Tatapan mereka bertemu.
Meski hanya hitungan detik.
Cantika yang lebih dulu mengalihkannya. Ia kembali menunduk, pura-pura sibuk dengan layar ponsel seolah percakapan beberapa meter di depannya sama sekali tak menarik perhatian.
Sam kembali menatap Karina.
Adik kelasnya itu masih berdiri di depannya.
Menunggu.
"Karina..."
"Iya, Kak?"
Sam mengusap tengkuknya pelan. "Aku boleh mikir dulu?"
Karina langsung mengangguk. "Boleh kok."
"Hmm. Sorry ya."
"Nggak apa-apa, Kak. Nggak harus jawab sekarang kok."
Sam tersenyum tipis.
“Asal jangan lupa jawab,” lanjut Karina lagi. “Aku nungguin.”
“Iya,” tanggap Sam.
Karina kini tampak jauh lebih lega. "Aku duluan ya, Kak."
"Oke. Hati-hati, Kar."
“Kak Sam juga.”
Karina berjalan menjauh.
Sam memperhatikannya beberapa langkah, kemudian mengembuskan napas pelan.
Lalu... matanya kembali tertuju pada Cantika.
Gadis itu masih berada di tempat yang sama. Kali ini malah memasang earphone di kedua telinganya.
Sam mendecak kecil. Ada perasaaan tak nyaman yang menggelayut di hatinya. Ia menarik napas dalam, lalu berjalan menghampiri.
"Ca."
Tak ada jawaban.
"Ca."
Sepupunya itu tetap diam.
Sam berdiri tepat di depannya, kemudian menarik salah satu earphone dari telinga Cantika.
"Heh!" omel Cantika. Ia merebut earphone itu kembali. "Apaan sih lo?"
Sam duduk tepat di sampingnya. "Tadi kamu dengar, Ca?"
"Dengar apaan?"
"Itu."
Cantika menoleh, menatapnya datar. "Itu apaan?"
"Karina."
"Oh."
Cuma itu.
Sam menunggu.
Sementara Cantika kembali memainkan ponselnya.
Beberapa detik berlalu dalam diam yang terasa begitu panjang, mengikis kesabaran Sam hingga ke dasar.
"Terus?"
Cantika menoleh lagi. "Terus apaan?"
Sam mengernyit. "Ya... menurut kamu gimana?"
"Gimana apanya?"
Sam menatap wajah Cantika seolah sedang memastikan gadis itu benar-benar tak mengerti atau hanya sengaja membuatnya kesal.
"Karina tadi nembak aku, Ca.”
"Iya."
"Kamu dengar kan?”
"Dikit."
"Terus?"
Cantika terkekeh. Meski Sam tak sampai sesadar itu untuk melihat senyuman lawan bicaranya tak sampai ke mata.
"Dari tadi lo nanya terus mulu. Terus apaan sih?"
Sam terdiam.
Sebenarnya... ia sendiri juga tak tahu apa yang sedang ditunggunya.
Pendapat Cantika?
Izin?
Atau... sesuatu yang lain?
Bayangan Keano mendadak terlintas di kepalanya.
Keano yang sekarang rutin berlatih bersama Cantika.
Keano yang akan mengirim pesan setengah enam pagi hanya untuk memastikan Cantika bangun.
Keano yang bisa membicarakan dunia berkuda dengan Cantika tanpa perlu bertanya apa-apa lagi.
Entah kenapa... Sam mendadak ingin tahu. Kalau posisinya dibalik... apa Cantika akan merasa terganggu juga?
"Aku terima Karina nggak?"
Jari Cantika yang sejak tadi menggulir layar ponsel akhirnya berhenti.
Ia menatap Sam. "Hah?"
"Karina, Ca."
"Iya, gue tau Karina."
"Menurut kamu aku terima dia jadi pacar aku atau nggak?"
Cantika mengerjap. "Lah..." Kemudian terkekeh tak percaya. "Kenapa nanya gue?"
"Ya nanya aja."
"Itu mah terserah lo. Kan yang bakal jalanin lo sama dia. Bukan gue."
Sam mengatupkan bibir. Jawaban yang masuk akal.
Harusnya selesai.
Namun konyolnya... jawaban itu terdengar begitu menyebalkan.
"Kalau menurut kamu gimana?"
Cantika memperhatikan wajah Sam lekat-lekat. Kemudian mengangkat bahu. "Ya jadian aja sana."
Sam terdiam.
"Terima aja. Lo belum pernah pacaran kan?"
"..."
Cantika kembali menunduk, sibuk dengan layar ponselnya. "Dia cantik kok,” ujarnya lagi.
"Cuma karena cantik makanya aku terima aja?"
Aneh memang, sekarang giliran Cantika yang tak menyadari nada ketus di kalimat Sam barusan.
"Nggak juga... kayaknya dia baik juga. Kelas gue kan sebelahan, Karina lumayan kalem dan ayu gitu sih. Tipe-tipe kayak Uni Anne."
"Kamu kenal baik sama Karina?"
"Nggak."
Sam mendengus.
"Tapi gue sering lihat dia."
Sam menutup matanya sejenak. Menghela napas pelan, menahan frustrasi yang entah apa sebabnya. Sementara Cantika lagi-lagi sama sekali tak menyadarinya. Malah terus lanjut menyuarakan pendapatnya.
"Dan dia berani juga nembak lo duluan."
"Orang kalem begitu kali ya?"
"Tapi bagus dong."
Sam mengangguk tipis, meski ia tak tahu apanya yang bagus. "Oh."
Cantika kembali menoleh menatapnya. "Kok oh doang?"
Bahu Sam naik-turun singkat.
"Ya udah sana. Jadian aja. Gue harus ngasih selamat sekarang?"
Tiga kalimat itu... benar-benar terdengar sangat menyebalkan.
***
Sam bangkit dari bangku.
Cantika otomatis mendongak. "Mau ke mana lo?"
"Balik."
"Lho? Nggak jadi nyamperin Karina?"
“Kapan aku bilang begitu?”
“Dia nggak nungguin lo?”
“Nggak.”
“Kok gitu? Dia nggak nungguin jawaban lo?”
“Nunggu.”
“Sam ih! Jawab yang bener! Ngeselin banget sih lo.”
Kamu yang ngeselin, Ca.
“Sam!”
“Nggak harus sekarang kok dijawabnya.” Sam menjawab dengan lembut seperti biasanya. Ia lalu menyempurnakan posisi tasnya di bahu. "Lagian kan kita mau pulang?"
“Oh.”
Cantika buru-buru memasukkan ponsel dan earphone ke dalam tasnya, lalu berdiri. “Yaudah. Yuk.”
Sam mengangguk.
Tak ada yang aneh. Setidaknya, awalnya Cantika berpikir begitu.
Sam tetap berjalan di sisinya menuju area parkir. Tetap mengambil helm yang biasa digunakan Cantika dari bagasi motor. Bahkan masih membantunya saat Cantika memasang tali helm yang sempat terpelintir.
“Udah?”
“Udah.”
“Yuk.” Sam naik lebih dulu.
Cantika menyusul di belakangnya.
Motor bergerak meninggalkan halaman sekolah.
Baru setelah beberapa menit perjalanan, Cantika mulai menyadari sesuatu.
Sepi.
Aneh sekali.
Biasanya Sam tak pernah bisa diam.
Ada saja yang dikomentarinya sepanjang perjalanan. Mobil yang pindah jalur tanpa menyalakan sein. Spanduk makanan yang membuatnya mendadak lapar. Lagu dari kendaraan sebelah yang volumenya bisa didengar seantero Jakarta. Cuaca. Jalan berlubang. Bahkan bentuk awan pun bisa menjadi bahan obrolan jika Sam sedang ingin bicara.
Sekarang... tak ada.
Hanya suara kendaraan, deru mesin, dan angin yang sesekali menerpa tubuh mereka.
Cantika memandangi bagian belakang helm Sam. “Sam?”
Sam menoleh sedikit saja ke sisi kanan.
“Lo kenapa?” tanya Cantika.
“Nggak kenapa-kenapa.”
“Capek?”
“Nggak.”
“Laper?”
“Nggak.”
Cantika menunggu.
Biasanya Sam akan balik bertanya.
Kamu capek?
Mau berhenti dulu?
Lapar nggak, Ca?
Atau minimal mengomentari sesuatu.
Namun kali ini tidak.
Sam kembali diam.
Cantika mengernyit.
Tangannya yang sejak tadi berpegangan pada sisi samping pinggang Sam, perlahan mengerat. “Lo marah sama gue?”
“Nggak.”
Jawaban yang sungguh cepat. Seolah Sam malas berargumen.
“Beneran?”
Sam mengangguk.
“Terus kenapa lo diem aja?”
Lampu lalu lintas di depan berubah merah. Sam memperlambat kendaraan hingga berhenti.
“Dari tadi kan aku ngomong.”
Cantika terdiam.
Iya sih.
“Yaudahlah,” gumam Cantika yang bahkan tak sampai ke telinga Sam.
Lampu kembali hijau.
Motor bergerak lagi.
Dan entah kenapa... kali ini keheningan di antara mereka terasa jauh lebih lantang daripada suara kendaraan yang memenuhi jalan.
Cantika tak bertanya lagi.
Begitu pula Sam.
Sampai akhirnya motor berbelok memasuki area The Dwellings.
Sam berhenti tepat di depan lobi apartemen seperti biasa.
Cantika turun.
Ia melepas helm, lalu menyerahkannya kepada Sam.
“Nih.”
Sam menerimanya.
“Oke.”
Cantika berdiri menunggu.
Biasanya Sam akan membuka visor helmnya.
Menunggu Cantika benar-benar masuk ke dalam lobi.
Kadang masih mengingatkan hal-hal remeh.
Jangan lupa makan.
Jangan tidur kemaleman.
Jangan nggak mandi.
Atau sekadar menyuruh Cantika cepat masuk karena AC lobi lebih dingin daripada udara di luar.
Namun sore itu... visor helmnya tetap tertutup.
Cantika bahkan tak bisa melihat ekspresi Sam dengan jelas.
“Aku pulang, Ca.”
Nadanya tak kasar.
Tak pula terdengar marah.
Hanya... dingin.
Dan berjarak.
Cantika mengernyit.
“Iya. Lo ha—”
Belum sempat kalimatnya selesai, Sam sudah menurunkan helm Cantika ke kait di motornya.
“Assalamu'alaikum,” ucap Sam lagi.
Lalu pergi.
Cantika bahkan belum sempat menjawab salam pemuda itu.
Ia hanya berdiri di depan lobi, memandangi lampu belakang motor Sam yang semakin menjauh sebelum akhirnya menghilang di tikungan.
Beberapa detik berlalu, Cantika masih tak bergerak.
“Apaan sih...” Keningnya semakin berkerut tak keruan.
Ia tahu Sam tak marah. Setidaknya Sam bilang begitu. Tapi Cantika mengenalnya hampir sepanjang hidupnya. Ia tahu seperti apa Sam yang capek, Sam yang sedang banyak pikiran, Sam yang benar-benar sedang tak ingin bicara.
Dan... yang tadi bukan semuanya.
Cantika akhirnya berbalik menuju pintu lobi.
Namun baru dua langkah, ia kembali menoleh ke arah jalan yang sudah kosong.
Entah apa yang membuatnya lebih tak nyaman.
Sam yang mendadak diam sepanjang perjalanan... atau kenyataan bahwa untuk pertama kalinya, Sam pergi sebelum memastikan dirinya benar-benar masuk ke dalam.
***
Lantai satu unit mewah itu kosong saat Cantika melangkah masuk. Ia menghempaskan dirinya di sofa ruang tengah, memandang ke kerlap-kerlip kristal lampu gantung yang disoroti sinar jingga mentari.
Cantika meraih ponselnya, membuka aplikasi obrolan. Ia membalas pesan Delia. Melihat beberapa unggahan informasi. Memeriksa grup kelas.
Biasa saja, tak ada yang menarik.
Penghuni penthouse itu belum ada yang terlihat. Hanya ada suara Arya dan Arna yang merambat dari area olahraga di lantai atas.
Cantika akhirnya masuk ke kamarnya, mandi, mengganti pakaian, lalu keluar lagi untuk mencari sesuatu di dapur.
Semuanya masih terasa normal.
Sampai sekitar pukul tujuh malam, Cantika tengah duduk di meja belajar saat tangannya kembali meraih ponsel.
Tak ada notifikasi baru.
Ia meletakkannya lagi.
Membaca dua paragraf. Lalu... mengambil ponselnya sekali lagi.
Cantika mengembuskan napas pelan. Ponsel kembali diletakkan.
Lima menit kemudian... diambil lagi.
Keningnya mengerut.
Biasanya ada saja yang Sam lakukan. Entah mengirim foto makan malamnya, mengeluhkan Bintang yang merebut sesuatu, menanyakan tugas, mengirim video receh, mengebom kotak pesannya dengan reels-reels acak.
Atau sekadar....
Sam: Ca.
Yang jika dibalas....
Cantika: Apa?
Ujung-ujungnya cuma....
Sam: Nggak apa-apa.
Nggak jelas.
Nggak penting.
Dan sering kali membuatnya kesal.
Tapi... hari ini tak ada.
Cantika membuka ruang percakapan mereka. Pesan terakhir masih dari pagi tadi.
Sam: Aku di depan, Ca.
Cantika membaca kalimat pendek itu berkali-kali. Lalu mendecak. “Ngapain sih gue?”
Ia mengunci layar. Namun pikirannya berkelana mencari kemungkinan apa yang sedang Sam lakukan.
Mungkin keluarganya datang dari Bandung.
Mungkin tiba-tiba meeting online dengan anak-anak OSIS.
Mungkin sedang makan malam bersama Bintang di salah satu tendaan favorit mereka.
Atau... prosesor otak Cantika seketika berhenti.
Karina.
Oh!
Bisa jadi Sam sedang memikirkan jawabannya.
Atau bisa saja mereka sedang video call-an yang tak mungkin sebentar.
Atau sekadar chat, namun terus sambung-menyambung.
Cantika mendengus keras.
Ya memang seharusnya begitu. Ia sendiri pun menyemangati Sam tadi.
Gini ternyata kalau lo punya cewek ya. Ya sudahlah.
Masalahnya... ternyata tak selesai di sana.
Hampir pukul sembilan malam saat akhirnya pesan dari Sam masuk ke nomornya.
Sam: Ca.
Cantika langsung membukanya.
Terlalu cepat.
Bahkan dirinya sendiri sampai takjub melihat refleks tangannya.
Cantika: Apa?
Tanda tiga titik muncul.
Hilang.
Muncul lagi.
Lalu....
Sam: Besok aku jemput jam biasa.
Cantika menatap layar.
Ia menunggu.
Tak ada pesan berikutnya.
Benar-benar hanya itu.
Cantika: Oke.
Sam membaca.
Namun tak membalas lagi.
Entah kenapa... rasanya justru lebih menyebalkan.
Cantika menjatuhkan tubuh ke kasur, menghentak-hentakkan tangan dan kakinya, lalu menutup wajahnya dengan bantal sebelum memaki tingkah Sam yang membuatnya kesal setengah mati.
Sore tadi Sam diam.
Malam ini juga aneh.
Padahal ia juga yang mengizinkan Sam pacaran.
Harusnya memang sesederhana itu kan. Itu kehidupan pribadi Sam. Bukan urusannya mengatur Sam harus menjalani hidup seperti apa.
Dan apakah Sam menerima Karina atau tidak... harusnya tak mengusiknya.
Kalau suatu hari Sam punya pacar, hidup mereka juga tetap akan berjalan seperti biasa.
Mereka keluarga.
Begitu bukan?
Namun konyolnya, Cantika malah sibuk membayangkan bagaimana rasanya jika perhatian Sam benar-benar terbagi untuk orang lain.
Dan ternyata... ia sama sekali tak menyukai bayangan itu.
Cantika menatap layar ponselnya sekali lagi.
“Beg0!” gumamnya pelan.
Entah sedang memaki Sam... atau dirinya sendiri.