BEFORE EVERYTHING–07

1991 Words
“Entar lo balik duluan aja.” “Hah?” “Gue ngambil kelas Mandarin.” “Oke.” “Papa nyuruh mantepin satu bahasa asing selain english. Puyeng gue bahasa apa yang enak.” “Karedok yang enak, Ca.” “Masih pagi, Sam.” “Emangnya kalau pagi nggak boleh kepingin karedok?” “Terserah lo deh.” Sam tergelak renyah. “Aku tungguin.” “Nggak usah.” “Sama-sama, Ca.” “Nggak jelas banget sumpah ponakannya Pak Elang!” Cantika berbalik, membelakangi Sam, berjalan menuju lorong sekolah. Saat yakin Sam tak akan melihat ekspresinya, seulas senyum muncul di wajahnya. Dua minggu setelah kampanye pemilihan ketua OSIS dimulai, ritme sekolah kembali berjalan lebih tenang. Poster-poster para kandidat masih menghiasi papan pengumuman, namun euforia awal perlahan mereda. Murid-murid mulai lebih sibuk menghadapi tugas, kuis mingguan, serta jadwal ekstrakurikuler yang kini semakin padat. Cantika pun mulai terbiasa dengan kesehariannya. Pagi berangkat sekolah bersama Sam. Belajar. Menghabiskan waktu istirahat bersama Delia dan teman-teman sekelas. Pulang. Evaluasi harian. Lalu mengulang semuanya keesokan hari. Sesekali, Sam masih muncul di depan kelas X-2 saat jam istirahat. Kadang hanya berdiri di ambang pintu sambil melambai ke arahnya. Kadang datang membawa roti hangat dari kantin. Kadang menitipkan sekotak s**u lewat Delia karena buru-buru menghadiri rapat OSIS. Bahkan pernah suatu siang, saat Cantika tengah menikmati bekal buatan ibunya, Sam datang, lalu berjongkok tepat di sampingnya. "Aaa..." Gadis mengernyit menatapnya. "Apaan?" Sam membuka mulut lebar-lebar sambil mendelik ke kotak bekal Cantika. "Lo belum makan siang?” Mulut pemuda itu menutup. “Makan pizza tadi. Nggak sempet bikin bekal, Ca.” Cantika meletakkan alat makan ekstra yang memang selalu ia bawa. "Lo punya tangan kan?" "Punya." "Ambil sendiri gih." "Belum cuci tangan. Nanti bekalnya kotor." Delia yang duduk di samping Cantika sampai menahan tawa. Sementara Cantika menatap Sam ragu. “Bagi...” pinta Sam lagi. “Aaa.” Dan akhirnya... Cantika tetap mengambil sepotong ayam yang ia satukan dengan sesendok nasi Hainan, lalu menyodorkannya ke mulut Sam. "Aaa!" Sam melahapnya. "Nuhun, Ca." (Makasih) Setelahnya, dengan santainya, Sam segera berdiri. "Sudah ah. Aku rapat dulu." "Gih sana!" Baru setelah Sam benar-benar menghilang dari depan kelas, Delia menyenggol lengan Cantika. "..." Cantika menoleh, menatap temannya itu dengan kening mengernyit dalam. "Kenapa lo?" "Justru harusnya gue yang nanya, Ca," sahut Delia. “Jantung aman?” “Aman,” jawab Cantika spontan. "Yakin lo?" "Yakin dong." Delia kembali menatap pintu kelas yang tak lagi ada Sam di sana. "Heran banget gue." "Kebanyakan mikir lo." "Atau lo yang nggak punya pikiran, Ca." Cantika hanya menaik-turunkan bahu, lalu kembali melanjutkan makannya. Baginya, sikap Sam yang seperti itu sudah biasa. Jika memberi sesuap bekal saja dicerna dengan heran oleh Delia, bagaimana jika Cantika cerita kalau ia dan Sam biasa makan berdua dari piring yang sama? Hubungan yang sebegitu dekatnya sudah terjalin sejak mereka masih kecil. Sam biasa datang sesuka hati, mengobrol sebentar, tidur, mengambil makanan, menceritakan hal-hal yang tak penting, lalu pergi lagi. Cantika pun tak pernah merasa terganggu. Sam sendiri tampaknya sama sekali tak pernah memikirkan bagaimana orang lain memandang tingkahnya. Sekalipun gosip tentang mereka perlahan mulai terdengar di berbagai sudut sekolah, tak sekali pun sikapnya berubah. Ia tetap datang. Tetap mengawasi dan memperhatikan Cantika. Tetap menjemput dan menungguinya pulang. Tetap memastikan gadis itu baik-baik saja. Seolah tak pernah terpikir bahwa semua perhatian itu bisa diartikan berbeda oleh orang lain. Dan... justru karena itulah, Cantika nyaris lupa pada satu hal. Di matanya, Sam memang hanya Sam. Namun... Di mata seluruh warga SMA tersebut... Samudera adalah salah satu murid paling dikenal, ramah dan supel, namun hatinya tak semudah itu untuk dijangkau. *** Hari itu, Rabu sore. Bel terakhir baru saja berbunyi saat sebagian besar siswa mulai bergegas meninggalkan kelas. Namun tidak dengan Cantika. Ia justru membuka kembali tasnya, memastikan buku tulis, modul Bahasa Mandarin, serta alat tulisnya sudah lengkap. "Beneran jadi ambil kelas tambahan Mandarin?" tanya Delia sambil memasukkan botol minumnya ke dalam tas. Cantika mengangguk. "Jadi." "Rajin banget sih lo. Padahal banyak ekskul yang lebih fun." "Bukan rajin." "Terus?" "Disuruh Papa." Delia terkekeh. "Emang papa lo bisa Mandarin?" "Nggak sih." “Hah?” “Tapi fluent beberapa bahasa asing.” "Serius?" "Hmm. Dan gue cuma bisa English, sama Mandarin tipis-tipis. Itu pun karena sering main sama Sam.” “Oh iya, gue dengar Kak Samudera jago tuh.” “Bukan jago lagi. Fluent in speaking and writing.” “Kereeen!” Cantika menutup ritsleting tasnya, lalu menyampirkan ransel itu di bahu. “Sam dan abang-abangnya sering diajak Papa ikut kalau lagi ada meeting sama perusahaan dari Taiwan dan Tiongkok.” “Sekeluarga jago Mandarin?” “Kecuali Bunda.” “Bunda?” “Mamanya Sam.” “Lo manggil mamanya Sam Bunda?” “Kan tante gue. Otak lo tuh liar banget mikirnya.” Belum sempat Delia membalas, bel pendek berbunyi sebagai penanda dimulainya beberapa kegiatan ekstrakurikuler dan kelas tambahan. "Lo balik sekarang?" tanya Cantika. "Iya. Klub Jurnalistik kan besok." "Oke deh. Hati-hati lo, Del.” "Sip! Lo juga. Hati-hati jatuh cinta." Mereka pun berpisah di depan tangga. Delia berjalan ke arah gerbang sekolah, sementara Cantika berbelok menuju gedung sebelah, tempat kelas tambahan Bahasa Mandarin diadakan. Lorong sekolah sudah jauh lebih lengang dibanding satu jam sebelumnya. Beberapa ruang kelas bahkan telah kosong. Samar hanya terdengar suara bola basket dipantulkan berulang kali dari lapangan belakang, diselingi peluit pelatih yang sesekali memecah kesunyian sore. Cantika berhenti di depan ruang kelas yang pintunya masih terbuka. Ia menghela napas pelan, lalu melangkah masuk. Baru satu langkah... ia langsung berhenti. "Lah?" Di bangku paling belakang, dekat jendela yang terbuka lebar, seseorang mengangkat tangan sambil tersenyum lebar ke arahnya. "Ca!" Cantika memicingkan mata, berjalan mendekati Sam yang sibuk menepuk-nepuk kursi di sampingnya. "Lo ngapain di sini?" Sam menutup buku Mandarin yang sejak tadi dibacanya. "Ekskul." “Hah?” “Kenapa emangnya? Nggak boleh?” “Kan lo nggak ngambil ekskul Mandarin, Sam.” “Kalau aku nggak ngambil, ngapain aku di sini, Ca?” “Sejak kapan lo ngambil? Kok lo nggak bilang gue?” “Ini aku bilang. Per hari ini aku ikut ekskul Mandarin.” Cantika mendengus keras. Sam mengatupkan bibir, menahan tawa. “Terus? Fotografi dan basket?” “Fotografi masih. Basket rehat dulu lah.” Sam menepuk kursi di sampingnya lagi. Cantika akhirnya duduk di sana. Ia lalu menyapu pandangan ke seluruh ruangan. “Ternyata gabungan ya kelasnya?” “Hmm. Lagian nggak banyak yang ngambil Mandarin,” tanggap Sam. Betul memang. Selain murid kelas sepuluh, ada pula beberapa siswa kelas sebelas, bahkan dua orang kelas dua belas yang sedang berbincang di dekat papan tulis. "Kirain dipisah per angkatan," gumam Cantika lagi. "Nggak seru kalau dipisah," timpal Sam santai. "Yang sudah lancar bisa bantu yang baru belajar." Cantika mengangguk tipis. “Makanya lo tiba-tiba banget ikutan.” “Pengen aja. Lagian kalau aku main basket, nanti pulangnya kamu nyium keringet aku sepanjang jalan. Mau?” “Ih, ogah!” Sam terkekeh. Tak lama kemudian beberapa siswa lain mulai berdatangan. Ada yang langsung membuka buku. Ada yang masih sibuk mengobrol. Ada pula yang memesan minuman lewat aplikasi daring sambil menunggu kelas benar-benar dimulai. Suasananya jauh lebih santai dibanding jam pelajaran biasa. "Hai, Kak Sam." Seorang siswi kelas sepuluh menghampiri. Seingat Cantika dari kelas X-4. "Boleh nanya nggak?" Sam menatapnya. "Boleh." “Kak Sam jago kan ya bahasa Mandarin?” “Lumayan.” “Aku ada yang kurang paham.” ‘Kan nanti bisa nanya ke gurunya. Anj1r, ketahuan banget capernya!’ batin Cantika. "Kalau nada ketiga sama nada keempat tuh bedanya apa ya? Aku masih kebalik terus,” tanya siswi itu lagi. Sam mengambil selembar kertas kosong dari tasnya. "Nih." Ia mencoba menjelaskan dengan sesederhana mungkin. "Nada pertama datar, nada kedua naik, nada ketiga turun dulu baru naik, nada keempat baru turun." "Ooo..." Siswi itu mengangguk-angguk. "Makasih ya, Kak." "Santai aja." Begitu siswi itu kembali ke tempat duduknya, Cantika menoleh ke Sam. “Kenapa, Ca?” tanya Sam. “Harusnya lo ngajar aja sekalian,” sahut Cantika. “Belum bisa, Ca. Aku nggak ada license untuk ngajar.” “Fluent aja cukup kali.” “Nggaklah. Jangan gampang ngedobrak aturan. Nanti kebiasaan.” Cantika tertegun. Kalimat itu terasa menyentilnya. Bukan karena perkara bahasa Mandarin... namun karena perasaan asing yang tak berani ia simpulkan setiap kali berinteraksi dengan Sam. Cantika sendiri tak tahu pasti kapan itu dimulai. Hanya saja... ia merasa jika harus segera menghentikan ketidakberesan hatinya itu. Karena... ia tak ingin mendobrak aturan. Ia tak ingin menghadapi kontra dari keluarganya. Ia dan Sam adalah sepupu. Dan seharusnya begitu seterusnya bukan? Belum sempat percakapan mereka berlanjut, dua siswi kelas sebelas yang baru masuk langsung saling berbisik saat melihat mereka duduk berdampingan. "Menurut gue sih nggak mungkin mereka nggak ada apa-apa." "Iya. Gue juga mikir begitu." “Fara musti mundur kali ini.” “Nggak pernah lho gue lihat Sam condong ke satu orang kayak gitu.” “Sama.” “Lo pernah nggak merhatiin mukanya Fara tiap lihat Sam nyamperin Cantika?” Cantika pura-pura terbatuk. "Sst.." ujar salah satu dari mereka. Cantika lalu menghela napas pelan. Ia kemudian melirik Sam. Dan anehnya pemuda itu sama sekali tak bereaksi. Sam malah sibuk memeriksa foto-foto di ponselnya. Entah memang ia tak mendengar... atau memang tak peduli. Cantika mencubit pelan lengan Sam. Sam menatapnya sambil memiringkan wajah. Dengusan frustrasi meluncur lagi dari hidung Cantika. Mau bagaimana lagi... Sam tetaplah Sam. Ia memang ramah dan supel. Namun bukan tipe orang yang mau ambil pusing dengan pandangan orang lain. Termasuk tak peduli berapa banyak orang memperhatikan mereka. “Apa, Ca?” “Nggak apa-apa.” “Laper? Mau aku beliin sesuatu?” “Nggak kok.” Sam mencondongkan wajahnya, menatao Cantika dari jarak yang lebih dekat. "Nanti kalau bingung, tanya aku aja." Cantika mendecak. “Ngapain gue nanya sama lo! Kan lo sendiri yang bilang belum punya license.” Sam tergelak. “Iya juga.” “Plin-plan lo!” Cantika membuka bukunya. Tepat saat seorang perempuan paruh baya memasuki kelas sambil membawa map serta beberapa lembar kerja. "Selamat sore." "Selamat sore, Laoshi!" “Lho, Sam. Kamu ikutan juga?” tanya sang guru. Sam mengangguk sopan. *** "Selanjutnya..." Bu Lin melihat daftar hadir. "Cantika." Cantika berdiri, lalu berjalan ke depan kelas. Bu Lin menyerahkan sebuah kartu berisi beberapa kosakata sederhana. "Coba dibaca." Cantika mengangguk mantap. Ia membaca perlahan sesuai yang dipahaminya. Bu Lin tersenyum. "Hampir. Ulangi sekali lagi." Cantika mencoba lagi. Masih salah. Beberapa siswa mulai saling pandang sambil menahan senyum. "Oke..." Cantika menarik napas. "Sekali lagi." Ia mencoba untuk ketiga kalinya. Bu Lin terkekeh. "Kamu sudah mencoba semua nadanya... kecuali yang benar." Seketika satu kelas pecah oleh gelak tawa. Cantika spontan memijat pelipisnya. Ia memandangi kartu itu bergantian dengan wajah Bu Lin. "Ini nadanya kenapa marah-marah semua sih?" sambatnya. Kalimat itu meluncur begitu saja. Dan... suara tawa paling keras langsung terdengar dari bangku paling belakang. Sam. Pemuda itu sampai membungkukkan badan sambil memegang perutnya. Ia mencoba berhenti. Namun tak bisa. Bu Lin sampai ikut tertawa melihat reaksinya. "Sam. Malah kamu yang heboh!” "Maaf, Laoshi..." Cantika menoleh ke Sam, memberengut. Bu Lin menggeleng geli. "Sudah, sudah. Kita ulang pelan-pelan. Sama-sama.” Beliau kemudian membimbing Cantika mengucapkan pelafalannya sekali lagi, dengan nada yang tepat. Kali ini... "Bagus, Ca! Kayak gitu baru benar." Cantika mengembuskan napas lega. "Finally." Saat tiba di kursinya, Sam tak lagi tertawa meski senyumnya masih begitu lebar. Pemuda itu mengusap sudut matanya yang sampai sedikit berair. “Gila lo!” omel Cantika. “Sakit jiwa!” Sam tergelak lagi. Yang ia tertawakan sebenarnya bukan pelafalan Cantika yang salah. Melainkan... karena menurutnya, ekspresi Cantika saat mengucapkan kalimat itu dan kala frustrasi benar-benar terlalu lucu. Dan seperti biasa... Sam sama sekali tak menyadari jika sepanjang satu jam pelajaran sore itu, dialah orang yang paling banyak tertawa. Cantika juga tak bisa kesal. Ia malah ikut menyunggingkan senyum, menahan tawa karena wajah Sam yang kini merona. Bukan hal yang aneh. Memang begitulah Sam, selalu banyak tertawa saat bersamanya. Dan tanpa pernah menyadari... jika tawa paling lepas itu hampir tak pernah muncul untuk siapa pun selain Cantika.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD