Jangan sedih, Ummul mukminin Aisyah Radiyallahuanhu juga tidak punya anak

1070 Words
Jangan sedih, Ummul mukminin Aisyah Radiyallahuanhu juga tidak punya anak, tapi tetap jadi wanita yang mulia Sebuah baliho besar terpasang kokoh di pinggir jalan raya, isinya tentang kedatangan Ustadz yang lagi viral akan membawa materi di pengajian jumat sore ini. Biasanya para ulama setempat juga akan hadir mendampingi. Ba'da sholat jumat mesjid sudah penuh dengan jamaah yang ingin mengikuti kajian tersebut, hampir tak ada lagi ruang kosong. Sementara itu Zakia yang baru saja pulang sekolah sudah tak sabar ingin ke mesjid besar tempat dimana kajian itu diadakan. "Ba'da ashar kita ke sana ya?" ucap Roomesa. "Kenapa gak sekarang aja Umm?" tanya Zakia kembali. "Zakia belum siang kan? abis tuh istirahat dulu," pinta Romeesa pada anaknya. Zakia hanya menurut meski raut mukanya cemberut. *** "Wah, pada mau kemana?" Sekumpulan ibu - ibu sedang asyik mengobrol di bale - bale depan rumah Bu Fauziah. "Mau ke mesjid jami' ada kajian di sana," jawab Romeesa. "Iya, lagi ada ustadz yang lagi video ceramahnya viral di mana - mana." "Iya, pasti ramai banget," jawab Ummu Roomesa, meskipun sebenarnya kajian seperti ini kurang nyaman buat Romeesa yang lebih suka menonton live streamingnya tapi susah terlanjur janji dengan Zakia. "Tumben ke pengajian, mau kajian atau mau lihat ustadznya," celetuk Bu Fauziah. Romeesa hanya menghela nafas, tanpa merespon Bu Fauziah. "Kali - kali aja dapat jodoh," tambah Bu Fauziah dibarengi tawa ibu - ibu yang ada di situ, spontan Romeesa menoleh dengan tatapan tak suka tanpa sepatah kata. Ekspresi itu cukup sukses membuat bunkam dan kikuk Bu Fauziah dan ibu - ibu lainnya. "Maaf, Romeesa. Cuma bercanda, jangan dimasukkan ke hati," ucap Bu Fauziah dengan senyuman terpaksa. "Gak usah minta maaf, Bu! palingan juga besok omongannya bikin nyesek lagi. Ingat Bu, semua perbuatan pasti ada balasannya," kesal Roomesa. Muka Bu Fauziah memerah menahan malu, akibat ditegur Romeesa depan umum. " Hus, sudah ke pengajian sana," usir Bu Fauziah yang menjadi salah tingkah. Dengan kondisinya yang sekarang jika menyangkut persoalan jodoh, Romeesa akan lebih sensitif mengingat statusnya yang single parent. Apalagi ditegur seperti tadi, tentu membuatnya jadi tersinggung. Roomesa menarik tangan Zakia menjauh dari sekumpulan perempuan berumur itu. Tak lama kemudian Rayyan keluar dari rumah dengan menggunakan baju koko, dibelakangnya menyusul Zidan yang sudah rapi. "Loh, mau ke mana?" tanya Bu Fauziah. "Ada kajian Mah, di mesjid jami'," jawab Zidan menyalami mamanya lalu menciumnya punggung tangannya. "Kok, tumben sih," Bu Fauziah masih setengah tak percaya dengan perubahan Rayyan, memperhatikan penampilan Rayyan dari atas sampai bawah. "Kamu gak apa - apa kan? masih sadarkan?" ucap Bu Fauziah tak percaya, anaknya yang biasa hanya menghabiskan dengan bermain game di smartphonenya kini mulai ikut kajian. " Permisi dulu Mah, permisi ibu - ibu " pamit Rayyan, menelungkupkan kedua tangannya di d**a. " Assalamu'alaikum, mari Bu - ibu," pamit Zidan juga. "Eh, Bu Fauziah. Liat tuh, makanya jangan suka jahil sama Umminya Zidan," celetuk Bu Fahkriah. "Maksudnya apa ya?" Bu Fauziah nge-gas. "Loh, liat sendiri kan? sejak Rayyan bergaul dengan Zidan, Rayyan ada perubahan saya lihat. Sudah rajin ke mesjid, Bapaknya kalah tuh!" Bu Fauziah terdiam sejenak mendengar penuturan Bu Fakhriah, "Benar juga," batin Bu Fauziah. "Alah, paling Zidan yang ada maunya. Biar bisa nebeng ke sekolah bareng Rayyan," ucap Bu Fauziah, untuk menolak kebenaran ada saja alasannya. Tidak mau jika merasa tetangganya itu lebih baik dibanding dirinya. "Memangnya Rayyan lulus SMK Penerbangan? Rayyan sendiri loh yang ngaku gak lulus, malah Zidan yang lulus. Emang mujur tuh anak," tambah Bu Fakhriah, membuat Bu Fauziah jadi meradang. "Pasti Rayyan lulus di gelombang kedua ini, "Pulang dulu ah, di sini gerah," ketus Bu Fauziah, lalu langsung pulang ke rumah. "Yuk, Bu ibu kita bubar ajah, mending kita ke kajian juga dari pada nongkrong unfaedah di sini," ajak Bu Fakhriah. *** "Assalamu'alaikum, Ukhty!" seorang wanita berpakaian warna gelap menyapa Romeesa. "Waalaikumsalam, apa kabar?" Romeesa berusaha menggali ingatannya, dia tak ingat perempuan yang seumur dengannya ini. Romeesa menanyakan kabar agar tak ketahuan bahwa dia benar - benar lupa siapa yang di depannya ini. "Alhamdulillah, baik." jawab perempuan itu, "Qadarullah, kebetulan ketemu di sini. setelah lulus dari pondok baru sekarang bertemu kembali," "Jamilah, kamu gak berubah ya? selalu tetap ceria." Romeesa sudah ingat, temannya waktu mondok dulu. Perubahan penampilan Jamilah yang makin cantik dan bersih membuat Romeesa lupa sesaat. "Sekarang tinggal di mana?" tanya Jamilah. "Dekat dari sini, di kompleks depan. Bisa jalan kaki kok, kapan - kapan datang ke rumah ya," ajak Romeesa. "Insya Allah, kalau ada waktu. Ngomong - ngomong anak kamu sudah berapa?" " Aku single parent sekarang, anak sudah dua, yang sulung putra, dan yang putri ini, masih SD," Romeesa memeluk Zakia yang berdiri di sampingnya. "Kamu sendiri sudah menikah? punya anak berapa?" tanya Romeesa kembali. "Ehm, saya - saya juga sudah menikah," Jamilah menjawab ragu dan terbata, Romeesa mengerutkan kening merasa aneh dengan temannya sekamarnya waktu mondok dulu. "Kamu kenapa? Ada masalah?" Romeesa mencoba bersimpati, mungkin saja temannya ini butuh tempat curhat. "Ah gak pa pa, Ukhty," netra Jamilah berembun, mencoba mengalihkan perhatian ke Zakia. "Zakia sudah kelas berapa?" "Sudah kelas 5 SD," jawab Zakia. "Masya Allah, semoga jadi anak soleh ya, Nak." Jamilah mengelus kepala Zakia. "Kita duduk di sana, yuk sambil menunggu kajian di mulai," ajak Romeesa, lalu mereka ke teras mesjid yang masih lowong. "Tinggal di mana sekarang?" tanya Romeesa terseyum hangat. "Sekarang tinggal di dalam pesantren, saya dan suami baru saja pulang dari Turki setelah suami menyelesaikan study S2-nya." jelas Jamilah. "Masya Allah, jadi selama ini kamu tinggal di Turki?" " Iya, Alhamdulillah. Kurang lebih tiga tahun tinggal di sana," "Trus, anak kamu?" "Empat tahun menikah, kami belum dikaruniai anak." "Jangan sedih, Ummul mukminin Aisyah Radiyallahuanhu juga tidak punya anak, tapi tetap jadi wanita yang mulia," Romeesa bersimpati, dengan memeluk pundak Jamilah. Dia tahu betul rasanya menginginkan seorang anak yang lahir dari rahim sendiri. "Syukron, Ukhty." Jamilah mencoba menahan air matanya. Matahari mulai menarik cahayanya, para jamaah mulai pulang, sebagian lagi menunggu waktu sholat maghrib. Romeesa dan Zakia mempercepat langkahnya, agar bisa sampai di rumah sebelum adzan maghrib. Sementara Rayyan dan Zidan entah dimana posisinya. Dari kejauhan, Romeesa melihat sesosok pria yang lama tak pernah lagi dilihatnya selama kurang lebih empat tahun sedang menyetir mobil perlahan diantara para pejalan kaki yang baru saja bubar, dan dia tidak sendiri. Ada seseorang wanita yang duduk disampingnya sedang sibuk menatap bendahara pipih di tangannya. Karena kacanya gelap hingga tak keliatan jelas wajahnya. " Ummi, tadi aku sepertinya lihat Ayah!" celoteh Zakia. "Ah mungkin kamu salah lihat," jawab Romeesa. "Tapi, Umm, "
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD