Telur Gulung

992 Words
“Jingga?” Biru begitu kaget ketika melihat Jingga berdiri di depan pintu rumahnya tanpa ia duga sebelumnya. Jingga hanya diam saja. Dia tidak tahu harus bersikap apa pada Biru kali ini. Dia merindukan Biru tapi dia juga sadar diri kalau Biru sudah milik orang lain. “Mau jemput Mama.” Biru mengangguk maklum. Iya, tentu saja. Dia itu tahu tujuan Jingga bukan untuknya melainkan untuk Mamanya Jingga. Harusnya sudah biasa saja kan kalau Jingga berkeliaran di dekatnya hanya karena hubungan Maminya dan Mama Jingga? Biru jangan baper. Tapi, Biru harus mendapatkan perhatian Jingga lagi seperti Dewa dekat dengan Jingga. Biru cemburu ketika melihat mereka bersama walaupun itu juga tidak akan berpengaruh pada Jingga dan pendiriannya. “Masuk saja!” Biru memberikan akses untuk Jingga masuk dan menemui mamanya. “Ma, pulang yuk! Jingga lemes banget hari ini.” Raut wajah mamanya berubah menjadi kekhawatiran sekarang membuat Jingga merutuk dirinya sendiri. Ah, dia malas sekali terlihat lemah seperti ini di depan semua oranga apalagi di rumah Biru. “Kamu sakit? Apa perlu kita ke-“ “Ma, Jingga nggak apa-apa. Jingga cuma butuh istirahat aja kok.” “Yakin gak apa-apa?” tanya mamanya lagi. “Kalau misal kamu beneran lemes, kita ke rumah sakit sekarang.” Alis Biru mengernyit. Memangnya Jingga sakit apa sampai dibawa ke rumah sakit segala? Apakah Jingga sakit parah selama ini hingga membuat Jingga menjauhinya? Terlihat jelas sekali kalau mamanya sangat khawatir pada Jingga. Raut wajah khawatir yang menghiasi wajah mamanya begitu tersorot kecemasan. Dan dia tahu kalau ini pasti ada apa-apa. “Biar Biru saja ya yang antar Jingga.” “Tak perlu.” Jingga memotong cepat ucapan Biru. Sudah cukup hatinya hancur dan terluka ketika tahu kalau Aurora adalah pacar Biru dan sekarang dia tidak mau terlihat begitu lemah dan sakit lagi saat dekat dengan Biru. “Kenapa?” “Karena Jingga sudah pesan taksi online.” Jingga menghembuskan napasnya lega saat ia sadar kalau dia sudah melakukan hal yang baik sekarang. “Oh.” Sahutan singkat dari Biru membuat maminya yang duduk di dekat mamanya Jingga mengernyit. “Kamu kenapa? Lesu sekali. Kamu kan bisa anterin Aurora nanti.” Biru tak menyahut. Sedangkan Jingga terlihat kaget namun ekspresi wajahnya mencoba untuk tenang karena dia tahu kalau dia bersikap kaget berlebihan, pasti Biru akan sadar kalau dia masih peduli pada Biru. “Iya, tapi Aurora bisa pulang sendiri. Lagi pula masih jam empat.” “Kamu tak boleh begitu. Sudah untung Aurora mau bantuin Putih buat ngerjain tugas. Coba kalau enggak, memangnya kamu mau bantuin adik kamu belajar?” tanya maminya lagi bersedekap d**a. “Ada Jingga, Mi.” Jingga yang namanya disebut menoleh dengan bola mata yang melebar. Apa-apaan ini? Dia saja malas ke ini kenapa jadi Biru mengusulkan hal itu? Apa Biru memang sengaja agar mereka lebih sering bersama? “Nah boleh juga.” Jawaban dari mama Jingga membuat cewek dengan jaket denim itu makin membola. Kenapa semuanya seolah memojokkannya dengan Biru? Hei. Dia ingin menjauhi Biru. Kenapa malah selalu didekatkan? “Bisa kan Jingga?” Ha? Jingga tiba-tiba jadi kaku dan gagu. Tak bisa menjawab apa-apa hanya bisa membalasnya dengan senyum. “Tap-“ “Jingga, jangan tolak!” bisik Mamanya membuat Jingga yang sudah mau menolak jadi menjawabnya dengan anggukan kepalanya. “Oke. Jadi, besok katanya Putih ada tugas Fisika jadi kamu besok sama Biru ya pulangnya.” Jingga hanya mengangguk. Kalau begini, mau sampai kapan dia terus tahan dengan perasaan yang salah seperti ini? Ah, Jingga harus apa sekarang? *** Bodoh. Harusnya dia tidak mendengarkan percakapan itu. Dan sekarang? Hatinya yang sakit sendiri. Seolah perasaannya sudah dilukai begitu dalam oleh orang-orang iu. Padahal dia tahu kalau mereka tidak tahu kalau ada dia. Ketika Jingga dan mamanya sudah terlihat masuk ke dalam mobil online yang dipesan oleh Jingga, Aurora keluar dari persembunyiannya dan diikuti oleh Putih di belakangnya. “Eh, kamu sudah mau pulang?” tanya mami Biru. Aurora mengangguk. “Iya, tante.” “Kak, besok kakak bisa ajarin aku lagi tugas Fisika kan?” tanya Putih dari samping Aurora yang membuat cewek itu ingin mengangguk tapi tak jadi karena suara dari Biru menginterupsinya. “Nggak perlu. Besok Putih diajari Jingga.” Putih menoleh ke arah Biru cepat. “Apa-apaan! Kan Putih yang mau belajr bukan kakak. Kenapa kakak yang atur Putih?” “Terserah. Yang jelas Jingga yang akan ajari kamu besok.” Biru menghampiri Aurora dan menarik tangannya untuk pulang. “Yuk, pulang!” Belum sempat Aurora memikirkan hal itu, tiba-tiba saja Biru bersikap semakin aneh. Seperti Biru sengaja menjauhkannya dari adiknya hanya karena ada Jingga. Sikap Biru semakin terang-terangan menjauhinya padahal mereka begitu dekat dan mereka masih berstatus ada hubungan. “Tap-“ “Udah malam. Jangan bikin orang repot cuma karena lo sakit.” “Hm, iya.” Aurora naik ke atas motor Biru setelah memakai helm yang diberikan oleh Biru barusan. Biasanya kalau sebelum naik motor, Biru akan bawel suruh pegangan bahkan memasangkan helm ke kepala Aurora. Sekarang boro-boro seperti itu. Mereka seolah menjauh. “Jangan macam-macam. Gue lagi risih lo peluk pinggang gue.” Peringatan telak dari Biru membuat Aurora yang hendak ingin memeluk jadi urung. Ternyata sudah sejauh itu jarak mereka. Padahal di sini tidak ada Jingga tapi sepertinya Biru benar-benar menjaga perasaan Jingga sekali. Pelet atau mantra apa yang dimiliki oleh Jingga hingga Biru berubahnya secara drastis seperti ini? “I-iya.” Akhirnya Aurora naik tanpa memegang ataupun sekadar berpegangan takut jatuh pada Biru walau sebentar. Jalanan kota sudah mulai benar-benar ramai dibanjiri olleh para pengendara motor ataupun mobil yang baru saja pulang dari tempat kerja untuk segera sampai di rumah masing-masing. Namun, mata Aurora hanya tertuju pada salah seorang penjual telur gulung yang penjualnya sudah tua dan renta. Dia tidak suka telur gulung tapi dia kasihan sama penjualnya dan dengan tiba-tiba Aurora menepuk punak Biru untuk berhenti dulu ke penjual telur gulung itu. “BIRU STOP DULU!” Refleks Biru mengerem mendadak membuat kepala helm mereka beradu. “Aw,” ringis Aurora memegang kepalanya. “Lo apa-apaan sih! Kalau kita jatuh gimana?” sebal Biru turund ari motornya menghampiri Aurora yang mendekati bapak-bapak itu. “Aku mau beli telur gulung dulu.” Biru mengernyit. “Lo kan nggak suka itu?” Aurora tersenyum manis. Ternyata Biru masih tahu dia yang tidak suka telur. “Iya, tapi ini buat Jingga.” *** To be continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD