bab 7

643 Words
Tok...tok..tok “Masuk.” “Selamat siang Om.” “Hai Nadia, ada apa? Ada kamu juga Bowi.” “Iya Pak Agus, kami sengaja datang kemari karena ada yang ingin kami bicarakan.” “Tentang Apa Nad.” “Om, sebelumnya kami mau minta maaf dan minta tolong kepada Om agar menjelaskan kesalah fahaman hubungan antara kami yang Anne sangka om.” “Semua bukan nya sudah jelas, Anne pun sudah terima hubungan kalian.” “Om, demi Allah Nadia tidak ada hubungan apa-apa dengan mas Bowi, dan yang mbak Anne lihat itu tak seperti yang dia kira om, Nadia memang merangkul mas Bowi, menggenggam tangan mas Bowi saat itu, karna Nadia sedang curhat tentang pacar Nadia yang sedang selingkuh om, Nadia panik dan pas ketemu dengan mas Bowi, mas Bowi hanya bantu menenangkan Nadia, tapi saat itu mbak Anne memergoki kami.” “Betul itu Wi.” “Iya om, Anne salah sangka dengan kami.” “Baiklah kalau begitu, nanti Om akan coba menjelaskan kepada Anne dan Mama nya. Kalian kan tahu Anne anak keras kepala.” *** Alhamdulillah, om Agus menerima penjelasan aku dan Nadia. Ya Allah Anne sejak dulu memang keras kepala, dan aku sudah sangat hafal dengan perangainya. Semakin aku kejar, semakin aku keras ingin menjelaskan dia tetap enggak mau mendengarkan penjelasan aku. Sampai dengan tega Anne memutuskan sepihak segala nya dengan emosi. Bahkan membaca chat ku, atau menerima telepon ku saja dia tidak mau. Ann, mana mungkin aku merusak kisah dan hubungan kita, apa lagi dengan Nadia. Tapi aku harus memberikan kamu waktu dulu Ann, aku paham andai aku yang di sisimu mungkin sama aku akan cemburu. “Sin, tolong ambilkan berkas-berkas keuangan perusahaan dari bulan Januari-November kemarin ya.” “Baik pak Bowi, akan saya siapkan segera.” Kenapa, kenapa ada selisih keuangan sebanyak ini? Ya Allah, apa Anne tidak mengecek laporan-laporan awal tahun ini. Kenapa anggaran pembuatan Mal dan apartemen nya tidak sesuai dengan pelaksana nya. Dan selisih nya sangat besar sekali sekitar 15 Milyar. “Sin, siapa yang hendlle proyek kita setelah ibu Anne pergi?” “Pak Ahmad pak.” “Oh oke, terima kasih Sin.” Enggak masuk akal banget ini proyek, ya sudahlah aku akan bawa berkas-berkas ini ke pak Agus. *** “Pak, maaf saya mengganggu sebentar ada laporan keuangan yang harus saya laporkan ke bapak.” “Oh, iya masuk Wi.” “Pak, maaf saya akan langsung menjelaskan saja, pak ada penggelembungan dana proyek mal dan apartemen yang dulu Anne Hendlle, dari perencanaan anggaran ke realisasi saya memperoleh minus sampai 15 Milyar pak.” “Kenapa bisa seperti itu Bowi, cepat kamu panggil orang-orang yang memegang dan menjalankan proyek ini.” “Baik pak.” *** Seminggu kemudian... Ya ampun Anne, kenapa sih kamu tidak baca baik-baik kontrak kerja sama dengan PT Abadi. Sampai kamu tanda tangani nilai pembangunan yang kurang masuk akal itu. Ya Tuhan, mau bagaimana lagi semua sudah tidak bisa di batalkan. “Pak, sebetulnya tidak ada masalah dalam proyek kita ini hanya saja total proyek dan bangunan nya saja yang dua kali lipat dari awal. Mau tidak mau perusahaan kota harus menyiapkan dana talangan lagi buat modal sekitar 500 Milyar untuk selesai.” “Bagaimana ya nak Bowi, bapak memerlukan investor baru untuk join, karena selain pegang proyek Anne, bapak pun sama sedang pegang proyek Salemba yang modalnya 3 Triliun nak.” “Baik lah om, saya akan bilang ke papa untuk bantu investasi ke proyek Anne, hanya..” “Hanya apa nak Bowi?” “Om harus bantu yakinkan Anne agar mau melanjutkan hubungan kami. Om papa dan mama Bowi tidak tahu masalah kami ini, dan mereka masih berfikir kalau tahun depan kami akan menikah.” Ya Tuhan, kenapa jadi serumit ini, apakah Anne bisa terima semua ini. Dan Bowi, hanya dia dan keluarganya yang bisa bantu proyekku agar tetap berjalan lancar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD