bab 3. Menjadi Calon Cucu Menantu.

1233 Words
Satu tahun kemudian. Anyelir Elvina Handoyo telah menjadi Anyelir Rahayu. Ia yang sekarang adalah seorang perempuan biasa yang tinggal di pinggiran kota. Menjadi gadis yang terkesan kampungan. Bekerja sebagai penjual nasi pecel, dan tinggal di rumah kontrakan. Anyelir Rahayu sangat sederhana dan tidak tampak cantik sama sekali. Sehari-hari selalu memakai kacamata dengan muka kusam, berpakaian dengan warna tabrakan, dan kumal. Tidak ada sedikitpun lipstik yang mewarnai bibir. Wajahnya selalu pucat selama setahun belakangan. Ia memang berusaha keras menjauh dari kehidupannya yang dulu sebagai Anyelir Elvina Handoyo. Namun siapa yang menyangka, Anyelir cupu justru bertemu dengan seorang nenek yang ditolong satu bulan yang lalu, dan nenek itu adalah seorang yang kaya raya. Memiliki banyak harta dan kuasa di kota tempat tinggal keluarga Handoyo. Nenek bernama Sofia Lily Alexandra, adalah seorang keturunan ningrat turun menurun yang hartanya memang jarang diekspos berita. Karena mereka bukan konsep yang ingin diakui oleh masyarakat. Namun, cukup untuk mereka bisa hidup tenang dengan harta berkecukupan, melakukan apapun yang disukai dan diinginkan. Juga mengenal dunia dengan cara diam-diam. Namun, meski sudah bersikap demikian. Tetap saja masih ada segelintir orang yang menginginkan nenek Sofia jatuh. Lalu merebut semua harta dan usahanya. Terutama dari keluarga yang dengki dengan apa yang dimiliki nenek Sofia. Sekarang, Anyelir, si perempuan berpenampilan culun sudah berada di rumah nenek Sofia. Wajahnya menunduk dan bingung dengan hal yang sedang terjadi saat ini. "Tapi, Nek, ini terlalu mendadak. Nenek juga belum kenal aku dengan baik." Anyelir masih menunduk. Dia sedang duduk di sofa mewah milik nenek Sofia di ruang tamu. "Aku sudah kenal kamu Anyelir, kamu baik dan tulus sama nenek. Meski nenek sering membuat kamu repot waktu nenek tinggal bareng sama kamu." "Tapi Nek!" Anyelir kali ini mengangkat wajahnya, menatap sang nenek penuh permohonan. "Tidak ada kata tapi, setelah ini kamu tinggal disini dan akan menjadi cucu menantu nenek." “Apa!” ** Calon suami Anyelir, cucu dari nenek Sofia adalah Vino Ranggara. Cucu terakhir dari garis keluarga Alexandra. Memang hanya sang nenek yang mengenakan nama Alexandra itu. Kedua orang tua Vino sengaja tidak menandai nama putra mereka dengan Alexandra yang merupakan nama besar dalam dunia bisnis keluarga tersebut. Karena nama itu mengandung bahaya. Setiap orang yang tahu keberadaan nama tersebut pada seorang keturunan Nenek Sofia sudah pasti bersedia untuk menjalin hubungan dengan banyak motif tidak baik. Sementara itu, Vino saat ini sedang berada di kantor. Ia memimpin sementara perusahaan yang bergerak di bidang makanan milik nenek Sofia. Namun, setelah meeting panjang dan melelahkan, Vino ternyata mendengar kabar kalau neneknya sudah pulang ke rumah. Tanpa peduli masih banyaknya pekerjaan, Vino pun bergegas pulang. Ia sudah sangat rindu pada neneknya. Selama satu bulan ini juga sangat cemas karena telah kehilangan sang nenek tanpa jejak. “Aku harus cepat pulang, semua pekerjaan ini. Suruh lanjutkan staff ahli. Kalau ada yang penting. Baru kalian bisa hubungi aku!” Vino mengambil kunci mobilnya dan berlalu keluar ruangan kerjanya. Tidak ada yang berani menghalangi Vino. Ia pun bisa tiba di rumah setelah mengendarai mobil dengan kecepatan penuh. Lekas dirinya menuju ruang tamu. Ia melihat neneknya duduk dengan santai, berhadap dengan seorang gadis berkacamata. Akan tetapi, untuk sementara ini, Vino tidak peduli gadis tersebut. Ia hanya peduli pada keadaan neneknya. "Nenek kemana aja. Gimana keadaan nenek?" tanya Vino yang langsung memeluk erat sang nenek. "Nenek nggak papa. Nenek baik-baik aja." Nenek Sofia mengusap kepala sang cucu. Rasanya ia juga sangat rindu. Baru kali ini, dirinya tidak bertemu dan berhubungan sama sekali dengan Vino. "Kok kamu kelihatannya makin kurus?" "Iya, aku jarang makan semenjak nenek hilang!" Nenek Sofia tersenyum. Mereka berdua memang sangat dekat. Wajar, kalau Vino separah itu kepikiran neneknya yang hilang. Tidak bisa dihubungi dan ditemui. Pasti cucunya itu selama satu bulan ini merasa tersiksa. "Maafin nenek ya. Nenek memang dapat hal buruk satu bulan yang lalu. Nenek hampir meninggalkan dunia ini," ucap nenek Sofia. "Apa!" Vino lantas memasang wajah geram. "Apa nenek tau siapa yang melakukannya. Biar Vino yang kasih pelajaran. Atau jangan-jangan dia?" Vino melirik tajam pada Anyelir. Anyelir kaget mendapat tatapan penuh tuduhan seperti itu dari Vino. Ia lantas mengangkat kedua tangan dan menggerakkan seirama dengan gelengan kepala yang berarti penolakan. "Bukan, bukan aku. Udahlah Nek, Anyelir nggak mau tinggal disini. Anyelir pulang aja!' "Aduh jangan! Anyelir! Kamu temani nenek tinggal di sini!" Nenek Sofia sedikit berdiri dan langsung memegangi pergelangan tangan Anyelir. "Nek, emang dia siapa?" tanya Vino. "Kenapa dia malah suruh tinggal di sini?" Menatap Nenek Sofia dengan penasaran. "Dia ini yang nolongin Nenek. Nenek mau, dia jadi calon istri kamu!" jawab Nenek Sofia yang langsung mengejutkan hati Vino. “Apa!” kaget Vino. Ia tidak percaya kalau nenek Sofia yang sudah pulang malah menjodohkan dirinya dengan gadis berkacamata yang terlihat tidak menarik sama sekali. ** Sejak saat itu, Anyelir tinggal bersama nenek Sofia juga Vino. Ia sudah beberapa hari di sana dan ada sesuatu yang menggelitik hati seorang Anyelir. Keberadaan kedua orang tua Vino, atau lebih tepatnya anak dari Nenek Sofia. Mereka ada di mana. Mengapa tidak ada tanda-tanda keberadaan mereka sampai saat ini. Bahkan fotonya juga tidak terlihat. Hingga suatu malam, lebih tepatnya malam ketiga Anyelir tinggal di rumah Nenek Sofia. Vino datang menemui Anyelir sewaktu duduk sendiri di tepi kolam renang. Mereka berdua kemudian terlihat sedang berbicara serius mengenai perjodohan yang diinginkan sang nenek. "Jujur aku tidak suka perjodohan ini. Tapi, demi nenek aku akan melakukannya. Mungkin perlahan akan tumbuh cinta di antara kita. Tapi, aku tidak tahu kapan itu akan terjadi. Sampai detik ini, aku merasa tidak tertarik sama sekali padamu!" ucap Vino dengan sangat jujur. Anyelir hanya menghela nafas. Ia menatap sekilas pada wajah Vino yang memang tampan. Namun, itu hal wajar karena mereka memang keluarga kaya raya. Tentu urusan tampang jadi nomor satu. "Aku juga. Apa kamu pikir aku menyukai perjodohan ini.” Tegas Anyelir pun menunjukkan penolakan. Vino menatap tidak percaya. Ia justru berpikir kalau Anyelir yang menginginkan perjodohan ini. "Kalau kamu nggak suka. Kenapa kamu nggak menolak. Kenapa juga kamu mau datang ke rumah ini, nginep lagi?" Anyelir tersenyum kecut mendengar ocehan Vino. Bagaimana bisa pria tersebut malah bicara secerewet ini. Bukankah Vino sudah tahu kalau nenek Sofia yang memaksa agar dirinya tetap tinggal di rumah ini. "Kamu! Sekalinya ngomong kenapa langsung main tuduh begitu. Hah! Menyebalkan! Dari awal aku cuma berniat nganterin nenek Sofia selamat sampai rumah. Itu aja!” Vino menatap Anyelir. "Kalau begitu, kenapa setelah nenek Sofia sampai rumahnya kamu nggak pergi? Kenapa kamu masih tinggal di sini?" "Soalnya tas sama dompetku disimpan sama nenek Sofia. Terus gimana caranya aku bisa pulang? Kamu mau kasih aku ongkos, ngurusin ktpku sama bikin kunci rumahku juga yang ikut ditahan sama nenek Sofia! Hah!!" Meninggi nada bicara Anyelir. “Apa! Ya nggak bisa gitu dong!” Vino jadi kesal sendiri. “Kan aku ….” Perdebatan itu akhirnya menjadi sangat berisik. Hingga tanpa mereka berdua tahu, ternyata nenek Sofia yang sedang pergi ke dapur untuk mencari air mineral mendengar itu semua tanpa sengaja. ‘Apa-apaan Vino itu, kenapa dia berantem sama cewek baik kayak Anyelir!’ batin Nenek Sofia. Kesal juga emosi membanjiri hati dan pikiran Nenek Sofia. Ia tidak menyangka Vino akan mengatakan hal yang demikian jahat pada Anyelir. "Lihat aja besok. Aku akan lakukan sesuatu pada Vino supaya dia tidak mengatakan hal yang bukan-bukan sama Anyelir. Anak baik begitu, zaman sekarang nyarinya susah. Ibarat mencari jarum di dalam tumpukan jerami," ucap nenek Sofia sendiri. Ia pun bergegas kembali ke kamar, sebelum ketahuan Vino, kalau dirinya sudah menguping pertengkarannya dengan Anyelir.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD