Jadi, Jingga Sahabat Biru?

750 Words
Akhirnya Biru memenangkan balap itu. Dan sesuai dengan ketentuan dan perjanjian dari awal oleh Chiko, Biru menemui Chiko di tempat tongkrongannya dengan beberapa temannya termasuk Dewa yang baru datang. “Gara-gara lo baru datang gue jadi kalah,” ketus Chiko pada Dewa yang baru membuka helmnya. Menatap ke arah Dewa yang hanya menatap balik padanya dengan tatapan biasa. “Lo jangan kabur. Temui gue sama Jingga!” ujar Biru menghampiri Chiko. Lelaki yang hendak pergi dan menghidupkan motornya itu tiba-tiba menoleh ke arah Biru. Sedangkan Jingga yang baru saja selesai mengambil jaket Chiko terdiam di tempatnya ketika Biru dan Chiko berhadapan. Lalu di belakang Biru sedikit lebih jauh Jingga melihat Aurora yang sama-sama terdiam. “Biru kenal Chiko?” gumam Jingga penasaran. “Gue inget. Tapi Jingga nggak ada di sini,” ucap Chiko santai. Dewa yang tak tahu menahu hanya menatap keduanya bingung. Jingga? Memangnya Jingga ada di sini? Lalu apa yang di maksud Biru ingin bertemu Jingga? Jingga yang mendengar jawaban Chiko itu terkejut. Dia tak menyangka Biru masih ingin bertemu dengannya setelah pertemuan mereka kacau karena Jingga berbuat ketus pada Biru. Jingga tidak tahu harus bersikap apa. Yang jelas dia benar-benar bingung dengan apa yang akan terjadi setelah ini. Bukannya Jingga merasa dia special bagi tiga orang yang begitu berarti untuk mereka. Tapi Jingga merasa tidak pantas saja menjadi sosok special itu. Biru menarik kerah Chiko membuat yang ada di sana sontak terkejut dan melerai mereka namun Biru masih dengan perasaan yang sama yaitu kesal merasa di permainkan seperti ini. “Lo nggak usah main-main sama gue!” teriak Biru marah. Matanya nyalang menatap sengit pada Chiko. Sedangkan Dewa hanya diam mematung. Melihat dua manusia ini sedang ribut. Keduanya sudah tak bisa ia pisahkan. Biru menonjok Chiko dan begitupun sebaliknya. Namun bukannya maju, Jingga berhenti dan lemas. Shock ketika melihat semua kejadian yang terjadi ini adalah disebabkan olehnya. Di seberang sana Aurora juga terdiam. Tidak menolong Biru. Hanya diam tanpa bersuara sama sekali. Pasti perempuan itu juga shock dengan apa yang diucapkan oleh Biru dan Chiko. “Jingga itu adalah Jingga temannya?” tanya Aurora dalam hati. “Dan Chiko teman Jingga. Lalu Biru bersahabat dengan Jingga?” Kenapa jadi seperti ini? Ini sulit untuk dipercaya. Biru sempat berkata jika dia marah pada Jingga yang tak pernah memberikan kabar padanya selama ini. Namun melihat Jingga yang masih disayang oleh Biru, kenapa hatinya begitu sakit? Belum lagi soal Jingga temannya adalah sahabat pacarnya sendiri. Aurora bingung harus mengatakan apa lagi setelah ini. Begitu mendadak dan tak bisa ia percaya. “Lo lihat sendiri! Jingga gak ada di sini.” “Lo udah janji sama gue buat nemuin dia malam ini ke gue, pengecut lo!” Biru mendorong kasar Chiko membuat semua orang yang ada di sana menganga. Termasuk juga Dewa, Aurora dan Jingga pastinya. “Gue emang sama Jingga tadi. Tapi gue enggak tahu Jingga ke mana sekarang.” “Dasar pembohong!” Chiko yang sudah terlanjur kesal dengan Biru yang selalu memaki-makinya di depan umum seperti ini akhirnya maju satu langkah dan menatap lurus mata Biru. “Gue pembohong? Sepenting itu ya Jingga bagi lo. Sampai-sampai pacar lo aja gak tahu soal betapa pentingnya Jingga d hidup lo.” Chiko melirik Aurora. Cowok itu memang sudah tahu soal Aurora adalah pacar Biru dari percakapan Jingga dan Aurora sebelum cewek itu pergi meninggalkannya dengan Jingga. “Jelas penting. Karena Jingga sahabat gue bukan cuma teman lo.” “Memangnya lo itu siap hah? Teman masa kecil gue emang Jingga doang makanya gue sayang dia.” Chiko terkekeh. “Sayang?” “Udah stop kalian apa-apaan sih?!” ketus Dewa melerai keduanya. “Jingga ada di sini. Puas kalian?” Baik Chiko maupun Biru menoleh pada Dewa. Cowok yang masih menggunakan hoodie warna navy itu menoleh ke arah Jingga berdiri. Jingga yang merasa dirinya sudah diketahui, berbalik arah namun terlambat ketika tangannya ditahan oleh seseorang. Dewa. Ya, Dewa ternyata sudah tahu apa yang dimaksud. Dan Dewa juga tahu kalau Jingga ada di sini. “Wa, lepas!” sentak Jingga membuat Dewa menatapnya tajam. “Kasihan Biru kalau lo masih tetap menghindar!” “Tapi gue nggak siap,” gumam Jingga sambil meronta-ronta untuk minta dilepaskan. “Mau sampai kapan lo bohongin Biru? Lo kan minta sekolah di tempat Biru biar deket lagi sama dia. Kenapa sekarang lo seolah lupa ingatan soal itu? Jingga menghela napasnya. “Itu karena–“ “JINGGA AWAS!” Jingga merasakan kepalanya berat dan sakit sebelum akhirnya ia kehilangan kesadarannya. ••• TBC.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD