Brag…
Ketiga wanita di dalam ruang tamu yang tengah mengobrol pun ikut tersentak kaget saat bunyi gerbaragan pintu terdengar cukup keras.
Tatik sempat berpikir kalau yang datang itu putranya, sekalipun Tatik merasa tidak yakin karena putranya tidak pernah berbuat hal seperti itu.
Dimas putra tunggalnya itu selalu menguncapkan salam sebelum masuk ke rumahnya, bukan mengejutkan seperti ini.
“Ba—pak…” panggil Riana lirih.
Kedua matanya masih membulat, dadanya masih naik turun karena terkujut apa lagi jantungnya yang berdetak semakin cepat lebih dari biasanya.
“Riana…” seru Sugen, menghampiri putrinya.
Riana dan Ane masih dengan wajah syok karena kemunculan Bapaknya itu tiba-tiba sekali seolah bapaknya itu menyusul Riana ke rumah Bulek Tatik.
Sugen seolah tak punya sopan santun dan sama sekali tidak mencerminakan orang tua yang baik.
Seharusnya bila bertamu itu datang dengan sopan santun ketuk pintu dulu lalu mengucapkan salam.
Tapi ini tidak sama sekali, bapaknya malah begitu saja masuk ke dalam rumah kaka iparnya tanpa diizinkan oleh sang pemilik rumah.
“Pulang Riana!” tekan Sugen.
Ia berjalan mengelilingi sofa pajang lalu menarik lengan Riana agar putrinya itu bangun dari duduknya dan ikut bersamanya.
“Pulang ke mana Pak?”
“Ke rumah. Kemana lagi!” seru Sugen.
“Nggak mau Pak. Riana nggak mau pulang. Riana mau di sini!”
Riana menarik tangannya yang di cekeram kuat oleh bapaknya. Sungguh ini sakit, cengkeraman bapaknya menyakiti tangan Riana.
Bulek Tatik langsung bangkit untuk menenangkan adik iparnya itu. Ia berharap adik iparnya mau bicara baik-baik dengan putrinya tanpa paksaan seperti ini.
Sementara Ane, gadis kecil itu langsung masuk ke dalam kamar guna mengambil ponselnya yang tengah di chas untuk menelephone Mas Dimas agar cepat pulang.
Ane nggak ikut kalau bapaknya sampai membawa kaka nya pulang ke kampung yang akan di jadikan istri ke 4 Juragan Doso.
“Mas Sugen tolong jangan seperti ini. Kita bisa bicara baik-baik mas,” pinta Bulek Tatik.
“Saya nggak bisa bicara baik-baik, Mbakyu. Maaf, saya harus bawa Riana pulang ke kampung!”
“Nggak mau pak. Tolong lepasin Riana.” Riana meronta, tak peduli tangannya sakit tapi Riana harus melepaskan cengkeraman bapaknya.
Riana menyesal mampir ke rumah Buleknya kalau tahu bapaknya akan mencari nya sampai sejauh ini.
“Rie. Tolong jangan bantah keinginan bapak!”
Riana mendengus pelan, meski sebelah jarinya-jarinya memaska melepaskan tangan bapaknya.
“Bapak nggak kalau Juragan Doso datang ke rumah, kamu nggak ada di rumah. Bapak nggak Juragan Doso mengambil paksa ginjal bapak dan juga mata bapak. Bapak belum siap buta, Rie. Jadi tolong bapak,” pinta Sugen pada putrinya.
Permintaan macam apa orang tua seperti ini?
Mengumpankan putrinya sendiri demi hutang-hutang judinya?
Riana sungguh sial, amat sial kenapa ia harus pulang segala ke kampung.
Seharusnya tadi Riana nggak kembali saja buat selamanya dari pada jadi kaya ginih.
Riana menatap benci, penuh benci. Sudah gagal menjadi suami, kini pria tua itu pun gagal menjadi bapak yang baik.
Pria tua itu begitu tega menjual putrinya sendiri demi keselamatan nyawanya.
Bukannya itu terbalik?
Riana tak pernah membaca novel seperti ini tapi Riana sering menonton drama korea. Tapi di kebanyakan drama korea yang sering Riana tonton, kejadian seperti ini tidak pernah ada di film yang Riana gemari.
Biasanya orang tua itu menjodohkan putra dan putrnya karena urusan pekerjaan. Biasanya kandidatnya itu seorang Ceo tampan kaya oppa-oppa korea. Perjodohan yang terpaksa karena harus menyelamatkan perusahannya dengan ending yang membahagikan.
Tapi di dunia Riana sendiri sangat jelas beda veris. Riana di paksa menikah. Memang latar belakangnya seorang pria kaya raya yang berusia 65 tahun yang memiliki 3 istir 20 anak dan 10 cucu itu yang Riana nggak terima.
Apa lagi perjodohan ini karena hutang judi bapaknya. Sungguh Riana nggak terimanya itu.
“Bapak jahat! Ririe benci bapak!”
“Maafkan bapak, tapi bapak nggak punya pilihan lain selain harus memberikan kamu sama Juragan Doso,” paksa Sugeng.
Air mata Riana merebak, tak ikhlas harus menikah dengan pria tua dan jadi istri keempat.
“Kenapa bapak nggak kasih saja ibu buat jadi istri ke 4 pria bau tanah itu!” seru Riana.
Riana tak sudi kalau harus menjadi tumbal bapaknya untuk menebus hutang judinya. Enak saja, pria tua bau tanah itu mendapatkan yang masih tersegel alias suci. Riana tak mau menyerahkan kesucianya pada pria tua itu.
Biar saja Riana egois sama bapaknya berkata seperti itu, toh banyak juga nggak mikirin nasib Riana sama sekali.
“Astaga… mana laku ibumu itu Rie!”
Riana mendelik, seandainya laku pun apa mungkin bapaknya akan memberikan istrinya sendiri pada pria lain?
Riana mendengus marah, sangat marah. Bisa-bisanya Riana punya bapak minus semuanya kaya ginih.
Benar-bener nggak bisa di jadikan contoh. Kecanduan judi membuat bapaknya hilang akal sehingga harus mengorbankan anak-anaknya.
Dulua Ane, sekarang dirinya.
Riana berteriak di dalam hati, ‘Tuhan aku lebih baik mati saja dari pada harus menikah dengan aki-aki tua bau tanah.’
“Tapi jangan Riana pak. Riana nggak mau!” seru Riana.
Drama india pun di mulai, mereka tarik menarik.
Riana tak mau ikut dengan bapaknya sampai sejak tadi sebelah jarinya itu mencoba melepaskan cengkeraman bapaknya yang kuat pun tak bisa sedangkan Sugen sama sekali nggak mau melepaskan tangan putri sulungnya.
Alasan Sugeng simple, takut Riana kabur.
Beruntung otaknya di pakai, untuk mengejar putrinya. Beruntung juga Riana nggak pulang ke Singapore dan masih berada di Indonesia.
Nggak salahnya Sugen harus menawan putri sulungnya sebelum jatuh tempo pembayaran hutang seandainya Riana nggak mau meminjam uang pada bosnya yang kaya raya itu.
Dan keberuntungan Sugen mala mini mendapati Riana berada di rumah kaka iparnya, entah bagaimana kalau Riana sampai pulang ke Singapore.
Sugeng nggak tau bagaimana harus mencari keberadaan Riana. Negeri singa itu memang terlihat kecil di dalam peta. Tapi tetap saja aslinya luas meski tak seluas Indonesia.
Lagian Sugeng nggak bisa bahasa inggris dan tidak tahu Riana tinggal di kota mana bila menyusul Riana ke Singapore. Mau tak mau, Sugen harus membawa Riana pulang ke Solo untuk menjadi jaminan nanti pada Juragan Doso.
Sugeng belum siap kehilangan penglihatannya. Sugeng nggak mau buta. Biar apa kata orang Sugeng egois dan kejam. Tapi demi menyelamatkan nyawanya, Sugeng harus melakukan hal ini pada putri-putrinya.
“Pak Riana nggak mau!”
“Bapak juga nggak buta Rie!”
Riana sontak kaget. Bagaimana ada bapak model bapaknya ini. Egois.
“Riana juga nggak mau menikah sama pria tua bau tanah pak!” seru Riana.
“Kalau begitu kamu pinjam uang sama bos kamu yang punya perusahan besar itu, Rie!” pinta Sugen.
“Nggak mau pak! Riana nggak mau menyusahkan bos Riana!” tolak Riana keras.
Sugeng mendengus marah, ia pun menyeret Riana untuk pergi dari rumah mbakyu nya.
“Bulek….” Teriak Riana.
Ane menghampiri bapanya.
“Bapak lepasin Ka Ririe, pak…”
“Kamu nggak usah ikut campur Ane!” bentak Sugeng.
“Mas, tolong jangan kaya ginih. Kita harus bicara baik-baik mas.”
“Maafkan saya mbakyu. Saya nggak punya jaminan sama sekali. Tolong pengertiannya.”
Sugeng menarik paksa Riana agar lekas keluar dari rumah Buleknya itu.
Riana menatap buleknya dengan tangisan. Riana benar-benar nggak mau di kawinkan sama Juragan Doso.
‘Siapapun, tolong Riana...’ doa Riana dalam hati menatap kedua wanita yang terus mencoba menarik lengan Sugen untuk melepaskan Riana.
“Mas… tolong… lepasin Riana…”
“Jangan ikut campur mbakyu. Ini urusan saya sama anak-anak saya.”
“Ya, tapi bapak nggak boleh kaya ginih! Bapak itu egois tau. Memikirkan keselamatan sendiri dari pada keselamatan putri-putrinya!” seru Ane.
Sugen menatap nyalang, ia dorong tubuh gadis kecil itu hingga terhempas ke rurumputan.
“Aneeee…” teriak Riana keras.
Air matanya semakin deras turun saat bapaknya yang jahat itu mendorong tubuh—
“Buleeeeekkk… Ti—”