Jingga berjalan keluar dari kelasnya dengan diikuti oleh Dewa di belakangnya. Sebenarnya hari ini Dewa ada rencana lain tapi kalau Jingga tak ada yang jemput bisa bahaya juga kalau sendirian.
Ah, kenapa Chiko membatalkan janjinya segala sih?!
“Ga, lo mending telfon orang rumah buat jemput lo deh.”
“Mama lagi gak ada di rumah. Gue takut ganggu kerjaannya dia.”
“Tapi lo di sini sendirian. Sudah mau malam juga. Nggak baik sama kesehatan lo.”
Jingga menggeleng. Sudah cukup dia untuk menyusahkan mereka dengan penyakitnya dan dia tidak mau merepotkan mereka dengan ini. Jingga masih tahu diri soal ini. Jingga nggak bisa harus terus-terusan seperti ini. Dia cukup merepotkan selama ini dan sekarang waktunya dia membalas mereka.
“Lo yakin nggak bisa anterin gue? Seenggaknya di depan komplek.”
Dan Dewa bingung mau jawab apa. Karena dia sendiri tengah buru-buru namun Jingga juga butuh dia. Kalau tidak, akan jadi masalah nantinya.
“Gu-gue...”
“Jingga pulang sama gue.”
Bariton suara itu mampu membuat Jingga menoleh ke arah belakang di mana Biru tengah berdiri dengan pakaian basket yang menempel di tubuhnya.
“Lo...”
“Jingga, lo kan sendirian dan cowok ini, ah, apa ini maksud cowok lo? Nggak gentle banget jadi orang.”
Baik Dewa ataupun Jingga sama-sama diam. Malas nanggepin orang seperti Biru dengan otot. Tapi kalau tidak diladeni, nanti Biru nggak akan percaya kalau mereka pacaran. Ya, meskipun ini hanya sebatas pura-pura.
Dewa maju satu langkah. Menyembunyikan tubuh kecil Jingga di belakangnya.
“Jaga omongan lo.”
“Kenapa? Bener kan kalau lo itu pengecut?” tanya Biru tanpa rasa takut sama sekali. Dia tidak suka dengan orang yang meninggalkan cewek sendirian apalagi itu Jingga. Masa lalu sekaligus cinta pertamanya.
“Lo...”
Baru saja Dewa hendak menarik kerah baju basket Biru, suara Jingga sudah melengking di depannya.
“Dewa!”
“Jingga diam! Gue enggak mau lo kena tonjok. Minggir!”
“Wa, ja-“
“Kenapa diam? Takut ke gue? Atau takut masuk BK besok?” tanya Biru semakin memancing emosi Dewa.
Dewa menyingkirkan Jingga dari hadapannya namun lagi-lagi Jingga melerai mereka. Bukan apa-apa, ini masih area sekolah bisa-bisa mereka masuk BK lebih-lebih lagi di skors.
“Kalian kalau mau berantem kenapa nggak tanding balap atau di ring aja sekalian!” kesal Jingga berbaik dan meninggalkan mereka berdus. Keluar dari gerbang dan masuk ke dalam Bis yang kebetulan berhenti di halte depan gerbang sekolah.
Balik lagi ke Dewa dan Biru. Keduanya saling adu pandang dan tajam.
“Kalau Jingga kenapa-napa, awas lo!” ancam Dewa. Naik ke atas motornya lalu mengikuti Bis yang ditumpangi oleh Jingga.
Chiko bisa marah kalau dia pulang sendirian karena Chiko berpesannya ke Dewa. Tapi bagaimana lagi Biru benar-benar cari ribut dengannya.
***
“Ga? Lo apa-apaan sih! Gue kan udah bilang sama lo gue mau anter lo. Jadi orang bandel sih lo!”
Dewa mendengus. Merutuk diri Jingga karena orangnya yang tak pernah mau dengar. Hanya karena Biru dia pulang pakai Bis dan membuat Dewa harus membatalkan acaranya dengan seseorang.
“Gue males liat lo sama Biru ribut.”
Dewa mendengus. Bisa saja kan Jingga bilang ke Biru kalau mereka pacaran? Dia kan bisa bantu tanpa adu jotos kayak tadi.
“Kan lo bisa bilang kalau kita pacaran, Ga.”
Benar juga ya. Kenapa dia tidak ingat akan hal itu? Ah, ayolah. Ini perkara mudah. Yang dibuat ribet adalah-Jingga yang tak bisa mengontrol perasaannya.
“Tapi di sana tak ada Aurora.”
“Lo bisa jelasin itu nanti kalau mereka ketemu kita lagi.”
Percuma juga dipikirin. Sudah kejadian.
“Ketemu nanti aja deh.”
***
Aurora masuk ke dalam sebuah rumah yang begitu luas dan megah. Lebih luas dari rumahnya. Memang. Rumah ini bukan rumahnya melainkan Biru.
“Kak Aurora?”
Seseorang datang menghampiri Aurora yang menatap rumah ini dari luar. Menatap sekitar tengah mencari keberadaan satu objek benda yang biasanya terparkir di samping rumah ini.
Motor Biru tidak ada. Ke mana cowok itu?
“Ada apa kak?” tanya Putih ketika sudah ada di depan Aurora yang masih mematung di depan rumah. “Masuk yuk!”
Aurora mengangguk. Masuk ke dalam dan menemui seseorang yang kini tengah duduk di depan ruang keluarga.
Ada Mama Biru di sana yang tak sendiri. Bersama perempuan paruh baya yang terlihat begitu akrab dengan Mama Biru. Ya, sepertinya memang mereka sudah bersahabat.
“Dia teman Mami. Tante itu juga punya anak. Dan anaknya juga kenal Kak Biru.”
Kenal? Teman yang mana lagi?
Aurora mengangguk lalu tersenyum ke arah Putih. “Jangan ganggu mereka dulu deh.”
“Kita ke kamar yuk!”
Aurora mengangguk lagi. Iya, setidaknya dia dapat mengambil hati adiknya Biru jika sewaktu-waktu dia tahu kalau anaknya teman Mamanya Biru adalah seorang perempuan dan juga suka Biru.
***
“Ngapain nelfon?”
Biru bertanya dengan ketus pada seseorang yang baru saja menghancurkan moodnya lagi. Dia sudah bad mood karena Jingga sekarang malah orang ini mengajak ribut dan menghancurkan moodnya.
Dia baru sampai di depan rumahnya. Baru selesai memarkirkan motornya dan sekarang sudah diganggu.
“...”
“Hm... terus?”
“...”
“Malas. Gue banyak kerjaan.”
“...”
“Bye.”
Biru masuk ke dalam rumah. Bertemu dengan Maminya yang tengah berbincang dengan Mamanya Jingga. Ternyata dia ada di sini. Ah, kalau tahu Mamanya ada di sini, sudah aku jadikan alasan saja kalau Jingga harus ikut dengannya.
“Tante..”
“Eh, Biru? Akhirnya tante ketemu kamu lagi.”
Biru mencium punggung tangan Mamanya Jingga. “Sejak kapan di sini?”
“Sejak jam makan siang.”
“Sudah lama dong ya,” ujar Biru. Tersenyum ke arah mamanya Jingga.
“Lumayan.”
“Eh, Biru? Ada Aurora di kamar Putih. Kamu temui dia ya?” pinta Maminya.
Malas sekali. Tapi apa boleh buat? Risiko dia memacari orang yang sudah dekat dengan keluarga adalah saat dia tahu perasaannya sudah tak lagi bersama melainkan mereka hanya sebatas perasaan kasihan karena sudah lama bersama.
“Iya, Mi.”
***
“Dia tidak mau kan?” tanya Aurora dengan nada yang sedikit kecewa. Ini bukan salah Biru. Benar, dia tak menyesali takdir ini.
Tentu saja siapa pun orangnya akan merasa dilema saat tahu sahabat yang sempat dia taruh harapan dan hatinya kembali datang dengan sosok baru. Lebih baik dan lebih dari sejak terakhir mereka bertemu.
Jingga di sini juga tidak salah. Selama ini, katanya dia hanya bisa ikut home schooling dengan kondisinya yang sewaktu-waktu melemah dan takut membuat semua orang khawatir padanya. Tapi kali ini, Jingga mencoba untuk kuat agar semua orang tak lagi-lagi menganggapnya lemah.
“Nggak mau kak. Sorry ya. Kak Biru akhir-akhir ini suka kayak gitu.”
Aurora maklum. Ada orang yang lebih penting darinya. Jadi mohon pengertiannya.
“Tidak apa. Tadi kan aku sudah ketemu di sekolah.”
‘...walau hanya sebuah usiran.’ Aurora melanjutkannya dari dalam hati. Oke, Aurora harus kuat.
Pintu kamar bercat putih itu tiba-tiba terbuka dan menampakkan seorang cowok dengan seragam lengkap di sana.
Dengan tatapan malas, Biru berucap. “Lo nggak usah geer. Ini suruhan Mami.”
Ya, Aurora tahu itu.
***