Ancaman Kak Toni sangat membuat ku stres, aku pun menjadi kaku, badan ku pun seolah tak bisa di gerakan, tangan ku pun bergetar, ia pun terlihat santai menyantap hidangan yang ada di atas meja. Aku tak sanggup untuk berjalan, rasanya kepala ku sudah tak karuan, seperti pening. "Brakkkk" *** "Tania" "hiks hiks hiks" Seperti suara tangisan, aku pun mencoba membuka mata ku, walaupun terasa berat, "Tania, sayang bangu lah," Aku mendengar suara malaikat yang selalu menjaga dan memberikan ku penuh kasih sayang, mendengar isam tangis nya, air mata ku pun menetes, aku ingin memeluk nya dan menangis di kaki nya. Tapi kepala ku pusing dan mata ku seolah enggan mau membuka kedua kelopak ini, hanya kuping ini yang bisa mendengar isak tangis nya yang begitu perih. "Mah, mungkin tania ke

