Suara itu milik perempuan cantik yang memakai rok pendek serta blazer hitam rapi. Wajahnya yang mempesona dihiasi kacamata yang menambah kesan tegas. Sepatu pantofel hitam serta stocking berwarna kulit seolah menjadi bumbu pelengkap penampilan yang sempurna itu.
Semua orang menoleh ke arah sumber suara.
Pada saat ini, bibir kecil yang dioles lipstik warna merah itu tak henti-hentinya terbuka. Dia terkejut saat melihat kartu milik Damar yang baru saja dia pungut.
Penjaga keamanan dengan cepat melepaskan Damar, berlari ke arah perempuan itu dan bertanya, “Manajer Clara, ada apa?”
Clara tidak menjawab dan hanya melirik tajam ke penjaga keamanan itu. Dia berjalan lurus ke Damar dan menyodorkan kartu yang baru saja dia pungut, “Pak, apa ini punya anda?”
Damar sedikit terkesiap saat melihat kecantikan Clara dari jarak sedekat ini. bahkan Damar dapat mencium samar aroma citrus dari parfum yang dipakai Clara. Dengan sedikit tergagap Damar menjawab, “I-iya.”
Betapa kagetnya Clara mendengar jawaban Damar, dia pun langsung membungkuk meminta maaf, “Apa anda baik-baik saja?”
Karena Clara dapat membayangkan rasanya diseret oleh penjaga keamanan yang sudah terlatih seperti itu pasti meninggalkan rasa sakit, jadi Clara mencoba memegang lengan Damar yang tadi ditarik penjaga keamanan.
Semua orang yang melihat hal itu seolah iri, terutama nasabah laki-laki. Mereka cemburu karena Damar dapat disentuh dan berhadapan sedekat itu dengan Clara.
Dimas melirik Sisy dan Clara secara bergantian, dia sedang membandingkan mereka berdua.
Meskipun Sisy termasuk perempuan yang memiliki kecantikan diatas rata-rata, tapi dia masih tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Clara.
Bahkan Dimas merasa kesal karena Damar mendapat durian runtuh karena disentuh oleh Clara.
Dimas tidak bisa menahan diri untuk tidak merendahkan Damar, “Manajer Clara, kurir makanan yang bau ini salah memberikan kartu MRT untuk menarik uang. Kamu tidak perlu memperlakukannya dengan baik.”
Teller bank yang melayani Damar tadi pun ikut berkata, “Benar Manajer Clara, sudah aku cek dan tidak ada hasil yang tertera. Dia sengaja datang kesini untuk mencari ulah saja, jadi aku meminta penjaga keamanan untuk mengusirnya keluar.”
Setelah mendengar hal ini, Clara melirik sinis pada Dimas dan berkata, “Kamu bilang ini kartu MRT? Sok tahu!”
Dimas mengangkat alisnya karena baru pertama kali manajer Clara berkata begitu padanya.
“Apa kamu tahu kenapa saat di cek hasilnya tidak ada dikomputer?” tanya Clara sambil mengangkat kartu milik Damar ke arah teller bank.
“Karena kamu tidak memiliki izin akses! Kartu ini adalah kartu Berlian yang dibuat khusus, hanya ada tiga kartu yang pernah dikeluarkan!”
“Saldo minimum setiap kartu berlian adalah 1 triliun! Intinya bukan soal isi, tapi kartu ini menunjukkan status pemiliknya!”
“Kalau dia memiliki kartu Berlian, tandanya dia adalah sahabat dari pemilik bank Royal dan nasabah level atas dari bank kita!”
Kata Clara sambil meninggikan nada bicaranya dan membuat semua orang terdiam.
Para nasabah bank Royal tentu sudah tahu siapa pemilik bank kepercayaan mereka ini. pemilik bank Royal adalah orang yang masuk dalam jajaran lima orang terkaya di Negara ini.
Sahabat pemilik bank Royal, tentu status sosialnya tidak sembarangan.
Tapi Damar jelas seorang kurir antar makanan, bagaimana caranya dia dapat memiliki kartu ini?
Mungkinkah dia hanya berpura-pura jadi orang biasa?
“Tidak! Tidak mungkin!” saat ini, suara Sisy memecah keheningan yang sunyi. Dia menunjuk Damar seperti seorang yang kotor, “Kartu ini pasti sudah dia palsukan!”
“Kalaupun itu kartu asli, tidak mungkin itu miliknya!”
“Dia mantan suamiku, dia tidak punya apa-apa. mana mungkin dia bisa memiliki kartu itu? dia pasti sudah mencurinya!”
Sisy tentu saja tidak akan percaya kalau kartu dengan minimum 1 triliun itu milik Damar. setiap bulan saja Damar harus mencari uang untuk membayar cicilan mobil. bagaimana mungkin dia bisa memiliki uang triliunan?
Mustahil!
Dimas mengangguk setuju, “Benar! Tidak mungkin, dia itu rakyat jelata!”
Clara memandang Sisy dan Dimas dengan wajah muak, “Apa menurut kalian kartu bank yang begitu penting ini dapat dicuri atau dibuang begitu saja?”
Dimas dan Sisy langsung mati kutu.
Memang benar, siapapun yang memiliki ATM, apalagi hanya ada tiga di dunia pasti akan menyimpannya dengan sangat baik. Kalau bisa mereka akan menjahit ATM itu di tubuh mereka agar aman.
Clara memerintahkan penjaga keamanan, “Usir mereka yang tidak hormat pada pemilik kartu Royal, siapapun yang tidak menghormati pemilik kartu Royal sama saja dengan tidak menghormati bank Royal!”
Penjaga keamanan langsung bertindak sesuai dengan perintah Clara. Mereka mengusir Dimas dan Sisy keluar dari bank royal.
Setelah drama teriakan Dimas dan Sisy yang tidak terima, akhirnya keadaan di dalam bank kembali tenang.
Clara melirik tajam ke arah teller yang melayani Damar tadi dan berkata, “Mulai besok, kamu tidak perlu datang bekerja lagi!”
Damar hanay berdiri sambil linglung menyaksikan ketegasan Clara.
Dia tidak mengira kalau kartu kecil seperti itu memiliki arti yang begitu hebat.
Ini membuatnya semakin penasaran mengenai siapa dirinya sebenarnya.
Tapi hal yang paling Damar sukai dari kejadian-kejadian barusan adalah saat melihat Dimas dan Sisy diusir keluar. Setidaknya dia cukup lega.
Jangankan mereka berdua, Damar saja tidak percaya kalau kartu Berlian itu miliknya.
Damar mengikuti Clara ke ruangannya dan memintanya untuk memeriksa saldo.
Sejujurnya, melihat reaksi Damar yang terlihat linglung sedikit membuat Clara sulit percaya kalau kartu Berlian ini benar-benar milik Damar. Tapi seperti yang Clara tadi katakan, pemilik kartu Berlian tidak sebodoh itu untuk menaruh kartu seberharga ini sembarangan.
Maka dari itu, walaupun Damar bukan pemilik kartu Berlian ini, pasti Damar memiliki hubungan dengan pemilik kartu Berlian yang sebenarnya.
Setelah beberapa saat sibuk dengan komputer, akhirnya Clara berkata, “Pak Damar, saldo di kartu ini ada 10 triliun. Apa ada lagi yang bisa saya bantu?”
Begitu mendengar kata 10 triliun, seluruh tubuh Damar menjadi lemas.
10 triliun! Ternyata yang dikatakan Nidya benar!
Damar hanya menggelengkan kepala saat menjawab pertanyaan Clara. Kemudian dia meninggalkan bank Royal setelah Clara memberinya nomor telepon dan memberitahu Damar kalau saldo di dalam ATM itu dapat diambil sesuka hati.
Setelah melewati gerbang bank Royal, kaki Damar terasa lemas, dia pun duduk di atas trotoar bersandarkan tembok pagar bank Royal.
“Hehehe, aku tidak tahu bagaimana reaksi Amelia dan Sisy kalau aku punya uang 10 triliun!”
Sisy mengira kalau Damar mencuri ATM itu.
Pada saat yang sama, ponsel Damar berbunyi.
“Halo? Apa kamu tidak masuk kerja?”