4

1729 Words
Aria masih belum menampakkan tanda-tanda akan segera sadar. Duduk di dalam kereta kuda, Ringga berusaha menahan diri agar tidak menyentak sang kusir dan merebut tali kemudi. Jangan. Ringga tidak ingin merusak kebaikan dari Mir yang sudah bersusah payah mencarikan kereta kuda untuk mereka bertiga. Pemuda itu tidak bisa berharap lebih dari ini, Aria berada di prioritas utama.  Mir yang tidak tega melihat kesusahan Ringga, elixer itu pun memutuskan untuk ikut serta menuju istana fana. Walau terbayang kemungkinan Penjelajah yang ada di sana pasti akan menghunuskan pedang begitu melihat kehadiran Mir di antara para fana. Benar-benar, Mir membenci status musuh yang menempel di dahinya. Bagi fana-fana itu, Mir adalah elixer yang pantas untuk dilenyapkan, tidak peduli dia berpihak pada siapa; manusia atau elixer sekalipun, keduanya tidak ada bedanya. Mir tetaplah musuh yang layak dilenyapkan. Luar biasa. “Tenanglah,” ucap Mir menguatkan. “Sebentar lagi kita akan sampai di daerah manusia.” Tidak menjawab. Ringga hanya menganggukkan kepala. Pemuda itu menatap Aria yang terbaring di atas pangkuannya. Pemandangan yang sangat mengusik mata.  “Ringga,” kata Mir. “Dia akan baik-baik saja.” “Lihatlah, Mir. Tanda di dahi dan pelipisnya ini. Aku ... ini tidak benar.” Menghela napas, Mir pun berkata, “Tidakkah kau ingat pada ucapan Amara? Gadis itu sejenis dengan fana yang dikasihi Kaisar Ruthven.” “Aku tidak mengerti,” tepis Ringga. “Kenapa harus dia?” “Aku pun tidak mengerti. Kita semua tidak pernah mengerti kehendak dewa. Kita semua, Ringga. Tidak satu pun di antara kita bisa menjelaskan hal yang menimpa seseorang. Kenapa harus begini? Kenapa harus begitu? Kenapa aku? Kenapa kau? Kenapa dia? Ada begitu banyak hal yang membutuhkan penjelasan dan sialnya, sebagian besar tersimpan menjadi rahasia yang tidak pernah terjelaskan.” Hening. Hanya ada suara gemeletuk derap langkah kaki kuda dan roda yang bergesekan dengan permukaan tanah. Mir pun ingin melarang Ringga, pemuda itu tidak boleh berada di dekat Aria. Tidak boleh. Gadis itu telah dinubuatkan menjalani hal yang berbeda dari fana lainnya. Adapun ketika Ringga ataupun Sin, kedua elixer ini, ingin melewati garis takdir sang dewa, maka mereka harus bersiap menghadapi segala perintang yang ada. Menggelengkan kepala. Mir merasa iba dengan kedua pemuda itu. “Ringga,” ujar Mir, “kau harus memikirkan langkah selanjutnya. Begitu kau menjejak istana lama milik ibumu, maka engkau tidak bisa mundur lagi.” “Aku mengerti.” Ringga mulai merapikan anak-anak rambut di kepala Aria. Sesak. Gadis itu terpejam dan mungkin dia akan mengabaikan Ringga seperti ini untuk selamanya.  Apa pun yang terjadi, Ringga harus menolong Aria. Tidak akan Ringga biarkan takdir mengambil orang terkasih dari sisinya lagi.  Tidak lagi. Sudah cukup segala dukacita yang ditimpakan dewa nasib pada Ringga, saat ini Ringga ingin membalas segala kepedihan yang diderakan di atas kulitnya. Jika inilah jalan terakhir yang harus Ringga tempuh, maka dengan senang hati dia akan melakukan pembalasan yang tertunda itu.  Miris. Andai Ringga sadari bahwa segala tipu yang telah wanita tua itu bisikkan ke telinga Sin hanyalah salah satu cara untuk menjauhkan Sin dari kebenaran. Sin dan Ringga, mungkin kedua pemuda itu tercipta untuk berjalan di sisi yang berbeda dan pada suatu saat, mereka berdua harus berhadapan dengan pedang yang tergenggam erat. Mungkin. *** Setelah sekian lama, akhirnya Ringga menjejakkan kaki ke tanah yang telah lama ia abaikan. Istana utama, titik pertahanan terakhir para manusia, dan tempat dari segala kenangan antara Ringga dan ibunya berada. Ringga menggendong Aria yang kini terbaring lemah dalam kedua tangan Ringga. Melangkah tegap menuju benteng utama. Ringga siap menghadapi segala kemungkinan terburuk. Kedua penjaga yang berdiri di ambang pintu menatap awas kepada Mir, yang mereka kenali sebagai elixer, lalu Penjelajah yang berdiri di atas menara dan sisi benteng mulai mengeluarkan bilah pedang, sementara sisanya mulai mengarahkan anak panah pada Mir. “Ringga,” ucap Mir gugup. “Jelas sekali bahwa kau harus mempertimbangkan keselamatanku.” Salah seorang pria berbaju hitam mengangkat tangan; sebuah tanda agar mereka tidak mengarahkan senjata mereka. Jelas bahwa dia kemungkinan memiliki posisi tertinggi di antara para Penjelajah dan pengawal. “Pangeran,” katanya. “Setelah sekian lama mengabaikan istana besar, apakah gerangan yang membawamu kembali?” Pria itu mengerutkan alis ketika melihat Aria yang berada dalam gendongan Ringga, kemudian melirik tajam ke arah Mir. Elixer itu bersumpah bahwa dia tengah diamati dengan sorot menuduh. “Gadis itu, apa yang Anda inginkan?” “Panggilkan Paman,” perintah Ringga. “Pangeran.” “Panggilkan Paman,” tegas Ringga. Tidak peduli pada tatapan menyelidik para Penjelajah. Mengalah, pria itu pun berkata, “Silakan lewat.” Dia membentangkan sebelah tangan, mempersilakan Ringga dan Mir untuk masuk ke dalam benteng. Mir menghela napas. Lega karena para manusia itu akhirnya kembali memasukkan bilah besi ke dalam sarung. Walau Mir masih bisa merasakkan tatapan tajam para Penjelajah yang ingin menebas leher sang elixer. Jika segala hal yang berkaitan dengan Aria telah berakhir, Mir bersumpah untuk menusuk Ringga dan melemparnya ke kandang pembuas. Jika Nihuar bertanya mengapa dia melakukan hal tersebut, maka Mir akan menjawab, “Dia telah membuatku tersiksa dengan membiarkan para penjelajah menatap keji padaku.” Pasti. Melewati puluhan pasang mata yang terus menatap dengki kepada Mir dan berakhir dengan tatapan memelas kepada gadis yang dibopong Ringga, Mir dan Ringga akhirnya sampai di sebuah aula istana. Di sana, seorang pria berjenggot kelabu langsung menyambut Ringga. Jubah bangsawan yang dipakai si pria berdesir menyentuh lantai pualam ketika dia melangkah mendekat.  “Keponakan,” kata Rein. “Akhirnya kau kembali ke tempatmu juga.” “Paman,” potong Ringga. “Tolong aku.” Rein menatap gadis yang ada di gendongan Ringga, tanpa perlu berpikir dua kali, pria itu berbalik dan meminta Ringga serta Mir untuk mengikutinya.  Melewati lorong yang pada bagian dindingnya dihiasi dengan lukisan pelayan dewa; gadis dan pemuda berbaju zirah dengan sayap di punggung mereka. Para pelayan dewa itu ada yang membawa tameng, pedang, cermin, atau hanya menyentuh permukaan bulan. Mir tahu, ini merupakan salah satu dari kepercayaan manusia terhadap asal-muasal penciptaan Rea. Setidaknya Mir mengetahui sedikit perihal manusia-manusia yang dikasihi dewa. Atau mungkin, manusia-manusia yang dilaknat dewa. Menatap Aria, Mir mulai menyayangkan kemampuan apa pun yang telah dewa berikan kepada para manusia ini. Lebih baik hidup tanpa kemampuan dewa, pikir Mir, daripada menderita. Di ujung lorong, Ringga dan Mir bisa melihat sebuah kuil yang tepat pada bagian tengahnya terdapat patung sang dewi malam dalam wujud wanita cantik yang tengah menyentuh ujung bilah pedang, lalu tidak jauh dari kaki sang dewi, terdapat patung serigala perak. Dan tepat di depan patung tersebut, berdirilah sesosok gadis berambut pirang. Gadis itu mengenakan jubah putih dengan sulaman simbol bulan di sepanjang sisi jubah. “Claudia,” panggil Rein. “Kami membutuhkan pertolonganmu.” Gadis itu menoleh. Pada detik yang sama Mir pun menahan napas. Siapa pun gadis yang bernama Claudia ini, menurut Mir, gadis ini sangat menawan. Claudia berjalan mendekat ke arah Ringga. Dia menyentuh kening Aria, untuk beberapa saat gadis itu memejamkan mata sebelum kembali membuka mata dan berkata, “Bawa dia ke ruang suci.” *** Di tengah padang bunga berwarna putih, Aria berdiri dan mulai menatap langit yang cerah. Awan putih berarak dan mulai membentuk sosok imaji. Angin berembus lembut dan menerbangkan rambut Aria yang tergerai bebas di atas bahunya. Aria bisa mencium harum mawar dan tulip yang ditiupkan angin ke udara.  Damai. Aria benar-benar menyukai hawa yang menyelimuti tubuhnya. Dia hanya melihat bunga aneka warna dan langit biru. Hanya ada kedamaian dan keindahan alam. Hanya ada itu. Hanya ada dirinya seorang. Angin bertiup, menerbangkan kelopak bunga yang kini menghambur di sekeliling Aria. Gadis itu menutup kedua mata, mencoba melindungi diri. Dan ketika dia membuka kedua mata, padang bunga itu telah lenyap. Tidak ada indah kelopak bunga yang tengah mekar, tidak ada harum yang tercium dari udara yang berembus, dan Aria hanya melihat merahnya darah. Sesak. Aria melihat ada begitu banyak mayat yang tergeletak dengan darah yang mulai merembes di sekitar tubuh si mayat. Burung-burung bersayap hitam mulai melakukan jamuan pesta; mengoak dan mempersilakan mahluk lain untuk ikut bergabung ke dalam perjamuan. Goyah. Aria melangkah mundur dan melihat sesosok pemuda berambut perak tengah duduk bersimpuh di antara mayat yang tergeletak di dekatnya. Kedua tangan pemuda itu menggenggam bilah pedang yang menghunjam tanah. Kepala sang pemuda tertunduk lesu. Aria kini berada di depan si pemuda.  Gadis itu bisa melihat helaian rambut panjang berwarna perak milik sang pemuda yang kini terlihat menyerupai warna abu. Mendongakkan kepala, pemuda itu menatap Aria. Bangkit, sang pemuda berusaha menyentuh Aria. Samar-samar Aria bisa mendengar pemuda itu menyebutkan sebuah nama, “Almira.” Tiba-tiba di antara mereka berdua muncul ribuan bulu berwarna hitam. Bulu-bulu itu menari-nari di antara Aria dan sang pemuda; menghapus keberadaan sang pemuda dari jarak pandang Aria, lalu mengantarkan Aria ke sebuah tempat yang dipenuhi dengan lukisan sosok-sosok bersayap. Di tengah ruangan terang tersebut, terdapat sebuah patung wanita dengan serigala di samping kakinya. Tepat di depan patung tersebut, Aria bisa melihat keberadaan seorang gadis berkerudung. Gadis itu menunduk dan kedua tangannya bersatu; gadis itu memejamkan mata. Walau lirih, Aria bisa menangkap suara sang gadis yang berkata, “Ruthven.” Setetes air mata mengalir, terjatuh di atas pualam dan menciptkan suara riak. Aria kini tidak lagi berada di sebuah ruangan. Gadis itu menatap aula megah yang dipenuhi dengan pecahan kaca dan mayat elixer. Mayat pembuas nampak mengerikan dan membuat Aria merasa mual. Gadis itu berbalik dan bisa melihat puluhan elixer yang tampak sama bingungnya dengan Aria.  Di antara para elixer, terdapat sesosok wanita berambut perak yang tengah duduk di atas singgasana. Wajah wanita itu terlihat keji dan Aria bisa menangkap kesan angkuh dan berkuasa yang menguar dari dalam tubuh sang wanita. “Dan dengan ini,” kata sang wanita. “Aku perintahkan kepada kalian untuk membawakan ketiga pangeran utama padaku,” tekannya dengan suara dingin, “dalam keadaan hidup ataupun mati.” Lalu suara riuh pun bersahutan, “Hidup sang ratu!”, “Hidup sang ratu!” Pias. Aria menatap pucat pecahan kaca yang ternoda darah. Dia menunduk sembari memeluk kedua lengannya. Rasa dingin mulai menjalar dan mematikan indra perasanya. “Bawakan Nihuar, Kylian, dan Sin kepadaku. Lalu kita hancurkan kerajaan fana dan mengklaim tanah Rea!” “Tidak,” bisik Aria. “Ini tidak benar.” Walau gadis itu adalah entitas yang tidak akan pernah terlihat di mata para elixer yang tengah bersorak, namun dia bisa merasakan pekatnya darah di ujung lidah. Lalu, Aria merasakan kehadiran sebuah sosok. “Beginilah hidup. Kau akan melihat baik dan buruknya dunia yang kaukasihi ini, Aria.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD