Seragam Gamis Pengajian

1188 Words
Ummi Roomesa dan Zakia baru saja memasuki rumah Bu RT, dengan setelan gamis couple Ibu anak berwarna biru navy dengan jilbab lebar berwarna senada, makin memancarkan aura cantik kedua wanita beda usia tersebut. Sementara sekumpulan ibu - ibu pengajian sudah datang lebih dulu beberapa menit sebelumnya, dengan kostum seragam berwarna hijau. "Assalamu'alaikum," ucap Romeesa kalem. "Waalaikumsalam," sambut Bu RT, mereka bersalaman dan Roomesa menyelipkan sebuah amplop ditangan hadiah untuk yang sedang dikhitan. "Kok, gak seragam sih, Umminya Zidan?" celetuk Bu Fauziah, yang juga anggota Majelis Taklim. "Maaf, Bu. Saya tidak tahu." jawab Roomesa. "Oh iya, saya lupa. Kamu kan bukan anggota ya?" Ucap Bu Fauziah, mendengar ucapan itu, dia hanya tersenyum kecut tanpa menanggapi entah pertanyaan atau pernyataan tetangganya. "Kalau sudah tahu ngapain nanya lagi?" ketus Bu Fakhriah, yang tidak senang jika ada anggota Majelis taklim yang kurang adab pada orang lain. "Ya, kan cuma nanya," bibir Bu Fauziah mencebik, dan melirik sinis ke Bu Fakhriah. "Nanya juga tau adab kali, jangan asal nyosor tuh lidah, ingat Bu! do'a orang yang terzalimi itu cepat terkabul," tegas Bu Fakhriah. "Kok, jadi situ yang sewot, lagian Roomesa juga gak bakalan mampu beli setelan gamis seragam seperti ini," hina Bu Fauziah. Mendengar hal tersebut perempuan itu tetap bergeming. Telinganya sudah kebal mendengar hinaan dari tetangga terdekatnya. Beberapa orang juga menjadi kesal mendengar ucapan Bu Fauziah yang tak memikirkan perasaan Roomesa, terlebih lagi ada Zakia, anak bungsunya. "Asal tau ya, Bu. Gamis yang dipakai Roomesa itu brand terkenal. Setelan gamis itu hampir sama harganya atau kurang lebih seharga dengan tiga lembar baju seragam ini. Makanya kalo shopping ke butik dong, jangan di grosiran trus. Biar tahu merk atau brand yang bagus!" ketus Bu Fakhriah. Setelan gamis yang digunakan Roomesa memang brand mahal tapi waktu beli itu lagi ada discount jadi bisa dibeli dengan setengah harga dan prinsipnya lebih baik beli yang sedikit mahal tapi berkualitas agar bisa digunakan jangka panjang dari pada punya banyak baju tapi cepat rusak. "Ah, masa sih," Bu Fauziah mencebik, tak mau percaya apa yang diucapkan teman satu Majelisnya barusan. Tapi mendengar hal itu, kepercayaan diri Bu Fauziah langsung merosot jauh ke bawah mendengar penuturan temannya. "Hus, kok pada berisik sih. Ini mau pengajian atau mau ngerumpi? gak enak tau sama Bu RT. Hargai dong tuan rumah, apalagi Bu RT itu baik banget orangnya, loyal sama kita," ucap salah satu anggota Majelis Taklim, membuat semua akhirnya terdiam. Aroma khas kari kambing menyeruak menggoda indra penciuman membuat perut minta segera diisi, tapi pengajian belum juga dimulai. Meski Tuan rumah sudah mempersilahkan menyantap hidangan yang sudah tersedia namun anggota Majelis Taklim ini urung melakukannya. Lebih baik makan setelah tugas selesai. "Apa kita mulai saja pengajiannya? Ini sudah jam berapa? Pak ustadz yang mau ceramah juga pasti punya aktivitas lain, jadi sebaiknya kita mulai pengajian ini," kata salah seorang anggota Majelis taklim, sambil melihat ke jam tangannya. "Tapi, Ketua kan belum datang, siapa yang bisa memimpin kita?" "Mungkin Bu Ketua lagi ada halangan untuk hadir kemari, coba dihubungi dulu atau telpon langsung deh, biar ada kepastian," Tak berselang lama, ada pesan dari Ketua Majelis taklim." Katanya lagi kurang sehat, jadi beliau memohon maaf tidak bisa hadir," "Loh, jadi gimana dong? siapa yang bisa memimpin pengajian?" ucap Bu Fauziah bingung, para anggota saling beradu pandang berharap satu sama lain. Belum ada yang terbiasa menggantikan Bu Ketua menggantikan memandu pengajian ini. "Bagaimana jika minta tolong sama Umminya Zidan?" Ucap Bu RT meminta persetujuan pada anggota Majelis taklim yang hadir. Para anggota Majelis yang hadir ada yang mengangguk, beberapa orang meragukan. Bu Fauziah mencebik, lirikan matanya tak senang mendengar pertanyaan Bu RT barusan. "Yakin, Bu RT?" celetuk Bu Fauziah, memandang ke arah Roomesa dengan melirik remeh. "Kalo gak setuju, gimana kalo Bu Fauziah saja yang memimpin, toh tinggal dibacakan? yang penting jangan cuma baca juz amma," ledek Bu Fakhriah, membuat Bu Fauziah gelagapan. "Insya Allah, kita tanya dulu kesediaan beliau. Bagaimana Umminya Zidan?" tanya Bu RT penuh harap. "Sebaiknya yang lebih berpengalaman, Bu. Apalagi saya bukan anggota Majelis Taklim ini," Romeesa menolak halus. "Saya sering dengar saat Ummi Zidan tadarus, suaranya enak, tajwid dan makhraj hurufnya juga pas, Jadi saya pikir bisalah memimpin Majelis Taklim ini untuk baca beberapa surah, juga sholawat, hari ini saja, Mau ya Umm," pinta Bu RT berharap perempuan itu mau mengabulkan permintaannya, apalagi matahari semakin tinggi. "Ayolah, Ummi Zidan," suara - suara sumbang terdengar jelas, mau tak mau Romeesa mengiyakan permintaan Bu RT. Diawali dengan Taawuz dan Basmalah, lanjut membaca Q.S An Nahl, lantunan surat yang di bacanya membuat suasana menjadi semakin sakral, mereka terpukau mendengar suara Ummi Roomesa. Satu persatu ayat yang dibacanya, diikuti oleh anggota Majelis Taklim yang lain. *** Pak ustadz yang membawakan ceramah pada hari itu pun kagum dengan Majelis Taklim, tak lupa meriwayatkan sebuah hadits dari Muslim dan Abu Dawud, "Ada empat fadhilah ta'lim wa ta'allum. Pertama mendapatkan sakinah atau ketenangan jiwa. Kedua dicucuri rahmat Allah SWT. Ketiga dikerumuni para malaikat. keempat dibangggakan Allah SWT di depan majelis para malaikat," urai Pak Ustadz dengan sangat jelas. Hadist yang disampaikan Pak Ustadz ini menyentuh hati Romeesa untuk ikut taklim, namun lagi-lagi persoalan seragam membuat semangatnya kadang ciut, belum lagi nyinyiran yang akan diterima, mengingat statusnya yang single parent, sering mendapat cibiran dari mulut - mulut yang tak berakhlaq. "Ya Allah mudahkanlah kaki hamba dan anak-anak hamba melangkah ke Majelis-majelis Ilmu," do'a wanita berparas cantik itu dalam hati. Tak terasa waktu bergulir cepat, hingga Ustadz yang membawa tauziah pada hari itu akan segera selesai. "Hendaklah menutup majelis dengan membaca sholawat Nabi, Allahumma Shalli Ala Muhammad wa AlaaliiMuhammad. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh." Pak ustadz mengakhiri tauziah. *** "Alhamdulillah, akhirnya semua berjalan sesuai rencana, syukron Ummu Zidan." Bu RT merangkul Roomesa, sangat berterima kasih karena sudah membantu Majelis Taklim tadi. "Alhamdulillah, saya juga senang semua berjalan lancar." "Ayo, Bu - Ibu silahkan dicicipi dulu gulai kambingnya, silakan - silakan." Bu RT mempersilahkan mereka menyantap menu siang itu. Setelah pengajian ini, Bu Fauziah termenung. Tidak menyangka jika tetangga yang sering diremehkannya itu jago ngaji. Namun bukan Bu Fauziah namanya jika mulutnya tak berucap tajam. "Zakia, makan yang banyak ya. Biar tambah pintar dan sholelah," Bu Fakhriah mengusap kepala anak perempuan itu dengan tulus, putri kecil Romeesa pun membalas dengan senyuman manisnya. "Ya, kapan lagi bisa makan enak. Iyakan Zakia?" celetuk tetangga paling cerewet itu. Anak perempuan itu hanya tersenyum getir, tanpa menjawab. "Huss, gak baik ngomong gitu, apalagi sama anak - anak!" Bu Fakhriah kembali mengingatkan. "Bu Ziah, kalo gak salah liat ya, kemarin saya lihat Lala di mesjid jami'. Waktu kajian bersama ustadz yang viral itu," sela seorang tamu di acara khitanan Bu RT. "Uhhuk - huk- huk," Bu Fauziah terbatuk nyaris keselek daging kambing mendengar nama Lala hingga jadi pusat perhatian tamu yang hadir. "Lala? siapa Lala? saya baru dengar," bisik seorang tetangga yang belum lama tinggal di kompleks kepada Roomesa. Dia hanya menggeleng, sebab Ummi Zidan pun baru mendengar nama itu. "Lala itu, anak perempuan Bu Ziah yang sudah lama tak ada kabar. Katanya baru pulang dari luar negeri bersama suaminya," beber Bu Fakhriah setengah berbisik. Romeesa menahan nafas. Mungkinkah yang dimaksud Jamila, teman seperjuangan saat mondok dulu, "ah mungkin saja kebetulan," lirih wanita bermata sendu itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD