Aku Bos Kalian

1237 Words
Damar telah bersiap untuk melakukan hal besar, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk adik Kak Noviana. Telepon pun berdering sebelum akhirnya tersambung. Tak lama kemudian terdengar suara Nidya yang terdengar sedikit malas. "Halo? Pak Damar? Sudah larut malam begini apa yang bisa kubantu?" Kemudian Damar refleks melihat jam dan baru menyadari ternyata masih subuh. "Oh, maafkan aku. Aku lupa waktu dan malah mengganggu. Kamu sedang ada waktu sebentar?" Nidya terdiam sesaat. “Katakan saja, Pak Damar." "Itu, di dalam kartu ATM ada uang 26 triliun. Aku ingin membeli sebuah perusahaan yang bernama Lithon Group, apa boleh?" ujar Damar dengan hati-hati. Dia selalu merasa uang itu bukan miliknya. Jadi ketika dia ingin menggunakannya, dia masih harus bertanya ke pemilik kartunya, Nidya. Nidya terdiam lagi. "Jadi tentang hal kecil ini? Coba tolong temui dulu bos Bank Royal. Maafkan aku, Pak Damar. Aku tidak punya waktu untuk mengurusi masalah kecil ini." Damar pun seketika tercengang mendengarnya. Dia bilang ini masalah kecil? "Oh, baiklah..." Masalahnya dia pun tidak mengenal siapa itu bos Bank Royal. Jadi dia hanya bisa bertanya pada Clara. Setelah menutup teleponnya dengan Nidya, Damar menelepon Clara lagi. Clara menjawab telepon Damar dengan cepat. "Pak Damar? Sudah selarut ini apa ada yang bisa saya bantu? Atau apa karena merindukan saya?" Suara Clara sendiri memiliki pesona seorang wanita yang sudah dewasa, membuat Damar seolah tak bisa menahan godaan dari suara Clara. Damar dengan cepat mengganti topik pembicaraan itu dan langsung menanyakan masalah barusan. Clara pun menjawab tanpa keraguan. "Tentu saja bisa. Lithon Group adalah anak perusahaan milik bos saya, tetapi perusahaan itu hanya bernilai 20 triliun. Bapak tidak perlu membelinya, kita bisa memberikannya langsung pada Pak Damar." Damar begitu kaget mendengarnya dan dengan cepat berkata, "Tidak, tidak, jangan diberikan begitu saja. Kamu bisa memberitahuku berapa harganya, nanti aku akan membayarnya padamu.” Clara tidak tahu kenapa orang setingkat Damar bisa tertarik pada perusahaan kecil seperti itu. Dia hanya perlu memenuhi persyaratan pihak lain. Tapi setelah mendengarkan perkataan Damar, Clara memutar matanya… "Begini saja Pak Damar, kami tak membutuhkan uang itu, tidak peduli berapa pun jumlah uangnya. Jika bos saya sampai tahu kalau saya menerima uang dari Bapak, bisa-bisa dia membunuh saya. "Jadi Bapak hanya perlu menyetujui sebuah syarat dari saya saja. Bagaimana?” Damar sedikit keheran mendengarnya. "Apa syaratnya?" "Jadi nanti lusa sa… aku akan pergi ke pesta koktail. Bisakah kamu... Menemaniku kesana?" tanya Clara dengan gugup. Damar kira dia harus melakukan syarat apa, ternyata hanya itu saja. "Tentu saja bisa selama kamu tidak terganggu denganku.” “Benarkah? Baguslah kalau begitu! Kalau begitu aku nanti akan menghubungimu, ya. Lalu terkait urusan perusahaan barusan, besok kamu bisa langsung menemui bos mereka untuk mengurus serah terimanya!” ujar Clara bersemangat. Clara merasa Damar benar-benar sosok yang berbeda dari yang lainnya. Seperti seorang pemuda yang belum terlalu terkontaminasi dengan urusan dunia. Dia itu orang yang sangat sederhana. Sama sekali tidak ada apa-ap ... seperti apa yang dia bayangkan sosok orang menengah ke atas. Mungkin saja ini kesempatan yang Tuhan berikan padanya! Damar menatap layar ponsel yang teleponnya telah ditutup oleh Clara. Kemudian dia merasa sedikit ajaib. Jadi hal ini bisa langsung diselesaikan hanya dengan begitu saja? Padahal perusahaan itu bernilai 20 triliun! Jadi… perusahaan itu sudah jadi miliknya sekarang? Noviana sedang mengeluarkan dua mangkuk mi dari dapur, meletakkannya di atas meja, dan menyalakan kipas angin. Seluruh badannya dibanjiri keringat yang membasahi bajunya, membuat baju itu tampak benar-benar transparan. Pakaian dalamnya yang berwarna ungu bisa terlihat samar-samar... Melihat pemandangan itu, Damar dengan cepat mengalihkan pandangannya. Noviana tidak menyadari hal itu. Dia hanya berkata dengan riang, "Nah, Ini sumpitnya. Karena hari ini kamu sudah keren banget malam ini, jadi aku menambahkan dua telur untuk kamu! Hehe! "Maaf, tidak ada AC, jadinya lumayan gerah disini. Tapi nanti kalau sudah agak malam, udaranya akan jadi lebih sejuk.” Damar tidak keberatan sama sekali. "Tidak apa-apa. Terima kasih, Kak Noviana, mi ini sangat enak!" Noviana tersenyum memandang Damar yang sedang lahap memakan mi buatannya. Dia tidak tahu kenapa. tetapi saat dia melihat Damar seperti ini, dia merasa sangat senang. Meskipun hanya beralaskan lantai, tetapi Damar bisa tidur dengan nyaman. Beginilah keadaan Damar tinggal di rumah Noviana sepanjang malam. Keesokan harinya, Damar langsung pergi ke Lithon Group. Kemarin Nessa dan teman-temannya menghinanya. Dan sekarang dia ingin membayar semuanya! Akan tetapi, dia masih merasa sedikit gugup dan dia tidak tahu apakah jawaban Clara bisa dianggap serius. Takutnya dia sudah pergi ke sana dan ternyata malah tidak sesuai dengan yang Clara bilang. Bukannya akan sangat memalukan? Dan masalahnya mungkin akan benar-benar tidak akan berjalan dengan lancar. Jangankan untuk menemui bos dari Lithon Group, Damar bahkan tidak bisa memasuki gerbang Lithon Group. Satpam di sana menghentikannya karena dia tidak memiliki kartu kerja. Damar kemudian langsung berkata, "Aku datang untuk menemui bos kalian!" Penjaga keamanan menatapnya dari atas ke bawah, penampilannya tidak berkelas. Lalu satpam itu bertanya dengan nada meremehkan, "Apa kamu sudah membuat janji dengan bos kami?" Sebenarnya tidak perlu ada urusan membuat janji seperti itu. Dia sengaja mengatakannya hanya untuk mempersulit Damar. Bagaimanapun, Damar tidak kelihatan seperti orang penting. Damar menggelengkan kepalanya, "Belum." “Belum? Jika kamu belum membuat janji dengannya, pergi saja sana! Jangan membuat masalah di sini! Awas saja. Aku menghajarmu nanti!” Ancam satpam itu berlagak mengayunkan tinjunya ke arah Damar. "Ini Lithon Group. Tidak sembarang kucing dan anjing bisa masuk sini! Dengar tidak?" Dada Damar terasa membara mendengarnya. Apa maksudnya bicara seperti itu? Kucing dan anjing? "Aku bos baru kalian! Biarkan aku masuk!" ujar Damar yang sudah tidak tahan lagi. "Aduh! Haha." Satpam itu tertawa mengejek. "Kamu? Bos baru disini?" Damar mengangguk dengan serius. "Ya, aku orangnya." "Hahaha!" Satpam itu tertawa sambal memegangi perutnya. "Kamu bos baruku? s****n. Yang benar saja!" Damar mengepalkan tangannya dan menatap tajam satpam itu. Dia benar-benar sudah keterlaluan, tidak bisa diberi ampun lagi! Kemudian pada saat itu, beberapa karyawan kantor sudah mulai berdatangan memasuki kantor. Beberapa karyawan yang semalam pergi karaoke dengan Nessa secara mengesankan juga sudah datang. Salah satu pria gemuk yang berkacamata langsung mengenali Damar. "Lho, bukannya kamu kakak ipar Nessa yang s****h itu ya?" Perkataannya membuat semua orang mengenalinya dan mengolok-olok Damar. "Untuk apa kamu datang ke kantor kami? Oh? Kamu ingin balas dendam ke Nessa ya? Hahaha!" "Tidak disangka, ya. Bahkan untuk masuk ke gerbang kantor saja kamu sudah tidak diizinkan masuk. Benar-benar lucu!” “s****h, ya s****h. DI mana pun juga dia tetap s****h! Dan bahkan kamu masih punya muka untuk datang kesini.” "Untung saja ada Pak Mulyadi. s****h ini mungkin saja ingin mencuri kantor ini jika dia masuk!” Mulyadi yang sangat puas dengan pujian itu. Dia kemudian berlagak lebih angkuh di hadapan Damar. "Bocah tengik, ternyata kamu ini seorang pencuri! "Aku peringatkan kamu, ya. Aku hitung sampai lima dan cepat pergi dari sini, atau jangan salahkan aku karena bersikap kasar!" Kemudian dia mengeluarkan tongkat setrum dari pinggangnya dan melambaikannya ke hadapan Damar dan berlagak sangat angkuh. "Lima! Empat!" Tiga!..." Sekelompok karyawan itu mengolok-oloknya lagi. "Pak Mulyadi! Beri saja dia pelajaran! Jangan buat malu Lithon Group!” "Ya! Orang tak berpendidikan seperti dia memang harus diberi pelajaran!" Wajah Damar terlihat sangat kusut dan dia mulai mengepalkan tangannya. Si Mulyadi ini berani untuk mengajaknya bertarung. Dia tak punya kelebihan apa pun, hanya nyalinya saja yang besar! Mulyadi merasa semakin geram melihat Damar yang masih saja di sana dan tak beranjak pergi. Dia masih ingin melawan rupanya? Dia ini lahir dengan jiwa petarung! Dia bisa mengalahkan Damar! "Dua! Satu!" "Huhh!” Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD