3

2074 Words
Nihuar menatap pias para pemanah yang berdiri di atas balkon, lalu para prajurit yang menghunus pedang; siap menebas siapa pun yang berani melawan kehendak sang ratu tua. Berdiri di samping Nihuar, Kylian pun tampak sama terkejutnya dengan sang pangeran. Tidak pernah, bahkan tidak mungkin terbersit pemikiran buruk akan plot semacam ini. Berdiri angkuh di hadapan hadirat, wanita itu menatap para elixer yang terperangah, lalu sebuah tatapan keji jatuh kepada Baginda Lion. Kedua mata Baginda Lion membelalak, ngeri, teror telah menyebar dan mematikan seluruh indra perasa para elixer yang ada di aula utama. “Ibu,” kata Baginda Lion. Masih dengan suara bergetar, raja itu bertanya, “Ada apa denganmu?” Tidak menjawab. Ibu Suri memberi isyarat kepada para pengawal untuk menahan sang raja. Tentu saja, tidak ada satu elixer pun yang berani melawan kehendak sang ratu tua, dengan segala pedang dan anak panah yang terarah pada mereka, Ibu Suri berada di atas angin—dia memiliki kuasa. Meronta, Baginda Lion berusaha melawan pengawal berbaju zirah. Dia tidak ingin berakhir di bui. “Katakan padaku!” teriak baginda Lion. “Apa maksud dari segala siasat kotor ini?”  Tidak peduli dengan penolakan sang raja, para pengawal menyeret paksa Baginda Lion keluar dari aula utama. Materai sihir yang digunakan para pengawal sudah lebih dari cukup untuk mengekang kekuatan sang raja. Maka pria itu pun tidak ada apa-apanya di hadapan para elixer yang ada di aula. Penasihat dan menteri pun hanya bisa menatap kelu kepergian sang raja. Inilah titik awal dari segala perubahan di istana besar. Ibu Suri sudah menunjukkan wajah aslinya, wanita itu tidak akan ragu menebas elixer yang berani menantang. Berjalan dengan penuh keanggunan, Ibu Suri menghampiri kursi singgasana. Wanita itu nampak puas dengan pahatan yang ada di sepanjang lengan kursi. Tulang naga yang ditempa menjadi simbol kekuasaan. Kursi yang selama ini diidam-idamkan oleh para elixer. Inilah saat yang benar-benar membuat Ibu Suri tak ragu menyunggingkan senyum. Setelah sekian lama wanita itu menunggu dan menanti datangnya kesempatan untuk menguasai Rea. Saat itu telah tiba.  Ibu Suri mengelus permukaan kursi, merasakan hawa dingin di ujung jemarinya. Kemudian tanpa ragu, dia duduk dan menatap para elixer yang masih syok.  Tidak masalah. Ibu Suri tidak membutuhkan upacara penobatan. Adapun yang dibutuhkan oleh wanita itu adalah kekuasaan. “Jadi,” ucap sang ratu dengan nada sedingin es. “Adakah yang ingin menentang keinginanku?” Hening. Tidak ada satu suara pun yang keluar. Para elixer saling pandang, menilai elixer lainnya; apakah mereka akan berlutut dan mengucap sumpah setia? Atau mereka menentang sang ratu dan memilih kematian sebagai bentuk kecintaan akan ideologi elixer? Semua elixer menimbang keputusan yang akan diambil. Mereka tahu, tidak ada yang tidak akan dilakukan sang ratu untuk mencapai tujuan. Mengorbankan satu atau bahkan separuh penduduk elixer adalah harga yang murah bagi wanita itu. Segala hal telah berubah ketika wanita itu menginjakkan kaki di tengah aula. Tidak ada yang sama. “Aku menolak,” seru seorang elixer. Pria itu melangkah maju. Sama sekali tidak takut dengan segala ancaman yang bertebaran di sekeliling mereka. “Aku lebih memilih adat.” Ibu Suri tersenyum. “Maka itulah yang akan kaudapatkan.” Sebuah anak panah meluncur dan menembus tepat di jantung sang pria. Elixer itu duduk bersimpuh, mencoba meraba darah yang keluar. Lalu anak panah kedua, ketiga, dan berikutnya mendarat di leher, d**a, dan perut sang elixer. Pria itu pun rubuh bagai sebatang pohon oak tua. Terdengar seruan dan gumaman di sepenjuru ruangan. Para elixer melihat hukum alam—yang kuat berkuasa, lalu mereka yang lemah adalah mangsa—tengah berlangsung. “Masih ada yang berani menolak kepemimpinanku?” Diam. Para elixer hanya menunduk. Tidak kuasa menolak kehendak sang ratu tua. “Maka sudah diputuskan,” kata Ibu Suri. “Akulah yang akan menjalankan roda pemerintahan. Aku tidak akan menerima kesalahan sekecil apa pun, segalanya harus dipertanggungjawabkan. Maka, aku ingin melihat seberapa jauh kesungguhan kalian.” Ibu Suri bangkit dari singgasana. Kedua matanya tertuju pada Nihuar dan Kylian. “Sebagai bukti kesetiaan,” perintah sang ratu, “siapa pun yang bisa membawakanku kepala dari para pangeran akan menjadi menteri di kerajaanku.” Semua mata kini tertuju pada Nihuar dan Kylian. Jelas, tidak ada logika yang mereka terima di saat ini.  Nihuar melirik ke atas balkon, dia pun menyadari bahwa ini hanyalah salah satu dari permainan sang ratu tua. Wanita itu tidak mengizinkan pengawal suruhannya untuk menyerang Nihuar dan Kylian, ratu itu ingin menikmati detik-detik ketika kedua pangeran diburu oleh para elixer. Sungguh, wanita yang teramat licik. Tanpa menunggu komando para elixer itu pun mulai menarik bilah pedang dari sarung mereka. Menatap kedua pangeran dengan sorot keji. Tentu, mereka tidak memikirkan norma yang telah dilanggar. Satu-satunya yang ada di kepala mereka hanyalah cara bertahan hidup. Serempak, para elixer mulai menghunuskan pedang, mengincar tangan ataupun kaki para pangeran. Namun sebelum para elixer itu berhasil mewujudkan keinginan mereka, kabut putih muncul dan mulai menari-nari di sepanjang kaki para elixer. Kabut putih pun memadat, menyelimuti tubuh para elixer dan mengurung mereka dalam penjara es. “Kylian,” kata Nihuar. Terkejut karena adik tirinya ternyata menguasai sihir. “Kau....” “Tidak ada waktu untuk terkagum,” potong Kylian. “Saatnya pergi!” Paham. Nihuar pun bersiul. Beberapa detik kemudian terdengar suara raungan mahluk buas. Dinding dan kubah aula berguncang. Pecahan kaca berserakan di lantai, beberapa melukai elixer dan pengikut sang ratu tua. Melalui lubang yang tercipta di sepanjang dinding, para pembuas masuk dan menyerang elixer yang ada. Inilah kemampuan Nihuar, kemampuan yang sebenarnya tidak ingin digunakan oleh sang pangeran, tapi kali ini dia harus melakukannya.  Seekor pembuas bersayap muncul di hadapan Nihuar. Tanpa ragu pangeran itu menyeret serta Kylian untuk naik di atas pembuas. Mahluk serupa naga dengan sayap hitam menyala pun mengaum keras, dia mengempas para elixer yang berani melukai Nihuar.  “Terbang,” perintah Nihuar yang kini berada di atas punggung sang pembuas. Mahluk itu membentangkan sayap dan dengan keanggunan dia pun terbang membawa kedua pangeran elixer meninggalkan aula utama. Para prajurit bersiap mengejar kedua pangeran itu, namun sang ratu berkata, “Biarkan. Kita mulai perburuan ini, tapi bukan mereka yang sekarang aku inginkan.” Sang ratu membentangkan kedua tangan. Tersenyum. “Aku ingin Rea disucikan dengan darah fana.” *** Baginda Lion menatap Sin dan Ringga. Kedua bocah itu dipenuhi dengan debu dan kotoran yang menempel di pakaian mereka. Rambut kedua bocah itu acak-acakkan, ada ranting dan beberapa daun yang menempel di kepala Ringga dan Sin. Benar-benar berantakan. Sin cemberut dan jelas berniat keluar dari ruangan ini dengan cara apa pun, sementara Ringga hanya menundukkan kepala; menatap lantai yang ada di bawahnya. Dua bocah yang sama-sama terluka. Baginda Lion bisa menebak bahwa mereka berdua terlibat perkelahian, lagi. Dan untuk kesekian kalinya, pria itu pun bisa menebak hal yang diributkan Ringga dan Sin: masalah sepele.  Duduk di kursi, Baginda Lion menggelengkan kepala. Pasrah. Mereka berdua—Ringga dan Sin—nampaknya tidak akan akur. Di jam pelajaran pun, seperti saat ini, kedua bocah itu sudah mulai melakukan pelajaran mereka sendiri, yakni berkelahi. Lalu ujung dari segala masalah pasti akan ditimpakan pada Baginda Lion. Dialah yang harus memberi hukuman akhir kepada sang putra dan sang keponakan. Para pelayan berkata bahwa wajah cemberut Sin sangatlah menggemaskan. Andai saja mereka berada di posisi sang raja, mungkin para pelayan itu akan menarik segala pujian mengenai wajah menggemaskan sang pangeran. “Jadi,” kata Baginda Lion. “Ada apa, lagi?” Sin hanya diam. Di salah satu ujung bibirnya terlihat tanda biru, bekas tonjokkan tebak Baginda Lion. Astaga, kenapa putranya bisa seliar ini? Menatap Ringga, Baginda Lion pun bertanya, “Ringga, maukah kau menjelaskan ini?” Sama seperti Sin, bocah itu pun hanya diam. Jika Sin berani menatap langsung kepada Lion, maka Ringga lebih memilih menyembunyikan wajah—enggan menatap Baginda Lion. “Baiklah,” simpul Baginda Lion, “tidak ada satu pun di antara kalian yang berniat menjawab pertanyaanku. Maka, lebih baik jika kalian berada di satu ruangan selama semalam penuh.” “Tidak!” erang Sin. “Ayahanda tidak bisa berbuat seperti itu. Ibunda akan marah lalu ....” “Ibu tidak akan marah,” ralat sang raja. “Dia bahkan akan setuju denganku.” “Tidak. Aku tidak mau berada seruangan dengannya,” tunjuk Sin pada Ringga yang hanya diam. “Aku tidak mau.” “Oh, ya? Mungkin kau harus membiasakan diri.” “Aku tidak akan bisa!” “Bagaimana kau bisa menyimpulkan sesuatu yang bahkan belum pernah kaucoba?” “Karena aku tahu aku tidak akan suka,” ucap Sin. Kukuh. Benar-benar. Sin tidak pernah bisa diganggu gugat. Rasa-rasanya ada yang salah dengan bocah itu. “Ringga,” tanya Baginda Lion, “apakah kau bersedia seruangan dengan Sin walau untuk semalam?” “Aku ... aku,” jawab Ringga tergagap. “Aku ingin pulang.” Hening. Baginda Lion berusaha memahami maksud ucapan Ringga. “Apa maksudmu? Kau sudah ada di rumah.” Kali ini Ringga menatap langsung sang raja. “Aku ingin berkumpul dengan ibuku.” *** Menatap cermin, Sin menyadari bahwa ada banyak hal yang telah berubah, atau mungkin, tidak ada yang berubah darinya. Sama seperti dahulu, di masa kecil ketika Sin dan Ringga dipertemukan. Mereka berdua pada akhirnya akan saling memukul satu sama lain ketika disatukan dalam satu ruangan. Sin tidak pernah suka dengan sikap Ringga yang menurutnya terlalu lemah. Pemuda itu selalu menjadi sasaran bui para elixer lain.  Lemah. Benar-benar lemah. Tidak bisakah dia memberontak?  Tentu saja, Ringga selalu memberontak, namun menggunakan cara yang berbeda. Tidak mengeluh, tidak menangis, Ringga yang diingat Sin selalu menyendiri dan menjauh dari keramaian. Tipikal mahluk malang. Selalu seperti itu. Hingga suatu hari bocah itu meninggalkan istana dan bergabung dengan Penjelajah; membantu manusia dengan menebas elixer, melawan Baginda Lion, dan sekarang ... mengambil sesuatu yang Sin inginkan. Tidak. Sin tidak akan pernah merelakan miliknya pada siapa pun.  Menggelengkan kepala, Sin keluar dari kamar dan menuju ruang utama untuk menjumpai sang bangsawan. Namun sesampainya di sana, Sin melihat raut pucat Clay dan Tusk. “Sin,” kata Tusk. “Berita buruk.” “Apa maksudmu?” Sang bangsawan menggerakkan ujung jemarinya. “Kau,” tunjuknya. “Diburu.” “Apa maksudmu?” ucap Sin untuk kedua kalinya. Dia benar-benar tidak mengerti. Clay mengedikkan bahu. “Nihuar, Kylian, dan kau,” tekan sang bangsawan. “Kalian bertiga masuk ke dalam daftar yang paling diincar dan wajib untuk dilenyapkan. Tunggu, Sin, jangan potong ucapanku. Beruntung aku memiliki mata-mata di istana. Elixer ini mengabarkan padaku bahwa Baginda Lion kini diturunkan dari takhta. Ha. Kau penasaran? Siapa mahluk yang berani merebut mainanmu? Aku beri tahu dan jangan terkejut.” Diam. Sin berusaha mencerna segala informasi. Kylian dan Nihuar diburu, lalu ayahnya ... astaga, ini bukan kabar baik. Sin tidak suka dengan alur perbincangan ini. “Jadi,” lanjut Clay. “Ibu Suri dan para pemuja, kau tahulah sekte apa yang tengah aku bicarakan ini. Mereka menurunkan paksa Baginda Lion dan dengan segala keanggunan yang dimiliki wanita itu. Kini dia duduk di atas singgasana. Tamat.” Terhuyung, Sin merasa lantai yang ada di bawah seolah runtuh. Apa pun yang telah sang ratu perbuat, wanita itu benar-benar mahir menghancurkan impian Sin. Sosok yang selama ini berbisik manis di telinga Sin, miris, wanita itulah yang kini mengambil hal yang begitu Sin inginkan. “Sin,” ucap Tusk. Cemas. “Kau tidak bisa kembali ke istana dan aku pun jelas tidak berani pulang. Mungkin keluargaku sudah pergi ke suatu tempat. Kediaman Clay pun akan bernasib serupa dengan istana.” “Hei,” protes Clay, “kenapa propertiku juga diikutsertakan?” Menoleh. Tusk berkata, “Karena Ibu Suri membenci pengikut ketiga pangeran.” Sama seperti Sin, sang bangsawan pun langsung rebah. Duduk di kursi, Clay mulai memperimbangkan barang-barang yang akan diselamatkan. Mengabaikan Clay yang mulai meracau, Tusk kembali mengingatkan Sin. “Kita tidak boleh berlama-lama di sini. Kita harus segera pergi. Sin, aku rasa inilah saat bagi kita untuk....” “Tidak,” potong Sin. “Aku tidak mau berhubungan dengan Kylian.” “Tapi kalian berdua sama-sama diburu dan mungkin dia bisa membantu.” “Tidak,” tolak Sin. “Tusk, kau paling mengerti seberapa besar kebencian yang aku miliki kepada pemuda itu.” “Dan kau pun tahu seberapa kejam Ibu Suri.” Hening. Sin tidak membalas. “Wanita itu bisa saja bersikap lebih parah daripada seekor pembuas,” tekan Tusk. “Saatnya bagimu untuk mengakhiri segala permusuhan. Sin, kau juga harus memikirkan ayahmu.” Di antara segala petaka yang datang, ini merupakan ujian terberat. Sin tidak bisa melarikan diri ke mana pun. Dia terjebak dan pilihan yang didapatkannya hanyalah satu: mengalah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD