“Tunggu, kartu ini…” Faris melihat Damar dan merasa bulu kuduknya berdiri.
Damar menjawab, “Kenapa? Tenang saja, ini asli, aku tidak akan mempermainkanmu!”
“Tidak…” Faris masih tidak percaya dengan apa yang dia pegang.
Diapun mulai memutar ingatannya soal Damar yang datang dan sama sekali tidak takut dengan latar belakangnya.
Damar tidak goyah dari awal sampai sekarang.
Begitu melihat kartu Berlian ini, Faris tahu kenapa Damar tidak takut padanya.
Memikirkan hal ini, Faris mengeluarkan keringat dingin.
Hampir saja, hampir saja dia melakukan kesalahan yang fatal!
Tanpa pikir panjang, Faris langsung bersimpuh dan meminta maaf, “Pak Damar, aku benar-benar minta maaf! Maaf karena aku ini sangat bodoh karena sudah berani memeras anda!”
“Silahkan pukul aku kalau dengan begitu kamu memaafkanku!”
Adegan meminta maaf yang dilakukan Faris saja sudah membingungkan semua orang, apalagi ditambah dengan berlutut!
Manajer karaoke sangat terkejut sampai menutup mulutnya. Siapa Damar sampai bisa membuat orang penting ini berlutut?
Bukan hanya dia, tapi semua orang tanpa terkecuali sedang berdiam diri karena tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.
Noviana menutup mulutnya dan tidak berani membuka mulutnya.
Seolah tidak ada siapa-siapa, Faris benar-benar mengabaikan semua orang yang memandangnya dna terus meminta maaf pada Damar.
Damar juga tidak menyangka akan melihat orang sombong ini meminta maaf padanya, tapi dia sadar kalau semua ini adalah efek dari kartu Berlian miliknya.
Hal ini merupakan sesuatu yang baru bagi Damar, nilai kartu ini lebih dari apa yang dia pikirkan.
Tepat saat Damar hendak menjawab, pintu ruangan itu tiba-tiba terbuka dan masuklah pemilik King karaoke.
Melihat Faris yang berlutut di lantai dengan bibir yang berdarah, dia langsung melotot, “Damar! sialaan! Apa yang kamu lakukan?!”
Sambil mengatakan itu, dia langsung mendatangi Damar dan menamparnya.
Kalau menghajar Damar dapat memadamkan api amarah Faris, pemilik karaoke bahkan bisa membunuh Damar!
Tapi dia sangat terkejut saat Faris memegang tangannya agar berhenti menampar Damar.
Faris berteriak dengan wajah marah, “Beraninya kamu menampar pak Damar! kurang ajar kamu ya!”
Pemilik karaoke memandang Damar dengan wajah bingung.
Faris berharap hal ini dapat membuat Damar memaafkannya.
Pemilik karaoke berkata sambil kebingungan, “P-pak Faris, kenapa kamu…”
Melihat seberapa marahnya Faris dapat membuat pemilik karaoke sadar kalau Damar bukan orang biasa.
Faris memberikan Damar senyuman lalu melihat pemilik karaoke dengan sinis, “Jangan sampai masalah ini sampai tersebar, jangan sampai memperlakukan pak Damar seperti barusan lagi!”
Pemilik karaoke mengangguk berulang kali, “Baik, baik.”
Setelah masalah itu selesai, Faris menemui pemilik karaoke dan bertanya soal Damar. Dia akan menjalin hubungan yang baik dengan Damar karena dia percaya suatu saat Damar akan berguna untuknya.
Kemudian Damar berganti pakaian dan mengambil beberapa barang miliknya. Dia pergi dari karaoke bersama Noviana.
Malam itu angin terasa lebih dingin dari biasanya.
“D-damar, kamu…” Noviana bingung harus bertanya mulai dari mana.
Setelah melihat Faris, dia merasa kalau Damar bukan orang biasa.
“Kak Noviana, kalau kamu ingin bertanya soal tadi… sebenarnya aku sendiri juga tidak tahu,” kata Damar.
“Jangan bohong, lalu kenapa orang buncit s****n tadi sangat takut padamu?” tanya Noviana masih penasaran.
“Kalau kamu tidak menjawab, kakakmu ini akan kecewa!”
Sebenarnya Noviana sedikit ragu untuk melakukan pembicaraan dengan gaya bicara yang biasa dia lakukan dengan Damar. Dia masih bingung siapa Damar dan kenapa Faris sampai bertingkah seperti tadi.
Damar tersenyum dan berkata, “Aku benar-benar tidak tahu kak. Dia mungkin salah orang!”
“Atau mungkin karena dia takut karena aku akan panggil polisi.”
Tentu saja, Damar tidak akan memberitahu Noviana soal kartu Berlian miliknya.
Sekarang Damar tidak bisa bertindak gegabah, terlebih ingatannya masih belum pulih.
“Oh…” jawab Noviana.
“Kak Noviana, aku tidak bohong. Mana ada orang dengan kedudukan tinggi yang kerja jadi penjaga keamanan di tempat karaoke?”
Noviana memikirkan ucapan Damar dan memilih untuk tidak lagi bertanya, “Baiklah, tapi intinya kamu sudah menyelamatkanku. Ayo, sekarang aku akan traktir makan dan nanti aku antar pulang.”
Damar menundukkan kepala dan menjawab, “Kalau traktir makan boleh saja, tapi aku tidak punya rumah.”
Noviana mengernyitkan alisnya dan bertanya, “Hah? Apa maksudmu?”
Damar menghela napas, “Aku sudah bercerai dan diusir dari rumah itu.”
“Kenapa? Bukannya kamu yang membayar KPR nya?”
Damar menggelengkan kepalanya dan berkata, “Percuma, kalau aku bicara pada pihak perumahaan mereka tidak akan percaya kalau lelaki lusuh ini dapat membayar KPR dan lagi, sertifikatnya atas nama Amelia, bukan namaku.”
“Keterlaluan sekali mereka! mereka itu hanya memanfaatkanmu saja! tidak bisa begini, ayo kita tuntut mereka dan ambil rumah itu!” kata Noviana dengan marah.
Noviana merasa kasihan pada Damar. Dia tahu sendiri bagaimana Damar pontang panting mencari uang.
Ibu dan anak itu tidak punya hati!
Damar melihat Noviana dan tersenyum puas, “Aku bisa mengurus masalah ini. Aku akan membuat mereka menyesal kak.”
Damar tahu kalau Noviana sangat mengkhawatirkannya.
Tapi Damar juga akan balas dendam pada keluarga picik itu.
Hal pertama yang harus dilakukan Damar adalah mengembalikan ingatannya.
Noviana mengangguk dan berkata dengan serius, “Baiklah, kalau kamu ada masalah jangan lupa beritahu kakak, aku pasti akan membantumu!”
“Siap kak!”
“Terus malam ini kamu tidur dimana?”
Damar terkejut karena belum memikirkannya sama sekali. Dia menjawab dengan spontan, “Um, apa aku menginap di hotel…”
“Hotel mana? jangan buang-buang uang, tidur saja di rumahku!” ajak Noviana.
“E-eh tapi…”
Belum sempat Damar menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba terdengar suara perempuan dari arah belakang mereka.
“Damar? sedang apa kamu?”