Arena Balap

1016 Words
Jingga benar-benar datang ke arena balap yang dikatakan oleh Chiko dan Aurora. Bukan ingin bertemu dengan Biru sebenarnya namun memang Jingga kangen Dewa. Dewa adalah sahabatnya. Sama dengan Chiko yang kenal sudah sejak SMP. Namun karena Jingga memutuskan home schooling jadinya Jingga hanya bertemu dengan keduanya saat jam les saja. “Jingga, lo gak apa-apa?” tanya Aurora ketika gadis dengan tas selempang putih itu melihat Jingga yang memegangi kepalanya. Jingga berpikir ini akan reda setelah meminum obat. Namun ternyata tidak. Jinggga masih merasakan pusing itu sampai ia berada di arena balap kedua sahabatnya dan Biru tentunya. Ah, memang Jingga lemah orangnya. Tidak cuci darah sekali saja sudah sakit. Jingga menggeleng. “Gue nggak apa-apa.” “Lo yakin?” tanya Aurora yang merasa kawatir pada keadaan Jingga. “Lo sebenarnya sakit apa sih?” “Nanti juga lo tahu.” “Lo sakit parah ya?” tanya Aurora pelan-pelan. “Hm ya sepertinya. Gue juga nggak mau kayak gini,” ucap Jingga terkekeh. “Lemah.” “Lo gak usah kayak gitu. Semua hal yang ada di hidup manusia sesuai kadar kekuatan manusianya. Tuhan memberikan lo sakit juga pasti karena Tuhan yakin lo gadis kuat,” ujar Aurora tersenyum. “Kalau lo sakit, gak apa-apa kok lo pulang duluan.” “Gue nggak apa-apa kok.” “Tapi lo pucet,” ujar Aurora. “Gue mau ketemu temen juga di sini. Nanti gue pulang bareng dia,” ujar Jingga lagi. Jujur saja Jingga benar-benar malas bertemu dengan Chiko, namun Jingga harus ke sana karena janjinya pada cowok yang kini terlihat tengah duduk di atas motor dengan beberapa orang yang ada di sana yang ia ketahui adalah teman-temannya. Chiko menoleh ke arah Jingga membuat gadis dengan setelan celana jeans denim dan kemeja berwarna pink itu menutup wajahnya. Namun meski Jingga sudah menutup wajahnya tetap saja penglihatan Chiko benar-benar tajam. Ah, lelaki itu menyebalkan. Chiko menghampiri Jingga membuat cewek itu terlonjak baru saja mau sembunyi sudah ketahuan. “Akhirnya datang juga ya lo,” ucap Chiko menarik tangan Jingga untuk mengikuti langkah kakinya. “EH?!” Bukan Jingga yang kaget namun Aurora yang belum tahu apa-apa itu yang menatap ke arah Chiko yang sudah menarik tangan Jingga. Aurora memaksa Chiko untuk melepaskan cengkraman itu. “Lo bisa lembut dikit gak sih ke cewek?” “Lo siapa ngatur-ngatur gue?” tanya Chiko sengit. “Gue sahabatnya Jingga. Mau apa lo?” tanya Aurora menantang. “Sejak kapan Jingga punya sahabat cewek? Dia itu sahabatnya Bi-aww!” Chiko mengaduh kesakitan ketika merasakan kakinya diinjak oleh Jingga. “Lo apa-apaan sih!” “Mau ke markas kan Chik?” tanya Jingga mengalihkan perhatian Aurora dan Chiko dari sebutan nama Biru. “Ayo ke sana!” “Tunggu! Ga, ini siapa lo?” tanya Aurora yang bingung.”Jelasin ke gue dulu.” “Ini Chiko teman pas les waktu SMP gue. Kenalin dulu,” titah Jingga membuat Aurora menoleh ke arah Chiko tanpa minat. “Ini Aurora. Teman gue di SMA,” ujar Jingga membuat Chiko hanya menatap tanpa berniat berjabat tangan. Jingga hanya menatap kedua manusia itu dengan tatapan heran. Mereka pada kenapa/ harusnya kan rang yang belum kenal pastinya berjabat tangan. Ini kenapa berbeda? “Kalian kenapa tidak berjabat tangan?” tanya Jingga bingung. “Malas.” Baik Aurora dan Chiko menjawabnya dengan ogah-ogahan. Jingga menatap keduanya bingung. Niatnya bertemu dengan Biru atau Dewa jadi gagal karena Chiko s****n ini. Tanpa lama-lama lagi, Jingga bergegas pergi dari sana membuat Aurora dan Chiko serempak menarik kedua tangannya. “Mau ke mana lo?” tanya Chiko. “Mau kabur lo? Inget ya, lo ke sini itu harus jadi pesuruh gue bukan kelayapan!” “Gue juga mau ke Dewa bukan cuma mau ke lo,” ucap Jingga. Aurora yang tidak tahu menahu soal ini hanya menatap keduanya bingung. Mereka sebenarnya selain berhubungan layaknya sahabat memangnya ada perasaan apalagi? “Dewa itu siapa woy?!” ketus Aurora setengah berteriak. “Apaan sih lo?!” ketus Chiko dengan melirik tajam ke arah Aurora. “Sahabat gue,” jawab Jingga dengan halus. “Lo mau ke pacar lo kan? Ya udah sana!” Aurora hampir lupa jika niatnya ke sini adalah untuk menemui Biru yang entah mengapa mau-mau saja diajak ke sini. Bukankah Biru Dengan langkah terburu-buru, Aurora berjalan mengitari arena balap malam ini sendirian hingga ia sudah sampai ke tempat di mana Biru tengah bersiap-siap untuk memulai balap. “BIRU!” Biru menoleh begitu pun dengan teman-temannya. Ia merasa jika ada suara Aurora di sini. Tapi masa iya Aurora berani ke tempat seperti ini sendirian? “Kamu kenapa di sini?” tanya Biru kaget ketika perempuan itu datang dan menghampirinya. “Enggak apa-apa. Aku tahu kamu pasti akan ke sini makanya aku niat buat ke sini. “Oh, sendirian?” tanya Biru menyelidik. “Bareng teman.” “Cowok?” tanya Biru lagi semakin dalam. Pertanyaan Biru sudah tidak biasa bagi Aurora yang sudah mengenalnya lebih lama. “Cewek. Kenapa?” Biru menggeleng. Dia tidak mungkin kan mengatakan hal ini pada Aurora di depan orang yang Biru anggap temannya?  “Kamu diam saja di sini jangan ke mana-mana sampai aku selesai.” Biru memasang helmnya namun dicegah oleh Aurora. “Kenapa?” “Kamu mau ke mana?” tanya Aurora lagi. “Balapan.” “Ha? Balapan? Sejak kapan kamu balapan?” tanya Aurora lagi masih tak percaya. “Kamu jangan ngadi-ngadi ya main kayak gituan!” “Iya sayang.” “Iya apa?” tanya Aurora lagi. “Iya ini terakhir.” “Kamu–“ “Aurora, udah dulu ya. Aku sudah telat. Ditunggu sama yang lain.” Setelah itu Biru pergi dari hadapan Aurora beserta motor dan teman-temannya. “Gimana? Ternyata lo nggak nyerah ya buat tahu nama cewek yang lo cari-cari selama ini,” ujar lelaki dengan helm full face yang sudah siap untuk ia pakai dan mulai menstater motornya. “Lo tahu soal–“ “Lo tenang aja. Asal lo menang, gue akan kasih tahu siapa dan di mana tuh cewek tinggal. Pegang saja omongan gue!” ••• TBC. Rain-sya Jodoh Bright Vachirawit.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD