BEFORE EVERYTHING–14

2323 Words

“Bubur ayam atau nasi uduk?” “Nasi uduk.” “Yakin?” “Hmm. Kenapa emangnya?” “Biasanya milih bubur.” “Lagi kepingin nasi uduk.” “Oke.” Motor Sam berbelok ke salah satu jalan yang dipenuhi pedagang sarapan, tak jauh dari sekolah mereka. Cantika mengembuskan napas pelan. Entah sejak kapan obrolan sesederhana itu bisa membuat hatinya jauh lebih tenang. Padahal baru beberapa menit lalu ia masih kesal bukan main pada Sam. Sekarang, setelah pemuda itu kembali cerewet, menawarkan sarapan, bahkan menepuk-nepuk tangannya seperti biasa... semuanya terasa normal lagi. Atau lebih tepatnya... hampir. Karena satu hal masih mengganjal di kepalanya. Karina chat gue semalam, Sam. Dia bilang, kalau lo nerima dia, semoga gue nggak keberatan dan jangan terlalu dekat lagi sama lo. Cantika mengeratk

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD