bab 8

551 Words
Lagi-lagi aku menerima buket bunga mawar di atas meja kerjaku. Tokubetsuna josei no tame ni (Teruntuk wanita yang teristimewa) siapa sih, masa Bowi? Apa mama dan papa yang memberi tahu aku sudah kerja di sini kepada Bowi. Aku pun melempar buket bunga itu ke ujung meja kerjaku. “Brukk....” Ya Allah, aku lupa aku kurang kontrol diriku saat melempar bunga itu. Tan-Lee melihatku dari jauh, melihatku tanpa mengedipkan pandangan. Bodohnya aku, kenapa aku bisa jadi enggak sopan gitu sih. Mana Tan-Lee langsung melihat dan memergoki kelakuan konyol ini. Aku kembali duduk di meja kerjaku, dan aku mulai membuat laporan keuangan harian perusahaan. Ya Tuhan, Bener Tan-Lee masih saja menilai gerak-gerikku. Bodoh...bodoh Anne...tapi siapa yang iseng memberi aku bunga? Bowi? Masa sih Bowi? *** “Sumimasen, ansan, An-san no tame ni hana to chokorēto ga arimasu.” (Permisi nona Anne, ada kiriman bunga dan coklat untuk nona Anne). “Arigatō, tēburu no ue ni oite oite kudasai.” (Terima kasih, simpan saja di atas meja pak). Bunga lagi, bunga lagi...siapa sih yang iseng kepadaku. Tokubetsuna josei no tame ni, Tan-Lee (teruntuk wanita yang teristimewa, Tan-Lee). Astaga, Tan-Lee, apa tidak salah yang aku baca ini? Chat aku berbunyi, Dō yatte? Anata wa watashi kara no hana to chokorēto ga sukidesu (Bagaimana? kamu suka bunga dan coklat dariku). Ya Allah, ternyata selama ini yang memberikan aku bunga adalah Tan-Lee. Aku harus bilang apa ini. Thank you, aku pun mengirim pesan singkat itu. *** Bel apartemenku berbunyi, aku bergegas melihat dan mengecek siapa yang datang menemui ku. “Tan-Lee.” “Hai Anne.” Aku pun bergegas membuka pintu kamar apartemenku. “Irasshaimase.” (Selamat datang) “Tabemono to nomimono o motte kimashitanode, tachiyotte mo kamaimasen.” (Aku membawa makanan dan minuman, tidak keberatan kan aku mampir) “Mochiron, haitte kudasai. Sugu ni o dashi shimasu” (Tentu, mari masuk saya akan hidangkan sebentar) Tan-Lee kenapa malam-malam main ke apartemenku. Dengan terpaksa aku menghidupkan AC di ruanganku. Padahal aku tak terbiasa memakai AC selama di Jepang. Apa boleh buat ada tamu, dan kalau aku kerja pun aku harus pakai AC. “An no kaitekina o heya. Ikaga nasaimashita ka?” (Ruangan yang nyaman Anne. Bolehkah aku membantumu?) “Mochiron, go jitaku no yō ni kutsuroide kudasai. Kaiteki ni sugoshite itadakereba saiwaidesu. Watashi no shinpuruna apāto.” (Tentu, silahkan anggap saja rumah sendiri, semoga nyaman pak di sini. Apartemenku yang sederhana ini) “Mochiron, anata no yōna tokubetsuna josei to issho ni ikagadesu ka.” (Tentu, kenapa tidak jika dengan wanita istimewa sepertimu) Tan-Lee menatapku dengan hangat, dan lagi-lagi aku hanya bisa tertunduk. Berusaha untuk menghindari semua keadaan yang mungkin salah atau tidak tepat ini. Bayangan wajah Bowi menggeliat seketika, kenapa aku merasa bersalah, merasa ada sesuatu yang terkotori jika aku bersama Tan-Lee. Ya Allah, perasaan apa ini? Apakah aku harus setia dan menjaga hati demi laki-laki yang menyakiti hati. Apakah aku sebetulnya masih cinta dengan Bowi? Apakah pantas aku memikirkan dia? Tan-Lee, mungkin, mungkin saja dia lebih baik untukku, dan mungkin saja perasaannya tulus untukku. Aku menatap Tan-Lee begitupun dia. Dan malam ini dia mengatakan perasaannya kepadaku. Dan lagi, aku belum sempat membalas perasaan nya kepadaku. Dia menggenggam erat tanganku seraya ingin membuktikan perasaan yang mungkin begitu berat dan tulus untukku. Dan aku hanya bisa menatapnya saja, saat ini tanpa membalas satu kalimat pun.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD