bc

Promised Love

book_age18+
894
FOLLOW
10.7K
READ
love-triangle
family
drama
tragedy
sweet
bxg
childhood crush
first love
gorgeous
stubborn
like
intro-logo
Blurb

Grandpa Baskoro became depressed since his only son dies overdose. Now it only two Sunaryo left in this world, him and his beloved granddaughter, with all their wealthy Grandpa Baskoro aware that he needs to continue their big business, by having a heir. So grandpa has to make a strategy to arrange a marriage between her beloved grandchild and his adopted child.

_____

Opa Baskoro menjadi depresi karena putra satu-satunya meninggal karena overdosis. Hal ini juga berarti bahwa keluarga Sunaryo hanya tersisa dua orang di dunia ini, dia dan cucunya yang tercinta. Opa Baskoro sadar bahwa segala kekayaan yang dimiliki Keluarga Sunaryo dan segala bisnis besar mereka memerlukan seorang pewaris. Maka kakek harus membuat strategi untuk mengatur perkawinan antara cucu kesayangannya dan anak angkatnya.

chap-preview
Free preview
Prologue
Gentala’s Pov   Tidak banyak yang tau kalau aku hanyalah anak angkat keluarga Sunaryo, yang merupakan salah satu keluarga pemilik tambang mineral di negeri ini. Walapun industri mineral tidak sebesar puluhan tahun yang lalu, akan tetapi investasi bisnis kamipun sudah tidak melulu di tambang. Kini usaha kami sudah merambah pada industri real estate, dan rencananya juga beberapa tahun kedepan kami akan mulai berinvestasi pada biochemical engineering. Gila bukan, jika mengingat sepuluh tahun yang lalu Opa masih menjalankan strategi bisnisnya dengan cara kuno, dan aku yang pada saat itu masih sangat idealis mulai melakukan perombakan besar pada bisnis Opa. Jelas awalnya aku sempat mendapatkan penolakan luar biasa dari berbagai pihak, tapi keyakinan dan usahaku mengalahkan segala. Kita harus berubah sekarang atau tidak sama sekali, itu yang aku dan Pey yakini.   Selanjutnya, kisah mengenai diriku, bagaimana aku bisa sampai di keluarga ini. Sepenggal kisah mengenai seorang anak laki-laki yang mendapatkan keberuntungannya di suatu sabtu pagi yang cerah kurang lebih sembilan belas tahun yang lalu. Keberuntungan aku berawal dari kebiasaanku yang kerap bangun awal dari teman-teman pantiku yang lain. Hari itu hari sabtu yang merupakan jadwal piketku untuk mengepel dan membersihkan seluruh ruang tamu panti. Hari itu kakiku tanpa sengaja menginjak sebuah saputangan putih dengan bordir berwarna merah bertulis latin nama Maria di tepinya.   Karena tidak satupun dari anak panti kami bernama Maria, aku cukup yakin bahwa saputangan tersebut bukan miliki salah satu dari kami. Aku bermaksud mengembalikan saputangan itu kepada Suster Kepala, tetapi di tengah lorong menuju ruang Suster Kepala, aku melihat wajah yang cukup familiar. Seorang laki-laki tua yang merupakan tamu tetap panti kami. Aku masih ingat saat itu dia memakai kaos polo hitam dengan topi senada, dia sedang berbicara dengan seorang suster muda, Suster Beatrice. Laki-laki tua itu tampak gelisah. Entah apa yang membuatku menghentikan langkahku pada saat itu dan langsung bertanya padanya, “Apa ini milik anda tuan?” aku masih ingat kata-kata tersebut dan ekspresi setelahnya membuatku heran.   “Terima kasih, aku sudah mencari sapu tangan ini pada setiap sudut ruangan.” Dia teramat senang ketika aku menunjukkan saputangan itu, aku ingat ekspresi matanya yang berkaca-kaca seperti seseorang yang akan menangis tapi juga amat sangat bahagia disaat bersamaan. Entah mengapa hanya untuk sebuat saputangan aku bisa mendapatkan ekspresi seperti itu, yang mana jawabannya baru aku ketahui bertahun-tahun kemudian.   Oh ya, nama laki-laki tua itu adalah Opa Baskoro, yang pada akhirnya aku ketahui merupakan donator tetap panti tempatku berada. Adalah beberapa hari kemudian Suster Kepala memanggilku ke ruangannya dan mengatakan bahwa aku akan segera diadopsi, oleh salah satu dontur tetap panti. Pada saat itu aku masih belum tahu jika orang yang akan mengadopsi aku adalah Opa Baskoro kakek tua si pemilik saputangan, hingga dia datang mejemputku.   Opa Baskoro mengadopsiku ketika aku berumur 11 tahun lebih, umur yang tergolong tua bagi seorang anak untuk diadopsi. Dulu aku bahkan kerap berpikir jika seseorang tidak akan pernah datang untukku, tidak ada yang menginginkanku, dan aku akan menghabiskan sisa hidupku mengabdi pada panti. Karena umumnya para calon orang tua lebih memilih untuk mengadopsi seorang bayi atau balita, bukan seorang anak yang sudah menuju masa remaja, mereka percaya bahwa masa remaja sudah terlalu sukar untuk dibentuk atau diarahkan. Tapi tidak dengan Opa. Hari itu aku ingat Minggu siang, aku mengenakan kemeja terbaikku, dan celana panjang kain, satu-satunya celana panjang yang aku miliki saat itu.   Tetapi diluar dari cerita kebahagian aku bersama dengan Opa, ada cerita sedih yang aku simpan di hari itu, karena aku harus bepisah dengan Hara. Hara adalah sahabat terdekatku selama aku di Panti. Hara selalu ada untukku, ketika aku sedih, hilang harapan, dia selalu ada untuk memelukku. Hara gadis manis kesayanganku. Gadis manis yang namanya telah aku torehkan dalam. Gadis manis pemilik sumpahku, bahwa aku akan selalu menjaganya. Seseorang yang hingga kini wajahnya selalu muncul setiap aku membuka mataku dari tidur.   Aku ingat di hari perpisahan itu langit mendung dan malam sebelumnya aku menagis tak henti bukan karena berpisah dengan teman-teman panti yang lain, tetapi aku menagis karena tahu esok tidak akan bisa melihat Hara kembali. Sehari sebelumnya aku sempat membuatkan Hara sebuah gelang yang aku pintal dari berbagai pita parsel pemberian tamu panti. “Jaga dirimu Hara, aku berjanji akan menjmputmu kelak ketika aku besar nanti. Aku akan menikahimu kelak ketika aku besar nanti.” Begitu kata-kata terakhir sebelum aku pergi meninggalkannya.       Ingatanku terbang semakin jauh ketika pertama kali aku melihat Hara memasuki pintu panti. Gadis kecil dengan pita merah muda terikat pada rambutnya yang hitam ikal, terus menerus melemparkan senyumnya padaku. Karena Hara-lah panti yang sebelumnya terasa seperti penjara bagiku, seketika menjadi rumah terhangat yang pernah aku tempati. Sekali pernah aku bertekad untuk dapat bersamanya hingga akhir nanti, dan dia membalas janjiku dengan kecupan manis di pipi, yang manisnya masih bisa aku rasakan hingga hari ini. Tapi apalah arti tekad seorang anak laki-laki yang berumur lima tahun. Aku sudah pernah berusaha untuk mencari Hara berkali-kali, tetapi selalu berujung tanpa hasil. Hingga akhirnya janji hanyalah janji, kenangan tinggal kenangan. Hanya foto ku bersamanya yang aku simpan hingga hari ini.    “Gentala kamu sudah siapin presentasinya? Opa suka cara kamu menjalankan bisnis, tapi apa kamu sadar resiko yang kita pertaruhkan jika invetasi kali ini gagal?” suara Opa mucul tiba-tiba dibelakangku ketika aku sedang menyiapkan kopi pagi.  “Opa sudah berapa banyak investasi yang aku lakukan? Berapa banyak million-dollar profit yang telah aku hasilkan, kapan perhitungaku gagal Opa?” aku membalikkan tubuhku menatap lekat pada matanya yang sudah berkerut. Aku bisa melihat kecerdasan dari mata laki-laki tua ini, tapi kadang aku kurang suka ketidakberanian Opa untuk bertaruh banyak pada hal yang baru.   “You did once, a failure, a wrong investment!” mata Opa dipicingkan menatapku balik, mencoba mengingatkanku pada sesuatu.   “Oh not again, kenapa Opa seperti wanita tua yang suka mengungkit-ungkit kesalahan suaminya. Ya, aku pernah melakukan kesalahan, tapi itu dulu. Ketika aku berumur 19 tahun yang mana pada saat itu adalah pertama kalinya Opa menyemplungkan aku di dunia bisnis. Opa menantangku untuk melakukan perhitungan bisnis. Dan akupun masih di semester awal-awal saat itu Opaaa!. Itu hampir dua puluh tahun yang lalu. Please trust me, you know I am right.” Aku menggosong kedua lengan Opa dengan kedua tanganku, dan sedikit menundukkan kepalaku dan mengecup keningnya. “Please trust me Opa, aku tidak akan pernah mengecewakanmu”   “I love you boy” Opa mendongak kepadaku menggangkat tangannya dan mengelus pipiku. “kamu tidak pernah mengencewakan Opa, tidak juga nanti…….uhuk, uhukk, uhuk….”   “Opa? Sudah berapa kali aku ingatkan untuk berhenti menghisap cerutu..” aku memegang kedua lengannya rapat, menatapnya tajam dengan kedua mataku.   Opa mengangkat kedua tangannya, memintaku untuk tidak terlalu mengkhawatirkannya.  “Opa fine, don’t worries.” Cepat ke ruang meeting ya, jangan sampai terlambat. Opa mau ke toilet dulu. Opa berlalu sembari menepuk lenganku.  

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Kali kedua

read
222.4K
bc

BUKAN CINDERELLA

read
114.8K
bc

FINDING THE ONE

read
36.4K
bc

Noda Masa Lalu

read
208.3K
bc

His Secret : LTP S3

read
667.7K
bc

Loving The Pain

read
3.0M
bc

Call Girl Contract

read
340.9K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook