Sam: Aku di depan lobi, Ca. Tepat pukul enam lewat dua puluh menit, sebuah pesan masuk ke ponsel Cantika. Ia yang baru saja menyampirkan tas di bahu seketika diam. Matanya terpaku pada layar. Menunggu kalimat lanjutan. Macet, Ca. Jangan lama-lama. Sudah sarapan belum? Namun... tak ada. Hanya satu kalimat itu. Bahkan guyonan receh seperti, aku narik satu penumpang dulu, Ca. Belum tentu juga pas balik kamu udah beres. Cantika mendecak. “Kenapa sih ini orang?” gumamnya. “Masih aja.” Entah apa yang masih. Ngambek? Marah? Atau memang Sam mendadak kehilangan kemampuan mengetik lebih dari lima kata? Cantika memasukkan ponselnya ke saku rok, lalu keluar dari kamar. “Ca! Sarapan dulu, sayang!” Suara Andien terdengar dari lantai bawah. “Kenapa sih dari tadi dipanggilin kok nggak turu

