“Ca!”
“Del!”
“Kok lo nggak sama Kak Sam?”
“Abang gue lagi berbaik hati mau nganter. Sam ada urusan juga katanya.”
“Urusan apaan?”
“Ngasih makan kambing kali.”
Delia tergelak. “Ngaco lo!”
“Ya mana gue tau, Del. Gue kan bukan jelmaan malaikat Raqib atau Atid yang tau dia ngapain aja.”
“Sakit perut gue.”
“Ketawa mulu lo!”
Dua bulan berlalu lebih cepat daripada yang Cantika bayangkan.
Masa Orientasi Sekolah sudah lama berakhir. Yel-yel yang dulu terdengar memekakkan telinga kini hanya sesekali menjadi bahan candaan kakak-kakak kelas. Seragam putih abu-abu yang semula terasa asing perlahan berubah menjadi pakaian yang dikenakan hampir tanpa dipikirkan lagi. Nama-nama guru mulai dihafal. Jadwal pelajaran tak lagi perlu dicek berulang kali. Bahkan lorong-lorong sekolah yang dulu sempat membuatnya beberapa kali salah belok kini terasa begitu akrab.
Rutinitas rupanya memang punya cara sendiri untuk membuat seseorang merasa sedang berada di rumah. Pagi dimulai dengan pelajaran. Istirahat di kantin. Bel pulang. Lalu mengulang semuanya lagi keesokan hari.
Tak banyak yang berubah.
Atau setidaknya... begitulah yang sempat Cantika pikirkan.
Sampai pagi ini, saat ia baru saja memasuki gerbang sekolah bersama Delia, matanya menangkap deretan poster berwarna biru tua yang ditempel rapi di papan pengumuman.
Salah satunya... SAMUDERA RAZAN WISESA sebagau calon Ketua OSIS.
Di bawah nama itu terpampang foto Sam yang mengenakan seragam lengkap dengan rompi OSIS, tersenyum santai ke arah kamera.
Cantika otomatis berhenti melangkah.
Terdiam.
“Ternyata ini urusannya, Ca,” ujar Delia.
"Oh."
Delia menoleh, memperhatikan wajah Cantika. “Kok gitu doang respon lo?”
“Terus harus gimana?”
“Lo nggak tau Kak Sam nyalonin diri jadi ketos?”
Cantika tak langsung menjawab. “Dia nggak punya kewajiban juga untuk jelasin ke gue,” tanggapnya kemudian.
“Ngambek lo?”
“Nggaklah! Ngapain amat.”
Delia tergelak.
Cantika kembali berjalan.
Entah mengapa, melihat wajah Sam terpampang sebesar itu terasa sedikit... aneh.
‘Sam bakalan sibuk banget berarti kan? Hari ini aja nggak bisa jemput gue. Terus, nggak akan sering nyamperin lagi juga?’
‘Kok gue nggak happy ya?’
‘Sialan banget si Sam, fotonya pas cakep banget pula!’
***
Musim kampanye pemilihan ketua OSIS membuat hampir seluruh anggotanya sibuk sejak pagi.
Spanduk mulai dipasang di beberapa sudut sekolah. Selebaran ditempel di papan-papan mading. Presentasi singkat dilakukan bergantian dari kelas ke kelas agar seluruh siswa mengenal para kandidat.
Bagi murid-murid kelas sepuluh, kegiatan itu terasa cukup menyenangkan.
Jam pelajaran sesekali terpotong.
Ada kakak-kakak kelas yang good looking datang memperkenalkan program kerja.
Lalu pergi lagi setelah bel berbunyi.
Namun, ada satu wajah yang rasanya muncul lebih sering dibanding siapa pun.
Sam.
Pagi itu saja, Cantika sudah melihatnya tiga kali.
Pertama, ketika Sam membantu Pak Rahmat menggantung spanduk di depan aula.
Kedua, saat ia bersama beberapa anggota OSIS memasuki kelas sebelah untuk presentasi.
Dan yang ketiga... kala ia baru saja keluar dari perpustakaan.
"Itu Kak Sam."
Histeria dua siswi yang berjalan di depan Cantika terdengar jelas.
"Lucu ya."
"Nggak cuma lucu."
"Ramah banget. Mana katanya pas jadi tatib MOS, dia susah banget setting muka jutek. Greenflag banget."
“Dan dia tuh cepet banget hafal nama dan wajah orang. Kalau kakak yang lain kan suka ‘Siapa ya? Kelas berapa?’, dia mah nggak. Ngomong sama aku aja ‘Hai, Retha!’ Padahal pas MOS nggak ada momen yang bikin dia bisa inget aku.”
“Ih, jangan ge-er lo.”
“Nggak ke situ arahnya. Tapi emang Kak Sam ramah banget kok.”
Cantika jadi tertegun menatap Sam.
‘Greenflag apaan! Nggak capek apa ya ramah sama semua orang?’
“Eh tapi, Kak Sam suka nyamperin siapa gitu di kelas X-2.”
Lawan bicaranya melirik-lirik ke arahku, memberi pengingat jika aku berjalan beberapa langkah di belakang mereka.
“Nyamperin gue! Kita sepupuan doang kok,” sahut Cantika. Sayangnya, kalimat itu terlontar ketus.
Di ujung koridor, Sam sedang tertawa bersama dua siswa kelas sepuluh yang tampaknya baru selesai bertanya sesuatu. Setelah percakapan singkat itu berakhir, Sam menepuk pelan bahu salah satu dari mereka sebelum kembali berjalan menuju ruang OSIS.
Dan lagi, beberapa orang menyapa dan bertukar kata singkat dengannya.
Cantika mendengus. Entah untuk alasan apa. Ia memang tahu Sam mudah akrab dengan siapa saja. Namun baru kali ini ia benar-benar menyadari ternyata sepupunya sepopuler itu.
“Gitu amat lo ngelihatin Kak Sam? Baik-baik naksir, Ca,” ujar Delia yang entah sejak kapan berdiri di samping kirinya.
“Del... kunti aja kalau mau nongol ngasih tanda. Ngikik dulu kek, wangi dulu, tiba-tiba ada suara bayi nangis kek. Kaget gue, njir!”
Delia tergelak geli. “Gue nggak niat ngagetin lo,” kekehnya. “Lo aja yang lagi terpesona sama Kak Sam.”
“Dih! Terpesona apaan!”
“Cinta itu hadir karena terbiasa, Ca.”
“Tua lo!”
Delia tertawa lagi. “By the way, ternyata sepupu lo itu famous banget ya.”
Cantika mengangguk tipis.
"Mungkin."
"Kok mungkin?"
Cantika menaik-turunkan bahu. "Ya... Sam memang begitu dari dulu. Temannya banyak."
Delia mengernyit. “Sementara teman lo gue doang?”
Kali ini Cantika yang terkekeh. “Nggak separah itu sih. Tapi kalau dibandingin, jauh banyakan dia.”
“Lo jutek sih.”
“Mulut sama muka gue terlalu jujur, Del. Itu yang bikin orang-orang susah beradaptasi sama gue.”
“Okelah. Berhubung kita baru dua bulan temenan, anggap aja sisa satu bulan probation.”
Tawa Cantika akhirnya pecah juga.
Yang tak ia sadari, Sam yang duduk di dekat pintu ruang OSIS juga mendengar sayup tawa itu. Sam sampai berdiri di ambang pintu, memperhatikan Cantika, lantas ikut tersenyum.
Di antara begitu banyak orang yang menyapanya hari itu, entah kenapa tawa Cantika tetap menjadi suara yang paling mudah ditemukan Sam.
***
Saat bel istirahat berbunyi, kantin kembali dipenuhi antrean. Cantika dan Delia berhasil menemukan dua kursi kosong di dekat jendela.
Baru saja Cantika membuka kotak bekal yang dibawanya dari rumah, Delia kembali membahas percakapan yang sedari tadi terasa masih menggantung.
"Ca."
"Hmm?"
“Sedekat apa lo sama Kak Sam?”
Cantika mengangguk-angguk sambil mengambil sepotong ayam. Benaknya sedikit sibuk menyimpulkan level keakraban yang membuat Delia penasaran.
“Kita teman dari kecil,” ujar Cantika, memulai cerita. “Waktu gue masih dua tahun, sempat tinggal lumayan lama di Bandung karena pas itu Mama sakit. Since then deh. Hampir semua hal gue lakuin sama Sam.”
“Berarti keluarga Kak Sam di Bandung?”
Cantika mengangguk.
“Di sini ngekos?” tanya Delia lagi. “Atau tinggal di rumah lo?”
“Nggak,” tanggap Cantika. “Orangtuanya ada unit apartemen di sini. Buat kalau lagi pas ada kerjaan di Jakarta, nggak ribet dan boros perkara sewa kamar hotel. Nah Sam tinggal di sana.”
“I see.”
Delia menatap Cantika lekat.
“Terus kenapa pas awal-awal lo kayak nggak yakin ngasih tau gue kalau lo dan Kak Sam sepupuan.”
‘Karena memang bukan sepupuan kandung.’
Cantika menghela napas panjang. “Karena gue nggak tau apa yang ada di pikiran lo kalau gue bilang begitu. As simple as that sih.”
“Yang ada di pikiran gue... kayaknya nggak mungkin.”
“See!”
“Karena kalian berdua tuh mancarin aura pacaran daripada sepupuan, Ca.”
“Aura sotoy lo!”
Delia tergelak, nyaris tersedak. Ia meneguk air minumnya sejenak, baru melanjutkan kekehan.
“Tapi kan sepupuan nggak apa-apa nikah, Ca,” ujar Delia lagi.
“Lo rada-rada ya... kita baru enam belas tahun Lo udah kepikiran nikah?”
“Disney Princess nikah sama pangeran-pangerannya umur berapa sih?”
“Gue nggak segabut itu untuk ngecekin biografi tokoh-tokoh fiktif, Del.”
“Intinya begitu,” ujar Delia lagi. “Lo berdua lebih kelihatan kayak pasangan yang super duper romantis.”
“Ih! Gila lo!”
“Sabar sih... gue belum selesai ngomong. Maksud gue, tipe pasangan yang pengertian tapi di permukaannya nyablak, saling nyela, banyakan konyolnya daripada sweet-nya.”
Cantika meneguk minumnya. “Kehaluan lo kejauhan, Del.”
“Nggak! Kak Sam tuh gila-gilaan banget nunjukin perhatian ke lo. Selalu kelihatan ada di sekitar lo."
Cantika terdiam.
Entah kenapa, kalimat terakhir itu terdengar sedikit berbeda.
Bukan karena salah. Namun karena ia sendiri tak pernah benar-benar menyadarinya.
“Jangan bilang lo baru nyadar?” tebak Delia.
Cantika kembali menggeleng. “Sam memang udah dari sananya begitu. Nggak ada perlakukan istimewa ke gue.”
“Kalau misalnya... ternyata Kak Sam beneran nyimpen perasaan buat lo gimana, Ca?”
Kali ini Cantika terdiam.
“Karena ramahnya Kak Sam ke kita-kita, ke temen-temennya tuh beda banget sama perlakukan dan sikapnya ke lo.”
Cantika tak langsung membalas.
Ia menoleh ke luar jendela kantin. Di kejauhan, Sam baru saja melintas bersama beberapa anggota OSIS sambil membawa setumpuk map. Di tengah langkahnya, pemuda itu sempat menoleh ke arah kantin, seolah sedang mencari sesuatu. Tatapan mereka bertemu sesaat.
Sam mengangkat satu tangan, melambaikan tangan ke arahnya.
Spontan, Cantika ikut membalas sebelum buru-buru mengalihkan pandangan.
‘Sam memang selalu begitu. Selalu ada. Kayaknya... cuma kebetulan aja.’
Atau mungkin... memang selama ini hanya Cantika yang belum pernah benar-benar memperhatikannya.