Istrimu Sangat Luar Biasa

1299 Words
“Apa syaratnya?” tanya Damar masih menatap ATM itu dengan tatapan kosong. Dia masih tidak percaya dengan isi yang ada di dalamnya. Sepertinya semuanya akan berpikiran sama dengan Damar. Nidya berkata, “Aku akan segera menemuimu lagi, dan saat itu kamu harus bersedia menerima terapi agar ingatanmu kembali. Kalau tidak… aku takut semuanya terlambat!” Damar tidak menolak, sebenarnya dia juga ingin memulihkan ingatannya dan mengetahui jati diri Damar yang sesungguhnya. Sekarang Damar sudah diceraikan dan didepak dari rumah, tidak ada hal yang lebih penting selain mengetahui identitasnya sendiri. “Baiklah, aku akan menunggu kabar selanjutnya.” “Hmm… lain kali jangan panggil aku pak Damar lagi, canggung dan terdengar kurang pas. Panggil saja langsung namaku.” Nidya menghela napas pelan dengan mata yang terlihat prihatin, ternyata amnesia yang dialami Damar benar-benar sangat parah. Padahal posisi Damar sebelumnya jauh berada di atas Nidya, tapi dia menyuruh memakai bahasa informal? Setelah sebelumnya terdiam beberapa saat, akhirnya Nidya berkata, “Ah ya, ATM itu hanya bisa melakukan transaksi langsung di Bank Royal. Bank yang lain tidak memiliki wewenang.” Tiba-tiba telepon Nidya berbunyi, dia mengangkat panggilan itu dan buru-buru berpamitan pada Damar, “Kalau begitu, sampai jumpa beberapa hari lagi.” Setelah Nidya pergi, Damar mengambil ponselnya dan membuka aplikasi maps. Dia ingin mencari lokasi Bank Royal. “Bank apa ini, aku belum pernah dengar…” Hanya ada satu kantor Bank Royal yang ada di kota damar. Dia pun segera mencari taksi dan bergegas kesana. Damar tetap berhati-hati. Meskipun Nidya terlihat sangat meyakinkan dan semua ucapannya terdengar sangat logis. Tapi mengenai ATM dan isinya membuat Damar merasa curiga dan aneh. Dalam hidup di dunia liar seperti hutan belantara ini, kalau tidak hati-hati bisa terjebak dalam lubang jebakan. Bisa jadi ini adalah salah satu trik penipuan yang baru. Setelah turun dari taksi, Damar langsung terkejut. Bank Royal ini lebih terlihat seperti istana daripada bank. Sangat megah. Damar melihat ponselnya beberapa kali, memastikan titik lokasinya sudah sesuai dengan yang ditunjukkan oleh peta. Sekarang sudah pukul delapan malam, dan pada umumnya bank hanya beroperasional sampai sore saja. Tapi bank Royal tidak, semua lampu menyala terang benderang, para nasabah terlihat keluar masuk. Damar juga melihat orang yang keluar masuk memakai setelan jas rapi. Mereka semua memakai jam tangan yang terlihat mahal, bahkan tempat parkir bank Royal terlihat penuh dengan mobil-mobil mewah. Pemandangan ini semua sangat kontradiktif dengan Damar. Seragam kuning yang masih dia kenakan dan wajah lusuh karena belum sempat istirahat. Nasabah yang lewat melihat Damar dengan ekspresi menghina dan merendahkan. Damar sangat kesal, memang apa yang salah? Damar pun menggenggam erat ATM di tangannya dan bergegas masuk ke dalam bank. Begitu Damar melewati pintu masuk, dia bertemu dengan Sisy yang sedang merangkul mesra lengan seorang pria dan bertingkah manja. Keduanya terlihat sangat harmonis, bahkan Sisy memancarkan aura bahagia. Pria yang dikenali oleh Damar, Dimas Candra, anggota keluarga Candra yang dikenal kaya di Kota JC. Sisy juga melihat Damar, dia terdiam sesaat lalu berkata, “Damar?” Dimas berkata pada Sisy dengan senyum sinis, “Ah, bukankah itu suamimu? Dia terlihat… tampan!” Sisy buru-buru menjawab dengan kesal, “Siapa bilang! Aku sudah menceraikan s****h ini. Mana mungkin aku bisa suka dengan kurir pengantar makanan!” “Gajinya satu bulan saja tidak bisa untuk beli satu tas kecil.” “Orang seperti ini, kalau aku membiarkannya menyentuhku, aku bisa sakit karena tangannya yang kotor itu!” Damar merasakan sesak karena ucapan Sisy yang sangat menyakitkan. Tapi Sisy benar, selama tiga tahun menikah, dia tidak pernah mengijinkan Damar menyentuhnya. Bahkan kukunya saja tidak pernah. Dimas tertawa sambil memegang pinggang Sisy seolah ingin pamer. Dia menatap Damar sambil berkata, “Namamu Damar, kan? apa kamu kesini untuk mengirimkan pesanan?” “Hey, apa mungkin para nasabah disini memesan makanan kesini, kan!” “Ah, benar juga!” Dimas sengaja meninggikan suara, “Istrimu sangat hebat!” Orang-orang kaya disekitar mereka ikut tertawa. Ucapan dua orang ini membuat Damar kesal, “Aku kesini ingin menarik uang!” “Menarik uang? Pfft hahahaha!” Dimas tertawa, bahkan sampai mengeluarkan air mata, “Duh maaf, maaf, maafkan aku, ini sangat aneh!” Sisy mengerutkan alisnya, wajahnya merah karena malu. Bagaimanapun juga Damar adalah mantan suaminya, bisa-bisa Damar akan membuatnya semakin kehilangan muka. “Damar! duh jujur saja, kamu kesini karena membuntutiku, kan?” “Aku katakan lagi, kita sudah tidak punya hubungan lagi! Jadi jangan muncul di depanku lagi! Kamu paham?!” Damar memandang Sisy dengan penuh kekecewaan, dia tidak mengerti apa yang membuat Sisy menjadi seperti ini. “Aku tidak mengikutimu, aku benar-benar akan menarik uang.” Setelah selesai tertawa, Dimas melingkarkan tangannya di pundak kecil Sisy dan berkata dengan nada menggoda, “Damar, apa kamu tahu soal bank Royal ini? kamu berani mengatakan ingin menarik uang?” “Untuk menjadi nasabah disini, kamu harus membayar deposit 200 miliar.” “200 miliar! Apa kamu tahu seberapa banyak 200 miliar itu? apa otakmu dapat membayangkannya?” “Berapa penghasilanmu selama sebulan? 15 juta? 30 juta? Berapa!” Dimas merendahkan Damar dengan nada bicaranya yang arogan, “Kamu tadi bilang ingin menarik uang?” “Damar, kalau ingin berbohong yang masuk akal sedikit ya. Kamu kira disini akan ada yang percaya dengan ucapanmu!” “Kalau aku jadi kamu, aku cari karung dan sembunyi! Malu lah hahahaha!” Sisy semakin kesal, “Damar, kalau kamu tidak pergi juga, aku akan panggil satpam!” Menghadapi ejekan dan hinaan Dimas, sikap Sisy yang menjengkelkan serta semua orang yang tidak peduli. Damar tidak ingin membuktikan ucapannya untuk mereka. Damar melanjutkan tujuannya datang ke bank Royal, dia pergi ke konter bank menyerahkan ATM pada teller dan berkata dengan sungguh-sungguh, “Aku ingin melihat saldo tabunganku!” Damar berdoa dalam hatinya, berdua dengan sungguh-sungguh agar Nidya tidak menipunya. Semua orang seakan melihat sinetron secara langsung, mata mereka fokus memperhatikan Damar dan menunggu respon teller bank. Dimas dan Sisy juga terkejut saat Damar menyerahkan ATM pada teller, apa Damar benar-benar datang untuk menarik uang? Teller melihat Damar dengan malas, tanpa berniat bertanya apa-apa, dia langsung mengambil ATM Damar dan mengeceknya. Hasilnya, hanya muncul dua kata ‘No Result’. Teller bank itu menatap Damar dengan penuh penghinaan. Dia melemparkan kartu ATM dan bertanya dengan aneh, “Pak, apa kartu milik anda palsu? Data anda tidak ditemukan disini.” Saat Dimas mendengar hal ini, dia kembali tertawa, “Hahahaha! Tidak ditemukan datanya? Damar! jangan-jangan kamu salah kasih kartu MRT?!” “Duh Damar, kamu ini benar-benar lucu!” Sisy tidak berbicara, tapi pandangan matanya memancarkan rasa jijik. Dia merasa mengenal Damar adalah hal yang dia sesali dalam hidupnya. Damar dulu sangat jujur dan apa adanya, bagaimana bisa dia jadi seperti ini? Semua orang yang melihat pun ikut tertawa mengejek Damar. Damar kebingungan, “Tidak mungkin! Pasti ada uang disana, tolong periksa sekali lagi!” Damar masih berusaha untuk mempercayai ucapan Nidya, kalau sampai benar-benar tipuan, entah apa yang harus dilakukan Damar setelah ini. Teller itu berkata dengan sedikit membentak, “Kalau tidak ada hasil ya tidak ada hasil. Kalau anda membuat keributan disini, saya akan menyuruh satpam mengusir anda!” Damar tidak berhenti memohon, “Sekali saja, tolong sekali saja periksa lagi. Ada 10 miliar ditabunganku!” Teller bank itu semakin kesal, “Orang gila! Pak, tolong bawa orang ini pergi!” Penjaga keamanan yang sudah menonton lelucon ini sejak awal langsung pergi saat mendengar ucapan teller bank. Dia langsung memegang tangan Damar dan menyeretnya keluar, dan kartu ATM milik Damar jatuh ke lantai. Dimas dan yang lainnya terlihat menikmati adegan ini. “Hahahaha! Dia bilang 10 triliun! Sepertinya dia benar-benar sudah gila!” “10 triliun? Apa itu uang? Atau pasir? Hahahaha!” Tidak ada yang memperhatikan ATM milik Damar yang tadinya terjatuh kali ini diambil oleh seseorang. Saat semua orang larut dalam tawa dan kepuasan melihat Damar dipermalukan, seseorang berteriak dengan lantang, “Berhenti!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD