian menyisir helaian rambut peraknya. Jengah. “Kita benar-benar sial, huh?”
“Setidaknya kita bisa berhasil sampai sejauh ini.” Nihuar mulai berjalan membelah rimbun gandum. Kedua matanya hanya bisa menemukan pepohonan hijau dan langit tak berawan yang ada di atas kepala kedua pangeran. “Kita harus menyembunyikan diri sebaik mungkin.”
Kalau begitu jangan mendarat di tengah padang gandum, keluh Kylian, kenapa kau memiliki ketertarikan khusus terhadap lahan milik manusia? Menyebalkan.
Sampai di seberang, Kylian pun mengehela napas. “Seva,” kata pangeran itu. “Kita bisa sembunyi di sana.”
“Elixer kepercayaanmu itu?” tanya Nihuar.
Kylian mengangguk. Mengiakan.
“Kylian,” kata Nihuar. “Bukankah dia juga termasuk dalam daftar elixer yang akan dilenyapkan oleh sang ratu, mengingat hubungan antara dirimu dan dia?”
“Tenang saja,” ujar Nihuar. Dia mulai membuang tangkai gandum yang terselip di pakaiannya. “Tidak ada satu elixer pun yang bisa menangkap Seva tanpa kehilangan salah satu anggota tubuh mereka. Seva itu garang.”
Penekanan kata terakhir itu mengingatkan Nihuar pada Sin. Adiknya cukup garang dan mungkin akan bertambah garang jika mengetahui bahwa takhta telah berpindah tangan. Dan sebelum tragedi dengan tokoh utama Sin berlangsung, Nihuar harus segera membereskan masalah yang ada. Secepat mungkin.
“Kau tahu di mana kemungkinan Seva berada?”
“Nihuar,” jawab Kylian. “Itu tidak perlu ditanyakan.”
Jawaban itu sudah cukup bagi Nihuar.
“Oh, ya, Nihuar,” kata Kylian. “Apa tidak sebaiknya kalau pembuas itu dijauhkan dari ladang sebelum gandum yang ada di sana hancur tak tersisa?”
***
Nihuar tahu, di antara ketiga putra Baginda Lion, Kylian-lah yang paling tenang dan siap untuk menanggung beban pemerintahan. Kylian, adik pertama yang Nihuar dapatkan dari selir bernama Mila; wanita yang kini telah bergabung bersama ibu Nihuar di surga. Berbeda dari Sin yang tampak hancur ketika permaisuri mangkat, Kylian terlihat lebih mampu menguasai diri dengan cara memasang tameng di wajah berupa senyum. Entahlah, Nihuar sendiri tidak bisa memahami jalan pikiran kedua adiknya, mereka berbeda dan memang tidak sama. Tapi setidaknya Kylian tidak pernah berbuat usil; pangeran itu tidak pernah berkelahi dengan elixer lain, tidak pernah mencaci elixer yang posisinya lebih rendah dari Kylian, ataupun bersikap buruk ketika jamuan makan tiba.
Jika diingat-ingat, Sin hampir bisa dipastikan selalu berkelahi dengan Ringga. Bocah itu tidak pernah mau diatur oleh elixer lain. Dan yang terparah, Sin selalu membolos ketika ada jamuan makan. Nihuar berharap, di mana pun saat ini Sin berada, pangeran itu berada dalam kondisi aman dan jauh dari jangkauan Ibu Suri. Semoga saja.
Mengesampingkan kekhawatiran Nihuar terhadap Sin, akhirnya Nihuar dan Kylian sampai di sebuah tempat yang disebut dengan Bukit Biru. Dan tepat di bawah pohon waru hitam, Nihuar bisa melihat sang elixer berambut merah telah menanti kedatangan kedua pangeran.
Nihuar memerintahkan pembuas yang mengantarnya agar segera meninggalkan Bukit Biru. Mahluk itu pun patuh dan segera kembali mengudara, meninggalkan sang majikan bersama kedua elixer.
“Kau selamat,” kata Seva.
Menepuk pelan bahu dan lengannya, Kylian pun membalas, “Dan tidak perlu diragukan lagi, kau pun bisa meloloskan diri dengan mudah.”
“Tentu saja,” sahut Seva. Kemudian tatapan elixer itu berakhir pada Nihuar. “Dan aku tidak pernah menyangka Pangeran Nihuar bersedia menampakkan diri di depanku.”
“Hentikan basa-basi ini,” potong Kylian. “Ada hal penting yang harus segera kita bicarakan.”
***
Duduk di dalam ruangan yang didominasi dengan nuansa cokelat tua, Nihuar, Kylian, dan sang pemilik rumah pun mulai menyampaikan kabar dan masalah yang mengejar mereka.
“Sudah kuduga,” kata Seva. “Mereka akan menyerang fana dan mengklaim hak Rea atas nama elixer.”
Nihuar mengerutkan dahi. Bingung. “Maksudmu Ibu Suri akan....”
“Ya,” potong Seva. “Dia akan menghabisi semua fana yang memiliki berkat dewa. Tidak akan ada yang tersisa.” Seva menyatukan telapak tangannya dan mulai tersenyum simpul. “Musnah.”
“Seva,” kata Kylian. “Aku bisa sedikit memahami alasan sang ratu memburu kami, namun manusia? Aku sama sekali tidak mengerti. Mungkinkah dia?”
“Kenapa tidak?” Seva mengambil teko teh dan mulai menuangkan cairan berwarna merah ke masing-masing cangkir yang ada. “Wanita itu selalu berpikir dua langkah di depan kita. Untukku, secara pribadi, aku tidak memiliki masalah dengan para manusia itu. Tidak sama sekali. Hanya saja, terkadang para Penjelajah yang berjumpa,” Seva memberi tanda kutip, “secara tidak sengaja denganku. Mereka lebih senang berbincang menggunakan pedang daripada bicara baik-baik. Jadi, yah, aku harus memastikan pedang para penjelajah itu tidak menyentuhku. Kau tahu, maksudku?”
Kylian menggelengkan kepala. “Maksudmu kita tidak memiliki kesempatan untuk memperingatkan para manusia itu?”
Seva mengambil cangkir tehnya dan mulai menyesap. “Kita,” tekannya. “Memang tidak bisa. Tapi dia pasti bisa.”
Kini kedua pasang mata dalam ruangan itu menatap Nihuar. “Ringga?”
“Ah,” kata Seva dengan suara riang. “Jadi itu namanya, Ringga. Aku rasa pangeran terbuang itu bisa menjembatani pertemuan kita. Percayalah padaku, ada banyak elixer yang bersedia hidup berdampingan bersama manusia.” Seva terkikik sembari menggelengkan kepala. “Bahkan ada beberapa elixer yang jatuh hati dengan manusia. Mengapa tidak? Kita bisa meminta pertolongan para elixer yang ingin menempuh jalan baru. Sempurna.”
Untuk kali ini Nihuar mengangguk. “Akan aku usahakan.”
***
Clay hanya bisa berpasrah diri ketika Tusk menyarankan Sin agar bergegas meninggalkan kediaman Clay. Dalam hati Clay sebenarnya tidak terlalu peduli dengan tindak tanduk sang ratu tua. Wanita itu boleh saja menguasai seluruh daratan Rea, Clay tidak peduli, sangat tidak peduli. Bagi bangsawan itu, hidup damai dan bisa menikmati pesta, hal semacam itu sudah lebih dari cukup.
Beruntung Clay bisa memilah beberapa barang berharga yang dia sembunyikan di ruangan bawah tanah. Apa pun yang terjadi, buku-buku yang berisi pengetahuan itu tidak boleh dihancurkan. Tidak. Clay tidak akan rela jika kumpulan pengetahuan itu sampai hancur.
Berdiri di depan kediaman sang bangsawan untuk terakhir kali, Clay pun menatap sendu rumah yang telah setia menemaninya, lalu para pelayan dan b***k yang ia bebaskan. Sungguh besar nian pengorbanan sang bangsawan. Jika dia bisa kembali ke rumah dengan keadaan utuh, elixer itu bersumpah untuk menjauhi Sin dan memindahkan seluruh aset kekayaan ke tempat baru.
Pasti. Clay akan melakukannya.
“Lalu,” tanya Tusk memecah lamunan Clay, “Ke mana kita bisa menemukan Pangeran Nihuar dan Pangeran Kylian? Clay! Apa kau mendengarku?”
“Aku mendengarmu,” jawab Clay. Suntuk. “Untuk yang satu itu, serahkan padaku.”