Sombong kepada Orang yang Sombong adalah Sedekah

1586 Words
Semilir angin berhembus sejuk dari arah jendela mobil yang tengah melaju pelan di tengah teriknya matahari siang, ingin rasanya cepat sampai di rumah namun Pak sopir keliatannya masih mencari peruntungan dengan memperlambat laju angkotnya berharap ada penumpang lain karena tempat duduk di belakang masih banyak yang kosong. Zakia masih tertidur pulas di sandaran Ummi Romeesa. Menasehati anak memang tepat jika saat dalam perjalanan. "Semoga kalimat Tauhid tertanam kuat dan hidup di hati Zakia seperti halnya Zidan," batin Ummi Romeesa mengecup lembut kepala anaknya. Sebuah kenangan menarik kembali Romeesa pada masa kecilnya saat seumuran anaknya Zakia. "Lafazkan La Ilaha illallah di setiap tarikan dan hembusan nafasmu!" bisik suara asing di telinga Romeesa yang membuatnya terbangun dari tidur. Mimpi tapi begitu nyata. "Alhamdulillah, untuk kesekian kalinya Allah mengilhamiku," yakin Romeesa, yang membuatnya tak lepas dari kalimat tauhid hingga sekarang. "La ilaha illallah Muhammadarrasulullah!" batin Romeesa yang senantiasa berdzikir dan mengucap asma Allah. "Kiri depan, Daeng!" seru Zidan, lalu Romeesa memberi lembaran uang biru pada Pak sopir. "Maaf Bu, tidak adapi uang kecilku kodong, sepi penumpang dari tadi," ucap Pak Sopir sambil menyodorkan kembali uang itu pada Romeesa. "Nda apa - apa ji Daeng, ambil saja! nda usah kasi kembaliannya," balas Ummi Romeesa. Selama transportasi online mulai marak, sopir angkot sangat merasakan penurunan penghasilan yang sangat drastis. Tapi mau bagaimana lagi, semua orang ada masanya, dan setiap masa ada orangnya. Begitulah dunia berputar, harus segera menyesuaikan diri jika tak mau tergerus zaman. "Alhamdulillah, terima kasih Bu, semoga selalu banyak rezeki ta, juga anak - anakta semua!" ucap Pak sopir mengedahkan kedua tangannya sejajar kepala dengan raut wajah haru sekaligus senang. Dia merasa sangat bersyukur dan mendoakan kebaikan kepada Ummi Romeesa dan anak - anaknya. Zakia berusaha menyamakan langkahnya dengan Kakak dan Umminya yang berjalan cepat dari biasanya, cuaca panas menjelang tengah hari ini begitu menyengat kulit. Sesampainya di depan pagar, beberapa kantong pakaian kotor tergantung diatas pagar. "Alhamdulillah, pasti langganan laundry-ku," gumam wanita itu penuh rasa syukur, kemurahan hatinya dibayar kontan hari itu juga. "Alhamdulillah, Rezeki memang gak kemana ya Umm," ucap Zidan membuka pintu pagar dan mengangkut lima kantong pakaian ke dalam rumah. Melihat Romeesa pulang, Bu Fauziah dengan langkah terburu - buru menuju ke arahnya. "Sudah pada pulang? Rayyan mana ya Bu? Kok, gak bareng?" tanya Bu Fauziah terlihat cemas. "Loh, Rayyan tadi balik duluan. Katanya ada urusan," balas Romeesa. "Oh, gitu. Sebenarnya tadi pagi tuh Rayyan saya gak izinkan bawa mobil sendiri, soalnya belum punya SIM! Gimana kalo terjadi apa - apa," nada suara Bu Fauziah mulai gak enak di telinga. "Belum punya SIM ya? Maaf, tadi pagi udah ngerepotin Rayyan," ucap Romeesa penuh penyesalan, dia pun tak kepikiran jika Rayyan belum punya SIM, soalnya dia sering melihat Rayyan mengantar mamanya dengan menggunakan mobil. "Kok, seneng banget nebeng sama orang, makanya kalo ada rezeki tuh, gak boleh ditolak," ketus Bu Fauziah. "Maaf Bu, saya masuk dulu," pamit Romeesa tanpa menunggu jawaban, menjauh dari tetangganya yang pahit lidah. Karena tak mau memperpanjang masalah apalagi mau berdebat. Lebih baik menghindari keributan. "Seharusnya mereka lebih baik naik angkutan umum tadi pagi, biar tidak merepotkan siapa - siapa," sesal Romeesa, lidah Bu Fauziah memang tidak punya filter, kadang kata - kata yang meluncur dari mulutnya bisa membuat sakit hati. "Semoga diberi hidayah, mungkin saja tetangga itu belum tahu jika Rasulullah pernah bersabda bahwa bukan dari kalangan ummat Nabi Muhammad jika selalu menyakiti hati tetangganya." Romeesa diam - diam berdoa agar tetangganya itu bisa berubah. *** Nelly Hasri *** "Ummi, gamisnya bagus - bagus ya. Pasti harganya mahal, ini mirip bajunya Tante Fauziah?" Ucap Zakia saat membantu Ummi Romeesa mengatur pakaian dan menyusun pakaian yang sudah dilaundry. "Biasanya sih gamis macam itu seragam punya Majelis taklim, atau seragam ibu - ibu arisan, bisa jadi Bu Fauziah ikut arisan atau pengajian, ya jadinya sama, namanya juga seragam," terang Ummi Roomesa di tengah kesibukannya bergumul dengan pakaian titipan orang. "Kok, Ummi gak pernah saya lihat ke pengajian?" tanya Zakia. Ummi kemudian menghentikan sejenak pekerjaannya dan menarik nafas. Menjawab pertanyaan anak usia Zakia memang tak boleh asal, karena jawaban itu akan tersimpan di memorinya hingga dewasa nanti. " Zakia tahu gak tujuan ke pengajian untuk apa?" Ummi Roomesa balik bertanya. "Untuk dapat ilmu baru dari Ustadz atau Ustadzah," jawab Zakia. "Betul, Ummi lebih senang liat ceramah ustaz di TV atau YouTube soalnya bisa sambil menemani Zakia belajar di rumah," tutur Ummi Roomesa. Dia memang lebih senang menambah ilmu lewat ceramah ustads atau ustadzah via YouTube atau menonton TV dibandingkan datang ke tempatnya langsung, terkadang suasana di tempat pengajian yang berisik saking banyaknya jamaah hingga kadang tak apa yang disampaikan oleh pendakwah tidak bisa ditangkap dengan baik. Belum lagi jika ada masalah teknis seperti mic yang tiba-tiba trouble atau mati lampu. Dan soal baju gamis seragam yang kadang harus nguras kantong, membuat Roomesa memilih tak bergabung di majelis taklim. Parahnya lagi selain harganya yang lumayan mahal, seragamnya pun tak cuma satu tapi terkadang bisa sampai lima macam seragam gamis. "Ummi lulusan pesantren, pasti sudah banyak ilmu. Jadi Ummi gak mau ke pengajian kan?" celoteh Zakia yang asal menebak. "Mondok di pesantren memang lebih banyak belajar ilmu agama, tapi bukan berarti semua sudah kita tahu, meski sudah lulus sekolah, kita tetap harus belajar, tuntutlah ilmu dari ayunan hingga ke liang lahat, masih ingat-kan pelajaran Zakia tentang hadis menuntut ilmu?" jelas Roomesa. "Ehm, Jum'at depan Ummi ajak Zakia ke pengajian deh," Lanjut Roomesa. "Janji ya Umm?" ujar Zakia dengan bola mata yang melirik ke Umminya. "Insya Allah," *** NLy *** "Permisi," "Eh, Nak Rayyan. Silahkan," Ummi Roomesa menuju teras mempersilahkan Rayyan duduk. "Ini tante, mau laundry pakaiannya mama." Rayyan menyodorkan sekantong pakaian kotor milik bu Fauziah. "Oh ini, ini besok baru selesai, soalnya lagi ramai, banyak antrian." "Ah gak pa pa, tante." "Oh ya, Rayyan sudah punya SIM?" tanya Ummi Roomesa yang teringat kejadian tadi siang. "Tadi siang baru aja SIM A dan C saya selesai, setelah melewati beberapa tes akhirnya bisa dapat lisensi bisa mengemudi," jelas Rayyan. "Tapi, kan Rayyan baru saja lulus SMP. Memang cukup umur?" selidik Roomesa. "Kalau dari tanggal lahir sekarang saya sudah tujuh belas tahun. Maklum pernah gak naik kelas di SD sama SMP karena malas ke sekolah" Ujar Rayyan tersipu malu, " Ehm, tapi muka babyface,kok," lanjut Rayyan tertawa memuji diri sendiri. "Ehm, gitu," Ummi Roomesa ikut terseyum mendengar Rayyan memuji diri. "Mamamu tadi khawatir banget, kok pulangnya lama sih?" "Mau gimana lagi, kirain cuma sebentar eh tahu - tahunnya banyak antrian, ngurus SIM kan prosesnya emang gitu," sahut remaja berwajah charming itu. "Lain kali kasih kabar biar mamamu gak khawatir," saran Ummi Roomesa. "Iya, tante. Saya balik dulu," Pamit Rayyan. *** Sekantong pakaian yang sudah bersih milik Bu Fauziah sudah siap diantar ke rumahnya. Kali ini dia yang akan mengantarkannya sendiri, ingin rasanya Roomesa meluapkan semua amarah untuk Bu Fauziah yang selama ini selalu menyudutkannya. Ujung jari Roomesa menekan bel rumah tetangganya itu, tak lama kemudian Bu Fauziah muncul. "Assalamu'alaikum, Bu ini sudah selesai," salam Roomesa lalu menyodorkan sebuah nota laundry. "Loh, kok kamu yang laundry sih? mana mahal lagi," Bu Fauziah bersungut-sungut sambil melihat nominal rupiah yang harus dibayar. "Rayyan yang antar sendiri. Itu ekspress loh, jadi harganya special," ucap Ummi Zidan datar. "Loh saya nyuruh Rayyan ke tempat laundry yang lebih besar pasti lebih canggih peralatannya dan pelayanannya lebih prima," pongah Bu Fauziah. "Yaelah Bu, ini aja bilang mahal. Ngapain mau ke tempat laundry yang lebih besar dan servisnya lebih bagus, pasti tau dong harganya tentu lebih mahal," tantang Romeesa. Bu Fauziah menganga melihat Roomesa yang ada dihadapannya, dia merasa ada yang aneh dengan wanita yang selama ini selalu sabar dan tidak pernah ngomong ketus jika berhadapan dengannya. "Kok, diam ajah?" tegur Roomesa, "Eh Roomesa, kamu lagi dapat ya? jutek amat dari tadi!" "Lagi sensi aja, pengen makan orang," Roomesa melotot, mengingat semua omongan Bu Fauziah meremehkan dirinya. Apalagi kejadian tadi siang, seolah menyudutkan Roomesa dan anak-anak nya yang menumpang pada mobil Rayyan yang katanya belum memiliki SIM, padahal hari itu juga SIM Rayyan sudah keluar. "Ih, kesambet kali ni orang, ya sudah tunggu sini. Saya ambil dompet dulu." Bu Fauziah kembali ke dalam rumah mengambil dompet. "Ya sudah buruan, saya tunggu," ketus Roomesa, dalam hati dia tertawa geli melihat Bu Fauziah yang jadi bingung melihat dirinya yang tak ramah seperti biasa. Tak lama kemudian Bu Fauziah kembali dengan membawa dompet. "Nih, cukup kan?" Bu Fauziah menyodorkan beberapa lembar rupiah ke tangan Roomesa. "Kurang, nih. Katanya orang kaya, tapi laundry ditempatku saja bayarnya kurang," keluh Roomesa menghitung lembaran rupiah di tangannya. "Ih, kurang lima belas ribu doang," decih Bu Fauziah. "Kok, doang sih? Kalo kurang lima belas ribu, saya gak dapat untung. Coba cek lagi dompetnya sapa tau masih ada nyelip," mata Roomesa melirik ke dompet Bu Fauziah. "Nih, lihat dah kosong!" dompetnya di buka lebar lalu dibolak - balik hingga terceceran uang koin di lantai. Rasanya ingin terbahak-bahak telah meluluhlantakkan kepongahan tetangganya tapi sebisa mungkin menahan tawanya. "Ya udah, berarti ada utang lima belas ribu sama saya ya? catet loh!" tekan Roomesa. "Apa?" Bu Fauziah seakan tak percaya omongan Roomesa. "Masa iya saya ngutang ke orang yang rumahnya ngontrak!" "Ya sudah gak apa - apa, saya ikhlasin saja," ucapnya pasrah. Andai bukan karena kebaikan Rayyan anaknya, Roomesa akan tetap ngotot meminta haknya. "Gitu, dong!" Bu Fauziah sumringah, memamerkan gigi - giginya yang tak lagi lengkap. "Anggap aja, sedekah!" celetuk Roomesa. Sombong kepada orang yang sombong adalah sedekah,"batinnya. "Sedekah, kok, bilang - bilang." balas Bu Fauziah lagi. "Ya, kalo gak bilang nanti jadinya utang, jadi perlu dipertegas." "Sekarang sudah jelas kan? tunggu apa lagi?" "Nunggu kata te-ri-ma ka-sih!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD