BEFORE EVERYTHING–08

1579 Words
Bel istirahat kedua baru saja berbunyi. Lorong sekolah yang semula dipenuhi suara guru perlahan berubah ramai oleh langkah kaki para siswa. Sebagian bergegas menuju kantin, sebagian lagi memilih tetap berada di depan kelas sambil mengobrol atau diam di kelas mengerjakan tugas yang belum selesai. Cantika meregangkan kedua lengannya sebelum menutup buku Fisika. "Capeknya ya Allah..." gumamnya. Delia menoleh. "Baru juga tiga pelajaran." "Justru itu." Cantika memasukkan buku ke dalam laci meja. “Lagi nggak mood gue.” “Kantin dulu yuk. Siapa tau mood lo balik.” "Nggak ah. Masih ada roti sama es coklat di tumbler. Lo aja sana." "Gue juga bawa bekal sih. Kan bisa makan di kantin?" "Gue pingin ke taman aja." "Kenapa?" "Males rame." "Yaudah." Keduanya pun berjalan keluar kelas sambil membawa bekal masing-masing. Hari itu cuaca cukup bersahabat. Langit biru tampak bersih tanpa banyak awan, sementara angin berembus pelan membuat suasana taman sekolah terasa lebih teduh dibanding biasanya. Mereka memilih duduk di salah satu bangku kayu di bawah pohon flamboyan. Delia membuka kotak bekalnya lebih dulu. "Ca?" "Hmm?" "Calon ketos mulai presentasi ya hari ini?" Cantika mengangguk. "Jadwal di kelas dua belas." "Pantes nggak kelihatan." Cantika kembali mengangguk tipis. Sejak masa kampanye dimulai, jadwal Sam memang jauh lebih padat dibanding biasanya. Hari ini presentasi di kelas XII. Besok giliran kelas XI. Lusa keliling di kelas X. Esok hari selanjutnya rapat bersama panitia pemilihan. Belum lagi tugas-tugas OSIS yang tetap harus berjalan seperti biasa. Aneh memang. Sam justru terlihat semakin menikmati semua kesibukan itu. Dan Cantika justru jadi kurang bersemangat. Mungkin karena booster semangatnya belakangan jarang terlihat. Tak jauh dari taman, seorang siswa kelas sebelas menghentikan langkahnya. Keano namanya. Ia baru saja selesai membantu guru Biologi mengangkat beberapa pot tanaman ke laboratorium ketika tanpa sengaja melihat Cantika yang sedang duduk bersama Delia. "Itu Cantika, kan?" gumamnya pelan. Vero, temannya yang berdiri di sampingnya, mengikuti arah pandang Keano. "Oh..." Ia mengangguk tipis. "Yang kemarin kita lihat di Raiden Equestrian Centre?" "Hmm." "Kenapa? Mau lo samperin?" Keano terkekeh singkat sebelum mengembuskan napas pelan. "Kayaknya." Sebenarnya, ini bukan pertama kalinya ia melihat Cantika. Jauh sebelum tahu jika gadis itu bersekolah di SMA yang sama dengannya, Keano beberapa kali berpapasan dengannya di Raiden Equestrian Centre, kompleks latihan berkuda tempat mereka sesekali berlatih. Namun... mereka tak pernah benar-benar saling mengenal. Keano biasanya datang menjelang sore untuk latihan show jumping bersama klubnya. Sementara Cantika hampir selalu sudah berada di sana lebih dulu. Kadang sedang memanaskan kudanya. Kadang baru selesai latihan lalu membantu salah seorang perawat kandang melepas pelana dan membersihkan tubuh kudanya sendiri. Padahal... Keano tahu betul, banyak anak seusia mereka yang memilih menyerahkan pekerjaan seperti itu kepada groom. Cantika berbeda. Ia melakukannya sendiri. Tanpa banyak bicara. Tanpa terlihat ingin diperhatikan. Dan tampak begitu menikmati interaksi dengan kudanya. Entah kenapa... justru pemandangan sederhana itulah yang paling diingat Keano. "Lo tuh dari dulu kelamaan mikir," ujar Vero sambil menyenggol bahunya. "Hah?" "Kalau mau kenalan ya gas, bro!” Keano tersenyum simpul. "Belum tentu orangnya mau gue ajak kenalan." "Ya ditolak juga nggak mati kan? Kenalan doang." "Enak aja lo ngomong." Vero tertawa. “Gue perhatiin banyak yang ngincer lho, Ken.” “Serius lo?” “Hmm. Cuma dianya cuek banget. Susah dideketin. Jutek.” Keano tergelak singkat. “Cute!” “Anjiiir! Cute pula lo bilang.” Keano kembali mengarahkan pandangannya ke arah taman. Cantika tampak terkekeh mendengar sesuatu yang dikatakan Delia. Tawanya itu tak lantang. Namun mampu membuat sudut bibir Keano ikut terangkat. "Buruan!" Vero kembali mendorong pelan bahunya. "Sana." Keano menarik napas panjang. "Oke. Wish me luck!” "Jangan mati dulu lo! Kalau ditolak jangan bilang-bilang." Keano terkekeh sambil menggeleng, lalu benar-benar melangkah menuju taman. Sementara itu... Cantika sama sekali belum menyadari ada seseorang yang sedang mendekat ke arah bangku mereka. Justru Delia yang lebih dulu melihat. Ia menyenggol pelan lengan Cantika. "Ca!" "Apaan?" "Itu..." Cantika mengikuti arah pandangan Delia. Seorang kakak kelas sedang berjalan ke arah mereka. Tubuhnya tinggi, atletis, langkahnya tenang, namun raut wajahnya tampak sedikit gugup. "Lo kenal?" bisik Delia. Cantika menggeleng pelan. "Nggak." Ia lalu menyapukan pandangan ke sekeliling. "Kayaknya ke sini deh, Ca." "Masa sih?" Belum sempat Cantika menyelesaikan kalimatnya, pemuda itu sudah berhenti tepat beberapa langkah di depan mereka. "Hai, both," sapanya, canggung. Cantika dan Delia sama-sama terpaku menatapnya. "Maaf ganggu." Cantika membalas dengan anggukan tipis. Cowok itu mengusap singkat tengkuknya, lalu mengulurkan tangan. Dan Cantika bisa melihat jemarinya yang sedikit gemetaran. "Aku... Keano." Cantika menyambut uluran tangan itu. "Cantika." Delia pun demikian. "Delia." Keano menghela napas lega, lalu kembali tersenyum. "Syukurlah..." Delia mengernyit. “Kok syukurlah, Kak?” “Takut salah orang,” sahut Keano sambil terkekeh. Ia menatap lekat Cantika. "Sebenarnya... aku sudah beberapa kali lihat kamu." Cantika tampak berpikir. "Di sini?" "Bukan. Di Raiden Equestrian Centre." "Oh!” Cantika mengangguk pelan. "Pantes wajah Kakak kayak familiar." "Ingat ya?" "Lumayan." Keano menggaruk pelan pelipisnya. "Aku sering latihan di sana juga." "Iya. Rame-rame kan ya?" “Betul.” Suasana kembali hening beberapa detik. Keano mulai bingung harus mengatakan apa lagi. “Berkuda sekadar hobi aja atau gimana, Kak?” Akhirnya Cantika yang lanjut bertanya, agar suasana canggung itu tak terus menyelimuti. Keano tersenyum simpul. "Awalnya hobi." "Sekarang?" "Masih hobi sih. Cuma jadi lebih serius." "Maksudnya?" "Aku lagi nyiapin buat kejuaraan antarpelajar tahun depan." "Wah..." Cantika tampak benar-benar antusias. "Keren!" "Semoga lolos seleksi." "Aamiin." Cantika mengangguk. "Semangat ya, Kak." "Makasih." Keano balas tersenyum. "Kalau kamu?" "Aku mah nggak seserius itu." "Pernah ikut lomba-lomba gitu?" "Nggak." "I see." "Aku cuma suka berkudanya aja,” jelas Cantika. "Rasanya tenang. Release stres." Keano mengangguk. “Setuju. Aku paham banget, Cantika.” Percakapan itu mulai terasa mengalir. Tak lagi secanggung beberapa menit sebelumnya. “Kalau nanti aku follow Instagr4m kamu, approved ya?” ujar Keano kemudian. “Oh. Iya, Kak.” “Aku nggak di-follow, Kak?” potong Delia yang merasa bak nyamuk sedari tadi. “Nanti aku follow juga,” tanggap Keano sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Emangnya Kak Keano tau instagr4m Cantika?” tanya Delia. “Mmm... tau sih.” Cantika mengerjap. Rasanya aneh mendengar seseorang mengetahui sesuatu tentangnya padahal baru ini mereka benar-benar berinteraksi. Keano mengeluarkan ponsel dari saku celananya, membuka akun media sosialnya, lalu meluncur ke profil Cantika yang terkunci. Ia membalik layar ponselnya, menunjukkan ke Cantika. “Yang ini kan ya?” Cantika baru saja membuka mulut untuk menjawab... saat dari arah koridor terdengar suara yang begitu dikenalnya. "Ca!" Cantika spontan menoleh. Sam berjalan mendekat, membawa entah gulungan apa di bawah lengannya. Begitu melihat Cantika, kedua mata Sam langsung berbinar. “Bawa bekal apa?” Cantika menggeleng. “Mama bawain roti isi buat snack. Nggak kemakan tadi.” “Makan snack doang? Kok nggak ke kantin?” “Kenyang.” Sam mengangguk. Baru setelah itu ia menoleh ke Keano. "Ngapain, Ken?" Keano merangkulnya. "Negur Cantika doang." “Negur?” “Hmm. Gue juga suka latihan di Raiden Equestrian Centre. Tapi baru ini kenalan sama Cantika.” Kening Sam sontak mengerut. Ia kembali menatap Cantika. “Gue juga nggak ngeh,” timpal Cantika. “Oh!” tanggap Sam singkat. “Serius baru kenalan?” Keano tergelak renyah. “Iya. Padahal lumayan sering papasan." “Cantika nggak ngeh kali.” “Ngeh kok,” tanggap Cantika. Dan anehnya, tanggapan singkat itu seolah menyentil jantung Sam. "Setelah aku bilang kita latihan di tempat yang sama. Kalau aku nggak bilang, kayaknya kamu nggak ngeh juga,” timpal Keano. "Cantika mah kalau lagi sama kuda suka lupa sama sekitar,” sahut Sam. "Masa?" Cantika spontan mendelik. "Emang iya." "Nggak sih! Ngarang lo!" "Iya!" "Nggak." Sam terkekeh. "Papa Ga yang bilang. Nggak bisa manggil kamu sekali doang kalau lagi asik sama Orion.” Keano tersenyum. “Kayaknya yang Sam bilang bener deh, Ca.” Cantika menghela napas pasrah. "Kadang aku lihat kamu lagi nyisir surai Orion. Kayaknya siapa pun yang lewat, kamu nggak akan sadar.” “Masa sih begitu, Kak? Aku nggak nyadar lho.” ‘Dih! Sama Keano pake aku kamu, sama urang malah lo gue!’ batin Sam. Tanpa sadar, ia mendengus keras. Cantika langsung menoleh. “Kenapa lo? Ditunggu di ruang OSIS?” Sam diam saja. Harusnya... percakapan selesai sampai di sana. “Gih sana kalau sibuk mah. Ngapain coba malah di sini,” ujar Cantika lagi. Namun entah kenapa... Sam tak pergi. Ia tetap duduk di samping Cantika. Masih memegang gulungan poster di tangan kirinya. Sunyi melingkupi. Keano juga ikut-ikutan diam. Cantika mulai merasa suasananya aneh. Delia memalingkan wajahnya, takut ketahuan kalau ia sedang menahan tawa. Keano akhirnya pamit lebih dulu. Bukan karena tak ingin berlama-lama di sana, namun perutnya belum sempat diisi sementara waktu istirahat kian berkurang. "Aku duluan ya." "Iya, Kak," jawab Cantika. "Weekend ini latihan kan, Cantika?” “InsyaAllah.” Keano mengangguk tipis. “Oke, sampai ketemu kalau gitu." Setelah sosoknya benar-benar menjauh, Delia akhirnya tak sanggup lagi menahan tawanya. Cantika menoleh. “Kenapa lo? Kesambet?” Delia menggeleng. “Pusing banget, ya Allah.” “Dih!” “Nggak ngerti lagi gue! Sumpah!” “Pusing ke UKS, Del. Bukan malah cekikikan!” “Udah ah! Terserah lo berdua deh.” “Hah?” Sam mengernyit, namun tak melontarkan tanya apa pun. Ia malah mengambil satu roti yang tersisa dari kotak bekal Cantika tanpa izin. "Makan yang bener, Sam!" omel Cantika. "Nanti aja." Sam menggigit roti itu sambil memandangi koridor tempat Keano tadi menghilang. ‘Aneh. Kenapa ya?’ Dan tanpa disadarinya, Sam menggeser duduknya hingga menempel dengan Cantika. Delia melihat itu. Lalu menutup mulutnya sendiri agar tak tertawa. ‘Ya Allah... kenapa sih mereka berdua lemot banget?’
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD