Mulyadi mengayunkan tongkat setrumnya ke arah Damar! Saat itu terdengar suara teriakan dari belakang satpam itu.
"Hentikan!"
Satu per satu dari mereka pun menoleh ke sumber suara, seketika mereka mengubah ekspresi mereka dan langsung bersikap hormat.
"Pak Yudi!"
Ternyata orang itu adalah bos dari Lithon Group, Pak Yudi!
"Kalian ini tidak bekerja apa? Sedang apa kalian di sini?”
Mulyadi dengan panik menjawab, "Pak Bos, dia ini orang gila. Dia memaksa ingin masuk ke kantor. Disuruh pergi tapi dia tetap tidak mau. Jadi saya sedang mencoba untuk mengusirnya!"
Satu per satu dari para karyawan yang berada disana pun mengiakannya.
"Betul itu, Pak Yudi! Orang ini saudara iparnya Nessa. Dia bertengkar dengan Nessa kemarin. Hari ini dia pasti datang untuk balas dendam padanya. Dia ini orang jahat, Pak!"
"Betul, Pak Yudi! Orang ini cuma benalu baginya. Saya rasa dia sudah kehilangan akal sehatnya, Pak!"
"Untung saja ada Pak Mulyadi. Kalau tidak, dia bisa saja menghajar kita!"
“Ya, ya, ya betul itu! Dia juga bilang kalau dia bos baru dari perusahaan kita. Apa dia ini bukan orang gila namanya?”
Damar terkejut sekaligus marah saat mendengarnya. Apa orang-orang ini tak tahu berbicara omong kosong seperti itu?”
Damar tidak habis pikir mengapa mereka memperlakukannya seperti itu, padahal dia sama sekali tidak pernah menyakiti mereka, tapi kenapa mereka jadi menargetkannya seperti ini?
Apa ada sesuatu yang akan mereka dapatkan dengan memperlakukannya seperti ini?
Ketika Mulyadi mendengar begitu banyak orang yang membela dirinya, dia tentu merasa dirinya menang saat itu. Kemudian dia mengambil kesempatan itu dan berkata, "Pak Bos, masalah kecil ini serahkan saja pada saya. Saya akan segera mengusirnya dari sini.”
"Tunggu tunggu!" Pak Yudi menahannya.
Awalnya, dia mengira Damar bukan siapa-siapa, sampai akhirnya dia mendengar seseorang mengatakan bahwa dia adalah bos baru perusahaan.
Hari ini pagi-pagi sekali, Pak Yudi menerima telepon dari Clara. Dia langsung diberi tahu bahwa hari ini akan ada bos baru yang akan datang mengambil alih Lithon Group dan menyuruhnya untuk mempersiapkannya.
Pak Yudi sangat senang mendengar berita ini, serasa seperti kejatuhan durian.
Tidak masalah baginya jika posisinya akan diambil alih. Yang penting Clara hanya menyuruhnya untuk patuh terhadap bos yang baru, terlepas dari kebaikannya.
Jadi apa yang bisa dibuktikan dari sini? Dia membuktikan bahwa dia dilirik oleh Bos Clara! Tandanya dia bisa naik ke dalam kapal besar Bank Royal!
Masa depan cerah! Apalah artinya meninggalkan perusahaan kecil seperti Lithon Group?
Dia menunggu dengan cemas sejak pagi, tetapi tidak ada juga yang datang. Kemudian dia pergi turun dari kantor untuk bersantai dulu. Tapi tanpa diduga, dia menemukan kejadian ini.
Yudi sedikit mengepakkan jasnya untuk membuat dirinya terlihat lebih berwibawa. Dia berjalan menghampiri Damar dan bertanya dengan suara pelan, "Maaf, saya ingin bertanya. bisakah Anda memberi tahu saya siapa nama Anda?”
Jantung Yudi terus berdegup kencang.
Tanpa ragu Damar langsung meberitahukan namanya. "Nama saya Damar."
Mendengar itu, Yudi terkejut sekaligus gembira. Ya, itu dia! Tokoh besar yang dikatakan Clara!
Kemudian dia merasa sedikit tidak enak. "Pak Damar, maaf, maaf sekali karena saya tidak menyambut Anda dengan baik. Saya telah lalai melakukan tugas saya!”
Damar pun merasa sedikit lebih tenang sekarang. Awalnya dia khawatir kalau Yudi tidak akan mengenalinya!
"Tidak apa-apa. Jadi, apa saya boleh masuk sekarang?" ujar Damar sambil menatap Mulyadi dan yang lainnya.
"Silakan, silakan. Tentu saja boleh!" ujar Yudi sambil membungkuk dan menatap ke arah Damar.
Amarah yang membakar dirinya pun seketika dia hapus dari wajahnya.
"Mulyadi! Dan juga kalian semua sekumpulan orang ini! Sekarang, cepat pergi dari sini! Saya tidak ingin melihat kalian lagi di sini!
Dia buru-buru mengusir orang-orang ini. Jika dia membuat Damar tidak senang, mungkin akan jadi masalah besar baginya.
Mulyadi dan yang lainnya terlihat seperti orang linglung.
"Bos... Apa yang barusan Bos katakan? Orang ini orang gila yang ingin mencuri di kantor kita..." ujar Mulyadi yang masih terlihat linglung. Sejauh ini, dia masih belum mengetahui apa yang terjadi.
Sekumpulan karyawan itu pun mengatakan hal yang sama.
"Ya, betul itu, Bos... Apa yang kami lakukan ini salah?"
"Kami hanya mencoba mengusir s****h yang mengancam kantor ini. Bukankah seharusnya Anda berterima kasih kepada kami?"
"Pak Yudi, coba beri tahu alasannya pada kami.”
"Diam!" bentak Yudi pada orang-orang itu.
“Di sini bosnya itu saya apa kalian?! Saya bilang kalian semua saya pecat! Mengerti?” ujar Yudi penuh emosi.
Masih butuh alasan? Apa masih mau memberontak? Yudi juga baru melihat anak buahnya ini sudah sangat kurang ajar. Bahkan dia berani membangkang terhadap perkataan bosnya?
Melihat Yudi yang emosional, mereka mulai menyadari bahwa mereka sedang dalam masalah besar. Satu per satu dari mereka memohon belas kasihan dan memohon kepada Damar.
Untuk saat ini, mereka melihat Damar memiliki hubungan yang tidak biasa dengan bosnya.
"Damar! Maafkan kami, ya. Kami juga sudah keterlaluan mengataimu."
"Ya, betul itu, Damar. Bicarakan baik-baik dengan Bos! Meskipun kita sempat sedikit bertengkar, tapi jangan sampai merembet sampai ke titik ini!"
"Ya, kita semua ini orang baik-baik. Apalagi yang kamu inginkan dari kami? Jika kamu tidak memaafkan kami, nyalimu tentunya terlalu kecil!"
"Ya, ya, betul itu. Paling-paling hanya menyuruh Nessa supaya memperlakukanmu sedikit lebih baik!”
Damar hanya tertawa mendengarnya. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan mereka. Apa mereka semua ini bodoh?
Dia mencibir. "Maaf, saya tidak ikut campur!"
Yudi melihat sikap Damar dan sepenuhnya memahaminya.
Sebenarnya, tidak masalah apakah dia mengusir mereka atau tidak. Itu semua tergantung pada sikap Damar. Kalau dia ingin menyuruh mereka pergi, maka pergi saja!
Tidak peduli apa yang mereka katakan atau betapa menyedihkannya mereka, Yudi tetap tidak bergeming. Akhirnya, dia langsung meminta satpam lainnya untuk mengusir orang-orang itu keluar dari kantor.
Damar hanya menghela napasnya.
Seperti kata pepatah lama, orang yang menyedihkan pasti memiliki alasan mengapa mereka dibenci. Orang-orang ini sama sekali tidak menyedihkan, tetapi mereka sangat penuh kebencian!
Tidak heran mengapa mereka semua sifatnya seperti itu. Nessa dan orang-orang ini semuanya sama saja! Mereka adalah ular yang sama jahatnya.
Setelah mengusir lalat-lalat itu, Yudi dengan hormat meminta Damar untuk menandatangani kontrak serah terima.
Kemudia pada saat itu, Clara meneleponnya.
Clara mengatakan kalau pesta koktail itu berlangsung malam ini dan memintanya untuk pergi ke Rosemary Hotel jam 9 malam.
Damar pun langsung menyetujuinya. Clara benar-benar telah sangat membantu urusannya.
Dan masih ada waktu bagi Damar sore ini untuk mencari-cari tempat tinggal untuknya. Karena tidak baik jika harus terus tinggal di rumah Noviana.
Noviana adalah wanita yang sangat cantik dan memesona. Bagaimana pun juga, dia tetaplah seorang pria normal.
Dia takut jika suatu hari nanti dia tidak bisa mengendalikan hasratnya dan melakukan hal yang tidak diinginkan. Dia akan benar-benar merasa menyesal terhadap Noviana…
Damar masih mencari tempat tinggal dengan biaya sewa 2 juta per bulan. Namun saat melakukan pembayaran, penyewa tidak menerima pembayaran dengan menggesek kartu ATM. Dia hanya menerima pembayaran via transfer melalui ponsel atau dengan uang tunai.
Kemudian Damar rasanya ingin menangis, tapi dia tak bisa.
Sial. Dengan uang puluhan triliun yang dia miliki, dia bahkan tidak mampu menyewa rumah dengan satu kamar dan satu ruang tamu?
Lalu Damar tiba-tiba merasa… apakah dia terlalu konservatif?
Dengan begitu banyak uang, rumah apa yang tidak mampu dia beli? Mengapa tidak langsung beli saja? Untuk apa masih perlu menyewa?
Damar berpikir dengan malu-malu. "Aku sudah terlalu lama menjadi orang miskin sampai tidak tahu caranya menghabiskan uang..."
Saat itu Nidya menelepon dan memintanya untuk memulihkan ingatannya.
Damar sangat mementingkan pemulihan ingatannya. Dia tidak berani mengabaikannya sama sekali. Kemudian dia segera pergi menemui Nidya.