Istri Kedua

1554 Words
Beberapa tahun yang lalu. Lala, begitu nama itu disebut Bu Fauziah menyibak kembali memori indah bersama putri kecilnya. Kenangan yang manis berangsur-angsur menjadi pahit saat anak perempuannya mulai beranjak dewasa dan memiliki pilihan sendiri. "Ma, Lala akan menikah." "Dengan siapa? Kapan mau datang melamar?" "Lala maunya sederhana saja, tak perlu ada pesta meriah," jawab Lala ragu. "Kenapa harus begitu, Mama dan Papa tak kekurangan biaya untuk membuat pesta pernikahan, apalagi kamu anak perempuan mama satu - satunya." "Lala, maunya sederhana saja. Tak perlu ada tamu undangan, cukup keluarga kita saja dan pegawai KUA." "Lelaki macam apa yang akan menikahimu? sampai harus menyembunyikan pernikahan." " Lala sudah terlanjur - ." "Terlanjur apa?, jangan bilang kamu melakukan perbuatan haram! bukan cuma dosa dan rugi mama menyekolahkanmu di pondok yang mahal tapi kelakuanmu!" geram Bu Fauziah. "Tidak, ma. Saya tidak pernah melakukan perbuatan haram," Lala tersedu. "Trus?" "Aku sudah terlanjur cinta," Lala menunduk tak mau menatap kedua mata perempuan yang sudah melahirkannya. "Cih, cinta. Cinta juga pakai logika, suruh dia datang ke rumah, melamar baik-baik, gentle dong jadi laki - laki." Decihnya. Mama dan Papa harus tahu dulu bibit, bebet dan bobotnya. Kalau cocok dengan keluarga kita, baru bisa diterima," tambah Mama Lala. "Dari keluarga baik-baik, kok," bela Lala. "Kalau memang dari keluarga terhormat? lalu kenapa harus nikah sembunyi-sembunyi?" protes wanita paruh baya itu. "Kami ingin sederhana saja, tak perlu mewah. Sayang kan duitnya?" "Ah alasan macam itu, kita bukan orang miskin, kalau cuma resepsi pernikahan tak akan membuat harta berkurang, mama papa cari uang untuk kebutuhanmu dan adikmu," imbuh Bu Fauziah, tak habis pikir dengan jalan pikiran anak gadisnya. Lala tertunduk. "Maafin Lala, Mah. Tapi aku akan jadi istri kedua," pengakuan Lala membuat mamanya tersentak. "Jangan Bodoh!" Geram Bu Fauziah. "Insya Allah, dia bisa adil!" sanggah putri kesayangannya. "Kamu itu nyaris sempurna, cantik, pintar dan terpelajar. Dimana kau taroh otakmu? istri kedua atau simpanan!" Hardik Bu Fauziah. "Mama!" pekik Lala, tak terima dituduh jadi wanita simpanan. "Lelaki macam apa yang membuatmu buta! mana ada lelaki bisa adil, dan tak mungkin ada wanita yang mau berbagi suami, omong kosong itu!" Bu Fauziah makin meradang, anak kesayangan yang digadang-gadang menjadi kebanggaan keluarga malah memiliki jalan pikiran yang berbeda. Air mata Lala berjatuhan. "Buka mata kamu, ada banyak pria lajang dan mapan yang mau meminangmu. Jangan karena nafsu sesaat kamu hancurkan masa depanmu dan membuat rumah tangga wanita lain hancur," nada suara Bu Fauziah turun satu oktaf, mencoba merendahkan suara agar anaknya bisa berpikir tenang dan realistis. Lala, diusia mudanya sukses dengan menjalankan bisnis investasi, hingga tak bergantung lagi kepada orang tuanya. Kelebihan finansial membawa pikirannya mudah mendapatkan segalanya, termasuk pria yang diinginkannya sejak masih kuliah. Cinta benar-benar tak mampu membuatnya berpikir realistis. "Apa istri pertamanya setuju?" Bu Fauziah penasaran. "Belum tahu, Ma." "Kamu sudah pernah bertemu?" Lala menggeleng "Sudah punya anak?" Gadis itu mengangguk pelan. "Astagfirullah, Bagaimana kamu bisa tega menghacurkan sebuah keluarga yang utuh," Berang Wanita paruh baya itu. "Poligami dibolehkan dalam agama," sanggah Lala. "Jangan menjual agama demi keegoisanmu!, Lelaki mana yang bisa adil, sekaya apapun dia pasti akan condong ke salah satunya." "Tapi, ma - " "Sudah! kembali ke kamarmu, jangan pernah berpikir untuk menjadi istri kedua!" tegas Bu Fauziah. "Otakmu pasti sudah dicuci oleh lelaki b******k itu!" Keesokan harinya lemari Lala sudah hampir kosong, ada sepucuk surat di atas meja rias, Lala tahu betul watak keras kedua orang tuanya. Mau tak mau dia nekat meninggalkan rumah demi lelaki idamannya sejak dulu, meski akan berstatus istri muda. [ Mama Papa, Maafkan Lala, aku memilih keputusan yang berat untuk diriku sendiri, semoga kalian mengerti.] Semenjak Lala kabur dari rumah, Papa Lala kebanyakan diam, pada Rayyan lah harapan mereka, kelak bisa dibanggakan oleh Bu Fauziah dan suami. *** Lala berdiri di depan sebuah rumah minimalis. "Tittt," Bunyi Bel meraung dalam rumah. Seorang lelaki membuka pintu, keningnya mengkerut melihat kedatangan Lala dengan sebuah koper. "Mas, aku kabur dari rumah. Orang tuaku pasti tak merestui hubungan ini," Lala menghempaskan dirinya ke sofa empuk di ruang tengah, lalu meraih remot dan mematikan TV LED berukuran 32 inci. Di atasnya tergantung lampu hias yang lumayan mewah, beberapa lukisan abstrak tergantung menghiasi dinding berwarna putih menambah kesan mewah rumah itu. "Kamu tak perlu kabur seperti ini, apa kata orang nanti? pikirkan perasaan orang tuamu," ucap Lelaki idaman Lala yang kurang setuju dengan keputusan kekasihnya. "Sudah kukatakan mereka tak akan memberikan restu," ucap perempuan itu dengan suara manja. "Kamu bisa bersabar sedikit hingga istriku menyetujui aku menikah lagi." "Bagaimana jika istrimu menolak?" "Dia akan setuju." "Sudahlah, ini sudah sering kita bahas berkali - kali. Aku tidak bisa bersabar lagi, segera sahkan hubungan kita walau hanya sah secara agama." Matanya tak berkedip menatap lelaki di hadapannya, dia sedang dimabuk asmara hingga mematahkan logikanya. Cinta yang sudah tumbuh dan terjaga dari dulu, sebelum lelaki itu dimiliki perempuan lain. Kini dia berkesempatan memilikinya meski harus menjadi yang kedua. Setali tiga uang dengan lelaki itu, tak kuasa menolak cinta yang ditawarkan gadis muda di depan hadapannya. Lala cantik, muda dan menggairahkan. Apalagi di tengah kondisi ekonominya yang memburuk, usahanya bangkrut, aset terjual dan rumah disita oleh Bank. Sementara istri dan anak - anaknya tinggal di rumah kontrakan yang sempit. Disaat kondisi yang membuatnya frustasi, Lala datang membawa angin sejuk. Bukan saja membantu masalah finansial namun juga menawarkan ketenangan batin. Namun Lala tak ingin berbuat dosa, sebisa mungkin wanita itu menjaga kesuciannya sesuci cintanya yang terjaga pada pria berstatus suami wanita lain. *** Beberapa saksi dan penghulu sudah hadir, namun dari luar rumah minimalis itu tak tampak akan ada sebuah acara sakral berlangsung di dalamnya, yang membuat haram menjadi halal, yang terlarang menjadi ibadah namun di sisi lain menghacurkan hati wanita lain. "Sah?" tanya penghulu. "Sah!" kompak semua yang berada di dalam rumah. "Baarakallahu laka wa baaraka ‘alaika wa jama’a bainakuma fi khayrin, Semoga Allah memberikan keberkahan padamu dan mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan." Semua menengadahkan telapak tangan, berdoa. Doa untuk pengantin. Ikrar ijab kabul telah diucapkan, kedua mempelai tersenyum lega dan bahagia meski hanya nasi tumpeng dan kue pengantin berwarna putih yang dihiasi sepasang merpati. Lelaki yang berstatus suami Lala sekarang tengah dimabuk cinta hingga hampir lupa tanggung jawabnya. "Aku balik ke rumah dulu, sudah seminggu aku tak memberi kabar. Jangan posting apapun di sosmed," perintahnya pada Lala. "Tapi jangan lama-lama, aku pasti kangen," nada manja keluar dari bibirnya yang ranum merona tanpa lipstik, siapa yang bisa menolak pesona istri mudanya. Lengannya melingkar di pinggang suaminya. "Pasti, sayang. Aku juga pasti kangen, tapi kamu gak mau kan aku jadi orang yang tak bertanggung jawab? Ada dua orang anak yang harus kunafkahi." "Istrimu bagaimana?" "Sudah, jangan dibahas. Semua akan baik - baik saja." "Kamu masih tahu pin nya kan?" Lala menyodorkan sebuah kartu ATM. "Masih, terima kasih sudah banyak membantuku, I love you," kecupan hangat mendarat di kening wanita yang berstatus istri kedua itu. "I Love you, too." Jawabnya manja. *** Sebuah mobil baru saja terparkir di depan rumah kontrakan kecil. Melihat ayahnya turun dari mobil, anak - anaknya berlari menjemput lelaki itu, si bungsu memeluk ayahnya dengan dekapan erat. Sementara Putra sulungnya bergelayut manja di lengannya. Tatapan aneh istrinya di depan pintu membuatnya kikuk, namun sebisa mungkin bertingkah normal seperti biasa. Namun naluri seorang perempuan sangat peka, tak perlu bertanya tapi hatinya merasakan perih. Anak-anaknya sibuk dengan mainan baru masing-masing, sementara dirinya bolak-balik mengangkut belanjaan yang masih ada di dalam bagasi mobil. Kebutuhan sembako untuk sebulan, pakaian baru untuk istri dan anak anaknya juga membelikan istrinya HP seri terbaru. "Kamu kerja apa?" "Aku bekerja di bagian ekspor impor hasil pertanian," sambil mengusap keringat di dahinya, lelaki itu tentu berbohong. "Lokasinya di luar kota jadi sekali seminggu baru bisa pulang," akunya menambah kebohongan. "Bagaimana kalau kami ikut, kita masih bisa tinggal bersama jadi tidak perlu repot - repot pulang setiap minggu?" Berpikir sejenak untuk menjawab pertanyaan istri pertamanya. "Lokasinya tidak nyaman untuk anak - anak, sekolah di sana juga jauh," Lelaki itu berdalih untuk menutupi hubungan rahasianya. "Ayah, pinjam HP dong?" pinta anaknya menyodorkan HP ayahnya untuk membuka password. "Tumben, pake password?" Ucap istri pertamanya makin curiga. "Banyak rahasia perusahaan, jadi lebih baik pakai pin." jawabnya. Dua hari berada di rumah kontrakan istri pertamanya, kini dia harus kembali ke rumah Lala. Rasa cintanya pada keluarganya tak berkurang sedikit pun, kondisi ekonominya yang sulit membuatnya terjebak pada situasi sekarang. Demi bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, dia rela membagi raga,waktu dan kasih sayang. Ditatapnya si istri, rasa bersalah pada wanita yang selama ini sabar mendampinginya dari nol hingga bisa sukses dan akhirnya jatuh kembali, perempuan ini tetap setia melewati bersama cobaan yang menderanya, namun di sisi lain kebutuhan hidup yang mendesaknya menerima perempuan lain di sisinya. "Ayah, aku ikut," rengek si bungsu. "Ayah harus kerja," sahut Ayah, menatap anak - anaknya. "Salim dulu sama Ayah, do'akan biar selamat sampai tujuan." "Perasaanku gak enak, kamu hati - hati!" "Insya Allah, saya kabari kalo sudah sampe." "Oh ya, ini terakhir kali kamu lihat aku dan anak - anak jika kamu berbuat curang di luar sana," ancam istrinya. "Tentu saja tidak, ini semua untuk kepentingan kamu dan anak-anak," jawabnya dengan perasaan cemas. "Sepanjang jalan jangan lupa berdzikir biar jauh dari marabahaya dan - ," "dan apa?" "Godaan bermaksiat," "Do'ain terus ya, semoga terhindar dari semua itu." Ucapnya mengecup kening istrinya, sama yang dilakukan pada Lala. Namun istri pertamanya mulai bersikap dingin, naluri perempuannya tak bisa menolak jika sesuatu sudah terjadi pada suaminya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD